
Hujan cukup lebat. Suara petir yang terdengar sesekali cukup memekakkan telinga. Tampak dari kejauhan seorang lelaki datang tergopoh-gopoh membawa satu paper bag.
Baru saja tiba di gedung sekolah itu, ia sudah mendapat amarah dari orang yang dari tadi menunggunya.
"Tidak bisakah kamu lebih cepat! Jika kamu ingin bekerja menjadi asisten ku, Maka belajarlah untuk mengerjakan dengan cepat. Aku tidak suka orang lambat!"
"Ba-Ba-Baik Tuan Bram."
Ya, lelaki yang menyelamatkan Ayra adalah Bramantyo Pradipta.
Bram pergi meninggalkan asisten nya sendiri didepan ruangan yang baru saja kacanya Bram pecahkan. Saat Bram mencari toilet ia tak jadi mengganti baju disana.
"Oh my God! It's Bad smell!"
Bau yang menyengat dari toilet yang biasa digunakan siswa itu membuat Bram menutup hidungnya. Ia cepat keluar dari ruangan yang berbau tak sedap itu. Ia pun akhirnya berniat mengganti baju di ruangan yang terdapat Ayra.
"Ah Gadis Drum itu tak mungkin bangun."
Bram menatap Ayra yang ia letakkan diatas meja yang susun hingga menjadi seperti tempat tidur. Bram tidak menyadari sebenarnya Ayra telah sadar dari pingsannya. Namun tubuh yang dingin karena terlalu lama berada di dalam air dan juga terombang-ambing membuat Ayra menggigil. Dan ia mengalami demam, hingga ia pun setengah sadar.
Saat Bram akan membuka jasnya, Telinganya mendengar suara lirih dan menggigil yang berasal dari bibir Ayra.
"Hhhh.... Hhhhh.... "
Seketika Bram teringat pesan perempuan yang melahirkannya. Hampir setiap moment sang ibu akan berpesan tentang pentingnya melindungi perempuan dan menjaga perempuan. Karena Nyonya Lukis belajar dari pengalamannya. Ia sangat disayangi dan dihormati oleh suaminya.
Maka ia memang menanamkan hal itu pada tiga anaknya.
Bram pun mendengus kesal sambil menatap Ayra.
"Kamu betul-betul menyusahkan aku!"
"Ayolah Bram dia bisa kenapa-kenapa. Membawa nya kerumah sakit tak mungkin kamu tak punya banyak waktu. Hem. Baiklah demi pesan Mama, kau harus berterima kasih pada Mama ku gadis drum!"
Bram tak jadi mengganti bajunya. Ia masih membiarkan tubuhnya memakai kemeja dan jas yang basah itu. Ia pun membuka kerudung Ayra. Cukup terpana beberapa waktu ketika Bram membuka kerudung Ayra. Karena terlihat cantik dan imut. Wajah bundar Ayra dilengkapi bulu mata yang lentik serta hidung mancung Ayra mampu membuat kedua netra Bram tak berkedip beberapa saat.
"Sayang sekali, kamu punya pesona. Tubuh mu pasti seksi jika tak ditutupi lemak. Tapi tubuh gendut mu ini membuat pesona mu itu hilang. Hehe."
Bram yang mendengar suara ketukan dari luar pun cepat membuka semua baju yang melekat pada tubuh Ayra.
"Tok. Tok.Tok."
"Tuan. Kita tidak boleh terlambat. Atau kita akan hilang kesempatan ini. Mereka tidak suka menunggu. Apa perlu saya bantu?"
"Jangan masuk! Tunggulah beberapa menit lagi!"
Bram yang berhasil membuka semua pakaian Ayra menggeleng-gelengkan kepala dan tertawa simpul.
"Ada ya perempuan bertubuh seperti ini. Ih... "
Bram bergidik dan cepat memakaikan jas nya pada Tubuh Ayra. Saat ia baru akan memakaikan jas nya pada Ayra. Pintu Kembali diketuk.
"Tok.Tok.Tok. Tuan"
"Hei! Kau tidak mengerti tunggu! Aku akan menghajar mu Rafi. Kau bilang kau lulusan terbaik di kampus mu. Baru satu Tahun bekerja kau membuat urat saraf ku sakit!"
Seketika Rafi tak berani mengetuk pintu. Bram melihat jam tangannya.
"Ah, aku tidak boleh terlambat. Ini kesempatan ku untuk membuktikan pada papa bahwa aku bisa. MIKEL group tidak boleh di akusisi oleh perusahaan manapun."
Bram melihat ada dua buah taplak meja. Ia menarik taplak meja itu. Ia lilitkan pada pinggang Ayra hingga menutupi tubuh bagian bawah Ayra. Satu lagi ia tutupi tutupi kepala Ayra.
Glek.
Bram merasa aneh karena baginya perempuan bertubuh drum ini begitu imut dan menarik hatinya. Ia terpana sesaat. Entah karena Bram tidak pernah sedekat ini dengan perempuan mana pun atau memang bibir Ayra yang begitu menggoda hingga Bram yang jaraknya sangat dekat dengan wajah Ayra memajukan wajahnya ke dekat wajah Ayra. Ia mencuri satu kecupan di bibir mungil Ayra, padahal gadis itu dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"What! Oh My God. My first kiss. Sial! mimpi apa aku semalam!"
