
Memasuki usia kehamilan Minggu ke 23 Minggu membuat Ayra sedikit merasakan bahwa bagian perutnya sedikit membesar. Tak lagi ia rasakan gejala mual dan muntah di pagi hari. Nafsu makan pun mulai bertambah.
Pagi ini saat akan menghadiri undangan upacara 17 Agustus di Lapas tempat Bram berada membuat Ayra sedikit berdandan. Namun karena pengaruh hormon kehamilannya. Ia dari tadi berdiri di depan cermin yang ada dikamarnya.
Rafi sedari tadi menunggu Ayra di depan mobil cukup lama. Ingin menelpon Ayra namun rasa sungkannya pada istri bos nya itu lebih besar daripada bosnya sendiri. Rafi khawatir akan terjebak macet karena pastilah pagi begini seluruh jalan akan ramai pengemudi yang berebut sampai tujuan masing-masing karena takut terlambat mengikuti upacara kemerdekaan Republik Indonesia itu.
Umi Laila yang dari tadi menunggu di depan, melihat gelagat Rafi yang tak sabar menunggu Ayra, akhirnya memutuskan memanggil putrinya itu. Saat Umi Laila mengetuk pintu kamar Ayra. Putrinya yang sedang fokus dengan cermin yang berukuran sedang di kamarnya mempersilahkan masuk.
"Masuk Umi, tidak Ayra kunci."
"Ra. Rafi dari tadi terlihat gelisah. Kamu masih lama?"
"Umi.... Ayra malu rasanya bepergian."
"Ada apa?"
Ayra melihat ke arah cermin. Umi Laila mendekati istri Bramantyo itu dan ikut melihat ke arah cermin.
"Ada apa Ayra?"
"Perutnya Ayra yang mulai membesar. Ayra tidak percaya diri Umi."
"Astaghfirullah.... Kamu ini bikin Umi khawatir saja. Umi pikir ada apa. Lah namanya juga hamil pasti lama-lama membesar Ayra."
"Rasanya tidak pede pakai Baju Umi. Sudah dari tadi Gonta ganti terasa bajunya ketat. Seperti lekuk tubuh Ayra terlihat jelas walau memakai gamis."
"Coba Umi lihat?"
Umi Laila melihat Ayra dari atas sampai kebawah lalu dari belakang ke bagian depan.
"Tidak Ayra. Hanya perasaan kamu saja Nduk. Mungkin perut yang sedikit membesar ini membuat kamu merasakan terlihat membentuk lekuk tubuh mu. Atau kamu ganti dengan gamis yang sedikit longgar."
"Ini yang paling longgar Umi."
"Ya Sudah, tak baik membuat orang menunggu terlalu lama. Rafi daritadi gelisah menunggu mu."
"Ya sudah. Ayra berangkat sekarang. Umi dan Abi berapa hari menginap di Solo?"
"Besok pulang kemungkinan. Bilqis dari kemarin menelpon, kasihan kalau kakak mu harus kemari. Nanti malam biar Siti menemani kamu Ra."
"Tidak usah Umi. Ayra berani sendirian kok."
"Kamu lagi hamil. Atau Umi minta Bu Lukis kemari?"
"Ndak Usah. Rani belum terlalu pulih, Mama sekarang lagi menginap di rumah orang tuanya Rani. Raka juga masih sangat manja tapi belum akrab dengan keluarga Rani."
Ayra akhirnya baru merasa percaya diri untuk keluar dari kamar. Saat ia berjalan menuju mobil. Ia melihat duo asistennya itu terlibat perdebatan.
"Hei Jones. Telpon Bu Ayra. Nanti takut terjebak macet."
"Ya Tuhan. Kalau bukan karena Bu Ayra. Maka aku tidak akan mau bekerja dekat-dekat kamu yang otaknya me/sum."
Aisha yang berada didalam mobil sibuk dengan konsep untuk acara hari ini yang akan dimulai nanti siang setelah Ayra pulang dari lapas. Ia terlihat emosi ketika Rafi kembali membuat dirinya harus keluar dari mobil.
"Aku juga tidak sudih bekerja dengan perempuan cerewet. Bawak an nya sewot Mulu. Bikin stres. Bikin Bad Mood."
"Braaaaak!"
Aisha menutup pintunya.
"Kamu sama bos kamu tuh ya sama-sama ngeselin. Ga pernah bisa menghargai orang lain"
Rafi mengeluarkan uang 50 ribu rupiah lalu menempelkan di jidat Aisha.
"Nih cukup ga segini?"
"Rafiiiiii. Api-api.... Jotan. Jones. Jo-"
"Ehm.... Ehm... Ehm.... "
Seketika Aisha yang baru saja ingin memukul Rafi sedangkan Rafi telah siap membuat pertahanan dengan menyilang kan kedua tangannya dan kepala sedikit ia tundukkan.
"Halalin dulu baru boleh sentuh-sentuh Rafi. Anak Gadis orang main colek-colek saja."
"Dia ini Bu duluan. Mulutnya itu sudah kayak suara knalpot motor racing."
"Astaghfirullah.... Rafiiiiiii... "
Ayra sedikit memicingkan kedua matanya dan satu jari telunjuknya ia angkat dan gerakan tanda tidak baik berbicara begitu.
