Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
144 Suka dan Duka Dua Keluarga


Usia kehamilan Ayra hampir memasuki bulan ke 4. Ayra yang dari kecil didik oleh Umi Laila dan Kyai Rohim hanya manut ketika Umi Laila mengadakan acara selamatan atau kenduri untuk kehamilan Ayra. Di Jawa biasa disebut mapati atau walimatul haml.


Berdasarkan satu hadist setelah kurun waktu empat bulan tadi, barulah Allah memerintahkan satu malaikat untuk melakukan dua hal, pertama meniupkan ruh ke dalam janin tersebut. Dengan ditiupnya ruh maka janin yang pada mulanya hanya seonggok daging kini menjadi hidup, bernyawa.


Kedua, malaikat tersebut diperintah untuk mencatat empat perkara yang berkaitan dengan rejeki, ajal, amal, dan bahagia atau celakanya si janin ketika ia hidup dan mengakhiri hidupnya di dunia kelak.


Pada fase ini, para ulama mengajari kita sebagai umatnya untuk memanjatkan doa kepada Allah Subhanahu wa ta'ala agar janin yang ada di kandungan diberi ruh yang baik dan juga rupa tubuh yang sempurna tak kurang suatu apa pun sebagaimana layaknya tubuh seorang manusia normal pada umumnya.


Dan Juga memohon kepada Allah agar sang janin diberi takdir-takdir yang baik pula. Diberi umur yang panjang penuh berkah dan manfaat, rezeki yang melimpah penuh keberkahan, ahli melakukan amalan-amalan saleh, dan digariskan sebagai hamba yang berbahagia ketika hidup di dunia dan kelak meninggalkan dunia sebagai orang yang selamat dengan membawa keimanan kepada Allah Ta’ala.


Untuk memanjatkan permohonan-permohonan baik bagi sang janin itu para ulama negeri ini juga menganjurkan untuk meminta bantuan para tetangga dan sanak saudara untuk ikut serta mendoakannya. Maka diundanglah para tetangga Kyai Rohim di acara Kenduri tersebut.


Ayra yang merasa lelah karena dari pagi begitu banyak persiapan untuk menyiapkan berkat dan juga tamu yang hadir. Malam ini Nyonya Lukis menginap di kediaman Umi Laila. Terlebih lagi mertuanya itu tidur satu kamar dengan dirinya. Maka waktu yang harusnya digunakan untuk istirahat itu dihabiskan oleh Nyonya Lukis dan Ayra bercerita. Dari kondisi Liona yang telah bisa melihat karena operasi saraf mata dan terapi mata yang ia jalani di Kanada berhasil.


Kondis Beni pun sudah cukup baik walau masih belum sadar. Nyonya Lukis sampai meneteskan air mata ketika menceritakan kondisi Beni yang hanya mampu mendengar namun tak mampu berbicara. Hanya mata yang terbuka dan sesekali telunjuknya yang ia gerakkan. Nyonya Lukis yang di minta pulang oleh Bram pun akhirnya pulang. Karena ia sudah satu bulan di Kanada menemani Beni dan Liona.


Bagaimana pun ia juga harus memberikan perhatian pada menantu nya yang juga sedang diberikan cobaan, harus berjuang sendiri ditengah hamil mudanya terlebih-lebih itu adalah kehamilan pertama Ayra.


"Harusnya mama temani Liona saja dulu. Kasihan Liona ma."


"Satu bulan disana mama memberikan apa-apa yang mama baca dan mama rekam selama belajar dengan kamu Ay."


Ayra menoleh ke arah Ibu mertuanya. Ia yang memang membutuhkan kasih sayang dan perhatian. Membiarkan Nyonya Lukis sedari tadi membelai rambut hitamnya. Iya yang mencoba tertidur namun tak bisa karena obrolan dengan ibu mertuanya sangat menarik terkait perkembangan Liona dan Beni.


Nyonya Lukis membuka ponselnya dan menunjukkan sebuah foto di galeri ponselnya. Seorang perempuan dengan hijab mocca terlihat selfie bersama Beni yang tak lain Liona.


"Anak sahabat Abi mu yang juga perawat disana memberikan banyak pemahaman tentang agama. Hingga ia memilih menutup auratnya Ay. Itu kenapa ia tak pernah mau video call dengan kamu semenjak dia mengenakan hijab. Dia malu katanya."


"Alhamdulilah.... Sungguh Liona orang yang beruntung ma. Allah memberikan Liona kelembutan hati hingga ia menerima hidayah disaat ia masih harus bersabar dengan kondisi Beni. Semoga Beni lekas sadar dari komanya. Rasanya akan sangat bahagia jika melihat mereka bisa menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah."


