Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
226 Kekaguman Rafi pada Si Kembar 1


Mau tidak mau, Qiya dan Ammar harus Bram bawa ke kantornya karena posisi jam masih menunjukkan waktu mereka sekolah. Menceritakan pada istrinya yang masih harus istirahat karena kandungannya kali ini tidak sama dengan kehamilan pertama.


Ia tak ingin menambah pikiran untuk istrinya. Ia akan menceritakan nanti malam setelah ia melihat bahwa kondisi sang istri betul-betul siap. Kehadiran Ammar dan Qiya menjadi perhatian karyawan MIKEL Group. Si Kembar sangat ramah ketika akan ke pantry. Ia akan menyapa karyawan yang berpapasan dengan mereka.


Rafi yang mengalihkan perhatian si kembar karena Bram sedang menemui klien untuk kontrak baru terkait ekspor minyak pengolahan sawit dengan satu perusahaan dari Singapura.


Si kembar yang ingin minum teh, dan ingin melihat pantry sehingga membuat Rafi harus menemani anak bos besarnya. Bram bukan lelaki yang mudah percaya pada orang lain. Terkait untuk menjaga anaknya. Jika kemana-mana biasanya intan dan sopir yang akan menemani kedua buah hatinya saat Ayra dan dirinya tak bisa mendampingi.


Setibanya di pantry. Qiya segera duduk di meja yang berukuran sedang. Ia melihat seorang OB perempuan. Perempuan itu terlihat sedang membuatkan beberapa kopi dan teh.


"Bi. Saya mau minta tolong dibuatkan teh tapi di kasih susu. Bisa?"


Ammar langsung mendekat ke arah perempuan itu. Sang OB yang melihat kehadiran Rafi sebagai COO itu juga menanyakan apakah Rafi ingin dibuatkan Minum. Rafi menolak, ia menanyakan pada Qiya. Ia ingin minum apa.


"Qiya mau minum apa?"


"Qiya mau susu coklat om. Ada?"


"Ada Bi?"


"Tidak ada Pak. Atau saya belikan dulu?"


"Tidak usah Bi kalau tidak ada. Saya susu aja tapi di kasih es."


"Apa Non Susu di Kasih Es?"


OB itu menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Qiya yang sekarang terlihat sedikit gemuk karena ia sangat menyukai makanan yang manis-manis. Belum lagi anak perempuan Ayra itu kurang senang dengan aktifitas yang berbau olahraga. Sehingga ia yang dulu lahir dengan tubuh lebih kecil dari Ammar, kini terlihat tubuhnya lebih besar dari Ammar. Putra sulung Ayra itu walau ia makannya lahap. Tetapi ia anak yang aktif. Ia bahkan sering diingatkan Ayra ketika di dalam rumah, anak lelakinya itu akan lebih senang berlari. Terlebih ketika menaiki atau menuruni anak tangga.


OB yang masih kebingungan akhirnya mengikuti kemauan anak Bosnya. Ia yang tak berani membantah karena ia sudah tahu jika si kembar yang berada di pantry saat ini adalah anak pemilik tempatnya bekerja. Mau tidak mau kopi dan teh yang dibuatnya untuk beberapa karyawan akhirnya belum ia antarkan.


Saat selesai dengan pesanan itu. Ammar ingin meminum teh susunya di pantry tersebut. Qiya pun tak menunggu waktu lama. Ia menghabiskan es susunya itu hampir beberapa kali tegukan. Saat mereka akan keluar dari pantry. Mereka yang baru akan keluar dari ruangan pentry itu kaget. Karena OB yang tadi membuatkan mereka susu, terlihat baju bagaian dadanya basah begitu pun wajah dan muka OB tersebut terlihat sisa-sisa kopi dan merahnya wajah sang OB seperti baru terkena panas.


"Bibi... Kenapa?"


Qiya menahan tangan Ammar ketika kakaknya akan keluar. Ammar yang tak terlalu memperhatikan apa yang terjadi. Ia menoleh ke arah OB tersebut. kedua pupil mata putra Ayra itu membesar.


"Bibi jatuh?"


"Ti-tidak kok."


"Lalu itu kenapa Bi?"


Rafi ikut penasaran karena penampilan yang berantakan dari sang OB.


"Sa-saya tadi jatuh Pak."


Qiya mendekati sang OB. Ia melihat cangkir bening yang terbuat dari kaca. Cangkir itu utuh di atas nampan yang dibawa sang OB.


"Kalau terjatuh. Ini gelasnya pasti pecah dong.... Tapi gelasnya kotor aja ga. Nampannya juga ga ada noda. Terus yang kotor hanya bagian wajah Bibi. Harusnya kalau jatuh, wajah bibi ga banyak yang kena percikan. Tetapi justru baju bibi dong yang banyak bekas kopinya. Ini malah sebaliknya."


Ammar menyipitkan matanya.


"Bibi jatuh atau disiram?"


"Nah Betul. Qiya baru mau bilang begitu Kak."


