Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
225 Bukan Bram Yang Dulu


Hari ketiga Ayra dirumah sakit. Bram dan Ayra masih harus menanti sore hari untuk pulang. Jika kondisinya membaik. Ibu si kembar itu diperbolehkan dokter untuk pulang. Bram yang pagi tadi menjemput kedua buah hatinya untuk menuju rumah sakit, ia sedikit menahan emosinya. Sebuah surat diberikan untuk Wali murid Ammar.


Bram atau Ayra diminta untuk ke sekolah karena terkait pertikaian Ammar dan Riki beberapa hari lalu. Jika selama ini ia tak pernah mengurusi untuk perkara seperti ini. Mau tak mau ia harus merahasiakan ini dari Ayra. Jika ibu anak-anaknya tahu, sudah pasti Ayra akan pergi ke sekolah esok harinya. Ayra seorang ibu memperhatikan kepentingan pendidikan anak-anak nya.


Papa Ammar itu terlihat geram karena merasa pihak sekolah yang arogan. Mereka memanggil orang tua Ammar terkait wacana untuk mengeluarkan Ammar dari sekolah. Dulu, saat memilihkan sekolah untuk Ammar dan Qiya. Bram yang memang ngotot untuk di sekolah tersebut. Karena sekolah tersebut sudah terakreditasi dengan baik. Hampir rata-rata anak pejabat, artis dan orang-orang berpengaruh di kota itu menyekolahkan anak mereka disana. Sekolah dengan fasilitas yang lengkap. Juga terkenal di Kota itu. Membuat Bram ingin yang terbaik untuk sang anak.


Ayra sebenarnya sempat menolak. Ia menyampaikan pendapatnya bahwa terkenalnya tempat, mewah nya gedung belum tentu cocok untuk beberapa anak. Namun karena ia melihat karakter kedua anaknya yang tak gampang ikut-ikutan pergaulan karena ia sebagai ibu selalu menjadi teman anak-anaknya. Serta Bram sebagai kepala keluarga juga ingin kedua anaknya sekolah disana. Sehingga Ayra memutuskan mengamini apa yang menjadi keinginan suaminya.


Ayra bukan tidak ingin menyekolahkan anaknya di pondok pesantren. Melainkan ia sedang menyiapkan mental anak-anak nya, kepribadian anak-anaknya, kemandirian anak-anaknya. Agar ketika ia melihat anaknya telah siap untuk mondok. Maka itu akan meringankan tugas pengurus pondok, Kyai dan Bu Nyai nya. Ayra yang sebagai santri ndalem Umi Laila. Ia sering sekali setiap ada Santri baru, harus ekstra sabar mengajari bagaimana mencuci baju, bagaimana menyusun agar lemari rapi. Bagaimana mengatur waktu, dan adab sopan santun sesama teman dan orang tua atau guru.


Kadang ada beberapa orang tua yang menitipkan anak mereka karena nakal, karena malas sekolah, karena sering berkelahi, karena sering tidak akur dengan kakak atau adiknya dirumah, tetapi tidak disiapkan anak tersebut untuk belajar mengurus diri sendiri. Maka Ayra dan Bram menunggu momen saat dimana kedua buah hati mereka siap untuk di pondokan untuk menuntut ilmu agar menjadi Sholeh dan Sholehah.


Istri Bramantyo itu sangat mementingkan pendidikan karakter anak-anaknya. Baginya pendidikan lainnya bisa di gapai seiring usah yang giat dan doa. Akan Tetapi untuk pendidikan karakter yang baik, Itu harus dibentuk. Harus dilatih sedini mungkin. Agar menjadi kebiasaan lalu bermetamorfosis menjadi sebuah kepribadian atau karakter yang baik.


Sesibuk apapun Ayra, ia selalu menyempatkan waktu sekedar mendengarkan cerita anak-anaknya. Dan ia pun akan cepat mengambil tindakan-tindakan yang ia rasa harus ia ambil saat ada yang tidak pantas anaknya lakukan.


