
Dua pasang mata saling memandang. Satu kalimat Bram yang menandakan bahwa ia ingin merasakan manisnya bibir Ayra pun membuat sang istri tersipu malu. Ayra mengusap lembut dada suaminya.
"Ayra mau mandi dulu mas."
"Baiklah."
Bram menggendong Ayra menuju kamar mandi. Hari ini Ayra betul-betul menjadi Puteri dalam hidup Bram. Ia diperlakukan bak seorang ratu. Ketika sampai di depan pintu kamar mandi, Bram meminta istirnya membuka pintu itu.
"Buka pintunya."
Satu tangan Ayra yang melilit pada leher suaminya ia lepaskan dan membuka pintu kamar mandi berwana hitam itu.
"Ceklek."
"Subhn...."
Ayra menahan ucapannya karena sang suami telah melangkahkan kakinya masuk.
Bram mendudukkan Ayra pada pinggir bath up itu.
"Mau mandi sendiri atau aku man-"
Ayra menutup bibir Bram dengan satu jarinya. Ia berdiri lalu mendorong perlahan sang suami. Bram terus mundur karena sang istri terus mendorong pelan. Bram yang terpesona menatap cantiknya wajah sang istri pun membuat ia hanya pasrah karena dua tangan lembut istrinya mendorong dada bidangnya. Kaki Ayra yang terus melangkah maju pun membuat ia pasrah ketika berada di luar kamar mandi.
"Cup"
Satu kecupan Ayra berikan pada sang suami ketika suaminya telah berada diluar kamar mandi. Cepat tubuh mungil itu menghilang dari balik pintu.
"Ceklek."
Ayra memegang dadanya yang turun naik sambil bersandar di balik pintu. sedangkan Bram masih melongo di depan pintu kamar mandi. Dari balik pintu itu Bram sedikit berteriak.
"Ay Nanti pakai baju yang aku gantung ya."
Bram berlalu dari depan kamar mandi. Sedangkan Ayra masih merasakan kehangatan hatinya diberlakukan sebegitu romantis oleh sang suami. Sebuah bathub yang penuh dengan kelopak mawar dan aroma mawar pun semerbak dari arah bathub itu.
Ketika ia menoleh ke arah gantungan baju. Terdapat daster berlengan pendek berwarna pink yang hanya sebatas lutut. Daster yang tak transparan, daster dengan motif bunga. Ayra menikmati berendam dalam air hangat dan beraroma khas mawar.
Ia membersihkan dirinya menggunakan shower setelah selesai berendam. Saat selesai mengenakan baju yang telah disiapkan sang suami ia mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Baru satu langkah ia keluar dari kamar mandi. Sang suami cepat berjalan kearah Ayra. Ia cepat mengangkat tubuh istrinya itu hingga ia dudukan diatas kursi yang menghadap ke cermin meja rias yang kental dengan warna hitam.
Bram menyisir rambut Ayra. Hanya lewat pantulan cermin itu Ayra memandang wajah suaminya. Tak ada pembicaraan selama Bram mengeringkan rambut panjang Ayra. Ayra pun hanya menikmati setiap apa yang suaminya lakukan.
Setelah selesai Bram menatap istrinya melalui pantulan cermin. Beberapa menit Bram menikmati wajah cantik istrinya dari pantulan cermin. Tubuh mungil nya pun membuat Bram berkali-kali menahan napasnya. Ternyata Ayra memiliki tubuh yang cukup seksi walau kecil, bahkan kecantikan nya saat tanpa hijab pun mampu membuat kedua bibir Bram menganga karena takjub.
Malam ini pertama kalinya ia menikmati pemandangan wajah, rambut dan tubuh istrinya itu tanpa hijab dan gamis yang biasa menutupi tubuh mungil istrinya.
"Cantik."
Satu kata yang membuat pipi sang istri berubah merah semerah tomat matang. Bram mengangkat Ayra ke atas tempat tidurnya. Tempat tidur yang tak pernah ditempati oleh mereka berdua. Malam ini kasur empuk itu merasakan pertama kali menahan berat tubuh sang pemilik kamar itu.
Ayra menatap suaminya saat ia sudah bersandar pada Headboard kasur empuk itu.
"Mas mas menginginkan Ayra malam ini?"
Bram menggelengkan kepalanya pelan.
"Kamu lupa atau pura-pura lupa? atau kamu sudah tak sabar ingin mendaki bersama diriku?"
Ayra mengernyitkan dahinya. Ia baru ingat jika saat ini adalah malam terakhir bulan itu. Ayra tersenyum simpul.
"Mas membaca buku kemarin dengan baik."
"Hem. Mas ingin memulai hubungan kita dengan sesuai syariat Ay. Mas mencintai kamu. Maka mas ingin memulai dengan hal-hal yang baik. Termasuk hari saat kita mendaki karena mas ingin generasi kita juga menjadi generasi yang baik kalau bisa yang terbaik."
