Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
207 Muliakan Orang Tua Kita


Wajah dan mata Bram sudah merah. Ia melihat air mata dari Qiya sedari dini hari. Belum lagi tangis bayi nya itu ikut membuat istrinya yang sedih ikut meneteskan airmata. Hampir satu malam Ayra tidak tertidur nyenyak karena harus tidur sambil memeluk Ammar dan sesekali terbangun untuk menepuk-nepuk bayi laki-laki nya karena terbangun. Pagi hari malah melihat buah hati nya yang lain sakit karena keteledoran orang lain.


Ayra yang menghampiri suaminya cepat menenangkan Bram. Bram ikut tersulut karena ia pun semalam tak bisa tidur nyenyak. Sesekali ia bangun ketika suara tangis Ammar terdengar. Ia hanya bisa membantu istrinya membenarkan posisi duduk karena Ammar akan terjaga ketika di rebahkan di kasur. Hingga malam itu Ammar tidur di dalam pelukan sang ibu. Dengan posisi Ayra yang bersandar pada headboard tempat tidur king size.


"Sabar lah mas. Dengar dulu penjelasan Intan."


Intan yang berdiri tak jauh dari sofa terlihat menunduk takut. Ayra mendekati Intan.


"Katakanlah Intan. Apa betul Qiya diberi MPASI kemarin?"


"Anu Bu. Aduh... itu... "


Intan menceritakan kejadian kemarin dimana Ketika Ayra pergi kerumah sakit membawa Ammar kerumah sakit. Nyonya Lukis yang ikut menjaga Qiya harus berdebat dengan dirinya.


[Flashback on]


Selepas kepergian Ayra kerumah sakit. Qiya yang semula tenang mulai menangis. Suara tangisnya makin lama makin nyaring. Membuat Nyonya Lukis cepat menghampiri Intan yang tak jauh dari sana.


"Sini biar saya gendong. Kamu ini katanya yang terbaik di agen mu. Kok nenangin bayi nangis saja tidak bisa."


Nyonya Lukis coba menggendong anaknya. Ia menenangkan Qiya dengan mencoba membawa bayi mungil Ayra itu ke area taman dan kolam renang. Namun semua sia-sia. Cucunya masih saja menangis. Ayra sebenarnya hanya pergi tak lebih dari dua jam. Intan datang dan membawa sebotol dot yang telah berisi ASI untuk Qiya. ASI yang sudah di pom pa oleh Ayra untuk Qiya.


Namun setelah habis satu botol itu sang cucu masih saja menangis. Nyonya Lukis yang memang belum pernah merawat cucu dan hanya berbekal pengalamannya dahulu memiliki anak. Dimana pengetahuan nya tentang MPASI tak boleh diberikan pada bayi dibawah anak 6 bulan tak miliki oleh Nyonya Lukis. Dahulu, ketiga anaknya sudah ia berikan makan seperti pisang.


Maka ia berpikiran jika Qiya masih haus atau lapar.


"Ada pisang?"


"Ada Bu di dapur."


"Ambil sekalian sendok kecil."


"Buat apa Bu?"


"Bawa saja kesini."


Intan pun hanya menuruti kemauan Nyonya Lukis. Ketika ia membawa satu buah pisang matang dan sendok kecil. Ia sedikit mengingatkan Nyonya Lukis untuk tidak menyuapi Qiya pisang.


"Maaf Bu. Jangan disuapin pisang. Itu umurnya belum cukup kalau untuk diberikan MPASI."


"Kata siapa? ketiga anak saya dulu sudah saya suapin pisang umur sebulan. Buktinya sehat semua. Cepat ambilkan baju gantinya saja."


"Tapi Bu nanti saya di marahin Bu Ayra."


Nyonya Lukis sedikit tertawa.


"Kamu itu belum tahu menantu saya. Ayra itu ga bakal marah apalagi sama orang tua. Sana cepat kasihan nanti kalo Ayra pulang anaknya masih rewel. Ammar lagi demam juga."


Kembali intan pun menuruti kemauan Nyonya Lukis.


"Yang nyonya dirumah ini siapa sih."


Namun suara menggerutu pun terdengar oleh Nyonya Lukis.


"Ngomong apa kamu Intan. Saya dengar."


"Maaf Bu. maaf."


Intan berlalu dan kembali dengan pakaian ganti untuk Qiya. Yang membuat Intan melotot. Qiya baru saja menghabiskan separuh dari pisang tadi.


"Ya ampun Bu... sudah Bu...Nanti kalau kenapa-kenapa saya yang di salahkan."


Nyonya Lukis melihat Qiya yang mulai tak mau menelan makanannya mau tidak mau berhenti menyuapi sang cucu. Qiya pun tak lagi menangis. Ia diam dan terlihat matanya sendu sepeti mengantuk.


