Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
106 Processor Cinta Ayra


Glek.


Bram menelan salivanya dengan kasar. Sebuah foto yang berukuran cukup besar menyambut ia dan Ayra masuk ke kamar. Sebuah foto yang diambil ketika Bram akan berangkat ke Amerika. Dimana Helena mencium pipi Bram dari samping seraya melirik ke arah kamera. Sedangkan Bram tersenyum lebar mengarah ke Kamera.


Bram cepat berjalan ke arah foto itu. ia turunkan foto itu dan cepat menyimpan foto itu dibalik lemari. Ayra berpura-pura tenang. Ia sadar bahwa itu Adalah Masalalu sang suami. Ia berjalan ke arah tempat tidur yang berukuran 160 x, 200 itu. Ayra membuka Jilbabnya, ia urai rambut panjangnya. Ia mengambil sisir dari tas kecilnya.


Bram yang paham akan Raut wajah sang istri bahwa sang istri sedang tidak baik-baik saja setelah melihat foto barusan. Ia tak menyalahkan Ayra, ia senang karena Ayra cemburu.


"Ay.... "


Bram duduk disebelah Ayra. Ayra menoleh dan tersenyum manis ke arah suaminya saat sebongkah hati terasa panas. Saat hati ingin menjerit, dua mata melihat jelas senyum bahagia suami difoto itu. Sungguh setan pandai sekali memancing para istri agar bisa meninggikan suaranya pada sang suami dengan dalih cemburu. Ayra sedang menahan amarah yang sedari masuk kamar tadi yang bersumber dari rasa cemburu.


Seolah Setan begitu bahagia memanfaatkan suasana hati Ayra. Ada sedikit perasaan benci kepada sang suami, seolah pendakian semalam tak ada manis-manisnya Hingga bisikan hati meminta pemilik wajah agar tak menyuguhkan senyum manis pada suami ketika dilanda marah dan kesal.


"Sini mas bantu."


Bram mengambil sisir dari tangan Ayra. Ia sisirkan rambut panjang istrinya. Ia naik ke atas kasur dan berdiri dengan lutut diatas kasur itu. Ia sisir Pelan rambut sang istri.


"Kamu cemburu Ay?"


Ayra menarik napas dalam.


"Istri mana yang tak merasakan panas hatinya mas. Saat kedua matanya melihat potret suaminya tersenyum bahagia saat pipinya di ke/cup begitu mesra oleh perempuan lain. Walau itu hanya masalalu. Sungguh pandai setan bermain-main dalam hati setiap para istri saat dilanda cemburu mas."


"Menangislah jangan ditahan."


Bahu Ayra bergoncang. Suara tangisnya lirih, Bram masih menyisir rambut istrinya. Setelah rambut Ayra telah rapi Bram turun dari tempat duduk. Ia duduk berlutut dihadapan Ayra. Ia mengangkat dagu Ayra. Ia hapus air mata yang mengalir di pipi Ayra dengan ujung ibu jarinya.


"Ay, Walau Aku bukan lelaki yang baik. Tetapi Aku mencintai kamu dengan cara yang baik. Aku atau kamu tak dapat menghapus masalalu ku. Tapi kita bisa mengukir masa depan kita hanya tentang aku dan kamu. Maaf untuk masalalu ku yang kembali menyakiti hati mu sayang."


Kali ini sebuah usapan lembut yang Ayra berikan pada wajah sang suami. Ia hapus dengan satu jarinya saat ada sebuah cairan diujung pelupuk matanya yang hampir jatuh.


"Maafkan Ayra mas. Sungguh pandai setan bersembunyi di dalam hati setiap manusia. Hingga ia akan muncul saat celah-celah itu hadir. Ayra hampir terhanyut, Ayra lupa jika Seorang istri harus mampu mengelola hati dari cemburu yang berlebihan.


Ayra tak minta mas menghapus masalalu mas. Ayra akan menjadi masa depan mas hingga mas tak akan menoleh untuk mengingat masalalu mas bersama perempuan mana pun"


"Owh So sweet Ay."


"Hehehe.... "


Ayra yang baru kali ini melihat wajah suaminya yang Bram buat seimut mungkin dengan muka dinginnya membuat sang istri tertawa terkekeh-kekeh dan mencubit kedua pipinya.


"Kamu ini cepat tertawa, cepat menangis. Processornya berapa sih Sayang?"


Kali ini giliran Bram tertawa dan mencubit satu pipi Ayra.


"Processor Cinta Quadrat untuk suami Ayra yang mau bersabar menghadapi setiap sikap dan sifat sang istri yang kadang cepat berubah-ubah. Hehehe..."