"Maaf Bu."
"Awas kamu Jones nanti siang tunggu pembalasan ku."
Tak seperti biasanya, Ayra lebih banyak diam. Ia hanya diam selama perjalanan dan langsung. Saat di dalam mobil pun. Ayra menutupi perutnya dengan tas tangannya.
"Ah... Baru sekarang merasa malu. Apakah karena hormon ibu hamil. Apa hanya perasaan saja."
Rafi yang mengendarai mobil ikut merasakan jika istri bos nya itu tak seperti biasanya.
"Apa Bu Ayra marah pada ku Ya? apa aku ada salah karena tadi. Awas Jones. Gara-gara kamu ini!"
Rafi diam saja selama perjalanan. Ayra hanya memandangi kaca mobil yang ada disampingnya. Namun hampir 20 menit sekali, Rafi harus berhenti mencari toilet umum. Ayra berkali-kali meminta untuk berhenti. Ia merasakan sering ingin buang air kecil.
Ayra yang telah kembali dari buang air kecil melihat waktu di jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Kita sepertinya akan terlambat ya Fi. Maaf kalian menunggu lama."
"Bu. Kita beli Diapers saja ya Bu? khawatir nanti masuk jalan tol."
Ayra menarik napas dalam. Ia tak mungkin menyusahkan asistennya jika memang nanti ia ingin kembali buang air kecil di jalan tol. Akhirnya ia menerima ide asistennya itu.
Aisha yang melihat Ayra lebih banyak diam memancing obrolan agar Bosnya terlihat bersemangat.
"Bu Ayra kenapa ya. Daritadi banyakan diam. Tidak seperti biasanya. Tapi wajahnya terlihat sehat."
"Bu kebaya yang saya kirim kemari sudah ibu lihat lagi?"
"Sudah tapi ukurannya kamu besarkan lagi sedikit ya Aish."
"Baik Bu. Sudah saya pikirkan. Khawatir kehamilan ibu membuat tubuh ibu sedikit lebih gemukan."
Deg.
Seketika Ayra tambah merasa tidak percaya diri mendengar kata gemuk.
"Aduh. Astaghfirullah.... Kenapa perasaannya begini."
"Memang sekarang sudah kelihatan Aish?"
"Sudah Bu. Sendikit. Tapi Aisha senang ibu tidak mengalami seperti orang-orang alami. Katanya orang hamil mual muntah."
Seketika Ayra tergelak karena ia memang paham jika Aisha tidak bersamanya selama proses mual dan muntah itu.
"Aku baru saja melewati fase itu Aish. Alhamdulilah tapi sekarang tidak lagi."
"Ah senang bisa buat ibu tertawa dan ceria seperti ini."
Ayra mengerutkan kedua alisnya.
"Memangnya pagi ini aku terlihat aneh?"
"Ibu banyakan diamnya. Tak ada semangat seperti biasanya."
"Alhamdulilah, dikelilingi orang yang begitu sayang pada Ku. Terimakasih perhatian mu Aish. Aku hanya tidak nyaman saja dengan penampilan ku sekarang."
"Tidak aneh kok Bu. Malah ibu terlihat lebih cantik karena lebih berisi."
Ayra hanya membuang napas pelan. Perkataan yang sama seperti Umi Laila tadi. Bahwa hal yang biasa untuk ibu hamil ketika perutnya membesar.
Setibanya di Lapas. Mereka benar-benar terlambat. Upacara hampir selesai. Ayra langsung ke bagian pemeriksaan. Saat setelah melalui proses sesuai aturan untuk masuk kedalam lapas. Ayra tiba di dalam, Ia melihat upacara baru saja selesai. Drama berhenti Berkali-kali belum lagi proses ia yang berapa kali Gonta ganti pakaian karena rasa tidak percaya diri.
Khawatir pakaian yang dipakai terlihat seksi Dimata lawan jenisnya karena perut yang sedikit membesar. Padahal tanpa Ayra sadari hormon ibu hamil yang membuat dirinya sedikit sensitif. Bahkan perasaan ketika lewat didepan lawan jenis. Ia merasakan jika pandangan orang tertuju pada perutnya. Padahal hanya perasaannya saja.
Ayra bingung hendak kemana karena di Lapas baru ini ia tak terlalu mengenali petugasnya. Kalau di lapas yang lama. Ia sampai hapal nama petugas yang bertugas di bagian pemeriksaan. Sehingga dapat bertanya langsung jika ada yang ingin ia tanyakan.
Akhirnya ia berjalan ke arah satu petugas lapas.
"Maaf Pak saya ingin bertemu suami saya."
"Oh bisa Bu. Siapa namanya?"
"Bramantyo Pradipta."
"Owh baik. Silahkan ditunggu saja diruang besuk."
Ayra berjalan ke arah ruang yang dimaksud. Tiba disana Aya memilih satu meja tepat di pintu masuk.
"Kamu baik-baik saja Ay?"
Tiba-tiba suami Ayra itu telah ada dibelakangnya.
Ayra berbalik tak berkedip. Kedua matanya melebar. Sudut bibirnya tertarik.