[Flashback off]


Intan akhirnya menceritakan jika kemarin Qiya di suapi pisang oleh Nyonya Lukis.


Tak berapa lama Nyonya Lukis yang baru saja menggendong Ammar datang ke kamar dan melihat kondisi Qiya. Bram yang merasa kesal ulah mamanya langsung memarahi Nyonya Lukis.


"Ma. Mama itu apa-apa an sih ma."


Nyonya Lukis sedikit kaget. Ia menyerahkan Ammar pada Intan.


"Ada apa Bram?"


"Mama lihat gara-gara Mama. Qiya harus menangis kesakitan karena tidak bisa BAB."


"Bram.... mam-"


"Ma! Please! Bisa tidak mama tidak jangan ikut campur urusan rumah tangga Bram."


Seketika wajah Nyonya Lukis terlihat sendu. Baru kali ini putra sulungnya membentaknya. Jika selama ini ia menjadi anak kebanggaan bagi Nyonya Lukis karena selalu menaruh perhatian lebih. Kali ini anak yang selalu membelanya disaat adik-adiknya bersikap tidak sopan pada dirinya, membentak nya.


Ayra cepat mengingatkan suaminya. Ia mengusap punggung Bram sambil menggendong Qiya yang masih menangis.


"Mas.... Tidak baik berbicara begitu sama mama."


Bram berkali-kali menarik rambut nya. Ia menghela napasnya dengan kasar. Helena pun tak percaya jika Bram bisa membentak Nyonya Lukis. Ia juga mengenal Bram. Lelaki itu hampir tidak pernah berbuat kasar pada sosok yang bernama ibu itu. Tapi kali ini ia membentak perempuan yang telah melahirkannya. Bahkan nyawa menjadi taruhannya disaat berjuang untuk melahirkan makhluk bernama anak yang menjadi harapan setiap orang tua.


Wajah nyonya Lukis berubah sedih. Ada rasa sakit di dalam hatinya. Bersyukur ia yang telah berubah sekarang. Ia yang lebih banyak mendengarkan ceramah atau nasihat baik di majelis ilmu yang ia ikuti atau via media streaming you tube dan Face book.


Ia paham ketika hati orang tua sakit akan sikap anaknya, maka akan berdampak pada kehidupan sang anak. Maka Nyonya Lukis hanya berdoa didalam hatinya.


"Semoga kamu selalu menjadi anak Sholeh dan suami yang Soleh juga menjadi ayah yang Soleh untuk anak-anak mu Bram."


Ada senyum yang dipaksakan oleh perempuan yang telah melahirkan Bram itu. Ia tak ingin menunjukkan kesedihannya.


"Mama harusnya bertanya dulu pada Intan. Dia sudah berpengalaman ma. Untung tidak terjadi apa-apa pada Qiya ma."


"Mas...."


Ayra menarik lengan kemeja Bram. Bram pun menoleh ke Ayra.


"Iya maafkan Mama yang tak berpengalaman mengurus anak."


Nyonya lukis masih berusaha menahan air mata yang ingin jatuh. Helena yang merasa tak nyaman akhirnya berpamitan.


"Ay. Aku permisi dulu. Soalnya ada praktek. Semoga Qiya dan Ammar lekas sembuh. Hubungi aku jika terjadi apa-apa. Jangan sungkan ya."


"Tante ikut pulang Helena."


Ayra cepat melarang.


"Biar mas Bram yang antar ma."


Ayra melihat ke arah Bram dan satu kedipan mata yang cepat merupakan kode permohonan dari Ayra pada suaminya. Namun Nyonya Lukis segera menjawab permintaan Ayra tersebut.


"Biar bareng Helena saja Ay. Mama sekalian mau mampir ke Perusahaan papa. Mudah-mudahan pas acara nanti Ammar dan Qiya sehat ya. Mama pulang bersama Helena saja."


Bram pun merasa jika sudah salah membentak sang ibu segera meminta agar ibunya mau diantar eh dirinya.


"Bram antar saja ma."


"Kamu baru pulang Bram. Temani Ayra saja, kasihan anak-anak mu lagi tidak sehat."


Akhirnya Nyonya Lukis pulang bersama Helena. Ayra mengantarkan Nyonya Lukis dan Helena Sampai ke depan rumah. Ia meminta maaf atas perlakuan suaminya.


"Ma. Maafkan Mas Bram. Mungkin mas Bram lagi kelelahan."


"Ayra. Mama yang melahirkan dia. Yang membesarkan Bram. Mama paham karakternya. Mama tidak marah atau sakit hati. Mama tahu karena kalau mama sakit hati atas perlakuan Bram tadi. Maka itu akan membuat ia tidak mendapatkan keridhoan Allah."