"Aamiin."


Nyonya Lukis pun yang pulang dari Kanada juga telah mengenakan hijab. Satu kejutan yang membahagiakan Ayra dan keluarga karena ibu mertuanya mendapatkan hidayah untuk menutupi auratnya malah di negeri Kanada melalui seorang perempuan yang bernama Sarah. Seorang putri dari salah satu sahabat Kyai Rohim.


Disaat Ayra sedang merasa bahagia karena satu persatu keluarga suaminya mendapatkan hidayah. Terlebih malam ini tanpa Ayra sadari, ia tertidur di pangkuan Nyonya Lukis. Saat Keluarga Pradipta merasakan kebahagiaan. Satu keluarga sedang dilanda sebuah konflik yang membuat hubungan mertua dan menantu terlihat tak harmonis.


Ilham yang baru pulang dari rapat bersama klien merasa marah karena dituduh oleh Pak Bagas telah berbohong. Pak Bagas tak pandai berkomunikasi itu tak melihat kondisi Ilham yang baru pulang bekerja. Ia langsung menuduh menantunya itu hanya alasan saja jika baru saja menemui kliennya.


"Katakan Kemana kamu?"


"Pa, mas Ilham baru pulang kerja. Biar istirahat dulu."


Ilham yang merasa dua Minggu ini sangat tak nyaman dengan mertuanya yang selalu memandang nya sinis. Bahkan malam ini ia yang betul-betul baru saja makan malam bersama kliennya kembali dituduh jika berbohong.


Lelaki yang pernah melamar Ayra itu mengendurkan dasinya. Ia menahan rasa penat dan emosinya. Ia duduk di sofa dan membuka jas yang ia kenakan. Sasi cepat duduk disebelah suaminya. Ia bermaksud mengajak Ilham untuk segera ke kamar untuk istirahat atau membersihkan diri.


"Istirahat dulu dikamar mas."


"Tidak! Aku sudah lelah hampir dua Minggu ini papa terus saja bersikap tidak menyenangkan pada ku. Sekarang ayo kita bicarakan apa yang membuat papa bersikap seperti ini? Aku betul-betul pulang bertemu klien. Jika tak percaya silahkan telpon pak Dirga. Ia hadir dimakan malam itu!"


Pak Bagas baru ingin menjawab namun Sasi lebih dulu berbicara.


"Pa.... Jangan ikut campur dengan masalah rumah tangga Sasi. Biarkan mas Ilham istirahat dulu."


Ilham menoleh ke arah Sasi.


"Katakan apa yang kamu ceritakan pada papa mu? Tidak mungkin ia bersikap begitu pada ku, jika kamu tak mengadu macam-macam!"


"Ilham! Jaga bicara mu!!!"


"Saya bukan boneka dirumah ini!!! yang bisa anda atur-atur. Saya lelah! Saya Muak! Malam ini juga kalau kamu masih mau menganggap ku suami mu. Cepat bereskan barang-barang kita. Aku ingin pindah dari sini!"


"Ilham!"


"Mas.... "


"Sasi! Malam ini kamu pilih aku atau orang tua mu yang egois ini! yang selalu merendahkan menantunya didepan orang banyak! yang selalu membanggakan hartanya daripada menantunya! Maka malam ini urus sendiri harta dan seluruh aset Anda. Aku akan pergi dari sini dan berjuang sendiri dengan usahaku! Kamu? Pilihan ada ditangan mu!"


Ilham pergi meninggalkan Sasi dan Pak Bagas di ruang utama keluarga Pak Bagas. Sasi berlinang air mata ingin mengejar Ilham namun Pak Bagas mencegahnya.


"Jangan ikuti dia Sasi!"


"Puas papa menghancurkan rumah tangga Sasi? Sasi sudah bilang pa. Jangan pernah mengatur mas Ilham dan rumah tangga Sasi! Kapan papa bisa menurunkan ego papa. Kapan papa bisa memberikan kebahagiaan pada orang yang katanya papa cinta! Sasi tak pernah merasakan cinta dari papa! papa hanya menganggap Sasi dan Mas Ilham hanya sebagai Pigura diantara harta yang papa miliki! Maaf pa. Sasi memilih ayah dari anak Sasi."


Sasi berlari ketika akan mengejar Ilham ke kamarnya yang berada dilantai atas. Namun naas ia yang sedang menangis dan tubuhnya yang gemetar membuat kakinya tak seimbang hingga ujung sandalnya membentur anak tangga. Ia terjatuh dengan posisi tengkurap.


"Bruuugh!"


"Aaaawwwhhh."


"Sasiiiiiii!!!"