Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
148 Senyum Untuk Bambang


Didalam Lift, Tampak Bu Lukis cepat membuka ponselnya. Ia menscroll status medsos teman-temannya. Jari jempol ibu Lukis akan berhenti ketika ada satu status yang menarik baginya dan sayang jika tidak dibaca.


..."Ah.... Dasar Perempuan tidak tahu diri. Sudah tahu suami orang masih saja dideketin. Gatel!Pelakor dimana-mana!”...


“Apa suaminya selingkuh?”


Kembali ibu jari Nyonya Lukis menscroll layar ponselnya. Tiba-tiba ibu jarinya berhenti lagi.


...“Asam urat lagi kumat. Maaf ya Bestie ga bisa shopping bareng.”...


“Kemarin aku dibilang udah tua sekarang dia baru ngerasain sakit juga baru sadar klo juga sudah tua.”


Umi Laila yang dari tadi mendengarkan komentar komentar besannya itu pun tertawa dan menahan punggung tangan Nyonya Lukis yang kembali akan berselancar di layar ponselnya itu untuk menikmati indahnya membaca status tentang keluh kesah temannya.


“Hehehe... Sudah Bu. Berhenti malah jadi ghibah nanti Hehehe.... “


“Lah iya ya. Jadi ngomongin orang aduh.... Maaf Umi... Aduh jadi malu.... “


Raut wajah Nyonya Lukis merah. Ia mengepalkan tangannya dan beberapa kali memukul pelan dahinya dengan kepalan tangannya itu.


“Coba tadi Ibu rasakan. Ketika status tadi berupa hal-hal positif kita akan melewatinya. Coba kalau yang seperti tadi. Mata dan jari kita begitu tertarik bukan?”


“Ah... berarti selama ini kalau ada yang ga suka sama saya itu pasti senang sekali ya Umi....?”


“Ya ndak gitu juga. Kita harus berpikir positif klo untuk ke orang lain. Kita itu harus kritis ketika mengkritik diri sendiri. Bukan sebaliknya Bu.”


Seketika pintu lift terbuka, kedua perempuan itu keluar meninggalkan lift itu.


“Ah benar. Selama ini status nya Umi Laila itu hanya tentang yang positif-positif. Bahkan nyaris Ndak pernah ada keluh kesah, atau apa yang ia rasakan. Ayra pun begitu. Padahal ia juga punya cobaan. Dimasa kehamilannya sekarang pun setiap hari malah aku yang rindu selama di Kanada ingin melihat status apa tapi tak pernah ia luapkan di medsosnya. Ah, sungguh indah Umi Laila dan Ayra ini. Saya beruntung mengenal dan bisa dekat dengan mereka.”


Pukul 3 dini hari di rumah sakit tempat Rani dirawat. Bambang menatap seorang lelaki tua dengan istrinya diikuti oleh seorang lelaki yang baru saja dari ruang donor darah.


"Mas Rendi.... "


"Dimana Rani?"


Suara perempuan paruh baya cepat menghampiri Bambang.


Bambang menoleh ke ruangan yang tersekat dinding kaca.


Perempuan yang ternyata adalah ibu dari Rani. Ia menangis menatap putri keduanya itu. Ia selama ini selalu berusaha menahan rasa rindu ketika akan bertemu dengan Rani. Namun kali ini ketika mendengar bahwa Rani dalam perawatan dan membutuhkan donor darah Anggota keluarganya. Membuat ibu yang telah melahirkan Rani itu cepat membela Rendi sebagai Kakak Rani yang ketahuan suaminya jika akan ke rumah sakit mendonorkan darah untuk adiknya.


Cukup lama ia membujuk suaminya untuk ikut membesuk Rani dan akhirnya tangis dari perempuan itu mampu membuat Ayah Rani yang tak lain adalah Pak Adi Kuncoro. Dimana Pak Adi ini adalah anak dari Pak Kuncoro. Seorang lelaki yang dulu merebut usaha yang dirintis bersama sahabatnya yang tak lain adalah ayah dari pak Erlangga.


Salah satu kenapa pak Erlangga dahulu tak merestui hubungan Bambang dan Rani. Ia yang ingat bagaimana ayahnya di fitnah hingga haknya dirampas oleh Pak Adi itu. Hingga ayah Pak Erlangga meninggal dunia. Ia harus hidup susah. Membuat Pak Erlangga memiliki dendam kepada keluarga Kuncoro. Hal yang selalu memicu Pak Erlangga akan bersikap tidak sopan pada keluarga Pak Adi.


Hingga dendam masalalu itu Sampai pada anak-anak mereka.


Bambang hanya diam. Ia tak berani berkata apapun. Pak Adi melihat kondisi Rani. Ia hanya menatap dingin Bambang. Rendi hanya melirik orang tuanya itu. Tak lama Umi Laila dan Nyonya Lukis kembali dengan 2 cup teh dan satu cup kopi.


