
Tiba di Kali Bening, Ayra yang turun dari mobil, ia melihat sepanjang jalan menuju komplek pondok pesantren telah di padati kendaraan. Beberapa orang yang melihat kehadiran Ayra menundukkan kepala. Di Kali Bening, keluarga Kyai Rohim begitu sangat dihormati. Kiprah Kyai Rohim dan Umi Laila di desa itu tak pernah dilupakan oleh masyarakat disana.
Sehingga apa yang di tanam oleh Kyai Rohim dan Umi Laila semasa muda, memberikan imbas pada anak-anaknya. Masyarakat disana sangat menghormati anak-anak beliau. Sungguh baik dan buruknya tingkah laku kita, akan berdampak pada anak keturunan kita.
Bram menggendong putrinya. Qiya yang sedari tadi ikut menangis tak mau berjalan. Sedangkan Ammar di tuntun oleh Ayra. Anak lelaki Ayra itu menggenggam tangan ibunya erat. Ia tak bersuara tetapi air mata putra sulung Ayra itu terus mengalir. Ia merasa kehilangan Mbah Kakungnya. Sosok kakek yang lemah lembut dan suka humor itu kini telah tiada. Walau putra Ayra itu belum dewasa, tetapi ia paham arti kata meninggal, orang yang tidak akan kembali lagi, tidak akan bisa diajak berbicara dan bercanda lagi, itulah pemahaman Ammar. Kyai Rohim sering bermain dengan cucu-cucunya. Kyai Rohim memiliki 11 Cucu dari ke 5 anaknya. Namun ia tak pernah membedakan cucu dari anak-anaknya.
Ayra mungkin memang anak kesayangan bagi Kyai Rohim. Tanpa ia mengatakan, ke empat saudara Ayra bisa melihat itu. Dan tak ada rasa iri. Mereka sadar hal itu karena kepribadian Ayra yang dari kecil hampir tidak pernah membantah Umi dan Abi nya. Selain itu, Ayra yang memang paling cerdas diantara ke empat saudaranya, tak pernah merendahkan saudaranya yang lain. Sehingga hubungan harmonis itu tercipta karena memang Pesona Ayra itu sendiri.
Tiba di depan Rumah, hati Ayra begitu tak karuan. Langkah kakinya ingin ia percepat tetapi saraf-saraf pada kaki itu seolah melemah. Ia mencoba tegar, ia terus beristighfar di dalam hatinya. Bram melihat Ayra yang sedikit memperlambat langkahnya. Ia rangkul istrinya dengan satu tangan nya.
Tiba di dalam ruangan kedua netra Ayra mendapati sosok lelaki yang telah terbujur kaku. Jenazah itu ditutupi kain, hati Ayra tak pernah serapuh itu. Seketika tubuh Ayra dari kaki hingga ke atas kepala terasa lemah. Baru satu langkah ia mendekat ke arah jenazah kyai Rohim. Namun tubuhnya hampir jatuh kelantai. Beruntung Bram yang dari tadi memeluk istrinya.
Hampir semua yang berada di dalam ruangan itu menyebut nama Ayra dan beristigfar. Umi Laila yang mendengar nama Ayra di sebut cepat berdiri dan menghampiri.
"Ay...."
Bram menurun kan Qiya. Ia menggendong istrinya. Umi Laila pun mengikuti langkah Bram yang menuju kamar yang biasa mereka tempati jika ke kali Bening. Tiba di kamar, Bram membuka jilbab istrinya
Umi Laila duduk di sisi Ayra. Ia usap dahi putrinya. Terlihat mata yang sembab dan suaranya pun terdengar serak.
"Bram, temani dulu Ayra."
"Apa tidak perlu dibangunkan Umi?"
"Hhhh... Istri mu bukan perempuan yang bisa mengungkapkan ekspresi kesedihannya Bram. Temani dulu Ayra. Jangan paksa dia bangun."
"Baik Umi."
Qiya dan Ammar di tuntun Umi Laila keluar kamar. Ia mencium kedua cucunya itu.
Dua jam berlalu, jenazah Kyai Rohim selesai di shalatkan di masjid, pintu kamar Ayra di ketuk. Bram yang baru saja mengganti pakaiannya berencana ikut ke pemakaman, beberapa santri yang tadi ia minta menemani Ayra ia minta kembali ketika ia akan ke pemakaman. Bram membuka pintu kamar. Mida dan Alya yang merupakan adik Furqon. Mereka khawatir kondisi Ayra yang sedang hamil muda.
"Bagaimana Bram, apakah Ayra masih belum sadar?"
"Belum Kak, apakah akan segera di makamkan? atau Aku bangunkan saja Ayra?"
"Aku coba cek dulu."
Alya duduk disisi Ayra. Ia memeriksa denyut nadi Ayra. Lalu ia menoleh ke arah Mida, anak kedua dari kyai Rohim.
"Denyut nadinya lemah sekali Kak. Bawa ke Klinik yang tak jauh dari sini saja Bram. Khawatir janinnya." Ungkap Alya yang merupakan perawat di rumah sakit swasta di Semarang.
"Baik kak. Aku titip Ammar dan Qiya."
Bram khawatir dengan kondisi istrinya, segera membawa Ayra ke klinik terdekat. Bram hanya duduk di sisi Ayra sambil memegang satu tangan istrinya. Baginya ini adalah satu masalah terberat dalam hidupnya. Ia harus tegar, disaat Papa nya di rumah sakit, ayah mertua yang meninggal kondisi istri juga melemah.
Tekanan darah yang rendah membuat istri Bram itu tak harus pingsan dan tak dapat menghadiri pemakaman Kyai Rohim. Bram yang sempat ikut memandikan jenazah mertuanya harus menemani Ayra di klinik yang tak jauh dari rumahnya.
