Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
216 Takkan Lekang Kebaikan Selama Hidup


Makam kedua orang tua Ayra terletak di dekat Bengawan solo. Hanya lima belas menit dari kediaman Mbah Uti untuk ke makam. Tiba di makam terdapat banyak kendaraan.


Bram hanya mengikuti Ayra karena ia baru kali ini ke makam kedua orang tuanya. Yang membuat Bram kagum adalah ketika sang istri yang merasa mantap tanpa keraguan berjalan. Disaat ada beberapa orang sibuk berhenti karena bingung mencari makam orang tuannya Karena jarang Bahkan tak pernah di ziarahi. Ayra justru berjalan dengan pasti dan tak lama telah sampai pada dua makam yang bersebelahan.


Tampak disisi makam yang tertulis di kayu itu nama Nuaima, ada seorang perempuan yang sedang khusus berdoa. Namun ketika perempuan berbalik dan akan meninggalkan makam itu. Perempuan paruh baya yang ditemani seorang anak laki-laki, tampak terkejut melihat Ayra. Ia bahkan terpaku sejenak dan mulutnya sendiri terbuka.


"Nuaima. Siapa kamu?"


"Saya Ayra. Anak Ibu Nuaima. Maaf kalau saya boleh tahu. Ibu Siapa ya?"


Perempuan paruh baya itu hendak memegang wajah Ayra. Namun ia urungkan.


"Masyaallah. Wajah kalian sangat mirip sekali. Saya adalah sahabat Ibu mu. Beliau adalah orang yang sangat baik. Bahkan saya tidak pernah tak mengunjungi nya saat saya ziarah ke makam kedua orang tua saya."


"Terimakasih."


"Kamu tahu. Ibu mu. Nuaima, ia adalah orang yang baik. Ia Sahabat yang baik. Aku pun sering menceritakan pada anak-anak ku. Jika dulu aku semasa SMA, ibu mu sering sekali membawa sendok dua ketika membawa bekal. Ia kan meminta ku untuk makan bersama-sama. Ia tahu saat itu aku anak pertama dari 6 bersaudara.


Belum lagi yang paling aku ingat adalah ketika aku akan wisudah. Ibu mu itu mengambil tabungannya dan memberikan pada ku untuk biaya wisudah. Sungguh aku tak akan pernah melupakan kebaikan dan kedermawanan ibu mu. Walau kami telah terpisah. Aku masih menganggapnya sahabat ku."


Ketika anak lelaki ibu tadi mengingatkan untuk pulang. Sang ibu pun berpamitan. Arya menyalami ibu itu. Ayra duduk dengan menghadap ke arah baru Nissan ibunya. Jika diumpamakan, Ayra sedang menghadap wajah ibunya. Ia melihat taburan kembang yang diberikan oleh ibu barusan.


Ayra pun mengucapkan salam pada kedua orang tuanya.


"Ibu, ayah. Ayra datang bersama suami Ayra. Alhamdulilah kali ini Ayra bisa merasakan perjuangan ayah dan ibu bagaiamana menjadi orang tua. Sungguh Ayra baru tahu rasa mengandung sembilan bulan. Dan sakitnya melahirkan Bu. Belum lagi rasa kantuk dan lelah hampir setiap hari siang dan malam merawat titipan Allah. Dan Ayra tak akan bisa secerdas ini, sesehat ini tanpa doa dan ikhtiar ayah dan ibu."


Bram melihat Ayra menangis namun tanpa terisak.


Bram duduk disisi Ayra. Ia pun membacakan doa untuk kedua mertuanya. Lalu ia membaca Surah Yasin dan ayat kursi. Lalu berdoa untuk memohon kepada Allah ampunan untuk kedua orang tua Ayra.


Sungguh satu kebahagian bagi orang tua ketika telah tiada tetapi masih mengalir doa dari anak-anak Sholeh dan sholehah. Terlebih saat tubuh tak lagi berada di dunia namun namanya masih disebut. Masih dikenang oleh orang-orang yang mengenalnya.


Sepeti Nuaima yang semasa hidupnya dari gadis hingga ia menikah. Ia termasuk Sahabat yang tidak hanya menemani disaat suka tetapi juga duka. Yang membantu tanpa pamrih. Yang selalu berusaha mempermudah urusan teman-temanya. Hingga kini ia yang tak lagi bisa berbuat untuk memohon ampunan untuk dirinya sendiri. Sahabat yang masih di dunia pun masih mengingat kebaikannya dan bahkan mendoakan dirinya.


Pulang dari makam. Bram menggenggam tangan Ayra. Sehingga terasa seperti orang pacaran.


"Ay. Bagaimana dengan yang tak membolehkan ziarah kubur?"


Ayra menyandarkan kepalanya di punggung Bram.


