Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
166 Isi Hati Seorang Ayah


Bram yang baru tiba dengan Ayra mendengar apa yang terjadi dengan Beni dan Liona. Ayra mendekati ibu mertuanya. Ia memeluk dua perempuan yang sedang duduk di sofa dan masih dalam keadaan menangis.


Bram menahan Beni dengan mencengkeram pergelangan tangan adik lelakinya itu.


"Sampai kapan kamu akan terus menjatuhkan air mata Mama?"


"Bram, Bams, Beni.... Papa harus bicara pada kalian."


Pak Erlangga meninggalkan ruang utama kediamannya. Ia menuju satu ruangan yang biasa ia habiskan untuk bersantai bersama istrinya. Sebuah ruangan penuh dengan buku dan foto-foto yang terpajang di dinding. Masa-masa remaja ketiga putranya.


Bram menahan tangan Beni. Saat adiknya itu berusaha untuk melepaskan pegangan tangan Bram. Bram melirik ke arah Nyonya Lukis.


"Ikutlah sebentar. Demi perempuan yang sudah melahirkan mu. Papa adalah orang tua kita. Jika setelah ini kamu mau kemana saja. Itu urusan mu. Aku dan Bams masih sanggup merawat Papa dan Mama jika mereka menua nanti!"


Beni ditarik oleh Bram. Tiga orang anak lelaki dari keluarga Pradipta kini telah masuk ke dalam ruangan yang biasa mereka habiskan saat dulu mereka masih belum sibuk dengan ambisi masing-masing. Saat mereka masih belum tersekat akan keegoisan dalam diri untuk sibuk dengan urusan sendiri tanpa perduli dengan kebersamaan saudara sekandung. Kebersamaan anak dengan orang tua.


Sebuah waktu kebersamaan yang kadang tak ada lagi untuk orang tua. Kala anak-anak sibuk dengan keluarga barunya. Sibuk dengan tujuan hidupnya.


Pak Erlangga menatap sebuah foto masalalu. Saat ulang tahun Nyonya Lukis. Terlihat senyum empat orang lelaki yang berdiri diantara Nyonya Lukis. Disaat putra-putra Pak Erlangga masih berstatus single. Sebuah kue tart kecil terlihat di pegang oleh Bram dengan pipinya menempel pada pipi sang ibu. Beni yang berada di sebelah pak Erlangga terlihat di rangkul oleh ayahnya itu. Sedangkan Bambang berada tepat di bawah Nyonya Lukis dengan senyum gigi putihnya. Dagu Nyonya Lukis terlihat menempel pada rambut hitam Bambang. Semua yang ada di foto itu memperlihatkan senyum terbaik mereka.


"Kalian lihat Tawa dan senyum Mama kalian?"


Pak Erlangga maju berapa langkah ke arah pigura yang berukuran sedang itu. Ia membenarkan posisi pigura yang sedikit miring.


"Beni, pernahkah Mama menyakiti kamu dengan tangannya atau melukai kalian anak-anaknya dengan caci maki? Bams, Pernahkah kalian lihat perempuan ini meminta kalian membalas jasanya? Dia yang telah mengandung, melahirkan kalian? dan Bram, pernah kah perempuan ini berkeluh kesah selama dia merawat dan membesarkan kalian? "


Suara Pak Erlangga terdengar parau. Tanpa anak-anaknya melihat pun, mereka bisa mengerti jika lelaki yang mencari nafkah untuk mereka selama ini sedang meneteskan air mata. Lelaki yang hampir tak pernah mengeluh. Lelaki yang hampir tak punya waktu untuk anak-anaknya diwaktu mereka kecil, waktu untuk bermain bersama. Waktu untuk mendengarkan keluh kesah atau sekedar cerita anak-anak yang memiliki cerita tentang pengalaman mereka selama sang ayah tak pernah dirumah.


Lelaki itu, hari ini menahan sesak di dada. Terisak menangis. Ia merasa sakit saat perempuan yang menemani perjuangannya, perempuan yang telah memberikan dirinya tiga putra yang tak hanya tampan tapi selalu memiliki prestasi di sekolah. Namun sibuknya mereka menyiapkan putra-putra mereka. Mereka lupa membekali generasi penerus mereka dengan ilmu dan pemahaman tentang agama.


Ternyata, ilmu agama menjadi salah satu yang sangat dibutuhkan saat anak-anak mereka membina hubungan bersama pasangannya. Sebuah hubungan berumahtangga.


"Kalian tahu... Saat kami masih muda. Tubuh kami masih Gagah. Kalian mendapatkan prestasi-prestasi yang membanggakan kami. Itu membuat hati kami bahagia. Sangat Bahagia. Kami bisa tersenyum puas dan membusungkan dada dihadapan orang tua yang lain. 'Anak kami adalah anak yang pintar, cerdas'.


Tetapi saat ini, saat Papa dan Mama telah menuju usia tua. Ada perasaan sedih, perasaan kecewa ketika kalian terus saja membuat masalah. Diusia kami ini, kami hanya menginginkan ketenangan. Bukan lagi prestasi-prestasi kalian. Walau mungkin banyak orang tua yang ingin melihat anak-anak mereka seperti kalian yang mapan secara ekonomi. Hhhh....."


Pak Erlangga terdengar kesulitan menarik napas karena adanya cairan yang menyumbat hidungnya. Berkali-kali ia menarik napasnya dan memencet ujung hidungnya.


"Tetapi andai para orang tua itu tahu, jika anak-anak mereka bercerai berai disaat mereka dalam kecukupan ekonomi. Mungkin mereka bisa merasa lebih beruntung dari papa dan Mama. Karena mungkin anak menantu mereka kesusahan secara ekonomi.


