
Meninggalkan Kanada dengan masalah rumah tangga Beni dan Liona. Pagi ini MIKEL Group begitu ramai. Hampir seluruh karyawan baik yang tetap maupun yang masih kontrak dan bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang pengelohan minyak kelapa sawit itu, datang bersama keluarga mereka. Anak, istri atau suami mereka hadir di perayaan kemerdekaan republik Indonesia. Mereka mengenakan seragam merah putih.
Begitupun dengan Ayra dan Bram. Ayra yang mengenakan gamis putih di padu dengan blazer merah serta. jilbab merah , sedangkan Bram mengenakan celana Chino berwarna putih dipadu baju kaos berwarna merah dan memiliki kerah di bagian lehernya. Pagi ini sebelum turun ke lapangan sepasang suami istri itu harus berdebat. Karena Ayra yang tak ingin memakai topi. Namun Suaminya yang begitu khawatir jika panas pagi itu akan membuat istrinya kelelahan. Bram memaksa istrinya itu untuk memakai topi berwarna putih sebelum turun.
"Pakai dulu topinya. Atau kita tidak akan keluar."
"Mas..... Panas pagi tidak apa-apa. Baik untuk kesehatan."
"Ayolah Ayra. Kenapa sekarang kamu jadi tidak patuh pada suami mu ini."
Deg.
Ayra terdiam saat suaminya mengucapkan hal itu. Seketika ia terdiam.
"Iya kenapa hanya untuk memakai sebuah topi saja aku begitu sulit menurut pada suami ku. Ya Allah..."
"Maafin Ayra mas. Sini pakaikan."
Ayra menundukkan kepalanya. Bram tersenyum simpul.
"Nah kalau begini, kamu ga akan kepanasan."
Saat tiba di aula gedung MIKEL group. Bram dan Ayra berhenti. Karena ada spanduk besar dan panjang di pegang oleh karyawannya yang berbaris memanjang. Bram yang menggenggam tangan Ayra meremas tangan istrinya itu. Ia menoleh ke arah Ayra.
"Kamu yang punya ide?"
Ayra menggelengkan kepalanya.
"Duo asisten mu sepertinya."
Ayra menoleh ke arah Rafi dan Aisha. Sungguh Bram tidak menyangka jika akan diberikan kejutan. Sebuah spanduk yang ditujukan oleh karyawan yang selama ini bekerja dengan dirinya untuk dirinya.
..."Selamat Datang Kembali Pak. Semoga sehat selalu. Kami menyambut Pak Bram dengan siap Bekerja Sepenuh Hati. Semoga kebahagiaan selalu Hadir Di Kehidupan Bapak dan Bu Ayra."...
Rafi cepat berlari memberikan sebuah Microphone kepada Bram. Bram menahan tangan Ayra saat istrinya ingin melepaskan genggaman tangannya.
"Jangan dilepas, begini saja."
Bram menyampaikan sambutan untuk membuka acara perlombaan itu. Di akhir sambutannya Bram membuat hati Ayra merasakan debaran begitu tak beraturan karena ia sangat malu namun tersanjung.
"Sungguh saya beruntung karena mampu memiliki istri seperti Ayra. Semoga semua istri disini mampu menjadi istri yang bisa sabar menerima kekurangan pasangan kalian. Kami para lelaki ini hanya merasa damai saat pulang dan melihat kalian para istri baik-baik saja dan masih ada disisi kami, menjaga hubungan pernikahan dengan kesetiaan.
Dihari kemerdekaan ini, saya minta bagian HRD untuk membuat untuk ibu-ibu yang bekerja di perusahaan ini untuk cuti melahirkan diberikan selama 3 bulan. Dengan mekanisme yang akan kita rapatkan kembali nanti. Maafkan saya jika selama saya bersama kalian, ada kata atau tindakan saya yang menyakiti kalian. Mohon doanya untuk istri saya yang sedang hamil. Semoga dia dan janinnya sehat selalu hingga proses melahirkan."
"Aamiin...."
Tepuk tangan meriah diberikan oleh para karyawan mengakhiri sambutan Bram. Rafi yang berada di belakang Bram, membuka kacamatanya dan ia hapus air mata dengan sapu tangannya. Ia merasa terharu. Hampir 10 tahun ia menghabiskan waktu untuk bekerja di MIKEL group bersama Bram. Baru kali ini sang atasan mengucapkan kata maaf untuk mereka yang telah ikut berjuang untuk kesuksesan MIKEL Group.
Ia tak menyangka dari dulu Bram yang tak suka dengan kata izin, cuti. Kali ini ia malah memberikan dukungan untuk ibu yang melahirkan agar bisa menikmati cuti 3 bulan.
