
Saat Munir ingin menambah kecepatan mobilnya, Mobil Pak Bagas makin mendekat hingga sedikit menyenggol sisi samping mobil yang dikendarai Munir.
"Bruuugh."
"Astaghfirullah.... "
Munir dan Nuaima secara bersamaan beristighfar karena tubuh mereka sedikit bergerak ke sisi kiri. Beruntung Ayra tak terbangun dari tidurnya. Putri Munir dan Nuaima itu begitu lelap dibalik selimut berwarna pink.
Munir yang sesekali melihat ke arah mobil Pak Bagas. Ia melihat Pak Bagas membuka kaca mobilnya dan berteriak ke arah nya. Namun ia tak menghiraukan. Ia melajukan kendaraannya dengan menambahkan kecepatan. Tak berapa lama suara ponsel Nuaima berdering. Nuaima mengambilnya dari tas kecil yang ada di atas pangkuannya.
Saat ia mengeluarkan ponsel itu dari dalam tas kecilnya terlihat nama Pak Bagas di layar ponsel itu.
"Mas.... "
Nuaima menunjukkan layar ponsel itu ke arah Munir.
"Matikan saja sayang. Non aktifkan saja ponsel mu. Besok kita ganti nomor baru. Tenang saja, mas tak akan membiarkan dia mengganggu kamu."
Namun seketika wajah Munir berubah sedikit Puncak ketika berada di dekat tikungan. Ia menginjak pedal rem namun sangat lama sekali rem itu berfungsi. Ia sedikit merasa aneh. Rem yang ia injak tak berfungsi seperti biasanya. Ia mencoba positif. Mungkin karena terlalu cepat ia mengemudikan mobil itu.
Berhasil melewati satu tikungan yang tak terlalu berkelok, Munir kembali harus menambah kecepatan mobilnya saat Pak Bagas Kembali memepetkan mobil nya yang seharga 500 juta itu ke mobil Munir yang hanya berharga dibawah 200 juta.
"Bruuugh."
"Ya Allah apa dia ingin membunuh kita."
Munir menoleh ke arah Pak Bagas. Lelaki itu masih menatap ke arah Munir.
"Astaghfirullah.... Selamatkan kami Rabb. Lindungilah kami Rabb."
Saat Munir ingin membuka kaca mobilnya karena pak Bagas terus saja seperti berbicara lewat mobilnya kearah Munir. Namun Nuaima yang tak ingin sang suami Kemabli terprovokasi, melarang Munir membuka kaca mobil mereka.
"Jangan mas. Biarkan saja. Dia hanya ingin memancing emosi mas. Fokus saja ke depan."
Munir menganggukkan kepalanya.
"Bantu doa sayang."
Saat Ayra menangis, Nuaima membuka sabuk pengamannya. Ia ingin mengambil Ayra yang sedang menangis karena terbangun mungkin karena benturan barusan.
"Jangan Ai. Tunggulah sebentar lagi. Ayra lebih aman di kursinya. Mas usahakan cari tempat aman untuk menepi. Pasang sabuk pengaman mu lagi Ai. Mas akan menambah kecepatan. Semoga Allah melindungi kita dari orang-orang yang berniat jahat."
"Aamiin."
Nuaima cepat kembali ke posisinya. Namun kepalanya berkali-kali menoleh ke arah Ayra.
"Ya Allah perasaan apa ini. Selamatkan kami Rabb. Lindungilah kami."
"Tenanglah Ayra. sabar ya nak. Ayra pintar. Jadi orang yang sabar ya Nak.... Anak Ibu pintar."
Satu tangan Nuaima memegang ujung kaki Ayra yang keluar dari balik selimut. Namun suara tangis Ayra makin menjadi. Bayi yang biasanya jarang rewel itu, kali ini menangis begitu kencang. Bahkan tangisan yang biasanya tak pernah ada air mata. Kini terlihat airmata membasahi kedua pipi gembul Ayra.
