Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
129 POV Nuaima dan Munir di kali Bening


Nuaima membawa Ayra bersamanya ke kantor tempat ia bekerja. Ia menyerahkan surat pengunduran diri kepada bagian HRD. Beberapa orang cukup kaget dengan keputusan mendadak Nuaima. Karena selama ini tak ada masalah atau kabar bahwa sang manajer pemasaran itu akan berhenti bekerja.


Tak ada angin tak ada berita. Tiba-tiba perempuan yang hampir 8 tahun bekerja paruh waktu ketika masih kuliah di perusahaan itu dari kariernya sebagai pegawai administrasi gudang hingga terus menanjak. Hingga di posisinya saat ini.


Ia selalu mendapatkan promosi saat target kerjanya tercapai. Karena ia memang menyukai dunia pemasaran. Disamping itu sikapnya yang humble membuat beberapa bidang atau tim di tempatnya bekerja selalu nyaman dengan cara nya memimpin tim-tim itu agar selalu kompak.


Nuaima dengan berat hati harus rela berhenti berkarier. Karena sang suami yang tak dapat mengontrol rasa cintanya pada mahkluk ciptaan Allah yang disebut Istri. Maka Aima atau Ai biasa Umi Laila menyebutnya Nuaima, pagi ini pulang kerumah sang kakak ipar.


Ia tak pernah menceritakan tentang gundahnya pada ibu atau ayahnya. Ia lebih memilih keluarga disebelah suaminya. Sepeti saat ini ia ingin meminta nasihat atau pendapat Umi Laila tentang rasa yang ada dihatinya. Tentang pertikaian yang terus saja melanda rumah tangganya selama sebulan terakhir.


Saat akan keluar dari perusahaan itu. Pak Bagas yang baru datang melihat Nuaima menggendong Ayra menuju Lobi.


"Aima. Kamu tidak bekerja? Atau Ayra sakit?"


"Maaf pak. Saya baru saja mengundurkan diri. Maaf tidak bisa menunggu Bapak. Dari tadi saya menunggu bapak tapi bapak tak kunjung datang. Saya akan berangkat ke Kali Bening takut ketinggalan Bis."


"Loh. Kenapa?"


"Maaf pak saya sudah tulis alasan saya resign di surat pengunduran diri saya. Terimakasih atas semua kesempatan yang bapak berikan kepada saya selama ini. Saya permisi dulu pak. Assalamu'alaikum."


"Tunggu Aima. Ada apa? Kita bisa bicara baik-baik. Atau suami mu terlilit hutang? Atau apa?."


Tanpa disadari pak Bagas memegang pergelangan tangan Nuaima saat ia akan keluar dari lobi perusahaan itu. Nuaima cepat menarik tangannya. Ia menarik napas dalam.


"Saya permisi pak."


Nuaima berlalu meninggalkan Pak Bagas yang membuka kacamatanya. Dan mengendurkan dasi merahnya. Ia penasaran apa yang menyebabkan perempuan yang begitu ia kagumi itu berhenti bekerja.


"Ini pasti ada hubungannya dengan suaminya yang hanya pekerja kontrak itu. Hah. Aima, aku sangat menyukai kamu. Aku mencintaimu, aku ingin memiliki kamu. Kamu selalu membentang jarak Aima. Kamu selalu menjauhi aku. Apa kurangnya aku dari suami mu itu. Bahkan untuk meninggalkan istriku saat ini aku rela demi dirimu. Aku tak akan membiarkan kamu pergi dari hidupku."


Pak Bagas begitu terobsesi terhadap Nuaima yang sangat dicintainya. Nuaima yang begitu lemah lembut, ramah, baik hati selalu membuat hatinya bergetar dan ingin selalu berada didekatnya. Hal yang tak lagi ia rasakan dengan istrinya. Semenjak istrinya itu memiliki anak ketiga. Istrinya tak menarik lagi Dimata Pak Bagas. Belum lagi sang istri lebih banyak acara sosialita bersama teman-temannya hingga Pak Bagas merindukan sosok lain.


Seiring waktu bekerja. Ia melihat Nuaima sosok yang begitu menarik mata, telinga dan hatinya. Hingga ia sangat suka berada didekat Nuaima dan memandang Nuaima. Jika banyak perempuan rela untuk menjadi simpanan Pak Bagas yang tak hanya tampan tapi juga kaya raya. Tidak dengan Nuaima. Berkali-kali ia mengajak Nuaima ke luar kota berkali-kali gagal karena akan ada wakil manajer yang juga akan ikut dengan acara mereka.


