Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
43 Shela bersama Hoaks dan Buzzer.


Bram dan Ayra keluar dari gedung lewat pintu basemen. Mereka harus menghindari banyak nya wartawan yang menunggu didepan perusahan MIKEL group. Bram dengan setengah berlari ke arah mobil sportnya.


Ayra pun cukup kesulitan mengikuti langkah panjang suaminya itu. Ia akhirnya bisa menyusul suaminya. Tanpa Bram sadari tindakannya yang membukakan pintu untuk Ayra cukup membuat santri yang hapal 30 juz Al-Qur'an itu merasakan hangat dalam hatinya.


Ketika Ayra dan Bram telah berada dalam mobil sport warna biru milik Bram, jendela pintu diketuk oleh bawahan Bram karena terlihat dari cara berpakaian dan ia memegang intercom.


"Maaf Tuan sepertinya dibelakang pun telah banyak orang-orang yang ingin mewawancarai anda dan juga beberapa masa yang demo.


"What? Demo? mereka pikir aku korupsi uang negara hingga harus didemo?!"


"Kami telah menyiapkan helikopter diatas Tuan. silahkan ke atas kami akan mengantar anda"


Bram akhirnya memukul kemudi mobil sportnya itu berkali-kali. Ia merasa begitu frustasi.


"Buuggh."


"Buuggh."


"Mas..... Istighfar mas. Insyaallah ada jalan dalam setiap masalah. Dan Allah tidak akan memberikan seorang hamba cobaan melebihi kemampuannya."


Bram membuang napas kasar lewat hidungnya. ia segera keluar dari mobil sportnya diikuti Ayra. Terlihat 4 lelaki berbaju hitam mengikuti mereka. 2 berjalan dibelakang mereka dan 2 lagi berjalan mendahului mereka.


"Ayo. Cepat Ay. Nenek sudah menunggu dirumah! "


Ayra pun memegang lengan jas Bram agar bisa mengikuti langkah cepat suaminya itu. Ketika telah berada di dalam lift. Ponsel Bram berbunyi. Bram membuka pesan yang dikirimkan oleh pak Erlangga padanya.


đź“© "Kerumah sakit Kasih Bunda sekarang Bram. Nenek pingsan setelah mendengar berita tentang mu."


"Praaannng!"


Ponsel yang seharga puluhan juta dengan gambar apel yang telah digigit itu hancur berantakan karena dibanting oleh Bram ke arah pintu lift.


Empat lelaki yang berdiri dibelakang Bram tak berani bersuara. Satu dari mereka membereskan serpihan itu dan memegangnya. termasuk simcard dari ponsel itu.


Ayra hanya mampu terus beristighfar. Ia tak berani menasehati suaminya dengan emosinya yang tak stabil. Ia juga tak tahu pesan dari siapa itu. Yang ia tahu suaminya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Ayra menggengam tangan Bram. Ia usap lengan kekar suaminya. Bahu bidang Bram masih terlihat naik turun.


"Ada apa mas?"


Ayra coba menelisik apa yang membuat suaminya itu begitu marah dan tidak tenang.


"Diamlah. Aku sedang tidak ingin berbicara!"


Ayra menelan salivanya. Ayra tak bergeming. Ia hanya mampu menggenggam tangan suaminya dan bersandar pada lengan suaminya. Berharap mampu menenangkan hati sang suami.


"Ya Rabb berikanlah kesabaran pada suami hamba. Kuatkan kami menghadapi masalah dalam ruang tangga kami. Lindungilah suami hamba dari fitnah-fitnah yang mengarah pada dirinya. Ampuni dosa-dosa nya Rabb... Dan berikanlah hidayah mu pada suami hamba Rabb."


"Ting."


Pintu lift terbuka di roof top dan beberapa lelaki telah berada disana. Bram berjalan cepat dengan sedikit menunduk. Ayra mengikuti Bram. Hingga sampai pada helikopter Ayra kesulitan untuk menaiki kendaraan itu karena tubuhnya yang Sedikit kecil. Bram akhirnya memegang pinggang Ayra dan mengangkat nya hingga Yara mampu melangkahkan kaki nya masuk kedalam helikopter itu.


Bram naik dan duduk disebelah Ayra. Rafi ikut menyusul dan duduk dihadapan Bram dan Ayra.


"Cepat tutup semua celah agar berita itu tak makin liar."


"Baik Tuan."


Bram melihat Ayra, wajahnya pucat dan tangannya begitu dingin.


