Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
208 Penyesalan Bram


Bram yang memiliki Ayra sangat bersyukur karena sang istri pandai memilih waktu. Kapan ia bisa memberikan nasihat pada suaminya tanpa sang suami merasa direndahkan sekalipun ia memiliki ilmu lebih tinggi dari sang suami untuk urusan agama. Seperti saat ini, istrinya tak langsung menggurui Suaminya disaat Bram membentak Nyonya Lukis. Melainkan ia menunggu waktu atau timing yang tepat untuk berbicara pada suaminya.


Rasa cinta pada anak nya membuat Bram lupa bahwa ia masih harus tetap menghargai orang tuanya. Jika ada satu paradigma bahwa orang tua jangan ikut campur dalam urusan rumah tangga rasanya itu kurang tepat. Karena Allah memerintahkan manusia untuk berbakti kepada kedua orang tua dalam segala hal.


Ayra yang berharap agar memiliki anak yang Sholeh dan Sholehah dan mengerti jika akan sulit tercapai, mau sebaik apapun akhlak ia dan Bram dalam mendidik anak-anak mereka. Tanpa diiringi dengan sikap birul walidain atau berbakti ke pada kedua orang tua.


Ayra membenarkan posisi duduknya hingga kini ia duduk menghadap suaminya.


"Mas Rasulullah pernah bersabda 'berbuat baiklah kamu terhadap ibu dan bapakmu, niscaya anak-anakmu akan berbuat baik terhadapmu'. Bahkan umi dan Abi pernah mengingatkan jika salah satu cara agar kita memiliki anak yang hatinya baik melalui dengan berbuat baik pada kedua orang tua kita."


Bram menutup mulutnya dengan satu tangan dan pikirannya kembali ke kejadian tadi siang. Ia juga mengingat bagaimana dahulu saat ia masih kecil. Hidup masih serba kekurangan. Seorang ibu sekaligus istri yang jauh dari suami. Karena pak Erlangga masih sering keluar kota dan hanya pulang satu bulan sekali.


Membuat masa kecil Bram sebagai anak sulung banyak mengalah pada kedua adiknya. Namun kasih sayang ibunya tak berkurang. Ibunya bahkan masih selalu berusaha menjadi ibu yang baik walau sering ditinggal suami. Tak pernah rasa lelah Nyonya Lukis lampiaskan pada ketiga anaknya. Tak pernah Nyonya Lukis memukul anak-anaknya. Atau saat suaminya pulang tidak membawa uang karena ditipu rekan bisnisnya. Nyonya lukis masih menjadi ibu yang baik. Istri yang sabar dan menerima semua kondisi kekurangan sebagai ujian tanpa dihadapi dengan emosi, kekecewaan dan penyesalan.


Satu prinsip hidup nyonya Lukis bahwa kehidupan itu pasti berputar. Kadang di bawah kadang di atas hingga ia selalu semangat menjalani hidup di kala susah, dikala lelah dengan kondisi yang memakan pikiran, tenaga dan emosi.


Ayra memegang satu tangan suaminya. Ia Kecuk punggung tangan sang suami.


"Mas tahu. Ayra sangat berterimakasih pada Mama. Karena Mama yang dahulu dari mengandung hingga merawat mas. Sampai mas bisa punya tubuh yang sempurna, gagah, tampan dan sukses. Semua nikmat ini memang Allah yang berikan mas. Tapi jika Mama tidak menjaga nya merawat mas dari dalam kandungan hingga dewasa, apakah sekarang Ayra bisa menikmati tampannya suami Ayra? Kesuksesan mas? dan semua yang mas peroleh saat ini, kesuksesan, harta hingga anak dan istri mas bisa nikmati, Itu tidak luput dari doa Mama bukan hanya karena kemampuan mas. Selain itu Allah juga berkehendak atas setiap yang terjadi pada mas."


Bram menggenggam tangan Ayra. Satu ketenangan yang ia dapatkan dari sang istri. Karena rasa khawatirnya pada anaknya ia menganggap jika mamanya bersalah.


Kesuksesan, istri yang setia menemani dan lengkapnya buah hati membuat Bram merasa jika ia adalah orang yang hebat dan bahagia tapi ia lupa jika ada sosok perempuan yang melahirkan nya, mengandungnya sembilan Bulang kurang lebih. Terlebih perempuan yang mungkin menyimpan air matanya selama membesarkannya. Perempuan yang tak meminta balasan ataupun bayaran. Hanya kebahagiaan dan kesuksesan anaknya yang bisa membuat nya bahagia. Seorang ibu yang tak pernah mengeluh walau beratnya membesarkan anak.


Bahkan ketika anak lelakinya menikah ia hanya ikut bahagia kala sang anak dan menantu hidup tentram dan damai tanpa adanya pertengkaran di depan mereka yang sudah tua.


Bram menatap istrinya.


"Terimakasih Ay. Terimakasih karena telah mengingatkan mas. Mas betul-betul khilaf tadi. Mas juga baru tahu rasanya jadi orang tua. Ternyata sangat sakit ketika melihat anak kita sakit."


