
Setiap rumah tangga pasti ada masalah-masalah. Baik itu masalah besar maupun sepele. Sungguh masalah itu akan menjadi besar atau kecil tergantung dari cara kedua belah pihak menanggapi nya.
Seperti Bram yang ternyata telah membeli sebuah rumah dan merenovasi rumah tersebut menjadi sesuai keinginannya. Bram membeli rumah yang berada di tidak terlalu jauh dari kantornya dan juga dari Kali Bening. Bram yang merasa ia adalah seorang suami, ia yang memiliki kewenangan atas keluarganya juga menyiapkan beberapa pekerja di rumah barunya termasuk baby sitter.
Sebuah rumah yang terdiri dari 3 lantai. Dimana Bram memilih lantai dua menjadi kamarnya bersama Ayra. Rumah yang cukup luas dengan memiliki taman serta kolam renang di bagian belakang. Dan di halaman samping terdapat gazebo berukir khas Jawa.
Genap satu bulan umur Ammar dan Qiya. Bram dan Ayra memanggil putri mereka dengan Qiya karena kesamaan nama belakang putri mereka dengan putri Furqon.
Siang itu, setelah semua keluarga pulang dari rumah baru Bram dan Ayra. Tinggallah Ayra yang sedang merapikan beberapa buku yang ia bawa. Saat terdengar suara tangis dari Ammar, Ayra bergegas ke kamar bayinya yang juga terhubung pintu nya dengan kamar Ayra.
Saat tiba di kamar anaknya, Ayra kalah cepat oleh baby sitter yang telah disiapkan oleh Bram untuk membantu Ayra menjaga kedua buah hati mereka. Entah kenapa di dalam hati Ayra ada rasa tak nyaman saat pertama bertemu dengan baby sitter bernama intan itu.
"Astaghfirullah.... Perasaan apa ini."
Terlihat Intan memeluk Ammar. Ayra berjalan ke arah Intan dan mencoba menjalin komunikasi dengan baby sitter yang baru satu hari ini bekerja.
"Sini mbak biar saya gendong."
"Ga apa-apa Bu. Ibu Istirahat saja. Biar Ammar saya yang jaga."
"Terimakasih mbak. Tidak apa-apa mungkin dia haus."
Namun saat Ayra akan meraih putranya, sang baby sitter berjalan meninggalkan Ayra sambil mencoba menenangkan putra Ayra itu. Ayra menghela napas.
"Mungkin dia ingin mengenal putra mu lebih Ayra. Ada apa ini. Pandai sekali setan bermain-main di balik hati manusia. Baru saja bertemu sudah punya rasa tak suka. Lindungilah hamba dari godaan syetan Rabb."
Sebenarnya, ada kekecewaan didalam hati Ayra pada Bram. Pertama suaminya mencari baby sitter tanpa mengajak ia berbicara terlebih dahulu. Kedua, pakaian baby sitter yang sedikit ketat dan seksi membuat Ayra tak nyaman. Mengingat perempuan bernama intan itu akan membantu nya merawat kedua buah hatinya dimana harus satu rumah dengan ia dan suaminya.
Yang Ayra khawatir, entah perasaan cintanya pada Bram yang terlalu besar sehingga bisa cemburu dan tak senang melihat Intan atau memang dirinya memang su'udzhon pada Intan yang memang terlihat sedikit berpenampilan terbuka dan seksi.
Ayra yang selalu di didik oleh Umi Laila untuk belajar menjaga hati, mencoba untuk tidak cepat mengambil kesimpulan. Dia tak ingin menilai Intan terlalu cepat, hanya karena sang baby sitter berpakaian tak sama dengan dirinya.
Suara tangis Qiya membuat Ayra bergegas menuju ruang bermain yang terdapat di depan kamar sang anak. Terlihat Bram mencoba menenangkan bayi mereka.
"Sini mas biar Ayra beri ASI."
"Iya mungkin dia mengantuk Ay. Kamu sudah selesai menyusun buku-bukunya?"
"Nanti Ayra teruskan. Sini anak mama. Haus ya?"
Bram menyerahkan Qiya pada Ayra. Saat Ayra ingin keluar dari ruangan tersebut Bram menahan tangan istrinya.
"Disini saja."
"Ayra ingin sambil berbaring mas."
Namun baru istri Bram akan keluar, Intan terlihat menggendong Ammar dan masuk keruangan itu. Bram yang melihat putranya tersenyum cepat menghampiri Intan dan mengambil Ammar dari pelukan Intan. Seketika ada rasa sakit melihat interaksi tersebut. Ayra masih mencoba menahan rasa itu.
Bram tak menyadari jika sang istri sedang dilanda cemburu. Juga kecewa akan keputusan yang diambil saat akan mencari baby sitter tanpa mengajak dirinya berbicara terlebih dahulu. Namun istri Bramantyo itu adalah perempuan yang pandai mengolah rasa di hatinya. Ia mengurungkan niatnya untuk memberikan ASI pada Qiya di kamarnya.
Ia duduk di sofa yang berada tak jauh dari pintu. Bram pun melihat Ayra yang menyingkap jilbabnya dan duduk di sofa cepat menghampiri sang istri sambil bertanya.
"Loh katanya mau berbaring?"
"Ingin disini dulu. Menikmati rumah baru, ruangan baru."