Aisha melihat Bos mungilnya menangis. Ikut meneteskan airmata. Beberapa karyawan yang sedang hamil pun ikut menangis bahagia. Mereka merasa semua ini adalah anugerah karena hadirnya istri CEO itu. Tak mungkin bos yang sangat tak suka jika ada yang izin atau cuti, tiba-tiba memberikan peraturan untuk ibu melahirkan cuti selama itu.
Saat acara perlombaan dimulai, maka suasana masih pagi. Lahan parkir MIKEL Group menjadi tempat pertandingan pertama. Saat semua telah keluar. Bram dan Ayra masih di Aula. Ayra menahan tangan Bram, saat Bram akan melangkah keluar.
Bram menaikan satu alisnya.
"Kenapa? apa yang membuat kadar cinta istri ku ini tiba-tiba naik? apa dolar sedang ikut naik? "
"Karena mas memberikan satu kebahagian untuk perempuan yang bernama Ibu. Ayra bisa melihat kebahagiaan mereka yang sedang hamil saat mas memberikan pengumuman tadi"
"Kamu tahu. Melihat kamu yang hamil tanpa suami mu disisi. Membuat aku merasakan bahwa istri-istri di perusahaan ini harus menjadi ibu yang baik agar kelak lahir generasi-generasi hebat. Sehingga akan banyak lelaki yang bahagia seperti aku ini."
Mereka berjalan keluar Aula. Namun saat berada di depan pintu, Ayra menahan tangan Bram.
"Kenapa?"
"Dari sini saja mas. Kasihan mereka kalau kita kesana."
"Kasihan kenapa?"
"Lihat itu si Aisha dan Rafi. Mereka bisa tertawa lepas begitu. Kalau kita berdiri disana. Para karyawan akan menjaga jarak dan segan. Hingga mereka tak menikmati hiburan ini."
Bram mengikuti saran istrinya. Namun saat lomba tarik tambang karyawan lelaki. Nama Rafi yang masuk List, membuat Ayra ingin melihat perlombaan itu. Namun tertutupi oleh mereka yang ramai menonton. Bram mengajak istrinya naik ke lantai dua. Namun Ayra tak mau takut keburu habis.
Satu kursi Bram berikan agar istrinya itu naik dan melihat. Namun masih tak terlihat jelas. Ayra yang berdiri di atas kursi masih berjinjit melihat ke arah kerumunan karyawan yang menikmati perlombaan tarik tambang.
Bram menarik satu kursi lainnya.
"Ayo naik."
"Mas... malu ah."
"Cepat naik. Katanya mau lihat Rafi tarik tambang."
Ayra yang naik ke punggung suaminya melihat perlombaan itu dengan jelas. Ia melihat bagaimana Rafi di set pertama berada ditengah. Bahkan Rafi terjungkal karena tarikan dari tim lawan. Ayra pun tanpa disadari beristighfar.
Bram melirik ke arah istrinya itu. Ia tak menyangka jika tubuh istrinya sekarang sedikit berisi. Senyum bahagia Ayra mampu membuat Bram bermonolog dalam hatinya.
"Terimakasih ya Allah. Sungguh Ayra adalah salah satu rezeki dalam hidup ku. Izinkan aku menua bersamanya. Semoga kami bisa meraih Sakinah mawadah warahmah. Aamiin."
Saat di set terakhir. Rafi malah terpental lagi. Tim Rafi kalah telak. Saat lelaki berkacamata itu membuka kacamatanya. Ia melihat tangannya berdarah. Aisha memberikan satu tisu kepada Rafi. Namun sepasang asisten itu masih saling benci.
"Lelaki yang sungguh menyedihkan. Lihatlah Pak Bram. Untuk jadi suami harus kuat. Bagaimana kamu akan menggendong istrimu nanti jika tarik tambang saja sudah terluka."
"Hei! Dasar Jones. Apa salah ku hah. Dasar Perempuan tak memiliki hati yang lembut. orang lagi sakit, dia malah tak ada empati nya."
"Tak sudih berempati sama lelaki otak Me/sum.... iihhhhh amit-amit deh... "
Aisha cepat berlari saat Rafi berdiri dan melotot kearahnya. Sambil terkekeh-kekeh Aisha melambaikan tangannya dengan posisi membelakangi Rafi.
"Da.... Pak Rafi. Buruan nikah Pak biar ga O/Ra/l SE/k/s."
Di akhir kalimatnya, Aisha sedikit berbalik dan bagian mulutnya ia tutupi dengan kedua tangannya. Rafi bisa melihat ejaan apa yang di maksud Aisha.
"Awaaaaasss kamu ya. Ini pasti idenya, nama ku ada diantara karyawan dalam lomba tarik tambang ini. Awas kamu ya Jones!"