Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
52 Limited Edition


Rafi sedang ada dirumah sakit. Ketika mengantar kebutuhan Bram bertepatan dengan pihak polisi sedang akan membawa Bram kerumah sakit. Rafi pun menemani Bram yang masih belum sadarkan diri.


Satu jari Bram bergerak. Lelaki itu perlahan membuka kedua bola matanya. Tatapan nya kabur. ia melihat samar-samar wajah seorang lelaki yang sangat ia hapal. Setelah kedua matanya terbuka sempurna, ia melihat Rafi duduk di sebelah ranjang nya.


Rasa sakit pada pelipis, bibir serta bagian perut nya membuat bibirnya mengeluarkan kata pertama setelah ia siuman.


"Awwwhh."


"Tuan."


Bram menarik satu tangan nya dan memegang pelipisnya yang baru saja dijahit. Bram langsung ingat apa yang membuat nya menjadi kesakitan seperti saat ini.


"Minum dulu tuan."


Rafi menyodorkan segelas air dengan sebuah pipet. Bram menyeruput air putih itu. Tenggorokan nya yang kering menjadi basah.


"Saya sudah meminta anda di pisah Tuan dari mereka. Dan saya juga meminta hal ini jangan sampai bocor. Besok pagi anda sudah haru kembali ke sel tahanan. Luka anda tidak cukup serius hanya saja pelipis anda haru dijahit."


Bram hanya memandang Rafi datar. Ia tak mau tahu. Ingin rasanya ia keluar dari tempat itu namun ucapan Ayra seolah menjadi nyanyian yang terus terngiang di telinga nya.


"Maaf Tuan saya tidak bisa memberi tahu pak Erlangga. Saya khawatir akan menarik media. Lagipula nenek anda masih di rumah sakit. Khawatir menambah beban pikiran mereka, saya akan menemani anda disini malam ini. Dan Apakah saya bisa memberi tahu Bu Ayra?"


"Kamu pikir dia tidak akan melesat kemari jika mendengar kondisi ku? Itu sama saja kamu memberi tahu mama dan papa ku. Rahasiakan saja. Jangan ada yang tahu."


"Tuan."


"Hem."


"Tadi Bu Ayra menitipkan pesan jika handphone anda satu hari ada panggilan belasan kali dari satu nomor yang tak dikenal. Ia khawatir penting namun ia tak berani mengangkat nya. Anda hanya mengizinkan untuk menyimpan barang-barang Anda Tuan."


"Heh..... Apa pendapat mu tentang Ayra."


"...."


"Katakan ini bukan jam kerja dan di tempat kerja . Anggap saja aku butuh seseorang yang ku minta pendapatnya "


Rafi menelan Saliva nya dengan kasar. Hampir 8 tahun ia bekerja sebagai asisten Bram namun baru kali ini ia melihat Bram meminta pendapat nya. Selama ini ia hanya menjadi pelampiasan ketika setiap masalah sedang berkecamuk dalam diri bos besarnya itu.


"Sa-Ya. Ka...."


Rafi masih takut menyampaikan pendapat nya.


"Ish.... Cepat katakan. Kau bilang akan menemani aku malam ini."


"Baiklah, pendapat saya Bu Ayra adalah seorang perempuan yang cukup langkah di akhir zaman ini. Dengan sifat dan sikapnya mencintai bapak yang baru beberapa hari menjadi suami nya. Padahal kalian menikah tanpa kenalan dan cinta terlebih dahulu."


"Kau mengamati istri atasan mu!?"


Nada sarkas seperti biasa selalu dikeluarkan bibir Bram ketika ia merasa tidak nyaman.


"Bu-Kan. Tadi saya ditelpon oleh pak Erlangga, dan ternyata Bu Ayra yang meminta saya untuk mengambil keperluan anda untuk beberapa hari kedepan."


Bram mengernyitkan Keuda alis hitamnya.


"Kebutuhan ku? apa?"


"Kalau saya lihat ketika pak polisi memeriksanya itu seperti sabun, pasta gigi, deodorant pokok nya lengkap Tuan. Bahkan pak polisi tadi merasa senang karena pekerjaan mereka menjadi lebih ringan saat semua barang kiriman tadi sudah di packing sesuai prosedur untuk bisa masuk ke dalam sel."


"Memangnya apa yang berbeda?"


"Bu Ayra membuat kebutuhan anda dalam plastik-plastik kecil Tuan."


Bram mengingat kalimatnya ketika sebelum bertemu dengan Helena.


"Baiklah jika kamu memang memilih bertahan disisi ku."


"Cepat telepon nomor ponsel ku. Katakan pada nya. Katakan bertahan lah dan lindungilah setiap aset suami mu. Aset suami mu juga aset mu maka gunakanlah semau yang menjadi aset suami mu sama seperti milikmu."


"Ba-Baik Tuan."