Pernah satu kali Ammar melempar kunci mobil pada Intan saat Baby sitter nya itu diminta oleh Ayra mengambilnya di atas meja makan. Dan kunci tersebut mengenai wajah Intan. Walau tak berdarah, Ayra yang terbiasa dari kecil di lingkungan pesantren, jangankan melempar seperti itu, Untuk berjalan di hadapan orang tua pun ia tak berani mengangkat kepalanya.


Sehingga Ayra tak menunggu waktu untuk menegur anaknya. Satu metode yang ia terapkan yaitu menatap mata sang anak saat berbicara dengan anak. Sentuhan pada sang anak seperti pada punggungnya, tangannya atau kepalanya. Barulah ia berikan pemahaman atas tindakannya yang kurang baik. Dan tentulah semua itu pun harus ia terapkan pada diri sendiri. Karena akan sia-sia sebuah nasihat disaat Ayra atau Bram melakukan apa yang mereka larang untuk anak-anak mereka.


Dan ternyata anak adalah peniru ulung. Sebaik-baik Ayra dan Bram menjadi figur orang tua. Lingkungan ternyata ikut mempengaruhi. Ammar mengatakan hal itu biasa ia lihat pada teman nya. Ia melihat bagaimana teman-temannya memperlakukan pembantu atau sopir mereka dengan tidak sopan. Dengan alasan orang tua mereka juga sering melakukan hal itu.


Ibarat oleh-oleh. Maka oleh-oleh anak-anaknya ketika dari luar rumah juga akan ada sifat yang jelek.


❤️❤️


Keesokan harinya,Bram yang merahasiakan pada Ayra tentang surat panggilan tersebut, berkilah ada urusan penting. Sehingga ia berangkat bersama-sama Ammar dan Qiya.


"Kebetulan jalannya searah Ay."


"Kalau takut terlambat biar diantar sopir saja mas."


"Tidak apa-apa. Kamu bagaimana kondisinya pagi ini?"


"Sepertinya Ayra untuk kehamilan yang ini sama dengan kehamilan pertama mas. Ayra tak suka bau AC."


"Ya sudah di matikan saja AC nya. Mas tinggal kerja tidak apa-apa?"


Ayra yang memasukkan jas beserta dasi Bram ke dalam tas.


"Iya tidak apa-apa. Tapi Ayra boleh minta sesuatu?"


"Apa?"


"Ayra sangat ingin makan gudeg mas."


"Mau pesen online?"


"Mau nya yang di depan Qiam. Bilang saja buat Ayra, nanti Ibunya paham kok mas."


"Kamu mulai ngidam Ay?"


"Ndak tahu ngidam apa Ndak. Tapi dari kemarin sore rasanya, lidah Ayra ini akan berliur ketika teringat gudeg Bu Tari."


"Ya sudah nanti mas belikan. Kamu istirahat dirumah. Untuk Qiam dari rumah saja dulu. Kamu dengar kata dokter kemarin. Kamu masih butuh istirahat. Jangan terlalu stress dan lelah."


Pagi itu Bram mengantar kedua buah hati mereka. Ia pun mengantar sampai kedepan kelas si kembar. Lalu CEO MIKEL Group itu menuju ruangan kepala sekolah. Saat tiba disana suasana masih sepi. Ia yang merasa Sinar matahari pagi itu cukup terik. Sehingga ia sedikit menggulung lengan kemejanya.


Tak lama tampak seorang ibu muda dengan blazer tosca menghampiri Bram.


"Selamat pagi pak. Maaf membuat anda menunggu. Mari masuk."


Bram mengikuti kepala sekolah itu masuk.


"Biasanya Bu Ayra yang akan kesekolah."


Bram menarik kursi di depan meja kepala sekolah tersebut. Ia menjawab sambil melihat ke arah pintu.


"Istri saya sedang tidak enak badan."


"Baiklah kita tunggu ketua yayasan ya Pak."