"Mama juga begitu dulu ketika merawat mas."


"Mas baru tahu kalau malam-malam harus begadang bahkan kurang tidur ketika mereka sedang tak sehat. Dan siangnya tubuh terasa tak fit."


Bram meneteskan air mata penyesalan nya. Walau tanpa Isak tangis namun suara parau Bram menunjukkan penyesalan atas sikapnya tadi siang pada Nyonya Lukis.


"Mas tidak ingin jika kita tua nanti, mas melihat istri mas ini di bentak, di sepelekan oleh anak-anak kita. Karena mas melihat bagaimana perjuangan mu merawat mereka Ay. Baru satu bulan saja rasanya mas sudah merasa lelah saat mereka sakit. Maka mas akan berusaha menjadi anak Sholeh agar anak-anak kita pun menjadi anak Sholeh."


Ayra menghapus air mata di pipi Bram.


"Aamiin. Ayra bahagia mas sekarang menjadi pribadi yang lebih baik. Mas pun sejauh ini menjalankan kewajiban mas sebagai suami. Namun Ayra berharap mas jangan jadi Alqamah."


Bram membelai rambut panjang Ayra.


"Seorang lelaki yang di akhir hidupnya susah mengucap syahadat. Padahal Ia tak pernah lalaikan shalat. Fadhu ataupun sunnah. Amalan puasa dan sedekah ia pun tak pernah terlewat."


"Ya mas. Sungguh sebuah kisah bisa dijadikan kita pelajaran untuk menjadi lebih baik lagi. Ayra tidak ingin cinta mas pada Ayra dan anak-anak kita membuat mas mengabaikan hak Mama sebagai Ibu yang telah melahirkan mas."


Bram pernah mendengar kisah Alqamah dari Furqon. Sebuah kisah seorang anak yang susah mengucap syahadat. Dan ketika ibunya dipanggil baru diketahui jika Alqamah selama hidupnya yang rajin beribadah lebih mementingkan istrinya daripada ibunya yang telah sepuh. Hati ibu yang merasa tersakiti. Membuat is sulit menghadapi sakaratul mautnya.


Sampai Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengirimkan pesan untuk Ibunda Alqamah dan menanyakan perihal Alqamah. Ternyata sang ibu Alqamah merasa tergores luka dihatinya. Sang anak bersikap buruk pada ibunya. Namun kelembutan hati seorang ibu memaafkan Alqamah ketika nabi akan membakar tubuh Alqamah. Sungguh sebuah ridho orang tua betul mempermudah urusan anak-anaknya. Maka setelah itu Alqamah pun bisa dengan mudah mengucapkan kalimat syahadat.


Sungguh dibutuhkan keikhlasan dan kesabaran bagi seorang ibu ketika mengandung, seorang ibu membagi jantungnya, menahan beban di perutnya, menjaga makannya dan berhati-hati dalam berperilaku. Terkadang bisa harus memakan sesuatu yang tak ia sukai demi sehatnya janin di dalam kandungan. Seperti Ayra, ia yang tak suka susu selama kehamilan nya harus memaksakan diri minum susu untuk ibu hamil. Dengan harapan anak yang ia kandung akan sehat selalu dan lahir dalam keadaan sehat.


melalui sebuah proses mengandung selama sembilan bulan saja, sudah cukup menjadi alasan berbakti kepada sosok bernama Ibu. Belum lagi alasan-alasan lain yang jika ditulis akan menghabiskan berpuluh-puluh halaman.


Dan bagi kita seroang ibu sungguh Allah telah merahmati seorang ibu sebab kasih sayangnya kepada anak-anaknya. Ini merupakan kabar gembira bagi para ibu, karena tanpa disadari kita para ibu mendapatkan rahmat Allah setiap kali menampakkan atau merasakan kasih sayang untuk anak kita, meski hanya senyum kecil dari kejauhan.


Sungguh menyenangkan andai ibu paham akan pahala yang di dapat ketika merawat buah hatinya dengan ikhlas. Dan anak paham akan dahsyatnya suatu sikap berbakti kepada kedua orang tuanya. Karena bukan hanya rezeki yang mengalir deras tetapi juga sebuah keberkahan umur yang panjang Allah berikan.


Bram yang merasa gelisah setelah diingatkan Ayra cepat menelpon Nyonya Lukis vya video. Ia tak tahan jika harus menunggu esok pagi. Dan malam itu seorang ibu merasa bahagia ketika sang anak yang selalu dibanggakan menelpon sambil menangis untuk meminta maaf. Terlebih sang menantu yang juga duduk disisi anaknya yang juga ikut menangis dan meminta maaf karena khilaf sang suami.


Satu kebahagian orang tua di hari senjanya selain melihat kebahagiaan dan kesuksesan anak menantu mereka adalah ketika anak dan menantu dapat berbakti kepada mereka tanpa mengenyampingkan kewajiban mereka pada anak,istri atau suami mereka.