"Siapa Bams?"


"Em..... Ayah dan Ibunya Rani Ma."


Seketika air mata Nyonya Lukis ingin menetes. Ia tak pernah bertemu besannya itu.


"Ini Mama mu Bams?"


"Iya... "


Ibu Rani yang biasa dipanggil Jeng Nia segera menghampiri besannya.


"Saya tidak menyangka anda lebih berbesar hati. Anda menerima Rani, menyayangi dia seperti anak sendiri."


"Tidak benar Bu. Saya tidak seperti itu. Saya banyak kurangnya dan salah sebagai orang tua dari Bambang."


"Saya sering melihat status kebahagian Rani beberapa bulan ini. Saya bahagia sekali sebenarnya ketika tahu ia pulang kerumah anda. Saya selalu memantau Rani di medsosnya. Saya sering melihat foto anda bersama Rani dan Raka anaknya.


Saya yang nenek kandungnya belum pernah menggendong nya apalagi memangku Raka. Foto-foto kebersamaan Anda dan Rani membuat saya sering menangis. Namun apalah arti kita yang hanya penumpang kapal Bu Lukis. Jika Nahkoda tak mengizinkan kita untuk menghampiri anak sendiri. Hiksss..... "


Tangis haru, bahagia dari dua perempuan yang juga besan namun baru satu kali bertemu.


"Ehm.... ehm... Saya minta maaf Bu Lukis. Saya perlu bicara dengan pak Erlangga."


Pak Adi mendekati istrinya yang memeluk Nyonya Lukis.


"Papa lagi di Kanada. Kakak saya Beni disana masih Koma karena kecelakaan yang menimpanya."


"Tidak perlu minta maaf pak Adi. Saya mewakili suami saya juga mohon maaf selama ini hubungan kita harusnya baik karena anak-anak kita hidup bahagia. Namun saya yang juga sama seperti Jeng Nia mau tidak mau bersabar menghadapi segala kondisi yang ada sekarang ini."


Sebuah hubungan keluarga yang lama tak terjalin kini kembali terajut karena musibah yang menimpa Rani. Papanya yang keras akhirnya luluh karena kesedihan mendalam dari sang istri. Dan rasa sayang sang kakak pada adiknya. Terlebih lagi cinta yang besar dari Bambang dan perlakuan yang baik dari keluarga Pak Erlangga membuat Pak Adi sedikit mengalah.


Ternyata setelah melihat kondisi Rani seperti saat ini. Ia justru menyesali keputusannya mengusir Rani saat ia hamil tanpa suami. Tanpa ikatan pernikahan. Namun Bambang justru merawat putrinya itu dan mencegah Rani saat Rani ingin menggugurkan kandungannya. Sebuah cinta yang Pak Adi anggap tulus.


Cinta yang bisa menerima kekurangan pasangannya. Terlebih beberapa bulan lalu Pak Erlangga memboyong cucu kandungnya bersama putrinya ke Kediaman nya. Satu hal yang tak pernah ia lakukan namun Pak Erlangga mampu menurunkan ego dan dendam masalalu nya.


"Hah.... Saya berterima kasih pada mu. Kamu mau merawat Rani, menyayangi cucuku yang bukan darah daging mu. Rani tidak salah memilih kamu sebagai teman hidupnya. Tapi cara kalian itu dulu yang salah. Tapi sekarang nasi sudah jadi bubur. Asal Rani bahagia, kami orang tua akan bahagia. Om minta maaf padamu.... "


"Tidak bolehkah saya memanggil anda sama seperti Rani memanggil anda?"


Pak Adi memeluk Bambang dengan kedua pipinya basah.


"Panggil aku Papa. Mulai sekarang kamu anak ku bukan hanya anak Erlangga si keras kepala itu. Semoga kamu tidak sama kerasnya dengan papa mu itu."


Suara pak Adi terisak saat ia mengucap kalimat itu. Dinding kaca ruang ICU rumah sakit itu menjadi saksi bersatunya dua keluarga karena ikatan pernikahan Bambang dan Rani. Menjadi saksi Ridho nya orang tua Rani yang selama ini tak merestui pernikahan Bambang dan Ran.


Sungguh indah skenario Allah. Hanya kita manusia sering sekali tak sabar menanti pelangi disaat hujan tak kunjung reda. Dikala petir, kilat menyambar. Kita selalu menginginkan sesuatu indah dan bahagia dengan segera tak ingin menikmati dinginnya cuaca Karena hujan itu. Tak ingin mendengar suara hujan yang mengguyur atap rumah. Tak ingin menikmati suatu rasa butuh diselamatkan pada yang menurunkan hujan, disaat suara guruh dan kilat menyambar.