
Sebuah mobil hitam yang dari diikuti oleh Rafi dengan taksi berwarna biru masuk kedalam satu Rumah cukup besar yang berada di tengah hutan. Terdapat beberapa rumah serupa namun berjarak cukup jauh. Rafi yang telah mengirimkan shareloc ke para bodyguard yang biasa menemani Bram saat keluar kota merasa menelan salivanya dengan kasar karena ada dua satpam yang bertubuh kekar baru saja menutup pintu pagar salah satu rumah.
"Sudah sampai Pak."
Ucap sang sopir taksi. Rafi membayar taksi tersebut lalu keluar dari dalam angkutan umum tersebut. Ia berdiri tak jauh dari rumah Luki. Satu rumah dengan pagar tinggi menjulang dan terlihat ukiran pada pagar itu. Ia menelpon seseorang yang ia minta untuk datang membantunya.
"Waduh kalo gue masuk. Masa iya gue menang lawan tuh dua satpam. Mana postur tubuhnya udah kayak petinju gitu."
Tiba-tiba Rafi melihat ke arah lantai dua. Dari kaca yang tak tertutup tirainya. Ia bisa melihat jika Aisha di Bawa kelantai dua. Aisah menyandar pada dinding kaca itu. Ia mencoba membuat pintu Arah ke balkon. Beberapa kali Aisha mencoba membuka nya. Ia berhasil membuka pintu itu. Ia berdiri di pagar balkon itu. Lelaki tadi mendekati Aisha.
"Jangan sentuh Aku! Brengsek kamu Luki!"
"Setidaknya kita akan saling membutuhkan Aish. Kamu kan perawan tua di kampung. Ibu mu sangat senang karena ada yang melamar anak gadisnya yang hampir berusia 30 tahun ini ."
"Cuih....."
Aisha meludahi Luki tepat mengenai wajahnya.
"Kurang ajar! Kamu pikir aku mau menikahi kamu yang tidak terlalu cantik ini hah? Kamu pikir kulit mu yang tidak putih itu bisa membuat aku jatuh cinta? Sini aku kasih pelajaran kamu!"
"Toloooonggg! Toloooonggg! Hiks."
Aisha berteriak meminta tolong. Dan Luki cepat menarik tubuh Aisha lalu menutup mulut Aisha. Saat ia akan menarik Aisha ke dalam. Aisha menerjang aset Luki dengan sempurna.
"Buuuughh."
"Aaaawwwhhh.... aduh.... aaaahhh... Brengsek kau Aisha."
Sehingga lelaki itu merintih kesakitan sambil memegang aset satu-satunya itu dan menunduk.
Aisha ingin cepat berlari ke luar namun satu tangannya di pegang oleh Luki. Dengan wajah kesakitan ia berusaha menahan Aisha.
"Lepaskan!"
Luki menyeret Aisha kembali kedalam kamar. Dia menampar Aisha berkali-kali. Hingga Aisha menangis sambil memegang kedua pipinya.
"Plak! Plak! Plak!"
"Hiks. Hiks.... Kamu.... Hiks...."
"Aku sudah cukup baik dari tadi. Kamu masih mau melawan. Tidak ada yang akan menolong mu. Komplek ini lagi tidak ada orang. Kawasan ini hanya akan ramai kalau siang hari Aisha. Berteriak lah!"
Luki yang membuka bajunya kembali mendapatkan perlawanan dari Aisha.
"Bruuugh!"
"Aisssshaaaaa!"
Aisha berlari ke arah pintu. Sial kunci pintu itu dikantongi oleh Luki. Kembali gadis berkerudung itu ke arah balkon. Tiba di balkon ia melihat kebawah. Ia meminta tolong pada dua satpam yang juga melihat ke arahnya.
"Pak tolong. Pak. Tolong saya Pak.Hiks."
Aisha kembali meminta tolong dengan Isak tangis penuh ketakutan juga Isak tangis menahan rasa sakit dari tamparan yang diberikan Luki di kedua pipinya. Bahkan sudut bibir Aisha sedikit berdarah. Kembali ia meminta pertolongan dari dua satpam yang ada dibawah.
"Tolong pak. saya mohon...."
Namun dua satpam tadi hanya melihat lalu masuk ke dalam pos security mereka. Dua orang lelaki itu tak berani membantu. Majikannya akan memecat mereka jika mereka ikut campur. Sehingga dua orang security tadi memilih agar pergi dan pura-pura tidak tahu.
