
"Triiiing"
Rafi yang masih di ruang kerjanya membuka ponsel yang ada di mejanya. Saat ponsel itu terbuka kedua bola matanya berasa mau keluar.
"Ya Tuhan sampai kapan pak Bram ini akan memberikan aku pekerjaan diluar pekerjaan ku. Hem.... Aku akan menyuruh si Jones saja. Biar dia merasakan sekali-kali bagaimana kalau mendapatkan semburan larva panas Pak Bram."
Rafi yang membaca pesan dari Bram bahwa nanti malam ia akan ke apartemen. Mengingat ini kali pertama buat Ayra yang akan melihat apartment Bram. Ia khawatir insiden di kamar saat di kediaman nenek Indira kembali terjadi. Ada banyak foto dan beberapa barang milik Shela yang kadang ia tinggalkan di apartemen Bram, Shela akan menghabiskan waktu disana selama berada di Indonesia selain berada di apartemennya.
Rafi memanggil Aisha yang sedang sibuk dengan beberapa berkas diatas meja nya. Aisha sekarang di letakkan pada posisi manager personalia oleh Bram.
"Hei. Ada perintah Pak Bos. Dia minta kamu membersihkan apartemen nya. Pak bos dan Bu bos akan tinggal di sana sementara. Selama Bu Ayra mengandung. Ini kuncinya, alamatnya sudah aku shareloc."
"Criiiing."
Sebuah kunci dengan gantungan kunci berwarna merah dilempar Rafi dan cepat Aisha menangkap benda itu sambil melotot ke arah Rafi.
"Apa tidak bisa orang lain? kita bisa meminta bagian apartemen untuk membersihkannya."
"Heh. Kamu akan tahu kenapa Pak Bram tidak akan meminta orang lain setelah kamu ke apartemen nya. Kejadian di Amerika itu menjadikan pelajaran pak Bos. Ia tak mau kecolongan lagi. Oh ya, Satu lagi pesan Pak Bos, jangan ada barang yang disingkirkan dari ruangan itu. Cukup kamu buat sebagaimana nyaman Bu Ayra. Kamu kan jago urusan begitu."
Aisha memicingkan matanya.
"Aku curiga, jangan-jangan Jotan ini mengerjai aku."
"Kenapa bukan kamu?"
"Kan sudah ku bilang pak Bos bilang kamu lebih berkompeten membuat Bu Ayra suka dengan setiap kejutan yang kamu buat. Cepatlah, hanya punya waktu satu jam lagi. Jaraknya juga tidak terlalu jauh. Cukup 10 menit sudah sampai."
"Baiklah. Jadi aku boleh pulang sekarang ini?"
"Kena kamu sekarang Jones "
"Bukan pulang Jones..... Tapi ke apartemen. Kamu di sana kerja bukan tidur."
"Eeeeegggghhh! Kamu itu bisa sopan ga sih!"
Rafi mengangkat telunjuknya.
"Eit! ingat ya Jones sekarang posisi kamu itu cuma manager. Manager itu dibawah posisi aku. Macam-macam aku potong gaji mu!"
"Cuih.... aku tidak takut. Aku bisa lapor Bu Ayra."
"Heh. Bosnya disini Pak Bram."
"Tapi bos mu itu pawangnya Bu Ayra. Biar kata bos mu itu tinggi gede, tapi bakal jadi tak berdaya klo sudah Bu Ayra yang berbicara. Jangan anggap remeh Bu Ayra yang tubuhnya kecil itu."
"Terserah. cepatlah. Jangan sampai pak Bos lebih dulu tiba di sana."
Aisha cepat membereskan berkas yang ada di atas meja. Lalu ia mengambil tas kerjanya. Beruntung semenjak bekerja di MIKEL group, Aisha sudah mampu memiliki mobil walau masih harus dicicil. Gaji nya di MIKEL group dua kali lipat dari gaji di butik Marina. Ia betul-betul bersyukur bertemu Ayra. Karena sekarang ia mampu membangun rumah orang tuanya. Ia mampu membelikan adiknya motor untuk mengantar ibunya ke pasar. Sungguh nikmat yang sangat ia syukuri maka apapun yang ditugaskan padanya hampir tak pernah ia menolak.