"Ziarah kubur merupakan salah satu tradisi tapi tidak bertentangan dengan syariat agama Islam Mas. Bahkan seluruh Madzhab melegalkan. Maka jika sekarang ada paham yang tak memperbolehkan ziarah kubur. Itu biarkan mereka dengan pemahaman mereka. Tugas kita justru adalah bagiamana kita melindungi anak-anak dan keturunan kita dengan paham-paham itu. Maka dari itu kita harus melestarikan apa-apa amalan kita, agar anak-anak kita sudah kira tanamkan sejak kecil pemahaman tentang ajaran yang telah ulama kita ajarkan."


"Siap Mama Qiam."


"Qiam?"


"Qiya dan Ammar."


"Hehehe.... Ternyata naik motor begini lebih romantis ya mas."


"Nanti kapan-kapan kita tour naik motor biar tambah Sarangheo Ay...."


"Gom-Bal."


"Udah disertifikasi?"


"Ammar dan Qiya itu bukti sertifikasi nya Ay... "


Suami istri itu tertawa bersama diatas motor. Satu hal yang baru mereka lakukan. Namun terkesan romantis.


Saat sepasang suami istri itu merasa bahagia. Rafi justru sedang membujuk Aisha yang sedang merajuk. Ia sedari pagi menunggu suaminya itu untuk pergi ke Obgyn. Bram yang pergi ke Surabaya menemani Ayra. Membuat Sang asisten mau tak mau menggantikan Bram di rapat bersama rekan bisnis. Hingga ia lupa bahwa ada janji siang itu untuk mengantar istrinya ke rumah sakit.


"Yaaaaangggg. Tadi itu Abang sudah kirim pesan. Tak tahu kalau salah kirim. "


"Alasan. Kamu itu tega ya Fi. Aku udah satu hari ga kerja. Ini rasanya dari pagi aku muntah terus. Kepala aku pusing. Badan aku lemes. Pulang-pulang kamu ga nanyain kabar aku. Siang juga ga telpon ga kirim pesan. Kamu tega."


"Ya ampun Aiiisss sayang. Kamu biasanya kalau aku telpon bakal marah. 'Ngapain telpon telpon ini lagi sibuk. Ntar aja dirumah' giliran ga telpon salah. Abang gimana dong. Ini tadi pak Bram keluar kota."


"Terus hubungannya ga bisa nelpon apa?"


"Ya aku ga sempet."


"Hhhhhhhh.... Ya udah kalo mau ke Obgyn sekarang."


Rafi pun langsung keluar dari kamar.


"Ya Allah suami ku. Sayang ku. Cinta ku. Kamu beneran ga peka banget si Bang... Mbok istrinya ini di tuntun atau di apain kek. Ini langsung pergi aja. Amit-amit kamu jangan niru ya nak."


Rafi kembali lagi ke kamar karena mendengar istrinya menggerutu.


"Terus Abang mau gimana ini Aish sayang?"


"Tau ah... Sana jangan deket-deket."


Aisha yang sebenarnya merasakan hormon ibu hamil yang berubah-ubah. Rasa ingin diperhatikan. Rasa ingin di cintai, rasa ingin dinomorsatukan. Aisha yang tak mengenyam pendidikan di pondok belum paham bahwa meninggikan suara terlebih membentak suami adalah satu adab yang tak diperbolehkan.


Sedangkan Rafi yang sering menghabiskan waktu luangnya dan istirahat bersama Bram dikantor. Ia yang sering mendengar kajian Gus Baha melalui streaming dimana seorang suami yang saat istrinya mengomel atau marah cukup diam tanpa tersulut emosinya. Maka pahala sedang menanti Sang suami. Ibarat kata Ibadah tanpa modal adalah mendengarkan Istrinya marah dan mengomel.


Sungguh teman, apa yang ditonton, Ulama yang diikuti, apa yang dibaca akan mempengaruhi kita dalam kehidupan sehari-hari.


Akhirnya sepasang suami istri itu pergi ke Obgyn sore hari. Setiba di ruang Obgyn, Rafi pun sontak mendekat ke arah dokter yang sedang akan memeriksa Aisha menggunakan alat USG.


"Eeeeiiiit... tunggu. Tunggu. Kok harus buka-bukaan gitu."


Aisah memijat dahinya. Entah drama apalagi yang akan di buat suaminya itu.


"Maaf ada apa Pak?"


Rafi merasa tak suka perut Aisha dibuka dan diberikan jel. Terlebih ketika dokter itu memegang perut Aisha menggunakan alat.


"Bukan Muhrim... Eh maksudnya bukan Mahram.... "


Kali ini Aisha betul-betul menepuk jidatnya. Dan menghela napasnya dengan kasar.


[Bersambung besok ya 🤭🤭🤭 spesial edisi Rafi dan Aisha besok ya. Karena banyaknya PC]