
Bram duduk dan membenarkan bajunya. Ia merasakan sakit pada punggung dan lehernya. Rasa berbeda sekali ketika yang mendaratkan koin itu di punggungnya. Ayra yang pernah melakukan itu tak pernah meninggalkan rasa sakit. Sangat lembut dan pelan istrinya itu memperlakukannya. Walau hasilnya tetap sama merahnya.
"Aaaawwwhhh..... Rasanya sakit sekali Pak Uban. Kau malah membuat ku tambah sakit."
"Hihihi... Sebentar lagi kau akan berkeringat pak CEO."
"Cepat katakan. Apa hubungan mu dengan ibu mertuaku dan mengapa kamu mengenal ibu mertua ku."
"Jelaskan dulu pada ku anak muda. Apa maksud mu shalat mu tadi?"
"Hhhhhh.,... Orang-orang bilang kau belajar agama banyak selama disini. Lah memang nya tidak tahu tentang qadha?"
"mengerjakan shalat atau puasa fardu di luar waktu semestinya karena alasan tertentu. Atau Mengganti?"
"Heh. Ternyata betul. Kamu pintar Pak Uban."
"Bukan pintar anak muda. Tapi dimana ada kemauan disitu ada jalan. Walau usia sudah tua. Setidaknya aku ada kemauan belajar apa yang selama ini tak pernah aku lakukan selama muda dan masih bebas diluar sana. Musibah membuat aku sadar bahwa hidup didunia ini hanya sementara. Tepatnya setelah anak dan istri ku meninggal dan aku ada disini."
Suara pak Uban terdengar cukup berat ketika ia mengingat tentang anak dan istrinya yang meninggal karena terkena virus covid 19 yang sempat melanda beberapa tahun silam. Hingga ia bertemu salah satu petugas lapas yang merupakan lulusan pondok dan juga hafidz. Maka dari sana Pak Uban belajar. Tapi sayangnya ia hanya mengenal dua tahun. Petugas itu pindah ke lapas lain.
Hingga kini Pak Uban hanya belajar agama melalui buku. Belajar agama tanpa diikuti pemahaman yang memadai bisa menjadi blunder. Ibarat listrik rumahan yang disambungkan langsung ke saluran bertegangan tinggi, seseorang yang belajar agama tanpa perantara guru, bisa konslet.
Bram menarik selimutnya. Ia kembali menyembunyikan tubuhnya dibalik selimut. Ia tarik selimut itu hingga batas perutnya. Bram duduk bersandar di dinding dengan alas bantalnya.
"Aku mengerjakan shalat yang pernah aku tinggalkan sejak akil baligh."
"Apa? aku baru mendengarnya."
"Menurut Kitab Safinatun Naja, uzur shalat itu ada dua, yaitu tidur dan lupa. Nah ulama bersepakat bahwa mengganti shalat, lebih-lebih shalat fardhu yang terlewatkan hukumnya wajib. Kesepakatan ini ada dalam masalah shalat yang tertinggal akibat tertidur atau lupa semisal karena sangking sibuknya.
Shalat adalah salah satu kewajiban bagi seorang muslim semenjak ia sudah beranjak akil baligh.
Dan istri ku mengajarkan aku untuk qodho shalat fardhu ku selama aku telah baligh tapi tak aku kerjakan dengan melakukannya setelah shalat fardhu seperti yang aku kerjakan tadi. Ah beruntung aku mendapat istri Ayra. Jika tidak untuk satu perkara shalat saja aku akan tak berkutik ketika diminta pertanggungjawaban nya nanti."
[Maka pentingnya Seorang Guru dalam belajar agama. Harap readers bijak. Ini hanya sebuah novel. Maka jika readers belajar agama harap mencari literatur juga memiliki guru yang sanadnya jelas. Jangan hanya mengandalkan Mbah Google atau Mbah YouTube. Mbah Tiktok. Karena hal seperti ini hanya Guru yang bisa menjelaskan dan Membimbing kita. Semoga dengan membaca novel ini. Kalian lebih semangat mencari ilmu melalui seorang Guru tidak hanya lewat buku, tiktok, YouTube, dan google. Guru yang jelas sanadnya, keilmuannya]
"Jadi kamu hampir tak pernah shalat dulu?"
"Hehehe.... Gemilangnya karier. Banyaknya harta, membuat saya lupa melibatkan Allah di setiap kehidupan ku."
"Menarik. Aku baru tahu bab qodho shalat ini. Kupikir hanya shalat yang kita tertinggal saja."
"Sudah sekarang giliran mu. Dimana kamu mengenal Ibu mertua ku dan apa hubungannya dengan mu? Apa kamu mantan pacarnya?"
"Heh. Mulut mu itu tak ada sopan-sopannya. Satu lagi. Kenapa kamu tidak memulai membaca basmalah ketika wudhu tadi?"
"Owh begitu.... Ckckckck.... aku selama ini sibuk dengan bacaan saja."
"Sekarang giliran Anda."
"Baiklah. Sebenarnya aku tak ingin mengingat masalalu. Aku sudah menguburnya. Hingga orang-orang tak lagi mengenal ku dengan nama ku. Aku lebih senang dengan panggilan pak Uban karena masalalu ku yang penuh dosa."