Tak butuh waktu lama. Aisha yang mengikuti shareloc yang diberikan oleh Rafi. Ia tiba di apartemen. Saat membuka apartemen yang cukup mewah itu. Kedua pupil mata Aisha melebar dengan sempurna.
Pandangannya tertuju pada beberapa foto Big Bos nya yang dengan machonya di Pepet mesra oleh mantan pacar yang membuat ia harus mendekam di balik jeruji besi selama berbulan-bulan.
Apartemen yang tak pernah dimasuki orang lain selain Rafi dan Bosnya. Ada satu petugas kebersihan yang biasa membersihkan ruangan itu. Aisha yang baru masuk ke dalam ruangan itu merasa tak percaya bagaimana jika posisinya saat itu adalah Ayra. Ruangan yang biasa Bram habiskan berdua dengan Shela. Karena hubungan mereka yang sengaja dirahasiakan dari awak media.
Terdapat dua foto yang membuat Aisha bermonolog sendiri di dalam ruangan itu. Ia masuk kedalam ruangan mewah nan megah. Hanya orang yang memiliki penghasilan diatas ratusan juta mungkin yang mampu memiliki apartemen itu.
"Kalau aku jadi Bu Ayra. Apa iya mau tinggal disini dengan foto ini masih terpajang mesra? Ini Rafi yang salah menerima pesan atau aku yang salah dengar? Ataaauuu..... "
Aisha menyipitkan kedua matanya. Ia memikirkan sesuatu sambil menatap foto itu.
"Si Jotan itu bilang kalau Bu Ayra dan Pak Bram akan tinggal disini sekarang. Maka tidak mungkin Pak Bram meminta membersihkan tempat ini dengan tidak menyingkirkan dua foto yang gila ini. Sudah pasti Pak Bram bakal sewot lah klo bininya cemburu. Masa Iya Bu Ayra membiarkan foto ini disini. Foto suaminya ditempel gitu sama ulet gatel?"
Aisha menyandarkan punggungnya ke sofa dan ia mengitari tiap sudut ruang apartemen yang sangat khas dengan warna grey. Kembali ia melihat di dekat pintu masuk apartemen itu terdapat beberapa sepatu dan sandal high heels. Bisa Aisha pastikan pemilik benda-benda tersebut adalah seorang model. Karena ia yang pernah beberapa bulan menjadi salah satu perancang busana di butik Marisa. Paham berapa harga sepatu dan sandal itu.
"Owh jangan bilang klo ini dulunya sarang tempat ulet gatel itu menggerogoti Pak Bram. What's? apa jangan-jangan pak Bram dulu udah pernah unboxing itu ulet keket? aduh.... Kok otak jadi traveling gini.... Aduh... Aish... Kondisikan otak mu."
Aisha membuka ponselnya. ia memesan beberapa barang dan pernak pernik untuk mempercantik ruangan itu. Lalu ia beranikan masuk ke ruangan paling tidak pernah dimasuki oleh orang lain. Kamar satu-satunya yang ada di apartemen itu.
"Ya Allah. Ini kenapa foto ulet gatel dimana-mana? Yakin ini Bu Ayra mau tinggal disini? itu pak Bram ga mau cari tempat lain apa? Tega bener deh lelaki. Ga bisa move on apa gimana sih. Untung kaya, untung bos. Klo ga.... Udah ku maki-maki itu CEO."