Ba'da Ashar, Ayra terlihat membuka kedua matanya. Ia membuka perlahan kedua netranya. Sedikit terasa pusing di bagian kepalanya melihat cahaya lampu. Ia mendapati Bram ada disisinya.
"Ay...."
"Mas... Ayra...."
"Tenanglah, duduk dulu."
Bram membantu Ayra duduk dan bersandar. Ia memberiku minum pada Istrinya.
"Abi sudah di makamkan."
Ayra hanya dapat menangis mendengar kabar bahwa sosok yang ia cintai telah di makamkan. Ia merasakan kesal di hati kenapa ia tak bisa melihat sosok ayah nya yang terakhir kali.
"Ay...."
Bram memeluk istrinya. Ayra menangis tersedu-sedu di pelukan Bram.
"Hhhh... sakit sekali rasanya mas. Kemarin ketika kita kesana Abi terlihat sehat sekali. Hhh... Setiap yang hidup akan kembali."
"Nanti kalau kamu sehat kita ke makam Abi ya."
Ayra mengangguk. Tak berapa lama Furqon ditemani Rahmi datang membesuk Ayra. Rahmi adalah kakak perempuan Ayra yang hanya terpaut usia enam bulan dari Ayra.
"Kang...."
Suara Ayra terdengar lirih. Ia melihat wajah Furqon yang Sendu. Anak tertua Kyai Rohim itu membuatnya sangat tegar ketika mendapatkan kabar bahwa orang tuanya telah tiada. Rahmi mengusap dengan lembut punggung tangan Ayra.
"Jangan sedih berlarut."
"Ya Kak. Ayra hany merasa sedih tidak bisa menatap wajah Abi untuk terakhir kalinya."
"Sungguh apa yang sering Abi katakan bahwa kita akan meninggal sesuai dengan kebiasaan kita Ay. Abi meninggal saat sedang memimpin pembacaan khotmil Qur'an Ay."
Kyai Rohim Adalah perintis dari kegiatan acara khotmil Qur'an setiap Kamis di desa Kali Bening itu. Sebuah kegiatan rutin majelis taklim itu ia dirikan saat ia baru memiliki satu anak yaitu Furqon.
Kali Bening adalah Desa pertama yang menjadi tempat Kyai Rohim menyalurkan apa yang ia pelajari di pesantren untuk masyarakat.
Ayra melihat ponsel yang diberikan Rahmi. Terlihat Kyai Rohim sedang duduk dan memegang Microphone dengan tangan kirinya. Ia pun membuka lembaran Qur'an dengan tangan kanannya. Baru beberapa menit, kyai Rohim tak sadarkan diri.
Ayra meneteskan air matanya. Video itu sebenarnya menyebar dengan cepat ke grub-grub media sosial. Namun Ayra yang tak terlalu sering aktif di medsos tak melihat video tersebut. Ia yang dalam perjalanan kerumah sakit untuk membesuk pak Erlangga sebenarnya saat itu kyai Rohim telah dinyatakan meninggal.
Bram yang sesaat menelpon Ayra tenang kabar pak Erlangga. Juga mendapatkan kabar duka dari Kali Bening. Namun ia berusaha menenangkan diri, ia tak ingin Ayra syok karena kabar yang bersamaan datang. Ternyata apa yang di khawatirkan Bram terjadi. Belum sampai melihat wajah ayahnya, Ayra sudah pingsan tepat di depan jenazah Kyai Rohim.
Bram yang duduk disisi Furqon mendengar dengan seksama kalimat yang dituturkan kakak iparnya itu.
"Sekarang tinggal kita. Mampukah kita menjalani apa yang Abi ajarkan. Meneruskan apa yang menjadi harapan Abi."
Rahmi pun menimpali perkataan Furqon.
"Sungguh kematian adalah sebuah jembatan yang menghubungkan antara kehidupan dunia dan akhirat."
Ayra dengan suara lirih masih dengan air mata yang mengalir.
"Dan Abi sering bilang. 'Dunia adalah tempat kita mengumpulkan bekal untuk menuju kehidupan yang abadi, Kita akan memanen diakhirat nanti apa yang kita tanam saat ini "
Furqon berdiri dan duduk di kursi yang berada di sisi kiri Ayra.
"Termasuk kita anak-anak Abi ini adalah satu tanaman yang akan membawa kebahagiaan Abi jika kita bisa terus berbuat baik dan mendatangkan pahala bagi Abi."
"Aamiin. Semoga kita bisa meneruskan apa yang menjadi cita-cita Abi."
"Aamiin."
Bram yang duduk di sofa justru memikirkan dirinya sendiri. Ia kembali teringat saat ia menyelamatkan Amir, ada wajah ketenangan. Bahkan berkali-kali video yang Bram putar saat mertuanya membaca ayat Al Qur'an pun membuat ia tak habis pikir bagaimana ada mimik wajah yang begitu tenang. Ia pernah membaca sebuah buku jika sakaratul maut itu sangat menyakitkan.
Kejadian ini membuat Bram justru merenungi dirinya sendiri. Ia khawatir kalau-kalau saat ia tak beribadah ia justru mendapatkan panggilan malaikat Izrail tersebut.
"Sungguh kematian yang membuat hati orang iri" gumam Bram dalam hatinya.
Siapa yang tak iri. Kematian kyai Rohim saat melakukan sebuah kegiatan yang bernilai ibadah, ditempat yang suci, bersama orang-orang yang mencintai Al Qur'an.
Sungguh sebuah perpisahan dengan dunia yang sangat diidam-idamkan oleh semua orang. Kyai rohim meninggal dengan cara yang indah. Adapun Kyai Rohim berpulang menemui Allah usai membaca 3 Ayat terakhir Surah Al-Baqarah.