"Tapi larangan tersebut hanya sebatas makruh tidak sampai pada keharaman seperti melakukan jimak ketika istri sedang haid atau nifas mas."
"Mas tahu mengenai waktu yang pas untuk berjimak, menurut Imam al-Ghazali. Sebaiknya jimak dilakukan setiap empat hari sekali, atau tergantung kebutuhan. Sebagian ulama ada yang mensunnahkan pada hari Jum’at.
Dan dimakruhkan berjimak yaitu malam hari raya kurban, malam pertama pada setiap bulan, malam pertengahan pada setiap bulan, dan malam terakhir pada setiap bulan. Tapi bukankah pada buku mu kemarin ada catatan kecil yang kamu selipkan."
"Ingat. Tidak semua orang memiliki kemampuan kembali pada Alquran dan hadis, terutama bagi orang awam yang sedang semangat-semangatnya belajar agama.
Maka, bagi orang awam, penting untuk mendengarkan firman Allah yang berarti Bertanyalah kalian kepada orang-orang yang ahli, yaitu para ulama jika kalian tidak cukup mengerti.
Maka mas memilih mendengarkan pendapat para Ulama yang me makruh kan ke empat malam tadi. Mas memilih malam lusa untuk mendaki bersama mu Ay. Lusa malam adalah malam Jumat."
"Benar tak ingin mendaki malam ini?"
Ayra memicingkan kedua matanya menggoda suaminya.
"Kamu menginginkan nya?"
Kini giliran Bram tersenyum simpul menggoda Istrinya.
"Ayra sudah bilang, Ayra akan jadi makmum mas malam ini. Apapun yang mas minta malam ini Ayra akan mengamini."
"Cup."
Satu kecupan mendarat pada kening Ayra.
"Mas tidak ingin anak kita seperti mas Ay. Mas orang yang penuh akan dosa. Mas ingin memulai rumah tangga kita dengan yang baik-baik termasuk hari mendaki juga mas ingin hari terbaik seperti Sebagian ulama yang men sunnahkan pada hari Jum’at.
Maka suami mu yang kosong akan ilmu agama ini ingin menunggu malam Jumat. Mas sudah memesan tiket untuk ke Bali."
Bram mendekatkan kepalanya ke arah Ayra. Ia membisikkan sesuatu ke telinga istrinya. Hingga wajah sang istri merona. Dan tertunduk malu.
"Malam besok kita berangkat ke Bali, Kita akan mendaki disana. Malam ini biar kita pacaran dulu. Kamu belum pernah pacaran bukan."
Ayra tertawa kecil dan menundukkan kepalanya. Ia mencoba menghilangkan rasa malunya.
"Mas sudah shalat isya?"
"Sudah. Tidurlah. Kamu pasti lelah satu hari ini. Kamu mau bangun jam berapa? Umi Laila bilang kamu selalu shalat lail. Aku akan membangun kan kamu nanti."
Bram menyelipkan rambut Ayra yang tergerai disisi pipi Ayra.
"Mas tidak mengantuk?"
"Mas akan tidur kalau istri mas sudah tidur"
"Ayra boleh minta sesuatu?"
"Hem.
"Ayra ingin shalat Lail malam ini bersama mas. Mas bisa jadi Imam nya?"
"Insyaallah kalau dua rakaat mas bisa. Mas baru hapal 4 surah pendek. Niatnya mas sudah hapal. Hampir satu bulan itu membuat mas mencoba belajar banyak hal Ay."
Ayra bergeser dari tempatnya. Ia telah menarik selimut yang menutupi separuh tubuhnya.
"Ayra ingin tidur dalam pelukan mas. Boleh?"
Bram tersenyum simpul. Ia menaiki tempat tidurnya dan masuk kedalam selimut itu. Ia menarik sang istri hingga terbenam dalam dada nya. Ia membelai rambut panjang nan hitam Ayra.
"Tidurlah."
"Sungguh aku terpesona pada cara mu mencintaiku mas. Apakah aku tak menarik dimata mu hingga kamu mampu menahan hingga malam lusa mas? "
"Cup"
Satu kecupan Bram berikan pada ubun-ubun Ayra.
"Hari ini aku ingin membuktikan pada mu Ay
Cinta ku padamu Bukan sebuah nafsu karena kecantikan mu, bukan pula sebuah nafsu yang ingin aku tuntaskan.
Jika hanya ingin menuruti nafsu. Maka aku tak akan menunggu terlalu lama untuk menuntaskannya Ay. Sejauh ini aku belum pernah mendaki dengan siapapun. Bukan kamu tak menarik sayang. Tapi kamu terlalu berharga.
Maka aku ingin memberikan kamu kenangan terindah dan terbaik saat mendaki termasuk waktunya. Lusa malam kamu akan tahu seberapa menariknya kamu dimata suami mu ini. Tidurlah."