
Seorang lelaki yang mengenakan celana jeans dan sweater abu-abu berdiri didepan restoran. Lelaki itu tampak tersenyum manis. Ia sudah setengah jam menunggu di depan gedung itu. Saat ia mendapat kabar jika Ayra akan menemui klien ke restoran itu. Ia cepat melesat menuju restoran itu.
Ayra mengernyitkan dahinya sambil berjalan ke arah lelaki itu. Ia penasaran apa perihal yang membuat lelaki itu di sini.
"Ada apa Rafi?"
"Ehm. Maaf Bu ada hal yang penting yang ingin saya bicarakan sama Aisha. Jadi saya menyusul kemari. Dan untuk klien yang ingin ibu temui sudah saya batalkan. Maafkan saya Bu tapi ini sangat penting dan tidak bisa ditunda."
Ayra melirik ke arah Aisha. Mata Aisha terlihat melotot dan bibirnya sedikit ia gerakkan. Tanda bahwa ia tidak suka dengan apa yang baru saja dikatakan Rafi. Ayra yang melihat penampilan Rafi yang tak pernah berpakaian santai pun tersenyum.
"Baiklah, Aish silahkan selesaikan urusan kalian. Aku pulang saja kalau begitu. Jangan berdua-duaan dan jangan malam-malam Rafi. Aku hanya mengingatkan karena Aisha asisten ku sekarang."
"Baik Bu."
Rafi menunduk patuh. Aisha berwajah masam. Ayra yang memang suka usil jika pada sahabatnya atau orang terdekatnya kini mengganggu Aisha. Sebelum meninggalkan Aisha dan Rafi. Ayra membisikkan sesuatu pada Aisha.
"Cepat Shalat istikharah kalau dia sudah menyampaikan isi hatinya. Niat baik jangan ditunda-tunda apalagi sudah baligh Aish."
Aisha melebarkan kedua netranya. Ia kaget dengan apa yang big bos nya katakan. Namun wajahnya merona. Ia malu karena ia yakin sang bos berpikiran jika Rafi ingin menyatakan cinta padanya.
"Rafi jangan diantar pulang. Kamu pulang naik taksi saja Aish. Atau sopirnya ku minta kembali kemari ya."
"Saya naik taksi saja Bu."
Rafi mengangguk. Namun dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri.
"Sial. Bu Ayra pasti berpikiran aku ada rasa sama kepompong ini."
"Aku pulang dulu Ya Aish. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Dua orang itu menjawab secara bersamaan. Setelah perginya Ayra dari sana Aish sudah geram dari kemarin membesarkan matanya. Ia menatap tajam Rafi.
"Kamu! Api Api! kayu Bakar! Cepat katakan apa yang kamu ingin katakan!"
"Yang marah itu harus nya aku! Aku yang marah karena gara-gara kamu aku harus pontang panting dari kemarin. Hampir gagal rencana yang sudah aku susun matang karena kamu asisten yang tidak bisa mengatur jadwal bos mu dengan baik!"
"Heh freezer berjalan.Kamj tahu Bu Ayra itu tidak manja seperti bos mu itu. Dia selalu mengecek emailnya sendiri. ia selalu merevisi jadwal kerjanya jika menurutnya itu ada yang lebih didahulukan. Jadi asiste bukan penentu tapi membantu dodol!"
"Kamu yang dodol! klo dibilangin ngeyel."
"Ish. Jadi apa maksud mu membuat Bu Ayra pulang? dan aku kamu tinggal sendiri?"
Aisha tambah geram karena Rafi berlalu meninggalkan dirinya seorang diri di depan restoran itu.
"Woi! dasar lelaki tak berperasaan. Tak ber kepriwanitaan!"
Ayra yang sedang dalam perjalanan pulang pun setengah terlelap dalam mobil. Ia sangat lelah beberapa hari ini. Saat ia telah tiba dirumah, sang sopir beberapa kali memanggil namanya.
"Bu. Bu Ayra."
"Bu Ayra. Kita sudah Sampai Bu."
"Ehm. Astaghfirullah hal 'adzim."
Ayra yang tertidur cepat membuka matanya. Ia membuka sabuk pengaman. Lalu keluar dari mobil itu. Seorang lelaki berpakaian biru telah mengeluarkan koper Ayra dari bagasi mobil. Saat Ayra akan membawanya, sang art menolak halus sambil menundukkan wajahnya.