Qiya yang mewarisi sifat Ayra yang lemah lembut. Ia menyentuh tanah OB tersebut. Ia malah ikut menitikkan air mata mendengar Isak tangis OB yang tertunduk dan menitikkan air matanya. Sentuhan oleh Qiya pada tangan perempuan itu membuat ia tak kuasa menahan rasa sedih, rasa sakit pada wajahnya.


"Ada apa Bi?"


Rafi ikut penasaran. OB itu mengelap air matanya. Ia mengatakan Tak ada yang terjadi. Ia hanya ceroboh saja. Jadi cangkir kopi itu tumpah.


Qiya mengangkat jari telunjuknya dan menggoyangkan nya di hadapan wajahnya.


"Bibi. Kata mama bohong itu dosa loh."


Ammar ikut menimpali perkataan adiknya.


"Iya. Mana ada cangkir kopi tumpah eh nampannya bersih."


"Ini bocah makanya apa ya? Kok bisa pinter begini. Udah kayak detektif Conan aja."


"Iya ada apa Bi?"


"Tidak apa-apa kok Pak."


Qiya berbisik pada Ammar dan kakak Qiya itu mengangguk tanda setuju.


"Ya sudah kalau Bibi tidak mau jujur. Biar aku minta papa untuk tanya Bibi."


"Apa!?"


OB itu mengangkat kepalanya. Ia ketakutan, Baginya yang hanya bagian bawah dari sebuah perusahaan besar MIKEL group untuk dipanggil oleh Pak Bosnya. Maka itu adalah jika tidak di pecat maka sudah pasti dimarah. Ia akhirnya memohon agar tidak di laporkan pada Bram.


"Jangan. Jangan Non. Mas Ammar. Saya jangan dibilangin sama Pak Bram. Jangan ya?"


"Hehehe.... Memang Papa ku itu serigala Bi sampai bibir raut wajahnya bisa tambah pucat begitu?"


Ammar menarik kursi di ruangan OB itu. Ia duduk dan memainkan jari-jarinya dia atas meja.


"Jadi kenapa itu kopi bisa pindah dari gelas ke wajah Bibi?"


"Emm.... Tapi janji jangan bilang siapa-siapa ya?"


"Ya ga bisa lah Bi. Disini ada Qiya. Ada Om Rafi."


"Begini Pak Rafi. Tapi jangan dibesar-besarkan ya. Semua memang salah saya."


"Ih Bibi. Kita dari tadi tanya kenapa itu kopi pindah ke wajah bibi bukan bibi salah atau tidak."


Ammar meletakkan dagunya diatas tangan yang ia kepalkan diatas meja.


"Saya disiram Oleh Bu Lusi."


"Apa?! Lusi? Tega benar dah tuh perempuan. Pantas ga laku-laku. Pantas juga dulu jadi janda."


"Om Rafi Ghibah ya?"


"What? Ghibah ga la Qiya. Orang memang orangnya belum laku-laku. Dari kalian belum ada nih dia masih jadi JanTu."


"Hantu?"


OB itu salah dengar.


"Hantu Bi...."


Ammar mengulangi apa yang dikatakan Rafi.


Qiya merasa lelah. Ia ikut duduk di sisi Ammar.


"Jantu apaan Om?"


"Janda Tua. Hehehe...."


"Berarti Om Rafi CoTu."


"What? apaan?"


Ammar terkekeh-kekeh. Ia paling suka sekali menjahili Rafi setiap ada pertemuan dimana ada Rafi disana. Ia terlihat akrab bersama Rafi. Rafi yang suka pada anak kecil. Sering bermain bersama si kembar. Namun Qiya yang cenderung lebih irit bicara berbeda dengan Ammar, walau lelaki tetapi anak sulung Bram itu jika sudah nyaman dengan orang. Ia akan bercerita banyak hal. Bahkan ia akan sering bercanda.


Sungguh tumbuh kembang anak yang mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya. Perhatian dari kedua orang tuanya sedari mereka dari dalam kandungan yang sering diajak bicara oleh Bram dan Ayra hingga mereka sekarang sekolah Paud. Membuat mereka berdua menjadi anak yang periang, ceria dan cerdas.


Walau Qiya memang lebih banyak diam pada siapa saja. Ia tak banyak bicara. Anak perempuan Ayra itu lebih suka suasana yang tenang. Namun jika sudah bersama Ayra. Ia akan menceritakan apapun pada Mamanya. Baginya, Ayra adalah sahabat. Tempatnya menceritakan isi hatinya, masalahnya. Tanpa ia melalaikan sikap dan adabnya pada Ayra selaku Ibu atau orang tuanya.


Ia juga mencintai Bram sebagai ayah. Namun cara Bram yang kadang tak sama dengan Ayra dalam menjawab setiap pertanyaan Qiya karena rasa ingin tahunya, membuat putri bungsu Bram itu lebih memilih Mamanya menjadi tempat ia bertanya atau bercerita. Karena senjata andalan Bram ketika dia tidak paham akan yang ditanyakan sang anak. Ia akan menjawab 'nanti kalau kalian dewasa, kalian akan tahu jawaban dan alasannya', satu jawaban yang tak bisa memuaskan rasa ingin tahu anak-anak.


