
Ayra dan Bram turun dengan menuruni anak tangga. Bram yang turun lebih dulu cepat menarik satu kursi untuk istrinya. Empat pasang mata terbelalak seolah tak percaya apa yang sedang dilakukan CEO yang biasa kasar.
Bram yang merasa diperhatikan oleh kedua pasang suami istri itu pura-pura tak mengerti. Ia tetap dalam mode cuek. Ayra telah duduk disebelah Rani. Ayra menggoda Raka yang terus mengoceh dengan bahasanya sambil memakan brokoli yang ada di piringnya.
"Ehm... Ehm.... "
Bambang menggoda kakaknya yang terlihat cuek namun rona wajahnya sangat jelas bahwa sulung dari keluarga Pradipta itu sedang jatuh cinta. Karena terlihat saat Ayra ingin mengambil nasi kedalam piring suaminya, Bram cepat meraih centong nasi itu dan lebih dulu membubuhkan pada piring Ayra.
"Rani suami mu sepetinya terkena sakit tenggorokan."
Suara Bram kesal tanpa melihat ke arah Bambang atau Rani.
Nyonya Lukis tersenyum manis. melihat putranya memperlakukan Ayra dengan manis. Ia hanya mampu tersenyum dan melirik menantunya yang tak kalah merasa malu karena diperhatikan.
"Kau tahu Ayra kemarin E-."
Bram cepat menyumpal mulut adiknya dengan irisan tomat.
"Mas.... "
"Hehe... Kami biasa bercanda begini Ay."
"Kata Rafi kamu mau ke Bali nanti malam Bram. Betul? Apakah tidak bermasalah?"
"Rafi yang mengurusnya pa. Lagian kami memilih sebuah pulau disana."
"Wow. Kau tidak mau mengajak ku kak?"
Bram menaikkan alisnya.
"Apa kuping ku tak salah dengar?"
"Aku suka panggilan mu pada Mas Bram. Terdengar sangat sopan. Semoga Raka bisa memiliki adik yang juga sopan seperti papa dan mamanya."
"Aamiin..."
Semua mengucapkan Aamiin tapi suami Ayra maish sibuk menyiapkan sarapan sang istri.
"Mama senang kamu begitu pada istri mu Bram."
Pak Erlangga yang selesai dengan sarapannya pergi ke kantor. Namun tidak dengan Bams. Seolah ia masih ingin mengganggu kakaknya. Ia masih menatap sang kakak dengan senyum nakalnya. Rani hanya bisa tersenyum simpul memerhatikan Ayra yang tersipu malu karena Bram memakan nasi gorengnya sambil menatap sang istri.
"Beh.... Dunia berasa milikmu sendiri kak. Aku dan Rani mengontrak. Ayo Ran, aku tidak ingin mengganggu kakak ku yang sedang dimabuk cinta."
"Bams."
Nyonya Lukis melototi anak bungsunya itu. Bambang pun nyengir kuda dan cepat berlalu sambil menggendong Raka diikuti Rani.
"Aku tinggal dulu Ya Ay. Raka mau imunisasi."
"Ya Hati-hati Ran."
Kepergian Bambang dan Rani meninggalkan Nyonya Lukis yang masih betah melihat anak lelakinya yang sedang dimabuk cinta.
"Ay. Mama sepertinya menjadi yang kedua dihati suami mu."
Ayra masih tersenyum malu. Ia menghabiskan sarapannya. Hingga ia menunggu beberapa menit baru ia minum segelas air. Bram masih menatap istrinya itu penuh rasa cinta.
"Bram. Pergilah kerumah Nenek sepulang dari Bali. Nenek sangat merindukan kamu. Helena juga mengabari jika nenek hari ini tak bangun dari tempat tidur. Papa dan mama mungkin siang ini akan kerumah nenek dan menginap."
"Baik ma. Siang Ini Kami akan ke pondok dulu. Nanti malam kami langsung ke Bali. Mama mau cucu berapa?"
"Uhuukk.... uhuukk.... uhuukk."
Ayra yang sedang minum tersedak karena mendengar kalimat suaminya yang begitu fulgar kepada ibu mertuanya.
"Hehehe.... Bram. Kamu membuat menantu mama malu."
Nyonya Lukis memberi minum pada Ayra.
"Mas kita besuk nenek dulu bagaimana?"
