
Pagi itu sepasang suami istri terlihat sangat bahagia karena melihat hasil USG. Ayra akan kembali memiliki seorang anak lelaki. Usia kandungan yang telah memasuki 6 Bulan, sang bayi baru mau menampakkan jenis kelaminnya.
Ammar dan Qiya yang ikut Serta ke Obgyn ikut senang melihat di layar kaca, sebuah gambar empat dimensi. Seorang bayi yang terlihat meringkuk. Ammar dan Qiya berbinar menatap potret yang diberikan oleh dokter yang dulu menyambut mereka ketika proses melahirkan.
"Wah besok Ammar Sam Qiya akan punya adik laki-laki." Ucap sang dokter kepada si Kembar.
"Terimakasih Bu dokter. Adik sehat kan Bu?" Tanya Qiya penasaran.
"Iya sehat." Jawab Bu dokter singkat.
Ammar yang penasaran juga bertanya pada sang dokter
"Kapan adik kami keluar Bu?"
"Wah masih cukup lama. Mungkin 3 bulan lagi. Kalian jaga Mama baik-baik biar adik dan mama kalian sehat ya?"
Sepasang anak kembar itu pun menjawab kompak.
"Siap Buk Dokter!"
"Anak pintar."
Dokter tersebut mencatat buku pemeriksaan kehamilan Ayra dan memberikan resep vitamin. Bram membantu Ayra untuk bangkit. Ketika menerima resep dari sang dokter, Bram cepat menebusnya di apotek yang berada di depan rumah sakit swasta itu.
Saat di dalam mobil, Ammar kembali bertanya pada Ayra.
"Mama, nanti adiknya keluar lewat mana?"
Bram seketika melirik ke arah spion dan istrinya yang ada di sisi kirinya. Bram sudah ingin menjawab pertanyaan Ammar dengan kalimat andalannya. 'tunggu kamu dewasa nanti baru kalain akan tahu'. Ayra cepat mengusap lengan Bram. Ia mengedipkan kedua matanya. Ia setengah menoleh ke arah Ammar yang duduk dibelakang.
"Ammar tahu tidak untuk perempuan boleh hamil itu harus apa dulu?"
Bram mendelik mendengar pertanyaan Ayra. Ia yang lelaki dewasa berpikiran bahwa untuk hamil jelas harus berhubungan badan. Mulut yang hampir terbuka kembali tertutup. Karena jawaban cepat Qiya.
"Harus menikah dulu!" Jawab Qiya cepat.
"Pintar.... anak Mama. Tahu darimana?"
Qiya merapikan poninya.
"Kan Mama sering bilang sama aku dan Kakak. Kalau sudah baligh tidak boleh pegang-pegang yang bukan mahram. Tapi kalau sudah besar dan suka sama teman yang bukan mahram. Menikah. Kan setiap orang udah menikah pasti punya anak."
"Kata siapa? Tante Liona dan Om Beni belum punya anak." Protes Ammar.
Bram kembali menoleh ke arah istrinya. Sambil mengendalikan kendaraannya, Bram pun pasrah dengan rasa ingin tahu anaknya tentang banyak hal.
"Mas serahkan pada mu Ay."
Ayra tersenyum melihat Bram mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
"Tidak semua orang yang menikah punya anak dengan cepat Qiya. Karena kita di dunia ini, hidup sudah ada takdirnya. Jadi begitupun punya anak. Ada yang diberikan cepat. Ada yang diberikan sedikit lama. Tapi harus tetap berusaha."
Bram kembali menahan tawa ketika Ammar kembali bertanya.
"Berusaha nya gimana Ma?"
Ayra pun tersenyum simpul. Namun bekal nya sering membaca, menonton tips parenting. Membuat Ayra paham jika cara berpikir orang dewasa akan berbeda dengan anak-anak. Contoh jika orang tua dibilang sebelum punya anak apa prosesnya. Maka apa yang Bram pikirkan tadi jadinya. Sedangkan pola pikir anak justru berbeda.
"Jadi begini, Anak adalah rezeki. Nah rezeki itu harus di jemput juga di doakan agar Allah berikan. Usahanya doa salah satunya. Juga Kalau sudah menikah harus sayang sama suami atau istrinya. Maka itu kenapa orang tua harus berbeda kamarnya dengan anak-anak. contoh, Ammar tidak Suka lihat mama pakai baju terbuka, karena Ammar masih anak-anak. Tapi Papa, papa sudah dewasa. Papa suka lihat istrinya pakai baju terbuka. Maka usahanya menyenangkan suami atau istri kita."
Ammar dan Qiya mengangguk-anggukan kepala. Mereka yang berpikir jika menikah harus menyenangkan hati pasangan dan menyayangi pasangan. Sedangkan Bram sudah menahan napas dari tadi. Ia yang pria dewasa justru traveling membayangkan istrinya mengenakan 'baju cinta'. Satu kode bagi mereka jika Ayra setelah suci dari haid. Sang istri akan mengirimkan pesan ke suaminya saat masih dikantor hingga malam.