Hati Nuaima pun seperti teriris. Kembali ia ingin mengambil Ayra untuk menenangkan sang buah hati namun Munir kembali melarangnya. Saat Nuaima kembali akan membuka sabuk pengamannya.
"Tunggulah sayang sebentar lagi."
Munir menambah kecepatannya dan mobil pak Bagas kembali menempel pada mobil Munir. Dan mobil Munir Kembali terhempas disisi kiri jalan yang masih banyaknya hutan.
"Ciiiiiiit."
"Bruuugh."
"Sudah gila apa Bagas itu. Dia ingin membunuh kita?"
Munir menambah kecepatan mobilnya kembali. Saat di depan terdapat sebuah mobil yang menyalip sebuah bis. Maka Munir yang berusaha mengurangi kecepatannya menginjak rem. Alangkah kagetnya Munir saat berkali-kali ia injak pedal rem itu. Tak ada tanda-tanda bahwa mobil akan berkurang kecepatannya.
Hingga ia membanting stir kemudinya ke arah kiri hingga mobil bagian kanannya bergesekan dengan bis yang tadi menyalip truk.
"Sreeeeeeeet."
Suara mobil itu karena gesekan antara mobil Munir dengan Bis itu.
"Pegangan Ai.....!"
"Astaghfirullah..... Maaaaaas...."
Nuaima menundukkan kepalanya, ia memegang kedua kupingnya. Munir masih menatap jalan dan berusaha mengendalikan keliaran mobilnya karena rem yang blong.
"Alhamdulilah..... "
Saat mereka berhasil melewati bis itu walau Munir masih memikirkan cara untuk memberhentikan mobilnya itu. Ia tak mengatakan apapun. Ia masih berusaha untuk menyelematkan dirinya dan orang yang ia cintai.
"Alhamdulilah..... Mas pelankan mobilnya. Mobil pak Bagas sudah tak terlihat mas."
Nuaima yang dari tadi melihat ke arah belakang memastikan jika mobil Pak Bagas sudah tak mengikuti mereka.
"Iya Sayang."
Kembali Nuaima ingin mengambil Ayra yang berada tepat dibelakang Nuaima.
"Ai....."
pergelangan tangan Nuaima ditahan Munir.
"Biarkan Ayra disana Sayang. Ayra lebih aman disana, insyaallah."
"Tapi dia menangis mas.... "
"Kadang untuk mengerti arti hidup dan bertahan hidup kita harus menangis Ai. Ayra akan menjadi putri yang kuat seperti mu. Ia tak akan mudah menangis. Biarlah airmatanya hari ini menjadi saksi ibu dan ayahnya mengarungi kehidupan dengan tetap bersama."
Suara Munir terdengar sedikit cemas dan terlihat ujung matanya berair.
"Mas.... Kenapa tak dikurangi kecepatannya?"
"...... "
Air mata membasahi pipi Munir penuh akan gurat perjuangan hidup. Karena sedari kecil ia melalui kehidupan yang cukup berat untuk mencapai kesuksesan seperti sekarang hingga mendapatkan gelas S2 nya dan menjadi dosen di salah satu universitas ternama di Indonesia walau masih berstatus kontrak.
Bahkan ia sempat ditertawakan sahabatnya saat akan berniat melamar Nuaima karena secara fisik mereka memang tak pantas. Munir yang tak terlalu tampan tapi cukup manis dan sedap dipandang mata dianggap tak layak menjadi pendamping Nuaima yang memiliki banyak kelebihan secara penampilan luar dan dalam.
Hingga akhirnya ia menikah dengan perempuan bernama Nuaima. Perempuan yang sangat sempurna Dimata Munir. Tidak hanya cantik, tapi juga cerdas, tak hanya itu Akhlaknya mampu menambah inner beauty pada ibu Ayra itu. Saat banyak lelaki menganggumi istrinya. Ia berhasil meminangnya hanya karena dua pertanyaan dari Nuaima ketika ia mengajukan lamarannya.
