
Didepan ruangan perinatologi terlihat Bambang berdiri didepan kaca besar. Ia sedang melihat Bayinya yang masih sangat kecil. Ia hanya bisa melihat kondisi putranya dari balik dinding kaca. Terlihat banyak alat di ruangan itu seperti ventilator, ada pula alat bantu pernapasan yang digunakan untuk bayi mungil Bambang yang masih bisa bernapas sendiri namun membutuhkan bantuan.
Alat itu disambungkan dengan selang kecil yang dimasukkan ke hidung bayi mungil Bambang. Bayi itu masih memejamkan kedua matanya. Sedih hati Bambang melihat kondisi putranya dimana ibu dari buah hati mereka pun masih tak sadarkan diri.
Puas melihat kondisi buah hatinya Bambang berpindah ke ruangan Rani di rawat.
Bambang terlihat duduk di depan ruang ICU. Ia melihat Rani, kondisi istrinya itu cukup mengkhawatirkan. Bambang tertunduk lesu mengingat ia tak berhasil menemui orang tua Rani karena sempat bersitegang dengan kakaknya Rani. Sedangkan ketika satu kantong darah yang sedang di transfusi ke tubuh Rani sekarang habis, ia membutuhkan dua kantung darah lagi untu istrinya itu.
Nyonya Lukis melihat kehadiran Bambang segera mendekati putra bungsunya.
"Bagaimana Bams?"
"Aku tak mendapatkan izin oleh kakaknya Rani ma. Papanya Rani memiliki penyakit jantung. Hingga Ia tak mengizinkan aku bertemu. Aku tidak tahu lagi harus kemana ma."
"Nak Bambang. Jangan putus asa. Berdoalah. Minta pada Nya. Allah akan mengabulkan doa hambanya. Ketika masalah datang jangan kejar solusinya Nak. Serahkan pada Allah terlebih dahulu. Pasrah akan kondisi yang ada namun tetap ikhtiar. Insyaallah solusi akan datang dengan sendirinya. Jangan remehkan kekuatan doa."
Bambang tertegun sejenak. Ia melihat mamanya dengan penampilan baru pulang dari Kanada. Ia melihat tak ada gurat lelah dan putus asa di wajah Nyonya Lukis.
"Mungkin benar. Aku selama ini selalu mengandalkan diriku untuk menyelesaikan setiap masalah Umi."
"Manusiawi, kita ini kadang kalau ditimpa musibah akan mengatakan 'apa salah
salah kita Tuhan, Kenapa semua terjadi pada diri kita'. Tapi ketika kebahagiaan atau keberhasilan yang hadir dalam hidup kita, kita akan mengatakan 'semua karena hasil kerja keras ku, karena usaha ku'. Itulah manusia Nak Bambang. Namun mari kita sama-sama Noto ati. Bahwa ketika kesusahan datang dan kebahagiaan datang pun itu semua adalah kehendak Allah subhanallahu wa ta'ala."
"Betul Bams, kamu sudah berusaha. Sekarang tinggal berdoa, nak."
Bams menundukkan kepalanya. Ia menangis tersedu-sedu. Ia lelah rasanya, ia ingin marah pada kakaknya Rani namun tak ada gunanya karena tak membuat Rani mendapatkan donor darah. Sedangkan besok pagi Rani membutuhkan transfusi darah.
"Bams sudah berusaha Ma. Bams tidak tahu mau bagaimana lagi. Bams sudah buat pengumuman di semua medsos. Di grub-grub perusahaan pun Bams buat. Tapi sampai detik ini belum ada satupun yang memberikan hasil."
Umi Laila mendekati Bambang dan duduk disebelah suami dari Rani itu.
"Nak, Untuk menjalani hidup kita butuh ikhtiar atau usaha sebagai bentuk usaha fisiknya. Sedang kan Doa adalah bentuk usaha batiniah dan membuat kita lebih dekat dengan Allah. Melalui doa kita akan terhindar bahwa suatu keberhasilan yang kita dapatkan bukan karena hebatnya diri melainkan karena campur tangan Allah.
Setelah raga dan jiwa telah sama-sama berusaha, maka biarkan Allah yang menentukan apa yang terbaik untuk kita. Hal itu disebut tawakal, tawakal membuat diri kita lebih siap menerima kenyataan apabila tak sesuai dengan usaha kita."
Bambang mengangkat kepalanya. Ia menghembuskan nafasnya dalam. Matanya yang merah dan wajahnya pun terlihat sangat kalut.
