Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
123 Membesuk Bram


Ayra yang yang telah pulih keadaannya dibawa pulang ke kediaman Umi Laila. Dikarenakan Jarak kampusnya dari pondok yang tidak terlalu jauh. Serta Nyonya Lukis yang mempercepat pengobatan untuk anak dan menantunya.


Nyonya Lukis akhirnya menemani Liona dan Beni ke Kanada karena Liona pun akan menjalani operasi saraf mata di Kanada. Ayra yang masih cukup lemah tak ingin merepotkan Rani yang masih hamil masuk tujuh bulan.


Satu Minggu dipondok, Ayra akan mengunjungi Bram di Lapas. Karena hari ini adalah jadwal besuk Bram. Pagi ini ia akan ditemani Kyai Rohim dan Umi Laila. Kyai Rohim yang belum pernah bertemu menantunya setelah vonis jatuh padanya.


Ayra yang telah siap dengan segala bekal untuk suaminya. Ia sengaja singgah ke kediaman pak Erlangga untuk mengambil beberapa pakaian Bram dan kebutuhan suaminya itu. Rani yang terlihat sedikit gemuk mendekat Ayra dan memeluk nya erat saat Ayra akan pergi.


"Jangan lama-lama di sana Ayra. Aku kesepian."


"Insyaallah kalau keadaan ku sudah membaik, aku akan kembali. Sudah satu Minggu ini aku sering mual di pagi hari Ran. Umi belum memperbolehkan aku pulang. Raka mana?"


"Sama Bik Asih ke pasar. Dari tadi minta jalan-jalan. Biasanya ada Buk De nya yang akan memanjakannya. Dia merindukan kamu juga Ay."


"Aku juga rindu Raka. Rindu rambut ikalnya. Ya sudah aku pamit dulu ya Ran. Titip salam rindu buat Bik Asih."


Dua ipar itu saling berpelukan dan Ayra mengucapkan salam lalu menghilang dari balik pintu utama bersama Kyai Rohim dan Umi Laila. Seorang sopir sengaja Pak Erlangga siapakan selama Ayra tinggal di pondok untuk mengantar kemana pun menantunya itu pergi. Dari ke tempat kuliah atau ikut Uminya ke beberapa pengajian.


Pagi ini suasana lapas yang dihuni Bram cukup ramai karena di lapas ini waktu besuk tahanan yaitu satu Minggu dua kali. Mereka yang terlihat ingin membesuk Anggota keluarganya tidak hanya mengirimkan makanan untuk warga binaan pemasyarakatan (WBP) lapas itu. tetapi juga bertemu tatap muka di dalam penjara.


Ayra yang akan membawa beberapa paper bag. Langsung diambil oleh sopir kepercayaan pak Erlangga.


"Biar saya saja Bu."


"Sudah ga apa-apa pak. Bapak istirahat saja dulu."


Setelah mendaftar dan diperiksa oleh petugas lapas barang bawaan dan para pembesuk tahanan baru diperbolehkan kedalam ruangan tanpa boleh membawa ponsel dan benda-benda yang dianggap berbahaya.


Ayra yang merasakan getaran hati nya berdegup cukup kencang karena ia merindukan suaminya. Ia berusaha menahan agar tak menangis kelak. Ia tak ingin membuat Abi dan Umi nya bersedih karena melihat kesedihan pada dirinya.


Saat memasuki sebuah Aula cukup besar. Ayra dan kedua orang tuanya berjalan ke arah dinding yang bertuliskan angka yang tertera di kertas yang diberikan petugas lapas tadi. Terlihat terdapat sebuah tikar berwarna kuning disana. Ayra duduk disana bersama Kyai Rohim dan Umi Laila.


Saat menunggu kedatangan Bram. Umi Laila mengingatkan Ayra.


"Ayra. Jangan tunjukkan kesedihan mu di depan Bram Nduk. Seorang suami akan tidak tenang ketika ia melihat istrinya merasa sedih."


"Insyaallah Umi."


Bram terlihat memasuki aula itu dengan mengenakan seragam warga binaan lapas yang berwarna biru Dongker dengan celana pendek.


Ia mencari keberadaan istrinya itu. Ingin rasanya ia berlari menghampiri Ayra. Namun ia tahan rasa rindu yang begitu membuncah karena terlihat sosok dua orang mertuanya yang ikut serta disisi Ayra.


Ayra cepat berdiri dan mencium tangan Bram. Bram hanya mengusap lembut kepala Istrinya. Ingin ia peluk istrinya itu namun rasa malu kepada kedua mertuanya membuat ia tak bisa meluapkan rasa rindunya pada sang istri.


Bram pun menyalami Kyai Rohim dan Umi Laila. Lalu mereka diduduk di atas karpet itu. Ayra mengeluarkan cangkir dan sebuah Tumbler. Ia tuangkan segelas kopi hangat kesukaan Bram. Kopi kental tanpa gula.