"Apakah mas pernah pacaran? Apakah mas termasuk lelaki yang menginginkan poligami?"
Dua pertanyaan yang Munir jawab dengan kata tidak. Tanpa pertemuan kedua. Lamarannya langsung di terima Nuaima hanya hanya meminta mas kawin 4 Gram emas.
Semua kenangan indah kembali hadir Dimata Munir. Air mata membasahi pipinya.
"Mas.... "
Usapan lembut dari tangan Nuaima mampu membuat Munir sadar dari lamunannya.
"Ai. Aku mencintaimu mu..Semoga kita bertemu di surga Nya. Maafkan mas jika mas ada salah pada mu. tak mampu menjadi imam yang baik untuk mu. Mas Ridho akan setiap apa yang kamu lakukan. Tak ada rasa sakit dihati ini akan setiap tindakan mu."
"Cup."
Munir mengecup satu tangan Nuaima. Ia genggam tangan itu. Satu tangan masih ia fokuskan pada setir.
"Mas.... Ada apa?"
"Rem nya blong Ai."
Suara Munir tercekat. Ia tak berani menoleh istrinya.
"Astaghfirullah..... "
Tangan kiri Nuaima memegang dadanya.
"Kita akan baik-baik saja mas. Allah akan melindungi kita... "
Suara Nuaima terdengar serak seperti seseorang yang akan menangis. Nuaima menarik tangannya dari genggaman Munir Ia masukan kedalam kantung bajunya. Ia putar tasbih kayu pemberian Munir saat pertama mereka pergi ketanah suci sebagai hadiah ulang pernikahan dari kedua orang tua Nuaima.
"Sungguh semua yang terjadi dimuka bumi ini atas izin mu. Maka izinkanlah kami masih bisa berkumpul bersama untuk kembali mempersiapkan bekal kami untuk menghadap mu Rabb. Dan jika saat itu datang semoga kami masuk dalam golongan orang yang beriman. Aamiin."
Satu kegelisahan hati Nuaima mencuat ke dalam bilik hatinya. Ia merasa masih banyak dosa dalam dirinya. Rasanya belum cukup bekal untuk menemui malaikat Izrail. Masih sangat takut jika seluruh anggotanya tubuhnya diminta pertanggungjawaban di alam kubur.
Jika didunia diri ini masih bisa lari atau menghindari polisi atau hukum maka hal itu tak akan berlaku di dalam kubur yang sempit itu. Nuaima sangat takut jika ia termasuk golongan makhluk yang banyak berbuat dosa atau maksiat.Rasa takut akan bekal yang dibawa pulang belum cukup untuk menghadap Rabb nya, Dimana seseorang yang sudah mati hanya mampu menyerahkan pada nasib yang sudah tak dapat diubah. Tak akan ada guna meraung-raung dalam kesendirian disana. Karena tak akan ada yang berbelas kasih pada nya.
Hanya penyesalan karena tertipu dengan kesenangan dunia yang hanya sesaat. Tinggallah harapan Nuaima jika ia betul-betul tak lagi bisa selamat dari kondisi itu. Yaitu harta yang ia tinggalkan dan anaknya yang Sholeh jika Ayra selamat.
Maka cepat Nuaima mengirimkan pesan pada Ponsel Kyai Rohim.
..."Kak aku titipkan Ayra padamu....."...
Belum selesai Nuaima mengetik pesan itu Munir berteriak dan Nuaima cepat mengirim tanda 'Send ke Nomor ponsel Kyai Rohim."
"Ai...... Astaghfirullah.... "
"Mas.... "
"Ciiiiiiit..... "
"Braaaaak."
"Braaaaak."
"Bruuugh."
"Ooeeeee..... Oeeeee..."
"Ting."
Suara tanda pesan terkirim ke ponsel Kyai Rohim. Disertai suara tangis Ayra.