Belum lagi Nuaima akan sangat marah ketika Pak Bagas pernah menyentuh tangan Nuaima. Kini hatinya merasa hampa karena Nuaima telah mengundurkan diri. Cinta nya yang hanya obsesi tanpa ia sadari telah membuat biduk rumah tangga sang manajer diterpa ombak konflik antara Nuaima dan Munir. kecemburuan suaminya membuat ia memilih berhenti bekerja.


Menaiki sebuah Bis. Nuaima yang telah pamit pada Munir untuk menginap satu malam di rumah Umi Laila. Nuaima menaiki travel menuju rumah Kyai Rohim. Satu jam dari terminal kota ke Kali Bening hingga Nuaima datang ke rumah Umi Laila. Furqon yang melihat Bibinya datang cepat membantu membawa tas yang Nuaima tenteng. Ia masuk kedalam rumah dan istirahat di kamar Furqon.


Tiba di kediaman Kyai Rohim. Dimana pada saat itu belum menjadi pesantren sebesar sekarang. Hanya ada rumah yang cukup besar dan dibangun bersebelahan dengan masjid. Hanya ada beberapa Santri di sebelah rumahnya saat itu.


"Dik Munir tidak ikut Ai?"


"Tidak Kak. Ayahnya Ayra hari ini dan besok harus menguji skripsi kak."


Nuaima mengangguk. Kyai Rohim saat itu yang belum memiliki usaha masih mengandalkan kemampuannya bertani untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Maka siang hari sampai malam ia gunakan untuk mengaji bersama beberapa santri yang mondok ditempatnya.


Saat pagi Hari, Umi Laila lah yang akan mengisi materi. Saat selesai makan siang. Kyai Rohim pamit untuk mengajar ngaji anak-anak sekitar pondok mengaji.


Sedangkan Ayra diajak oleh Furqon bermain di teras rumah bersama adik-adiknya yang lain. Saat selesai mencuci piring, Umi Laila membuatkan teh Nuaima dan mereka duduk di ruang tengah.


"Kamu tidak bekerja hari ini Ai?"


"Tidak kak."


"Kenapa?"


"Karena mulai hari ini aku resign."


"Loh kenapa?"


"..…. "


Nuaima tak tahu apakah harus cerita atau tidak tetapi hatinya seolah masih ingin menjaga masalah rumah tangganya dari kakak ipar.


"Mas Munir minta agar aku berhenti bekerja."


"..... "


"Mas Munir ingin aku fokus merawat Ayra kak."


"O.... Kalian tidak lagi ada masalah kan?"


"Tidak. Walau sedikit berdebat kemarin. Menurut kakak apakah tak baik aku yang berkarier sehingga menjadi ibu rumah tangga?l lebih baik?"


"Kalau pendapat Kakak ya Ai. Mau dirumah saja atau bekerja diluar rumah bisa jadi sama baiknya. Hendaknya kita perempuan, meniatkan diri di manapun kita berada untuk beribadah, menjauhi segala maksiat dan dosa, berusaha semaksimal mungkin untuk mengembangkan kualitas diri, dan menjadi bermanfaat untuk sesama.


Sebagai contoh zaman sekarang penyakitnya kita ini, tidak mampu lagi menghadirkan Figur Allah dalam kehidupan kita. Sampai sekarang kita tak bisa merasakan itu kecuali mereka yang memiliki atau dekat dengan guru.


Intinya, semuanya tergantung pada kebermanfaatan yang dilakukan. Zaman serba canggih sekarang jangankan diluar rumah. Dari dalam kamar kita pun kita bisa maksiat atau pun dosa. Maka mau diluar rumah maupun didalam rumah. Tergantung niat kita bekerja dan menjaga kepercayaan suami. Kakak yakin kamu mampu menjaga kepercayaan Munir. Tinggal niatnya saja Ai."


Nuaima tertegun mendengar penjelasan Umi Laila yang memang tempat ia mengadu, berkeluh kesah tentang hal-hal seputar hati dan kehidupan berumah tangga.


"Kak.... "


Nuaima yang tak tahan lagi, ia ingin menumpahkan rasa sedihnya. Jika ada orang yang ia ajak cerita maka itu adalah Umi Laila. Dadanya makin sesak. Ia butuh seseorang untuk mendengarkan tangisnya. Suara hatinya, hal yang tak dilakukan Munir sebagai suaminya.