"Jangan Nona. Biar saya."
Ayra membuang napas dengan pelan. Ia lupa jika dirumah ini ia diperlakukan sangat dimanja. Ia tak bisa melakukan semua sendiri. Akan ada banyak orang yang begitu sigap mengambil apa yang ada ditangannya saat ia ingin mengerjakan pekerjaan rumah atau kegiatan yang menghilangkan bosan karena tak ada aktifitas.
Saat Ayra melangkah menuju Lift ia menolehkan kepalanya. Ia mencari sosok bik Asih yang biasanya selalu menyambutnya di depan pintu. Nyonya Lukis pun yang biasanya akan selalu menyambut kepulangannya pun tak ia lihat.
"Ayolah Ayra kamu mulai merasa nyaman dengan perhatian yang orang-orang berikan pada mu Ay."
Sebenarnya ada rasa bahagia saat setiap pulang dari kantor ada Bik Asih dan Nyonya Lukis yang menyambut Ayra. Namun hari ini mungkin Nyonya Lukis lelah. Atau bik Asih tak tahu jika dirinya akan pulang. Aisha menaiki lift dan menuju kamarnya. Saat ia akan membuka pintu kamar pun ia masih melirik kearah pintu kamar Rani dan Bambang.
Ia rindu pada sosok mungil Raka yang juga biasa menyambut kepulangannya. Namun bocah kecil itu pun tak menyambutnya. Ia melirik jam tangannya, masih terhitung sore baru jam 8 malam. Akhirnya ia masuk kedalam kamarnya.
"Ceklek."
Suasana begitu gelap. Kedua netra Ayra melebar. Ia tak percaya apa yang ia lihat. Banyaknya lilin yang tersusun hingga membentuk jalan ke arah tempat tidurnya. Saat kedua matanya berhenti pada tempat tidur king size yang baru hampir satu bulan ini ia nikmati terdapat banyak taburan bunga mawar.
Kelopak mawar yang berada dia atas sprei berwarna putih membuat tempat tidur itu terasa begitu romantis. Bahkan hari pertama ia menjadi pengantin pun ia tak melihat suasana seperti ini dikamar yang memang harusnya menyambut sang pengantin.
Bau wangi aroma buket bunga silky jasmine dan perpaduan apel merah segar. Sebuah parfum yang biasa Ayra pakai ketika akan shalat. Serta ketika Ia akan tidur. Aroma itu menelusuri rongga hidung Ayra. Ia memejamkan matanya dan ia tarik napas sangat dalam,Ia menikmati aroma wangi itu.
Tanpa ia sadari pintu yang ia buka beberapa detik lalu tertutup.
"Ceklek"
Dua tangan melingkar di pinggang ramping Ayra. Satu dagu bersandar pada pundak Ayra. Aroma tubuh sang pemilik dagu itu tak asing. Karena aromanya sama dengan parfum yang sering Ayra kenakan ketika dikamar.
Ayra tak kaget dengan tangan yang melingkar pada tubuhnya itu, Ia bisa menebak jika tubuh yang sedang memeluknya dari belakang dengan dagu yang ia sandarkan lada pundaknya adalah suaminya. Namun yang membuat ia begitu terharu suasana kamar yang begitu romantis. Cahaya dari lilin yang berada di kamar itu membuat suasana temaram dikamar itu begitu romantis, bak sinema drama Korea yang sering diceritakan santriwati lainnya ketika Ayra hanya mendengarkan.
Kedua matanya makin melebar ketika ia lihat ada sebuah meja makan disudut ruangan yang dihiasi lilin serta telah tersaji beberapa menu yang masih tertutup oleh penutup makanan yang terbuat dari stenlis itu.
Saat Ayra mau melerai pelukan sang suami. Ia ingin berbalik, suara serak sang suami pun membuat ia terpaku dan memejamkan kedua matanya. Menikmati sebuah lagu yang sedang mengalun dan aroma tubuh suaminya yang ia sukai karena bisa Ayra Pastikan bahwa suaminya menggunakan parfum yang sama dengan dirinya.
"Biar seperti ini sebentar Ay. Aku dari kemarin menahan rindu padamu."