Ayra mengalungkan kedua tangan nya di leher Bram. Ia menatap dalam wajah sang kekasih hati.


[Aku mencintaimu apapun dirimu, Aku mencintaimu bagaimanapun keadaanmu]


"Sungguh aku mencintaimu Ay. Kamu pikir mas tidak hapal lirik, dan arti lagu yang kamu nyanyikan untuk mas di saat hari jadi MIKEL Group?"


Dua alis Ayra bergerak dan terangkat. Saat Bram mengangkat dagu Ayra dengan tangan kanannya.


"Saqoitil hubba fii qolbii bihusnil fi'li wassamti


yaghiibus sa'du in ghibti wa yashful 'aisyu in ji'ti Ayra sayang.


[Engkau sirami cinta dalam hatiku dengan indahnya perangaimu. Kebahagiaanku lenyap ketika kamu menghilang lenyap. Hidupku menjadikan terang ketika kamu di sana. Ayra Sayang]


"Terus lah begini mas. Jangan membiarkan aku sendiri ketika aku dalam keraguan. Teruslah begini, jangan menyalahkan aku disaat aku butuh untuk dimengerti."


"Dan kamu teruslah begini, selalu mencoba menenangkan hati mu terlebih dulu saat ada rasa benci saat ada sesuatu yang salah dalam suami mu. Tak ada suami yang bisa diajak bicara jika kalian perempuan lebih mengedepankan emosi sayang."


"Lalu kemarin yang sering emosi siapa?"


Ayra menggerakkan kedua alisnya naik turun.


"Kamu bilang jangan membahas masalalu. Lalu ini? kamu mulai nakal ya sekarang Ayra...."


Kembali Ayra dibuat tak berkutik karena sang suami mendaratkan jari-jarinya pada perut dan pinggang Ayra hingga mau tak mau Ayra mencoba menahan suara tawa dari rasa gelinya. Namun mau tak mau suara tawa itu sempat keluar juga hingga membuat sepasang telinga yang tak sengaja memasang pendengarannya di depan pintu kamar sedikit terenyuh.


"Kalian betul-betul pasangan yang serasi. Bram yang dulu tidak suka dengan orang yang kekanak-kanakan mendapatkan kamu yang dewasa dalam bersikap Ayra. Mungkin ini yang membuat aku tak berjodoh dengan mu Bram, aku tak pernah mampu bersikap dewasa seperti Ayra saat emosi ku datang."


Helena menyadarkan tubuhnya pada pintu kamar Bram. Ia yang berniat memberikan bantal dan selimut baru mengurungkan niatnya. Ia terpaku beberapa saat didepan pintu kamar Bram.


Tanpa Helena sadar jika suara tawa Bram dari balik kamar tak lagi terdengar. Suara tawa Bram karena berhasil membuat sang istri menangis karena geli dan isyarat sang istri yang meminta ampun. Bram tahu bahwa sang istri tak berani berteriak karena geli di kamar itu.


Saat Helena baru beberapa langkah meninggalkan ruangan itu. Pintu Kamar terbuka dan sosok perempuan berkerudung keluar dari balik pintu. Ayra yang melihat Helena menghapus air mata nya dan terdengar Isak tangis. Ayra cepat menahan tangan Helena, Ayra menarik tangan Helena ke sebuah balkon. Mereka duduk di balkon lantai atas.


Mereka duduk bersebelahan.


"Helena. Aku tahu kamu merasa sakit atas rasa yang kamu miliki."


"..... "


"Helena. Jodoh itu seperti buah-buahan. Ia akan masak kalau sudah tiba waktunya. Kalau buah belum masak, rasanya akan masam.


Dan kalau masam, mungkin buahnya tidak akan termakan. Sebab selain bergetah, buah yang belum masak dapat membuat sakit perut.


Begitu juga jika buah yang belum tua lalu di karbit agar masak sebelum waktunya. Alhasil buah akan masak namun rasanya tak enak karena dipaksakan masaknya. Jadi menunggu jodoh tiba itu ibarat kita menunggu buah yang akan masak, nanti akan tiba sendiri saatnya.


Selama buah itu belum matang akan lebih baik kamu menyibukkan diri menyiapkan alat untuk memakan buah tadi Helen. Pantas kan saja untuk jodoh yang kamu inginkan Helena. Dia akan datang disaat kamu telah siap memakannya ketika ia telah manis dan ia telah siap untuk kamu santap."


Helena cepat memeluk Ayra. Ia menangis di pelukan Ayra. Dua perempuan yang harusnya saling caci yang harusnya saling merebut simpati lelaki yang sama-sama mereka cintai kini menjadi tempat untuk saling berbagi atas rasa gundah di hati.