"Kamu sakit?"


"Tidak ada-apa."


Rafi seolah sering berhubungan dengan perempuan mengerti jika nyonya barunya itu takut menaiki helikopter ini.


"Nyonya takut ketinggian?"


Ayra menganggukkan kepala dan wajahnya masih terlihat pucat.


"Perhatian sekali kau pada istri Tuan mu?"


Bram menatap tajam Rafi. Rafi pun menunduk takut. Tatapan tajam Bram seolah ingin menerkam nya.


"Tidak akan terjadi apa-apa tidak usah takut."


Bram setengah berteriak karena suara berisik dari baling-baling helikopter itu cukup membuat telinga peka.


Ayra menggengam tangan Bram dan membisikkan sesuatu.


"Mas pun jangan takut dan khawatir. Semua akan baik-baik saja. Insyaallah. Ada Allah tempat kita berlindung dari fitnah yang kejam dan tempat kita bertaubat."


"Diamlah! Pejamkan mata mu jika kau merasa takut!"


Ayra hanya menarik napas dalam.


"Berikan hidayah mu Rabb kepada suami ku ini. Hilangkan lah kesombongan dari dalam dirinya."


Bram hanya diam. Ada ketenangan saat Ayra memeluk dirinya dan membenamkan kepala yang terbungkus jilbab mocca itu dalam dadanya.


Ayra mampu mendengar detak jantung suami nya itu. Rafi yang baru saja mengangkat kepalanya harus kembali menundukkan kepalanya karena Bram melebarkan kedua bola matanya ke arah Rafi.


...❤️❤️❤️...


Jika suasana hati Bram sedang kacau, namun tidak dengan suasana hati Shela. Perempuan itu sedang duduk diatas ayunan sambil menonton sebuah video konferensi pers dirinya beberapa saat lalu. Dimana Shela tersenyum bahagia karena rencananya berhasil. Ia sedang menikmati segelas wine dan menonton konferensi persnya.


Terlihat di video itu bahwa Shela sedang menangis tersedu-sedu ditemani beberapa pengacara dan ibunya.


Tak butuh waktu lama. Berita itu langsung viral. Dunia maya pun gempar tentang berita video syurnya yang tersebar dengan judul 44 Detik Shela Wilona diduga dengan Seorang CEO.


"Kita lihat Bram, kalau kamu tidak bersama ku maka kamu pun tidak bisa tidur nyenyak bersama istri udik mu itu. Sekarang lihat mampu kah istri mu itu membela mu dengan kata-kata nya yang sok relijius itu! "


Suara ponsel Shela membuat ia mengambil ponsel itu dan melihat jika pengacaranya yang menelpon.


“Ada apa? “


“Dewi fortuna sepertinya sedang berpihak pada mu Shel. Hakim dan jaksa penuntut umum sepertinya mereka yang begitu bersih hingga bisa dipastikan Bram akan memilih opsi yang kau berikan.”


“Hahaha..... Bagus Reno terus pantau Orang-orang Bram. Ia pasti sedang mencari celah agar bisa bebas dari hal ini. Dan cari orang-orang yang pandai menyebarkan hoaks agar masyarakat marah pada Bram. Satu lagi buat istri dibawah tangan nya itu ikut merasakan murkan nya netizen +21.”


“Baik, saya sudah membayar 10 orang buzzer untuk menyebarkan berita agar kasus ini mendapat perhatian masyarakat. Dan ada orang besar yang butuh kasus ini untuk membuat pemberitaan kasus korupsinya meredup. Dia sanggup suplai beberapa wartawan bahkan beberapa ormas untuk demo. Agar bisa terus memburu dan memposting berita ini di media cetak dan online. “


“Hahaha.... Seorang CEO di demo karena kasus Video porno. Ah... Kerja Bagus Reno. Nanti malam aku akan bertemu dengan Bram buat seolah-olah kalau aku diundang oleh dia. Dan usahakan agar berita bergulir seolah-olah aku disuruh menggugurkan janin ku. “


“Baik.”


Shela menatap video nya yang sedang menangis di hadapan para wartawan. Namun di suatu tempat yang jauh dari kota terlihat seorang lelaki sedang menangis dihadapan kedua orang tuanya. Ia menangisi apa yang kini menimpa adiknya.


Video 44 detik yang begitu viral itu membuat hati Furqon begitu sakit hingga ia tak mampu menyembunyikan nya dari kedua orang tuanya. Kyai Rohim hanya terpaku.