Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
201 Perjuangan Seorang Ibu


Setibanya dirumah sakit. Nyonya Lukis dan Pak Erlangga telah berada di lobby Rumah sakit bersalin tersebut. Bram terlihat menggendong istrinya menuju Emergency Bad. Ia menggenggam tangan Ayra dan mengikuti perawat yang mendorong Emergency Bad tersebut hingga menuju ruang bersalin.


Bram yang telah menghubungi obgyn yang biasa memeriksa kondisi istri dan janinnya yang ternyata telah siap dirumah sakit. Bram meminta kepada sang obgyn agar bisa menemani istrinya. Obgyn tersebut mengizinkan selagi Ayra belum akan melangsungkan proses bersalin. Obgyn memeriksa kondisi Ayra.


Air matanya masih mengalir, tanpa Isak tangis memang. Ayra berbaring dengan posisi miring ke kiri. Satu hari yang bersejarah bagi Ayra dimana hari itu ia akan melahirkan bukan hanya satu anak tetapi dua orang anak. Ia berusaha untuk tak menangis karena Umi Laila meminta nya agar bisa mengatur napas daripada membuang energi untuk menangis.


Bram masih setia mengusap punggung istrinya. Satu tangan Ayra menggenggam tangan suaminya. Bram yang pernah mendengar cerita jika dulu ketika mamanya melahirkan dirinya. Terdapat banyak luka pada lengan papanya karena Nyonya Lukis yang lupa memotong kukunya mencakar pak Erlangga ketika sedang merasakan kesakitan.


Bram memindahkan tangan istrinya ke lengannya.


"Tarik, cakar, cubit juga ga apa-apa Ay. Asal bisa mengurangi rasa sakitnya."


Saat terdengar suara adzan Shubuh yang berada tak jauh dari rumah sakit tersebut. Ayra dengan suara lirih dan wajah telah dibanjiri airmata. Menahan tangan suaminya yang masih setia mengusap punggungnya.


"Shalat lah dulu mas."


"Tapi Ay...."


Satu kedipan mata dari istrinya dan satu tekanan pada lengannya membuat Bram mengecup dahi istrinya sambil menitikkan air mata.


"Kamu pasti kuat, mas shalat dulu kalau begitu. Mas panggil mama dan Umi ya."


Ayra kembali menahan lengan suaminya. Masih ia paksa untuk tersenyum dan meminta maaf walau dengan suara lirih.


"Ayra mohon maaf jika selama ini-"


"Mas tidak pernah merasa kamu melakukan salah. Justru mas merasa esok kamu meringankan tanggungjawab mas tentang Agama. Saat suami yang lain sibuk membimbing istri-istri mereka. Mas justru memiliki kamu istri yang memberikan mas surga di rumah kita Ay."


Bram memeluk istrinya dengan sedikit membungkuk badannya. Perawat yang baru saja masuk tersipu malu. Ia baru kali ini melihat suami istri yang begitu tenang menghadapi proses melahirkan.


Dengan wajah pucat dan terlihat keringat di wajah sang istri. Bram sebelum keluar dari ruangan itu mengusap wajah sang istri. Ia hapus keringat yang membasahi wajah istrinya.


Tiba di depan ruangan Ayra, Bram meminta Umi Laila dan Nyonya Lukis untuk menemani Ayra. Pak Erlangga dan Kyai Rohim yang telah berada di mushola rumah sakit itu melihat Bram segera menghampiri suami Ayra itu.


"Percayalah, adik ku itu perempuan yang kuat. Maka kamu tugasnya berdoa dan pasrahkan pada Allah untuk hasilnya."


"Terimakasih kang."


dokter mengecek kondisi Ayra dan ternyata istri Bramantyo itu sudah pembukaan 10. Akhirnya Ayra dipindah saat itu juga keruang bersalin. Bram yang baru tiba melihat Ayra masih menyakinkan suaminya dengan senyum di wajah pucatnya. Di saat pembukaan 10 Ayra hanya beristighfar. Bram yang bersikeras ingin mendampingi Ayra akhirnya diperbolehkan oleh dokter untuk menemani istrinya.


Tangan Ayra yang tak lepas dari pinggangnya membuat suaminya mengusap pinggang Ayra dengan lembut. Berkali-kali Ayra menarik napas dalam dan ia hembuskan lewat hidung. Terlihat kepala Ayra juga berkali-kali ia gerakkan karena menahan rasa sakit yang kian menerjang. Sakit dibagian pinggang, dan bagian bawah perutnya membuat Ayra menggenggam erat tangan Bram.