"Terimakasih Umi. Sepertinya kata-kata ini pernah Bams dengar dari Ayra saat Bram menghadapi kasusnya. Sungguh beruntung kakak ku itu memiliki istri Ayra dan Umi Laila beserta Kyai Rohim."
Bambang mengusap wajahnya. Ia yang teringat jika ia belum mengerjakan yang wajib setelah ibadah shalat magrib. Bambang bangkit dari duduknya. Ia meninggalkan Umi Laila dan Nyonya Lukis. Ia ingin mengadu pada Rabbnya. Saat Bambang sibuk dengan tangisnya di atas sajadah.
Seorang lelaki yang seumuran dengan Kyai Rohim tidak lain adalah Pak Bagas sedang sibuk dengan ponselnya dan berdiri tak jauh dari ruang ICU. Pak Bagas justru merencanakan sesuatu yang membuat ia kembali meneteskan air mata kala ia menutup sambungan telepon itu dengan seseorang.
"Besok aku akan menemui mu Jamal. Dan aku akan tahu kemana bidak catur ku ini ku langkahkan sebelum napas ini berhenti. Sebelum jiwa ku yang kotor ini berpisah dari raga yang telah renta ini."
Lelaki paruh baya itu pun kembali ke depan ruang ICU. Sasi yang berhasil selamat dan melahirkan secara Caesar bayi perempuan harus terbaring di kelilingi alat medis yang melekat pada tubuhnya. Karena ia masih belum sadar.
Saat didepan ruang ICU itu ia melihat jika ada beberapa keluarga pasien. Ilham meminta mertuanya untuk pulang karena ia tahu kondisi mertuanya yang sering sakit-sakitan. Sebenarnya, Ilham dan Sasi tak ada yang tahu jika ia mengidap sebuah penyakit kanker yang telah Sampai pada stadium 4.
Namun Pak Bagas masih ingin menanti kabar tentang Sasi. Satu-satunya Putrinya, karena dua anak dari Pak Bagas lainnya adalah lelaki. Dan mereka menetap di luar negeri. Buah hati yah ditinggalkan Istri yang selama hidupnya menahan rasa cemburu pada suaminya demi mempertahankan rumah tangganya. Dengan berat hati Pak Bagas pun pulang karena Ilham terus memintanya pulang.
Pak Bagas ketika menunggu lift terbuka mendengar sepintas obrolan Nyonya Lukis dan Umi Laila. Umi Laila yang melihat Nyonya Lukis baru akan membuat status di medsos besannya itu. Nyonya Lukis yang telah lama ingin memberikan masukan kepada besannya tentang seringnya Umi Laila melihat status dari medsos besannya itu mengeluh tentang musibah yang menimpa dirinya atau anak-anaknya.
"Semoga Allah melembutkan hati mu Bu Lukis. Maafkan saya Gusti. Bukan maksud hati merasa lebih baik. Tetapi beliau bagian dari keluarga ku."
"Bu Lukis, musibah sebenarnya adalah sarana untuk kita menghapus dosa. Baik musibah yang menimpa diri kita, harta kita. Tapi itu kalau kita mampu bersabar, kita mampu menyembunyikan nya dari orang lain dan tidak mengeluhkan pada orang lain Bu Lukis."
Nyonya Lukis terdiam lalu ia mematikan dan menyimpan ponsel itu kedalam saku bajunya.
"Berarti berkat musibah kita dapat ampunan. Berarti Allah mencintai kita karena musibah kita itu Umi?"
Anggukan kecil Umi Laila berikan.
"Ibu tahu, ketika kita mengeluh di media sosial secara tidak sengaja atau secara tidak langsung kita memberikan energi negatif untuk yang membacanya. Karena kenapa, sekarang kita yang di akhir zaman ini lebih tertarik dengan hal-hal negatif dibandingkan positif."
"Maksudnya Umi?"
Umi Laila tersenyum.
"Coba Ibu Lukis buka ponselnya dan lihat di status medsos teman ibu Lukis."
Pintu lift terbuka. Ketika pintu itu terbuka kedua perempuan yang merupakan besan itu memasuki lift itu. Pak Bagas yang baru mau masuk kedalam lift karena ia ingin ke lantai 1 tak jadi melangkah karena Ilham memanggilnya.
Seketika Pak Bagas meresapi kalimat Umi Laila tadi.
"Ah berarti Allah memberikan aku sakit kanker selama dua tahun ini karena ingin agar aku diampuni? Tapi apa iya diampuni sedang aku tak pernah shalat? Ah kenapa perasaan ku makin kacau seperti ini. Kemarin-kemarin aku ingin cepat mati. Kenapa sekarang malah jadi takut mati. Ah... !"