"Saya tidak bisa lama-lama Bu. Jam 10 nanti saya harus bertemu klien."


"Baik pak. Sebentar lagi. Tadi ibu bilang 15 menit lagi tiba di sini."


Liam belas menit berlalu. Bram yang sedang fokus pada ponselnya untuk mengecek email yang Rafi kirim. Ia cukup kaget karena pundaknya di sentuh seseorang.


"Bram?"


Bram menoleh ke arah perempuan yang paruh baya. Perempuan itu ditemani seorang lelaki yang menuntunnya.


"Maaf anda siapa?"


Bram masih berwajah datar. Ia pun berpindah ke sofa ketika kepala sekolah itu meminta agar pembicaraan tentang keputusan yayasan untuk mengeluarkan Ammar karena dalih sudah tiga kali memukul siswa lain.


"Kamu tidak mengenal saya?"


"Maaf saya tidak mengenal siapa anda."


"Kamu masih tidak berubah. Disaat banyak CEO lain dikelilingi oleh pengawal. Kamu masih saja santai kemana-mana tanpa pengawalan. Sikap mu itu ceroboh."


"Maaf Saya kemari karena undangan yang diberikan pihak sekolah. Dan saya tidak minta anda menilai tentang kehidupan saya."


"Kamu masih angkuh ternyata."


"Tolong to the points saja."


"Baiklah. Saya selaku pemilik yayasan ini ingin agar anak kamu untuk dikeluarkan. Saya rasa kami tidak bisa mentoleransi lagi tindakannya. Bukan karena Riki itu cucu saya."


"Baik. Sudah?"


Perempuan itu melihat bagaimana Bram mencoba tenang. Ia sedikit kaget perubahan karakter dari CEO yang terkenal bermulut pedas dan suka meledak-ledak itu. Kini Bram jauh lebih sabar. Tak ada nada tinggi. Tak ada tatapan tajam. Walau terlihat urat di pelipisnya seperti menahan amarah.


Perempuan tua yang merupakan pemilik yayasan itu adalah teman dari nenek Indira yang dulu sempat menjodohkan cucunya untuk Bram. Dan saat itu Bram menolak mentah-mentah saat Bertemu dengan cucunya. Sehingga hal itu membuat pemilik yayasan itu sedikit tak suka dengan Bram. Sehingga sebuah sikap tidak profesional membuat ia memilih untuk mengeluarkan anak dari Bram karena alasan memukul temannya hingga berdarah.


Ia berharap Bram memohon untuk tidak memberhentikan Ammar dari sekolah itu. Ia terlalu sombong karena merasa banyaknya anak pengusaha, artis, pejabat yang sekolah di paud, TK yayasannya. Bram melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


Bram pun mulai ingat siapa perempuan tua itu. Ia dua kali bertemu pemilik yayasan saat neneknya berusaha menjodohkan dirinya dengan cucu perempuan pemilik yayasan itu. Namun Bram yang menolak membuat hubungan pertemanan neneknya tak berjalan baik.


"Baiklah. Saya menerima semua keputusan pihak yayasan dan sekolah. Apakah masih ada yang ingin di bahas?"


"Anda tidak ingin mengajukan permohonan Pak?"


Tanya kepala sekolah yang sedari tadi hanya diam tak berani berkomentar.


"Tidak. Saya menghormati keputusan ini. Kalau tidak ada yang ingin di bicarakan lagi saya permisi dan saya langsung akan memindahkan dua anak saya. Karena tak mungkin Qiya tetap disini Bu guru jika Ammar tak disini.


"Saya rasa anda bisa melihat bagaimana dua adik kakak itu dalam kebersamaan nya."


"Kamu masih saja angkuh Bram."


"Saya atau anda yang angkuh? Saya sini sadar jika saya wali murid. Saya mematuhi keputusan dari pendidik di sini. Jika memang sekolah tak mampu mendidik anak saya. Saya akan mencari pendidik lain."