Dada Pak Erlangga kian terasa sesak. Tenggorokannya pun makin terasa tersekat. berkali-kali ia mencoba agar mampu bernapas lewat rongga hidung mancungnya. Namun ia harus menarik napas dalam agar cairan yang ada di hidungnya tak menghalanginya udara masuk ke paru-paru nya.


"Kamu Beni. Bukankah Liona pilihan mu sendiri? Bukankah kamu yang dulu mengejar-ngejarnya dia. Apa karena dia tak sempurna lagi lantas cinta mu juga hilang? Seribu kali kamu menikah maka kamu akan kembali bercerai jika yang kamu andalkan hanya rasa cinta karena fisik pasangan kita."


Pak Erlangga mendongakkan kepalanya. Karena ia tak ingin kembali meneteskan air mata. Ia mencoba tegar dengan semua rasa yang kini menjadi satu.


Bambang yang paling memiliki hati yang lembut. Telah berlinang air mata. Ia tertunduk dengan berkali-kali mengusap airmata yang membasahi wajah tampannya.


Bram menahan gigi gerahamnya. Sudut matanya pun telah berembun. Putra sulung Pak Erlangga itu masih kuat menahan agar butiran itu tak jatuh.


Beni terpaku menatap punggung Pak Erlangga yang bergoncang. Satu tangannya ia tumpukan pada Sofa yang ada disebelahnya. Lelaki paruh baya namun masih gagah itu tertunduk dan berkali-kali mengelap air matanya.


Bram berdiri dan mendekati Pak Erlangga. Ia berikan satu sapu tangan pada Papanya.


"Maafkan kami Pa. Maafkan kami yang belum bisa membahagiakan Papa dan Mama. Bram berjanji tidak hanya akan berusaha menjadi suami yang baik tetapi anak yang baik untuk Papa dan Mama. Maafkan atas semua kesalahan Bram selama ini. Maaf jika selama ini Bram dan kedua adik-adik Bram selalu menyusahkan Papa dan Mama."


Air mata yang dari tadi ditahan oleh suami Ayra itu. Kini mengalir membasahi pipi yang baru saja dicukur oleh Ayra godeknya. Pak Erlangga menatap Bram. Ia memeluk putra sulungnya itu.


"Papa dan Mama yang harusnya meminta maaf Nak. Kami belum bisa menjadi orang tua yang baik. Kami belum bisa memberi contoh yang baik bagi kalian. Sehingga kalian tak mendapatkan sosok seperti apa seorang suami yang baik itu dari Papa kalian yang bodoh ini. Sehingga kalian tak bisa memiliki kenangan bagaimana seharusnya seorang suami yang baik itu.... Hhhhhh.....Hhhhhhhh... "


Berkali-kali Pak Erlangga harus menarik napasnya. Dadanya sangat terasa penuh sesak. Ia menyesal selama ini hampir tak punya waktu untuk bersama ketiga putranya. Ia terlalu sibuk mengumpulkan harta. Hingga jarak antara dirinya dan ketiga putranya kini ia rasakan.


Bahkan sebuah keromantisan, sebuah kehangatan pada isterinya tak pernah ia tunjukkan pada ketiga putranya. Padahal orang tua adalah figur atau sosok yang pertama akan menjadi idola bagi anak sebelum ia mengidolakan guru atau Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.


Karena memori mereka akan merekam bagaimana orang tua mereka berinteraksi. Bagaimana sang ayah memperlakukan Ibunya. Bagaimana sang ibu menunjukkan cintanya pada sang ayah. Memori itu yang tak Pak Erlangga dan Nyonya Lukis berikan. Materi dan materi yang mereka berikan pada ketiga Putranya.


Layaknya Ayra kenapa ia bisa begitu cepat jatuh cinta padahal baru mengenal suaminya. Karena kisah Umi Laila ketika baru menikah dengan Kyai Rohim yang diteruskan kepada anak-anaknya membuat memori Ayra bahwa cinta harus di semai ketika sebuah pernikahan terjadi.


Ayra yang bisa bisa bersikap hormat pada suaminya namun kadang kala sikap romantis pada sang suami ia tunjukkan, satu memori yang sering ia lihat bagaimana Umi Laila pun seorang istri yang hebat namun ia kadang sering bercanda di hadapan anak-anaknya.


Sehingga memori membekas atau atsar di hati anak-anak Umi Laila kini, sangat berguna bagi anak-anaknya. Hal yang bisa menjadi pengingat, penyemangat, kenangan. Dimana menjadi cita-cita setiap orang tua agar tumbuh kembang anak sehat, selamat dzohir dan bathinnya. Tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat kelak.


Suatu yang tak pernah Umi Laila dan Kyai Rohim pertontonkan, mereka tak pernah bertengkar atau berdebat di hadapan buah hati mereka. Padahal setiap pasangan tetap ada kekurangan. Tetapi Kyai Rohim dan Umi Laila hanya memberikan memori yang indah untuk dijadikan contoh anak-anak mereka. Sehingga menjadi Uswatun Hasanah bagi anak-anak mereka kini termasuk Ayra.


Ayra yang berdiri di balik pintu tak berani masuk karena melihat pemandangan yang mengharukan. Ia yang ingin mengatakan bahwa dari cerita Liona sebuah kalimat yang Beni ucapkan di Kanada, maka sudah jatuh talak pada Liona. Setelah Tiba di Indonesia maka talak yang diucapkan Beni berlaku untuk Liona.


Ayra hanya berdiri di depan pintu dengan tangannya memegang handle pintu sambil mengusap air matanya.