"CoTu adalah COO Tua. Hehehe...."


"Siapa bilang Om tua? Om masih muda. Papa kalian yang ti-"


Ammar segera mengarahkan telunjuknya ke arah Rafi sambil melebarkan senyumnya. Hingga gigi putih dan satu taring gingsul nya terlihat dari senyumnya.


"Hayo... Aku bilangin Papa loh Om. Bilang papa tua."


"Hehe.. jangan do Am. Kamu tahu sendiri kalau Papa mu sudah pakai mode mata Elang nya. Om Rafi merinding."


"Papa tidak pernah seram begitu sama kami. Kalau papa sampai terlihat menyeramkan maka bisa dipastikan Om bikin salah."


Qiya protes karena ia merasa papa nya tak pernah berbuat kasar di rumah. Padahal Bram Selakau menjaga dirinya untuk tidak bersikap kasar pada orang lain di hadapan anak-anaknya agar anaknya tak meniru sikap jeleknya. Maka dapat di pastikan jika ia sedang memasang mode Mata Elang pada Rafi, maka saat itu tak ada anak kembarnya.


"Ya ampun. Ini kalau benar besok Bu Ayra ngelahirin lagi jangan kembar lagi dah. Bakal repot di keroyok empat anak Pak Bram. Ga otaknya. Ga cara bela bapaknya bikin pusiiinggh. Mudah-mudahan Bilqis anak ku juga pintar begini."


Ammar menyuruh OB tadi duduk. Lalu OB tadi menceritakan kejadiannya. Ia yang terlalu manis memberikan gula pada kopi sang manager pemasaran itu membuat perempuan yang sangat menjaga penampilannya itu memarahi. Belum lagi lamanya si OB mengantar pesanannya. Karena OB tadi harus membuatkan minuman untuk Ammar dan Qiya.


Sehingga jawaban atau alasan OB tadi membuat Lusi marah karena ia tak suka jika ada orang yang membela diri. Sehingga cangkir kopi yang ada di atas nampan berwana hitam itu ia ambil, lalu ia siramkan pada OB tersebut.


Ammar menggeleng kan kepalanya.


"Tak Patut. Tak Patut. Sungguh tak patut di contoh."


Qiya ikut mengomentari cerita OB tadi


"Se-me-na. Me-na."


"Betul-betul si Lusi. Itu manager udah menyeramkan. Ganas, tak ada akhlak pula."


Ammar terlihat mengigit bibir atasnya. Sehingga bibir bagian bawahnya terlihat sedikit maju. Lalu ia meletakkan gelas nya di deretan toples gula dan kopi yang berada dibelakang OB tersebut. Dan kemudian berbalik ke arah Qiya.


"Ayo Qiya kita keruangan Papa. Sebentar lagi kita pulang."


Ammar melihat jam yang ada diruang OB tersebut hampir menunjukkan jam 10.


"Bibi yang sabar ya. Nanti itu mukanya di belikan salep ya Bi. Nanti melepuh. Qiya dulu pernah ke siram Teh. Sama mama dikasih saleb. Jadi ga sakit lagi Bi. Sudah bibi buatkan lagi kopinya. Nanti di marah lagi sama Tante Lusi."


Qiya sedikit mengerutkan dahinya. Ia memikirkan apakah benar Lusi bersikap begitu. Perempuan yang bernama Lusi itu Dimata Qiya adalah perempuan yang lemah lembut. Pintar dan cantik. Ia sering ke perusahaan ini bersama Ayra saat belum sekolah. Kadang makan bersama di ruangan Bram.


"Iya non. Terimakasih."


Sepasang anak kembar diikuti Rafi terlihat keluar dari pantry. Ammar merangkul adiknya. Lalu ia membisikkan sesuatu. Rafi curiga tingkah anak kembar CEO nya itu. Karena Rafi hapal sekali Ammar. Anak sulung Ayra dan Bram itu kadang suka melakukan hal yang bikin orang dewasa geleng-geleng kepala.


Saat tiba di ruangan Bram. Ammar membuka tirai yang ada di ruangan Bram. Sehingga terlihat ruangan di seberang ruangan Bram. Bram yang tak ingin ada fitnah antara ia dan beberapa klien atau managernya yang ada beberapa perempuan. Sehingga ia mengganti dinding di bagian depan menjadi kaca. Dan jika istri atau anaknya yang berkunjung maka ia cukup menutup tirai di dinding itu.


"Ammar. Kenapa di buka?"


Ammar membuka sepatunya. Ia duduk diatas sofa dan menghadap ke arah dinding. Sehingga tampak ruangan Lusi. Lalu ia mengajak Bram duduk di sofa itu, Rafi yang penasaran ketika permisi keluar. Ia berdiri di sisi kanan ruangan Bram. Ia penasaran apa yang akan terjadi. Tentu Ammar mempunyai rencana.


"Si Sulung Bos itu sudah punya rencana apa? Pasti sasarannya adalah Lusi. Cari mati kamu Lusi. Dulu Induknya yang bikin kamu malu. Sekarang Anaknya. Penasaran aku."


To be continued