Luki sudah berada dibelakang Aisha.
"Tidak ada yang akan menolong kamu Aisha. Sudahlah pasrah saja. Kita habiskan malam ini bersama. Lalu kita menikah. Semua beres. Kamu hamil. Aku punya pasangan. Bukankah itu adil?"
"Aku tidak sudih menikah dengan mu. Kamu pikir aku mau jadi boneka kamu. Kenapa tidak menikah dengan lelaki tadi saja. Aku bisa lihat bagaimana kamu menciumnya."
"Oh Jadi kamu cemburu? Kamu mau merasakannya juga. Baiklah aku akan adil.... "
"Jangan mendekat atau aku loncat!"
"Hehehe.... kamu pikir aku takut. Lakukanlah, aku mau lihat apa kamu berani. Paling tidak kamu akan patah kaki kalau meloncat dari sini."
Luki melipat kedua tangannya. Ia maju satu langkah.
"Aku bilang jangan mendekat!"
Luki tersenyum smirk. Ia kembali melangkah.
"Bruuugh!"
"Aaaawwwhhh....."
Aisha betul-betul melompat dari lantai dua. Ia lebih memilih menyelamatkan kehormatannya. Luki terbelalak tak percaya. Aisha betul-betul melompat dari lantai itu.
"Gila. Bodoh!"
Luki cepat keluar dari kamarnya.
Aisha merintih kesakitan. Ia mencoba berdiri namun tak bisa dua kakinya terasa sakit. Entah keseleo entah patah namun Aisha mampu merasakan sakit pada lutut dan pergelangan kakinya. Ia menangis menahan rasa sakit itu. Bahkan hanya kata-kata ibu yang terlontar dari bibir Aisha.
"Ibu.... Ibu.... Hiks.... Tolong Aisha Bu.... Tolong Aisha Bu.... "
Luki dan kedua satpam telah berada didekat Aisha.
"Gadis bodoh! baiklah setidaknya sekarang lebih memudahkan aku memberikan kamu pelajaran biar kamu tidak lari lagi. Ayo berlarilah!"
Luki tersenyum puas.
"Bawa dia ke kamar!"
Luki menghidupkan rokok nya. Ia menikmati rokoknya sebelum menyusul dua security yang membawa Aisha kembali ke lantai atas.
Saat di anak tangga lelaki berdua itu berbisik.
"Mengerikan. Lebih menyeramkan dari hewan ya Di. Terong dimakan, tempe dimakan juga.... lah si bos tahu ga nih kalau pacarnya selingkuh ma tempe?"
"Maksudnya?"
"Aaaahhh kamu ini. Lah ini."
security itu merasa merinding karena ia tahu bawah Luki mendapatkan rumah mewah ini dari lelaki yang sering kemari. Jika selama ini lelaki yang kaya raya itu menjadi lawan main Luki. Malam ini dia membawa Aisha secara paksa.
"Kalian berdua! saya doakan jika punya anak perempuan. Biar tidak ada yang menolong juga! hiks....hiks...."
Aisha yang di gotong oleh dua orang itu menggerutu pada dua lelaki yang usianya tak lagi muda. Ia sangat marah karena dua lelaki itu tak mau membantu dirinya.
"Maaf neng. Kita mau makan apa klo di pecat."
"Tolong saya pak. Tolong lah. Saya akan bayar bapak berdua berapa bapak mau.... Hiks... aduh... jangan pegang di bagian itu. sakit pak...."
Aisha merintih ketika sampai di lantai dua namun satu security memegang pergelangan kakinya.
Dua orang lelaki itu tak berani menjawab. Ia diam membisu karena Luki telah ada di belakang mereka.
Aisha yang di letakkan di atas tempat tidur hanya menangis pasrah. Ia memejamkan kedua matanya masih sambil menangis. Ia merasa sedih karena ia harus menerima kenyataan jika sebentar lagi satu hal yang amat berharga dari dirinya akan direnggut secara paksa.
Aisha bisa merasakan jika Luki sudah berada dekat dengan dirinya. Luki baru akan membuka kerudung yang dikenakan oleh Aisha.
"Woiiii brengsek! Halalin dulu kalo mau unboxing!"