"Tidak Ay kita ke rumah orang tua mu dulu. Ada yang ingin aku bicarakan pada Kyai Rohim."
"Abi mas. Dia Abiku dan Abi mas sekarang."
"Baiklah. A-Bi."
Nyonya Lukis hanya tersenyum bahagia melihat hubungan anak dan menantunya sudah sangat seperti layaknya sepasang suami istri. Nyonya Lukis pamit ke atas untuk menyiapkan baju untuk keperluan menginap di rumah nenek Indira.
Bram dan Ayra pun melakukan yang sama. Mereka menyiapkan baju untuk selama di Bali. Mereka rencana disana selama tiga hari. Rafi telah mengatur semuanya. Bahkan saat ini Rafi telah bersama dengan Aisah di Bali. Bram ingin yang terbaik dan perfect hingga Rafi terpaksa mengikut sertakan Aisha yang ia anggap bisa membantu mengimplementasikan romantis versi perempuan.
Karena kemarin saat akan membeli beberapa perlengkapan untuk menyambut Ayra pulang mereka berdua harus berjam-jam menonton di YouTub* bagaimana membuat ruangan menjadi romantis. Hingga mereka berjam-jam berburu pernak pernik untuk membuat kejutan malam tadi.
Rafi yang menyerah karena tak berpengalaman dalam bidang itu akhirnya terpaksa memaksa Aisha agar mau ikut ke Bali.
Saat sedang memasukan baju kedalam Koper. Bram kembali menggoda Ayra.
"Sayang, aku belum memberikan kamu hadiah di pernikahan kita."
Ayra masih fokus dengan baju yang ia masukan ke dalam koper. Bram kemudian menggangu istrinya dengan menutup koper itu.
"Mas.... Nanti keburu siang."
"Jawab dulu pertanyaan ku."
"Jika ada hadiah. Ayra ingin ke Mekkah bersama Mas."
"Baiklah, begitu kasus ini ketuk palu. Kita akan kesana. Mintalah sesuatu kepada ku."
"Tidak ada mas. Ayra suka semua dan tak mau apa-apa lagi. Mas sudah seperti sekarang Ayra sudah bahagia."
"Adakah yang tidak kamu suka dari mas sekarang?
Ayra yang merasa suaminya ini sedang ingin terus menggodanya karena ia duduk dihadapan Ayra dan menggesek koper pakaian yang tadi sibuk diperhatikan oleh sang istri.
"Ada. Ayra tidak Suka mas kawin nya mas."
Mimik wajah Bram kemudian berubah. Ia sadar jika mas kawin berupa kalung berlian yang ia berikan pada Ayra adalah kado untuk sang ibu.
"Apa? Katakan mas akan mengganti dengan yang kamu suka Ay. Kamu mau apa? katakan."
Ayra pura-pura memasang wajah sendunya. Ia berjalan ke arah balkon. Hati Bram makin berdebar kencang. Ia merasa ekspresi Ayra adalah hal yang serius.
"Aku akan menuruti apa pun yang kamu mau Ay. Aku tidak ingin cinta mu berkurang atau terkikis hanya karena sikap ku yang tak kamu sukai dari diriku."
"Ay..... "
Bram memeluk istrinya dari belakang. Ayra tak menjawab. Hanya usapan lembut pada punggung tangan suaminya yang ia berikan.
"Katakanlah Ay."
Ayra menarik napas dalam dan menghembuskan nya pelan. Ia lalu berbalik dan menghadap Suaminya.
"Maaf jika kalung itu tidak kamu suka. Aku tahu itu aku beli untuk mama. Mungkin kamu tidak suka modelnya? atau kamu ingin berupa cincin atau yang lainnya Ay?"
Ayra masih diam. Ia menatap kedua bola mata suaminya. Ia melihat kegelisahan dan kesedihan dalam mata suaminya.
"Semoga cinta mu tak berubah hingga kita menua mas."
"Aku tidak suka kalau mas Kawin lagi. Hehehe.... "
Kedua pipi Bram Ayra cubit lembut. sambil terkekeh dan satu tangannya memegang perut karena gemas melihat ekspresi suaminya.
"Ayra....! Aku akan menghukum mu malam besok.... "
Jika pagi tadi Bram yang harus merasa geli karena di kelitik. Maka pagi menjelang siang ini Ayra harus meneteskan air mata karena merasa geli oleh jari-jari Bram yang menggelitik pinggang sang istri.