Dua orang lelaki itu duduk berjauhan namun suara mereka masih bisa saling terdengar disela-sela rintik hujan.
"Kejadian itu sekitar 24 tahun yang lalu."
Pak Uban meletakkan kedua tangannya di balik kepala yang ia sandarkan pada dinding. Tatapannya jauh menerawang. Ia mengingat kembali apa yang terjadi hingga ia harus berada di balik jeruji besi ini.
...POV Nuaima dan Munir (Ibu dan Ayah Ayra)...
[Jangan komentar kenapa melebar, kenapa kok ada cerita baru. Ada tokoh baru. Nanti ada hubungan dengan masa depan Ayra dan juga bebasnya Bram. Duduk manis aja, bantu baca, bantu vote, like, komentar, dan krissannya atau cek typonya. Harap menambah Cemilan anda guna menahan rasa penasaran kenapa? kok Gitu ðŸ¤]
Nuaima Al-Fiyah biasa dipanggil Nuaima atau Ay. Seorang istri dari Munir. Munir adalah ayah dari Ayra khairunnisa. Satu alasan kenapa keluarga Kyai Rohim lebih senang memanggil Ayra dengan Ra atau Ayra. Karena panggilan Ay sangat identik dengan bagaimana Munir memanggil Nuaima dengan sebutan Ai. Dimana sepasang suami istri yang sama-sama saling mencintai. Terlebih lagi suami Nuaima yang merupakan adik kandung Kyai Rohim itu.
Munir begitu mencintai istrinya. Selayaknya rumah tangga pada umumnya, Maka konflik adalah suatu kewajaran dalam suatu hubungan yang menyatukan dua orang dari latarbelakang yang berbeda. Tetapi, semua kembali ke diri Masing-masing pasangan tersebut dalam menyikapinya.
Seperti saat ini, Munir begitu merasa khawatir tentang istrinya. Nuaima yang bekerja di salah satu perusahaan sebagai manajer pemasaran, Nuaima yang tak hanya pintar tetapi juga cantik. Karena banyak lelaki yang menyukai dirinya selama ia gadis. Namun saat yang berani melamar nya pertama kali adalah Munir maka Nuaima menerima lamaran Munir. Dan Nuaima pun sangat mencintai suaminya. Karena karakter Munir yang begitu baik serta sangat mencintai Nuaima.
Tak dipungkiri jika istri dari munir itu memiliki paras wajah cantik juga tubuh yang tinggi semampai mampu membuat mata lelaki yang memandang tak berkedip beberapa saat walau kecantikan tubuhnya ia balut dalam pakaian yang cukup besar hingga menutupi aurat yang harus ia jaga beserta kerudung.
Pada suatu sore Munir yang ingin memberi kejutan di hari ulang tahun istrinya. Ia menjemput Nuaima dengan sebuah mobil baru walau terhitung tak semahal mobil teman-teman Nuaima di kantor namun Munir membeli barang itu dengan cash. Karena Nuaima tidak suka membeli sesuatu dengan sistem kredit. Ia lebih suka menabung.
Saat Munir menjemput Nuaima tanpa sengaja Munir yang menunggu Nuaima dari luar restoran, ia melihat seorang lelaki yang tak lain adalah bos tempat istrinya bekerja sedang memandang Nuaima begitu intens. Sebagai seorang suami. Munir merasa tak suka ada lelaki lain memandang sang istri begitu intens.
Lelaki itu terus memandangi istrinya. Walau sang istri tak memperhatikan apa yang terjadi karena sibuk dengan klien perusahaan mereka. Sejak kejadian itu Munir selalu curiga, selalu cemburu pada Nuaima. Bahkan ia melarang istrinya itu mengenakan Make up ke kantor walau hanya tipis.
Dan Nuaima pun menurut, ia hanya mengenakan lips gloss. Walau tanpa make up, wajahnya masih menunjukkan kecantikan. Karena berkulit mulus, putih, serta bulu mata lentik dan hidung mancung membuat Aima masih terlihat cantik dan menarik.
Dua hari sebelum kecelakaan naas yang menimpa Munir dan Nuaima. Mereka sempat bertengkar karena Munir membuka ponsel Nuaima. Dan ada sebuah foto dimana Nuaima berdiri bersama beberapa rekan kerja nya. Dan pimpinannya itu tepat berada disebelah Nuaima. Munir menatap tajam istrinya.
"Katakan apa karena penghasilan mu lebih besar jadi kamu bisa berbuat sesuka hati mu Ai? Hingga harus berfoto di sebelah Pak Bagas?"
"Mas, ada apalagi? Kenapa satu bulan ini kamu selalu mencurigai aku. Aku sudah bilang aku tidak ada hubungan apapun dengan pak Bagas. Dia pimpinan ku. Kami hanya sebagai atasan dan bawahan. Pak Bagas punya istri jauh lebih cantik dari diriku."
"Tapi berkali-kali aku melihat ia menatap mu dengan begitu dengan penuh rasa cinta."
Tiba-tiba terdengar suara tangisan Ayra dari dalam kamar. Nuaima segera meninggalkan Munir sendiri di depan ruang keluarga.