"Diminum mas."


"Abi tidak minum?"


Bram menghirup aroma kopi itu. Ia sangat bahagia karena istrinya sangat tahu apa yang ia sukai. Termasuk kopi buatan istrinya itu selalu pas di lidah Bram. Walau tanpa gula kadang akan berbeda ketika bukan istrinya yang membuat. Bahkan Bram sering membawa Tumbler yang berisi kopi buatan Ayra setiap pergi ke kantor.


"Bram, Abi minta maaf karena baru sempat kemari. Saat persidangan vonis kemarin, Abhi harus takziah."


"Iya tidak apa-apa."


Satu keluarga itu terlibat obrolan tentang beberapa hal. Dan Terlihat sesekali Bram tertawa karena guyonan yang Abi Ayra lontarkan. Seperti suatu cerita saat Ayra kelas 1 SMP atau Madrasah Tsanawiyah.


"Kamu tahu Bram, saat itu lingkungan pondok kan masih sedikit rumah-rumah penduduk. Dan belum ada komputer apalagi televisi. Berhubung sekolah dari rumah itu cukup jauh ke MTS. Ayra itu berjalan kaki ke sekolah.


Nah pas beberapa bulan sekolah, gurunya cerita sama Abi. Itu Ayra minta difoto sama buk gurunya yang punya handphone android. Dia lihat an/Jing yang berwarna putih dan berbulu lebat milik warga sekitar sekolah itu."


Umi Laila menimpali.


"Umi ada disana. Itu kalau tidak salah pas acara perpisahan kelas tiga Bi. Mimik wajah Ayra itu umi ingat betul."


Umi Laila melihat ke arah Ayra. Ayra tersipu malu. Karena saat itu ia sibuk mengejar an/Jing itu. Bahkan hampir ia menggendong an/jing itu.Ia sangat malu mengingat kejadian saat itu. Dimana ia mengira seekor Anjing jenis pomeranian yang dimiliki seorang bule yang memiliki vila disekitar sekolahnya.


Hal yang tak pernah ia lihat. Karena dilingkungan sekitar pondok tak ada warga yang memelihara anjing seperti itu. Maka bagi Ayra yang tak mengenal dunia internet pun tak paham jika hewan lucu itu adalah anjing yang najis untuk di pegang.


"Dia bilang begini Bram. Ibu, Masyaallah cantiknya, imutnya kucing ini. Beruntung itu ibu gurunya cepat mencegah Ayra mendekati hewan itu. Sejak itulah Abinya Ayra terpikir bahwa harus ada pengenalan teknologi hingga Santri-santri nya bisa mengenal dunia.


Karena ada banyak hal yang mungkin akan membuat mereka kaget ketika mereka tak lagi berada di lingkungan pondok. Maka saat masih di pondok mereka harus dikenalkan hingga tak kaget lagi ketika sudah terjun ke masyarakat."


Bram terlihat manggut-manggut. Ia melirik istrinya itu. Wajah cantik dengan balutan make up tipis dan bibir merah ranum istrinya itu membuat ia harus terus melirik sang istri.


Kyai Rohim yang dari tadi melihat lirikan menantunya itu akhirnya meminta agar Umi Laila ikut keluar agar sepasang suami istri itu bisa leluasa bercerita.


"Mi. Abhi ingin merokok. Rokoknya ketinggalan di mobil. Umi temani Abhi ya."


Komunikasi suami istri yang telah menempuh mahligai pernikahan puluhan tahun itu cukup dengan tatapan dan sebuah lirikan Kyai Rohim pada Bram, mampu membuat Umi Laila paham jika suaminya ingin memberikan waktu kepada anak dan menantu mereka waktu berdua untuk melepas rindu.


"Ya sudah. Umi sama Abhi sekalian pamit saja Ya Bram. Kamu jangan terlalu memikirkan kondisi Ayra. Insyaallah dia akan baik-baik saja dan sehat bersama janinnya."


"Insyaallah Umi."


"Gunakanlah waktu mu selama disini untuk muhasabah Bram. Abi percaya kamu akan bisa melalui setiap cobaan dalam hubungan kalian berdua. Saling percaya dan sabar kuncinya. Serahkan setiap masalah pada yang memiliki solusi untuk setiap masalah."


"Ia Bi. Titip Ayra."


"Kamu disini dulu tak apa nduk. Masih ada beberapa menit lagi waktunya. Abhi Umi juga ingin melihat tokoh buku di depan tadi."


Ayra menganggukkan kepalanya.


Kyai Rohim yang baru akan keluar Aula tampak berhenti melangkah dan kedua bola matanya yang terdapat guratan membesar. Ia melihat seseorang yang ia kenal namun sosok itu menghilang dibalik pintu, sesaat setelah lelaki itu berjalan dan menyenggol pundaknya.


"Aku seperti mengenal lelaki itu. Siapa dan dimana?"