"Kamu Pasti kuat Ay."


Ayra mengigit bibir bawahnya saat dokter telah memeriksa bagian yang menjadi perhatian saat bayi akan keluar. Berkali-kali Bram mencium dahi sang istri. Reflek, tangan istrinya juga ia kecup berkali-kali. Ia memberikan semangat pada istrinya dan juga berharap menghilangkan rasa khawatir pada istrinya.


Terlihat seorang perawat mulai menyuntikan sesuatu melalui infus yang baru saja di pasang. Jika selama ini istri Bramantyo terlhat dewasa, tegar, pintar. Kali ini saat-saat perempuan kelahiran Sragen itu merasakan kesakitan dan ketakutan. Rasa sakit yang teramat di bagian bawah perutnya yang sesekali terasa seperti ada sesuatu yang akan keluar. Diikuti rasa panas yang juga mendera pinggang Ayra.


Bram dengan siaga berada disamping sang istri dan memberi dukungan agar Ayra bisa dengan kuat mengejan. Ayra mengikuti aba-aba dari dokter. Ia begitu dipermudah saat melahirkan. Bayi pertama keluar hanya dengan proses empat kali Ayra mengejan.


Bayi Lelaki yang pertama yang berhasil keluar dari rahim Ayra. Akhirnya bayi pertama lahir dengan sehat. Tangis haru dan rasa lega tentu saja terlihat diwajah para dokter dan Bram yang meneteskan airmata bahagia. Suara tangis bayi pertama mereka membuat Ayra tak merasakan lagi sakitnya bagian bawah perutnya. Ia menangis bahagia. Bram pun berkali-kali mencium kening dan tangan Istrinya.


"Selamat Ay. Bayi pertama kita laki-laki."


Namun kebahagiaan mereka belum selesai karena masih harus menanti kelahiran anak kedua mereka. Masih ada satu bayi lagi yang harus dikeluarkan oleh Ayra. Dokter masih menunggu beberapa menit jeda untuk proses bersalin anak kedua.


Ayra kembali mengikuti arahan sang dokter. Beberapa kali Istri Bram itu mengejan dan kembali rasa lega dan tangis harus akhirnya pecah dalam ruang operasi yang begitu menegangkan bagi perawat dan juga Bram. Karena proses bersalin normal dengan anak kembar.


Ayra akhirnya melahirkan kedua anak kembarnya dengan selamat. Namun bayi kedua Ayra bertubuh sedikit lebih mungil dari bayi pertama. Sehingga bayi dari pasangan Bram dan Ayra itu harus di bawah ke NICU yang terdapat Inkubator. Bram mengelap keringat yang begitu banyak pada wajah sang istri. Ayra masih mencoba membuka kedua matanya. Rasa sakit, lelah menjadi satu namun seakan itu semua tak dirasakan oleh Ibu dari anak kembar itu. Karena Ia merasa bahagia. Hari itu ia menjadi salah satu wanita yang harus dimuliakan yaitu Ibu.


Hari itu Ayra tahu arti kenapa harus memuliakan ibu. Salah satunya ialah sakitnya perjuangan untuk melahirkan buah hati.


Jika ada ungkapan 'surga di bawah telapak kaki ibu'. Ungkapan yang singkat namun menyimpan banyak nasihat. Penghormatan terhadap ibu juga terdapat dalam perintah penghormatan terhadap kedua orang tua yang diperintahkan Allah Subḥanahu Wataʿala dalam Q.S. Al Isra ayat 23.


Betapa berharga, betapa Allah Subḥanahu Wataʿala yang sedemikian luas rahmat-Nya membukakan pintu-pintu surga untuk hamba-Nya dari berbagai sisi. Satu di antaranya adalah melalui ketaatan kita kepada orang tua dan utamanya kepada ibu kita.


Bram membisikkan sesuatu yang membuat Ayra merasakan kebahagiaan. Lelah dan sakit pun berganti rasa bahagia.


"Anak kita lelaki dan perempuan Ay. Selamat sayang kamu sudah menjadi Ibu hari ini. Terimakasih Ay telah berjuang untuk melahirkan anak-anak kita. I love you Ay Ay."


Satu pelukan yang diberikan oleh Bram membuat perawat yang berada diruangan itu merasa salah tingkah karena mereka masih lajang.