"Terimakasih Ma."


Setelah kepergian Nyonya Lukis. Ayra memilih memutuskan agar box bayinya di bawa ke kamarnya. Ia ingin memastikan kedua buah hatinya sehat dan tidak sakit. Belum lagi Ammar, ia bayi yang sedikit susah untuk tidur. Jika Qiya bisa tertidur setelah kenyang minum ASI. Tidak dengan Ammar.


Bayi laki-laki Ayra itu akan tertidur jika sudah diberi ASI lalu di gendong dengan menggunakan kain.


Malam hari saat Ammar kembali terjaga, Ayra bangun memberikan ASI nya. Baru ingin terlelap Qiya pun bangun dan ternyata Pampers nya penuh. Bram melihat wajah lelah Ayra akhirnya menarik lengan Ayra.


"Sini gantian biar mas saja. Kamu lelah Ay. Istirahatlah. Sudah larut malam."


Arya melirik ke jam yang menempel di dinding baru terlihat jam sebelas malam.


"Tidak apa-apa mas. Memang begini tugas seorang ibu."


Ayra masih membersihkan Qiya. Setelah selesai mengganti popok Qiya. Ayra menggendong bayi perempuan nya ketempat tidurnya.


Ayra mengajak berbicara anaknya sambil memegang tangan mungil Qiya. Sedangkan Qiya yang sudah hampir terpejam masih menikmati ASInya.


"Qiya sayang. Mama tidak minta balasan apapun pada mu nak. Mama ikhlas merawat kamu. Jadilah anak yang sholehah nanti ya nak. Dan jadi Istri sholehah. Nanti kalau sudah punya suami. Ingatkan pada suami kalau pun sudah menikah, Suami mu nanti masih memiliki tanggungjawab merawat kedua orang tuanya. Dan, kamu harus ingatkan suami mu. Jangan sampai menyakiti hati ibunya ya nak."


Bram yang dari tadi membenarkan posisi Ammar segera menoleh ke arah Ayra. Lalu ia mendekati Ayra yang masih duduk dengan posisi memeluk Qiya sambil memberikan ASI nya. Bram duduk dihadapan istrinya. Ia menatap wajah cantik istrinya. Lalu ia pun berbicara pada sang anaknya.


Bram mengusap kepala Qiya.


"Qiya sayang. Nanti kalau sudah besar jadilah seperti Mama mu yang pintar dan sholehah. Terus nanti kalau punya suami, jangan ngobrol lewat perantara anak ya. Bicarakan baik-baik saja seperti Mama mu. Mama mu sangat pintar membuat papa mu ini merasa jadi tersangka tanpa harus dihakimi."


Bram mengecup kening Qiya. Laku ia mengecup dahi istrinya.


"Mama.... Anaknya sudah tidur. Sekarang silahkan apa yang menjadi ganjalan hati mama? "


Ayra meletakkan Qiya di boxnya. Lalu ia mendekati Bram. Ia duduk dilantai yang beralaskan karpet bludru. Kedua tangannya ia letakan diatas paha Bram dengan wajah sedikit mendongak ke atas. Ayra menatap wajah suaminya.


"Mas.... Jika Ammar membentak Ayra seperti mas membentak Mama tadi kira-kira bagaimana perasaan mas?"


Bram menarik tangan Ayra. Ia memegang tangan istrinya.


"Mas menyayangi kamu. Mas akan marah.,"


"Mas lihat bagaimana Ayra menjadi ibu?"


Bram mengingat satu bulan ini istrinya itu kurang waktu istirahatnya. Istrinya bukan tipe yang suka mengeluh. Sehingga hanya dari wajahnya Bram bisa melihat jika Ayra kelelahan.


"Mas berharap kedua anak kita menjadi anak Sholeh dan Sholehah. Tetapi rasanya sulit jika kita pun tak menjadi anak yang Sholeh dan Sholehah pada orang tua kita mas."


Bram membelai rambut istrinya.


"Sini duduk disini."


Bram menepuk kasur disisinya. Ayra duduk disisi suaminya. Bram menggenggam tangan Ayra.


"Tetapi mas tidak ingin mama itu campur dengan urusan rumah tangga kita ay."


Ayra menempelkan kepalanya di lengan Bram.


"Mas tahu jika dengan memuliakan orang tua, kita bisa memiliki anak yang hatinya baik. Maka sulit rasanya untuk kita memiliki anak yang Sholeh dan Sholehah jika kita sendiri tidak menjadi anak yang Sholeh dan Sholehah mas."


Bram seketika mengingat apa yang siang tadi ia lakukan. Rasa sayang pada anaknya, pada istrinya membuat ia mengabaikan rasa hormat pada perempuan yang telah melahirkannya. Bram tertegun mengingat sikapnya siang tadi.