Ayra yang masih murojaah diatas sajadah mendengar suara dering dari Ponsel Bram, cepat ia menyudahi kegiatan nya dan sedikit berlari ke arah meja kerja Bram. Ia mengambil ponsel dari dalam laci dan ada pada layar tertulis nama Rafi.


"Angkat tidak ya. Tapi siapa tahu penting bukan kah ia tadi menemui mas Bram. Apa ada yang penting?"


Ayra ragu-ragu menerima panggilan itu. Namun ia beranikan karena hatinya selepas magrib tadi tak terasa tenang. Pelupuk matanya selalu menghadirkan wajah tampan dan dingin suaminya itu.


"Angkat saja,mungkin Rafi ada pesan dari mas Bram. Bismillah... Maafkan Ayra mas. Kali ini saja Ayra terpaksa. "


Ayra menerima panggilan itu.


"Halo. Assalamualaikum."


"Wa-waalaikumsalam. Bu ini saya Rafi."


Bram cepat duduk dan merampas ponsel Rafi ia sentuh layar ponsel Rafi yang tertulis loud speaker. Hingga suara lembut Ayra bisa ia dengar dengan jelas.


"Iya saya tahu, bagaimana keadaan Mas Bram?


Bram membesarkan kedua bola matanya ke pada Rafi. Ponsel yang tergeletak diatas kasur mengeluarkan suara bertanya dari Ayra.


"Baik Bu. Kirimannya sudah saya kirim dan pertanyaan ibu tadi sudah saya sampaikan."


"Alhamdulilah.... "


"Sebentar Bu saya ingat dulu pesan Tuan tadi karena cukup panjang."


Diujung sana Ayra mengernyitkan alisnya mendengar kalimat Rafi. Namun Bram menaikan napas nya dan menyentuh layar ponsel dengan kata Silent hingga Ayra tak mampu mendengar apa yang akan ia sampaikan.


"Kau ini sudah berapa lama bekerja pada ku hah? Katakan padanya Katakan bertahan lah dan lindungilah setiap aset suami mu. Aset suami mu juga aset mu maka gunakanlah semau mu, yang menjadi aset suami mu sama seperti milikmu."


Rafi beberapa kali mengulang apa yang bos nya sampaikan. Seolah khawatir hapalannya akan hilang ia cepat menyentuh layar ponsel nya dengan satu tulisan silent sehingga Ayra yang khawatir sambungan itu mati kembali bisa mendengar suara dari ponsel itu.


"Halo.... Halo.... "


"Pesannya Katakan bertahan lah dan lindungilah setiap aset suami mu. Aset suami mu juga aset mu maka gunakanlah semau yang menjadi aset suami mu sama seperti milikmu. Itu Bu sepertinya kurang lebih nya Bu."


"Alhamdulilah.... "


Satu kata syukur yang Ayra ucapkan masuk ke telinga Bram, ia bisa membayangkan wajah Ayra yang bahagia yang paham akan maksud ucapan Rafi barusan. Bram yakin jika istrinya itu perempuan yang cerdas maka kalimat-kalimat yang seperti itu mampu ia pahami. Terbukti bibir istrinya langsung mengucapkan kata syukur dan terdengar suara Ayra begitu bahagia.


Ayra percaya jika suaminya lah yang mengeluarkan kata-kata itu. Bukan Rafi. Karena ia ingat kapan kalimat seperti itu ia sampaikan. Kalimat itu ketika ia bertemu dengan Shela.


"Terima kasih Rafi. Masih adakah yang ingin kamu sampaikan?"


"Tidak Bu, seperti nya tidak ada."


"Baiklah kalau begitu, saya sudahi ya. Tak baik kita bertelepon lama-lama begini sedang suami tak bersama ku."


"Baik Bu."


Rafi mengakhiri panggilan nya. Ia melihat bos nya itu tersenyum dengan bibir yang tampak sedikit bengkak.


"Kamu betul, dia perempuan limited Edition."


Bram Kembali menyamankan dirinya di atas kasur rumah sakit itu.


Ayra yang merasa bahagia karena ia paham bahwa suaminya memberikan ia kesempatan untuk menunggu dirinya. Setidaknya suami nya menepati janji untuk menjaga rumah tangganya yang baru beberapa hari ini.


Namun ketika Ayra akan mengembalikan ponsel itu kembali pada tempatnya. Ponsel itu kembali berdering. Terlihat sepintas pesan yang masuk membuat Ayra cepat membuka ponsel yang tak dikunci oleh suaminya.


📩 "Ini Aku shela. Kita perlu bicara jika ingin kasus ini selesai. Aku tahu kamu sekarang yang memegang ponsel Bram. Aku tunggu malam ini di cafe Pinky jam 8."


Kabar Bram yang telah ditetapkan menjadi tersangka membuat Shela ingin mengusik istri kecil Bram.


Ayra menatap layar ponsel suami nya.


"Jadi kamu yang satu hari ini menelpon nomor suami ku. Apa sebenarnya yang kamu inginkan."