Satu tangan Bram memegang bibirnya. Namun bibir bawahnya sedikit ia gigit. Dan ia tersenyum simpul. Ada rasa bahagia dan jantung nya berdetak kencang. Ia bahkan sedikit merasa gemetar.
"Jangan gila Bram, Banyak Gadis cantik yang mengejar mu. Gadis bertubuh Drum ini bukan tipe mu!"
Bram pun pergi meninggalkan Ayra sendiri namun saat ia akan meninggalkan Ayra. Kembali ia menoleh kearah Ayra. Entah kenapa ia khawatir jika gadis bertubuh gemuk itu akan jatuh dari meja. Ia kembali menyusun beberapa meja. Ia rapatkan ke dinding. Lalu ia kembali menggendong Ayra. Ia pindahkan tubuh besar Ayra ke meja yang menempel ke dinding. Sehingga kemungkinan Ayra akan jatuh sangat kecil.
"Ah wajah mu ini akan terlihat cantik jika saja pipi mu itu tak sebesar bakpau. Semoga kita tidak bertemu lagi, Bibir mu itu membuat ku penasaran. Dan wajah mu menggangu hati ku. Sayang tubuh mu kurang menarik."
Entah kenapa Bram kembali menatap Wajah Ayra. Bibir mungil nan ranum itu membuat putra sulung Erlangga itu kembali meninggalkan satu kecupan lagi.
Beberapa detik Bram membiarkan kecupan itu. Hatinya berdebar-debar. Ia cepat mundur beberapa langkah.
"Tidak.Gila!!Tidak, tidak, Kamu hanya tidak pernah pacaran Bram. Kamu hanya butuh dekat dengan perempuan. Yang jelas bukan yang bertubuh Drum ini. Kamu tidak mungkin suka apalagi jatuh cinta pada perempuan ini."
Bram kembali memegang bibirnya. Ia cepat meninggalkan Ayra sendiri. Rafi yang dari tadi menunggu melihat sosok tubuh Ayra di dalam ruangan itu. Karena pintu yang terbuka sedikit lebar saat Bram keluar. Otaknya yang pernah menonton film 21+ pun melirik kearah Bram dan ia merasakan aneh apa yang bosnya baru saja lakukan bersama wanita bertubuh Drum yang masih terpejam diatas meja. Terlihat Sebuah jas hitam menyelimuti Ayra.
"Huh. Dia bilang akan membuktikan pada Papanya akan sukses di perusahaan yang sedang kolaps. Dia bilang tidak pernah main-main dengan perempuan. Pantas setiap perempuan cantik dan seksi selalu tak ia lirik. Apakah perempuan bertubuh penuh lemak ini pacarnya? Apa tidak ada tempat yang lebih layak dari gedung sekolah ini. Apakah bos menyukai anak-anak? What! apa jangan-jangan perempuan itu masih sekolah. Celakalah aku."
"Tunggu Tuan!"
"Ais! Apalagi Hah!"
"Ada CCTV disini. Saya khawatir kejadian anda didalam ruangan itu akan dilaporkan pihak sekolah.... "
Bram melihat ke sekeliling sekolah itu.
"Cepat bereskan. Aku tunggu di mobil. Ingat aku tak suka menunggu!"
Tap
Tap
Tap
Bram meninggalkan Rafi seorang diri. Rafi membuka pintu yang ada Ayra didalamnya. Dan sedikit mengintip
"Sungguh aneh selera mu. Wajah tampan tapi selera aneh."
Rafi cepat berlari mencari ruang kontrol CCTV itu. Ketika berhasil ia mengambil satu alat yang menjadi master rekaman CCTV itu. Lalu ia cepat berlari ke arah depan pintu gerbang sekolah.
Saat telah memasuki mobil. Baru saja ia akan melajukan mobil sport itu, Ia harus menundanya karena ada sebuah motor berhenti didepan mobil dan menepi. Bram yang melihat sosok perempuan yang ia kenal capat membuka kaca mobil.
Pengemudi motor itu sepertinya menepi karena derasnya hujan mengguyur bumi. Bram menyapa perempuan yang di bonceng lelaki.
"Hei! Kita berjodoh ternyata. Teman mu bertubuh Drum itu ada didalam salah satu ruangan gedung ini. Katakan padanya untuk mengurangi makannya. Dia berhutang nyawa padaku!"
Yeni yang dibonceng Kyai Rohim pun kaget. Dan Kyai Rohim pun mendengar jelas perkataan Bram juga memotret jelas wajah Bram. Walau dibawah derasnya hujan dan mendungnya cuaca.
Yeni pun kaget karena ia tak menyangka lelaki tadi betul-betul bisa menyelamatkan temannya.
"Siapa nama Anda nak?"
Bram tak menjawab pertanyaan kyai Rohim. Ia cepat menutup pintu kaca mobil dan memberi kode pada Rafi untuk segera meninggalkan tempat itu.