..."Pulang jam Berapa mas? Ayra sudah siap dengan 'caju Cinta'"...
Maka Bram paham maksud istrinya jika ia telah suci dari haid.
Bram menggelengkan kepalanya dan tersenyum karena istrinya begitu mudah menjawab pertanyaan anaknya. Sehingga Ammar yang tadi bertanya darimana bayi keluar. Kini pertanyaan itu berhenti di penjelasan Ayra bahwa berusaha itu adalah dengan cinta pada pasangan.
Ayra yang mengerti jika sekarang adalah masa ingin tahu anaknya begitu tinggi sehingga ia pun tak boleh berbohong pada anaknya tentang banyak hal dari rasa ingin tahu mereka. Qiya yang merapikan roknya kembali bertanya.
"Mama kenapa setiap perempuan sudah melahirkan akan sakit beberapa hari? Kemarin kami membesuk guru kami yang sakit karena baru melahirkan. Apakah mama juga dulu mengalami sakit ketika melahirkan kami?"
Ayra menoleh ke arah Qiya dan menjawab pertanyaan anaknya.
"Sakit sedikit. Kayak di gigit semut. Tapi.... Rasa sakit itu ga terasa. Karena mendengar kalian menangis begitu kencang. Melihat kalian lahir dengan selamat. Mama dan Papa justru menangis bahagia. Dan tidak terasa sakit. Contoh seperti Ammar yang ingin sekali bisa naik sepeda, belajar hingga jatuh. Sakit kan? tapi hilang rasa sakitnya ketika sudah bisa bersepeda dengan ngebut."
"Iya. Betul. Terimakasih Mama."
Ammar menjulurkan tangannya. Qiya pun menjulurkan tangannya kedepan. Ayra memberikan tangannya. sehingga kedua anaknya menggenggamnya tangan Ayra dari arah belakang.
Bram berdehem.
"Ehm... Ehm... Papa tidak dikasih terimakasih?"
Qiya pun tertawa.
"Hihihi.... Papa kan tidak melahirkan kami?"
"Eit.... Papa memang tidak melahirkan kalian. Tapiiiii.. Tanpa Papa. Kalian tidak akan ada di dunia ini."
"Kok gitu Ma?"
Ammar mengerutkan dahinya.
"Iya dong. Coba yang cari uang siapa?"
"Papa." Ammar menjawab.
"Nah coba lihat selama mama hamil. Papa beliin mama susu, periksakan mama kedokter. Terus setiap pagi papa harus gendong mama karena lemes muntah terus. Maka kalian tidak akan sehat seperti ini tanpa dicukupi dengan vitamin, tanpa papa yang sudah menyayangi Mama sehingga mama selalu bahagia."
Ammar pun melihat bagaimana Bram perhatiannya pada Ayra selama Mama mereka hamil. Bahkan Bram sering ke kantor lebih siang.
Akhirnya pertanyaan Ammar berakhir dengan rasa puas di hatinya karena mampu ia serap sebagai anak kecil. Namun hal itu justru menanamkan memori pada putra Ayra itu. Jika besar nanti punya istri harus disayang, jika istri hamil harus diperhatikan. Sedangkan Qiya justru berpikir jika ia menjadi istri ia akan hamil dan menyayangi anaknya juga suaminya.
Beruntung sekali Ammar dan Qiya memiliki Ibu yang cerdas. Sehingga pertanyaan yang kadang-kadang dianggap tabuh atau saru bagi orang dewasa bisa Ayra jelaskan pada anaknya tanpa harus memarahi anaknya. Atau malah meminta sang anak tak boleh bertanya. Sikap yang membaut otak anak jadi tidak berkembang karena rasa ingin tahunya di batasi.
Ayra menjadikan anaknya adalah pemegang diskusi. Jika ada pertanyaan yang sulit dijelaskan. Ayra akan lebih dulu meminta pendapat anaknya. Maka dari jawaban anaknya itu ia akan mencari jawabannya. Kira-kira jawaban yang akan diterima akal anak-anak.
Seperti Ammar dan Qiya yang berpikir jika seorang perempuan hanya boleh berpakaian seksi di hadapan suaminya. Karena anak-anak Ayra itu hanya satu kali melihat Ayra mengenakan baju tanpa lengan. Itu karena Ayra muntah-muntah dan pintu tidak tertutup. Sedangkan posisi masih pagi, Bram sedang mandi.
Padahal jika bagi orang dewasa, mereka akan mengerti ketika seorang istri memakai baju yang seksi di kamarnya bersama suami, tentu untuk meningkatkan satu rasa yang timbul dari mata suaminya hingga berakhir ke suatu tindakan. Ternyata cara berpikir anak-anak dan orang dewasa akan berbeda.