Segera ia turunkan foto-foto Bram yang terlihat mesra bersama Shela. Beberapa lisptik, parfum dan make up yang berada di meja tepat disebelah tempat tidur Bram. Kembali ia membuka ponselnya dan memesan beberapa pernak pernik untuk kebutuhan diruangan ini. Selesai dengan urusan kamar. Ia pergi ke ruang makan dan dapur ia buka kulkas. Tak lupa melihat beberapa lemari untuk memastikan tidak ada jejak Shela disana.
Namun saat akan menutup Kulkas. Aisha melongo, ia melihat bahwa besok adalah hari ulang tahun Big bos nya. Satu foto Bram bersama Shela yang meniup lilin dengan tanggal dan bulan yang sama hanya tahun yang berbeda.
"Apa. Pak Bos ulang tahun besok. Ah... Apa pak Bos lupa? apa Bu Ayra lupa? Apa aku kasih kejutan buat pak Bos. Tapi kan aku bukan bininya?"
Aisha menyandarkan kembali tubuhnya di kulkas dua pintu yang berada di dapur. Ia menggigit bibir bawahnya dan matanya yang ia menyipitkan kedua matanya. Ia berpikir keras untuk memberikan sesuatu untuk bosnya yang ternyata besok berulang tahun.
"Hem. Ini aku bisa pastikan klo si Jotan sengaja bilang jangan buang jejak-jejak ulat gatel itu biar aku di semprot pak Bos. Untung aku ini bukan perempuan lugu-lugu amat ya Jotan. Kamu lihat saja perangkap mu akan menjebak kamu sendiri.... "
Aisha cepat menuju ruangan kamar. Ia memberi kabar kepada Bram bahwa ia harus membersihkan tempat itu karena banyaknya barang-barang yang mungkin akan membuat Ayra cemburu. Maka ia mengirimkan pesan vya ponsel pintarnya.
..."Selamat sore pak. Saya mohon di berikan waktu tambahan. Khawatir kalau Bu Ayra kemari dan banyak nya jejak Shela. Akan membuat Bu Ayra bersedih. Terlebih Bu Ayra lagi hamil mungkin akan tambah sensitif pak 🙏."...
Setelah mengirim pesan itu ia menelpon beberapa orang yang ia butuhkan untuk membuat apartemen itu nyaman buat Ayra. Ia yang berapa bulan sempat menghabiskan waktu bersama Ayra. Maka paham selera Ayra dari segi warna, dan pernak-pernik yang akan membuat mata bosnya itu sedap memandang.
Namun lelaki yang baru saja menerima pesan Aisha seketika berubah merah raut wajahnya. Ia merasa malu karena pasti perempuan yang beberapa bulan menjadi asisten Ayra itu melihat semua isi apartemen yang ia tak mau orang lain melihatnya. Ia meminta Rafi yang membereskan jejak Shela disana. Tetapi malah Aisha yang mengerjakan nya.
"Kurang Ajar Rafi. Otaknya ditaruh dimana asisten ku itu. Apa dia ingin bertukar posisi dengan Aisha? Aduh.... Aisha pasti sedang berpikir aku ini tidak pantas untuk Ayra. Awas kamu Rafiiii!!!"
Ponsel yang tadi ia tatap kini telah di genggam erat.
"Mas. Jadi berangkat sore ini?"
"Nanti malam Saja. Tanggung Ay. Habis magrib sekalian. Kita kerumah Rani baru setelah itu kita ke apartemen."
"O.... Ya sudah. Mas mau makan dulu?"
"Malu Ay keluar kamar. Malu sama Umi dan Abi mu."
"Hehe... Umi dan Abi tak akan menggoda kita. Ayra paham betul bagaimana Umi dan Abi."
"Kita makan malam diluar saja nanti."
"Tapi Ayra lapar mas.... "
"Ya Allah.... demi kamu Dan si buah hati deh Ay.... Ayolah kita keluar... Jabatan CEO ga berarti klo sudah di hadapan istri dan mertua ternyata."
Ayra tertawa melihat mimik wajah yang Bram tunjukan dengan wajah cemberut tetapi dibuat-buat.