Intan yang mencoba merapikan beberapa mainan dikamar itu pun menjadi perhatian Ayra. Dan masih dengan posisi memberikan ASI pada Qiya. Sesekali Ayra melirik ke arah suaminya. Ia melihat suaminya fokus mengajak berbicara sang putra. Ayra yang merasa hatinya tak baik-baik saja memutuskan untuk ke kamarnya. Ia tak ingin pikiran-pikiran negatif tentang Intan memenuhi isi kepalanya apalagi saat ia memberikan ASI pada buah hatinya.
"Mas, temani Ayra dikamar sama Qiya ya?"
Bram pun menjawab sambil berbicara pada Ammar.
"Ayo Ammar kita jaga Mama dan adik Qiya dari gangguan apapun. Siap Mama."
Ayra tersenyum melihat tingkah suaminya. Bram yang dulu jarang tersenyum dan jarang bercanda semakin hari semakin sering tersenyum terlebih saat kini, kehadiran Ammar dan Qiya membuat suaminya itu sering sekali berbicara dengan bayi nya.
Satu komunikasi tanpa di cedal-cedalkan sedari buah hati mereka masih di dalam kandungan.
Tiba di kamar mereka, Ayra memberikan ASI pada Qiya. Ayra yang sudah dibekali oleh Helena sebagai dokter anak yang paham akan sering sekali ibu-ibu yang mengeluh karena anak tersedak atau gumoh. Hal itu karena posisi kepala tidak disangga lebih tinggi daripada badan anak.
Ayra memastikan dagu Qiya sudah menempel ke pa yu da ra nya. Mulut sang bayi juga terbuka lebar. Bibir atas dan bawah putri mungilnya terlipat keluar. Tidak adanya bunyi decak dari Qiya saat menik mati ASI nya melainkan hanya bunyi menelan saat me nyu su, membuat Ayra yakin jika proses penyaluran ASI untuk sang buah hati sudah tepat.
Satu posisi yang paling nyaman bagi Ayra saat me nyu sui kedua buah hatinya yaitu dengan kepala bayinya bersandar di lekukan siku lengan Ayra, ia gunakan juga lengannya untuk menopang tubuh bayinya.
Ia mendekap Qiya selama me nyu sui, agar bonding antara dirinya dan sang buah hati semakin terbangun.
Bonding adalah ikatan emosional yang intens antara ibu dan bayi. Satu hal yang mendorong ibu untuk memberikan kasih sayang, pengasuhan, dan perlindungan penuh pada bayi agar bisa memiliki tumbuh kembang yang optimal secara lahir dan batin.
Tidak hanya itu, proses itu juga Ayra manfaatkan sambil membaca shalawat di dalam hatinya.
Bram yang duduk di sisi Ayra masih sibuk bermain dengan Ammar. Ayra me nyu sui bergantian antara pa yu da ra kanan dan kiri untuk menyeimbangkan produksi ASInya.
Setelah ia me nyu sui dengan pa yu da ra kanan, ia kosongkan terlebih dahulu baru ia berpindah ke pa yu da ra kiri. Hal itu ia lakukan agar menghindari bengkak pada salah satu pa yu da ranya.
Melihat Qiya tertidur. Ayra beringsut pelan membiarkan sang anak tidur di tempat tidur mereka. Bram pun melihat Qiya tidur cepat membawa Ammar keluar dari kamar. Ia tak ingin jika sang kakak menangis membuat adiknya terbangun.
Saat Bram ingin memberikan Ammar pada Intan. Ayra pun mencegahnya dengan suara setengah berbisik.
"Sini mas biar sama Ayra saja."
Bram pun sambil menggendong Ammar berbisik pada istrinya.
"Ay. Mas rindu berdua sama kamu. Berapa Minggu ini kamu terlalu sibuk sama baby twins. Belum lagi dirumah Abi dan Umi mas sungkan untuk berduaan dengan kamu."
Ayra melihat waja suaminya.
"Kan masih bisa berempat mas."
Akhirnya sepasang suami istri itu memilih menemani Ammar di kamar yang sama Qiya sedang tertidur. Satu bulan tinggal di rumah Umi Laila membuat Bram memang tak bisa bebas memeluk istrinya. Hal yang hanya bisa ia lakukan di kamar. Terkadang saat pulasnya sang istri tidur membuat Bram tak tega jika harus membangunkan.
Ada keletihan dari wajah sang istri yang merawat bayi kembar mereka. Hingga Bram tak pernah berani menggangu istrinya yang sedang tertidur pulas. Jika dulu ia sering sekali menjahili istrinya saat sang istri tidur. Namun saat melihat Kesabaran, dan perjuangan untuk merawat buah hatinya. Juga keyakinan sang istri untuk memberikan bayi-bayi mereka ASI eksklusif membuat Bram tak pernah mengganggu sang istri saat beristirahat.
Dirumah baru ini, ia sengaja mencarikan baby sitter karena ia tak ingin istrinya kelelahan. Sambil memeluk Ayra dari belakang dan mengusap rambut panjang sang istri, Bram bertanya tentang perihal Intan.
Bram berkali-kali mencium rambut sang istri yang masih selalu wangi walau sibuknya merawat buah hati mereka.
"Biar Intan membantu merawat Ammar dan Qiya ya Ay? Mas tidak mau kamu terlalu lelah. Mas juga butuh kamu Ay."
Deg.
Seketika hati Ayra merasa sedih. Ia sedih karena ternyata satu bulan ini suaminya merasa diabaikan. Ternyata tidaklah mudah menjalankan kewajiban sebagai Istri sekaligus seorang ibu. Dimana perempuan tidak boleh mengenyampingkan dan melalaikan tugas-tugas domestiknya. Bagaimana bersikap pada suami, bagaimana bersikap kepada anak, seperti apa semestinya.