"Apa maksud mu! Kebiasaan mu masih saja suka menghina orang lain."


"Maafkan saya Bu.Saya dari tadi tidak menghina siapapun. Saya dari tadi menghormati anda."


"Saya pastikan tidak ada paud yang ternama akan menerima anak mu di sekolah mereka."


"Kita hanya bisa berusaha untuk memastikan itu ranah Allah. Saya permisi Bu. Saya rasa urusan kita sudah selesai."


Bram pergi meninggalkan ruangan itu. Tanpa Bram sadari caranya menghadapi orang-orang yang memancing emosinya telah berbeda dibandingkan saat ia masih belum mengenal Ayra. Pasangan yang baik sungguh akan memberikan satu dampak pada kepribadian pasangan kita. Andaikan Bram bertemu istri yang juga sering memancingnya untuk marah atau istri yang juga pemarah maka sulit sifat mudah marah Bram akan berubah.


Saat ia telah menjemput Ammar dan Qiya dari kelas mereka. Selama di perjalanan suami Ayra itu kembali memikirkan alasan untuk diutarakan kepada istrinya. Namun ide dadakan CEO MIKEL Group yang tak mampu untuk berbohong pada istrinya itu muncul saat ia akan membelokkan mobilnya ke arah menuju perusahaannya.


"Ammar, Qiya. Hari ini ikut papa ke kantor ya. Dan, jangan bilang-bilang Mama pulang nanti. Ok? biar Pak sopir jemput kalian nanti siang."


"Tapi kan ga boleh bohong pa?"


"Kan ga bohong. Jangan cerita kalau Mama ga tanya. Lihat bagaimana Mama pagi tadi? masih pucat kan. Kasihan Mama sama adik bayi nya kalau mama sedih atau kelelahan."


"Iya pa."


Tanpa Bram sadari satu hari itu ia akan merasakan bagaimana seorang ibu yang menghadapi anak-anak masih harus bekerja. Karena sepanjang perjalanan saja ia berkali-kali menghela napasnya akibat pertanyaan-pertanyaan dari Qiya dan Ammar yang ditujukan untuknya. Bahkan saat memasuki lift menuju ruangannya. Si kembar masih sibuk berceloteh.


"Papa kata mama kalau berbicara kita harus menatap lawan bicara kita."


"Ayolah Ammar papa masih harus melihat email papa."


"Berarti Ammar boleh dong jika diajak bicara papa ga lihat wajah Papa."


"Tapi kan yang mendengar telinga Ammar."


"Kalau begitu ketika lapar jangan mulut ya Pa yang di masukin nasi. Tapi lewat Pusat. Karena kan yang lapar perut?"


Seketika Rafi yang berada disisi kanan bosnya menahan tawa. Bram masih menahan napasnya dan ia sedikit berjongkok lalu memencet hidung Qiya.


"Besok kalau besar jadi kayak Mama ya. Jadi istri Sholehah."


Ia yang selalu diingatkan Ayra ketika marah. Ushakan jangan ada caci maki ataupun sumpah serapah. Karena tanpa orang tua sadari ketika berkali-kali ia mengatakan anaknya nakal. Maka sesungguhnya ia sedang membentuk anak mereka menjadi pribadi nakal dengan label nakal yang berkali-kali mereka dengar dari bibir orang tuanya dan ditujukan untuk mereka.


Baru beberapa menit ia bersama sang anak. Sampai di dalam ruangannya. CEO mikel grup itu harus menarik rambutnya karena ia betul-betul merasakan bagaimana bisa istrinya menahan emosi dari rasa lelah menjawab setiap pertanyaan anak-anaknya.


"Oh.... Ayra. Sekarang saya tahu kenapa setiap ibu itu doanya manjur. Mainnya hati. Salah sedikit ini emosi bikin jengkel sana anak. Ternyata kamu betul-betul hebat Ayra sayang. Kamu bahkan tak pernah mengeluh mendidik mereka. Baru berapa menit. Aku sudah merasa stress."