Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
101 Welcome to Bali Ayra Bram


Hari Rabu yang sangat sibuk buat duo asisten yang sedari siang tadi mondar mandir mencari kebutuhan untuk memberikan honeymoon yang paling romantis kedua Bos mereka. Walau perdebatan terus mewarnai komunikasi mereka hingga berujung akan menangnya Aisha di setiap perdebatan.


Seperti saat akan memilih sebuah warna kembang Api pun menjadi perdebatan.


"Eh Api api. Dimana-mana kalau kembang Api itu warna warni biar menarik. Kalau cuma merah itu ga romantis."


"Iya tapi kan biar terang. Jadi nanti itu Bu Ayra bisa lihat jelas itu namanya diatas langit dodol!"


"Dasar Jones. Makanya jangan kerja mulu. Sering-seringlah nonton Drakor biar ngerti gimana romantis sama perempuan. Ga sewot Mulu!"


"Klo gue jones. Elo Jotan. Jomblo lumutan!"


"Mbak, Mas. Ini jadi tidak beli nya? Belinya yang mana?"


Lerai sang pemilik toko Lampu di salah satu pasar kota Denpasar itu."


"Yang ini Bli."


"Yang ini."


"Yang ini."


"Oke dua duanya."


Aisha mendengus kesal dengan asisten Bram itu. Rafi adalah lelaki yang hampir sama dengan Bram. Hampir tak ada waktu untuk berpacaran karena terlalu fokus pada kariernya hingga ia tak punya waktu untuk pacaran. Terlebih lagi bekerja sebagai asisten Bram yang sangat teliti, disiplin membuat tenaga dan pikiran Rafi begitu terporsir.


Namun permintaan Bram yang tak ingin ada kesalahan dan ketidakpuasan ketika ia ingin memanjakan sang istri membuat Rafi angkat tangan untuk urusan bucin dan romantis. Ia menerima saran sang Bos untuk meminta bantuan Aisha. Namun yang terjadi malah mereka hanya terus berdebat. Dari memilih warna, bahkan ketika memilih warna dekor kamar pun kembali terjadi.


",Ya Tuhan Kasihan sekali perempuan yang menjadi istrimu nanti Api api. Kamu pikir Bu Ayra itu master Limbad jadi harus serba hitam."


"Tapi warna favorit Pak Bram itu hitam dan coklat."


"Aaaaaahhhhh! Terserah dengan selera dan mood bos mu. Sekarang yang ingin di buat bahagia itu Bu Ayra. Jadi fokus ke warna, bentuk dan semua yang Bu Ayra suka. Paham kamu! apa kamu tidak bisa baca dengan jelas pesan pak Bram?"


"Bruuugh."


Aisha membuang sprei berwarna coklat dan taplak meja berwarna hitam putih. Ia meminta salah seorang yang ia bayar untuk membantu menyiapkan kamar yang ada di satu villa. Bahkan setiap sudut ruangan Aisha ganti bunganya dengan bunga lavender kesukaan Ayra.


Kamar Villa yang berlokasi di Pantai Batu Belig itu kini telah disulap oleh duo asisten itu walau satu hari ini mereka terus berdebat dan bertengkar. Hingga akhirnya mereka menanti kedatangan sang bos yang sedang di jemput oleh sopir yang telah mereka tugaskan menjemput Ayra dan Bram.


Ayra dan Bram yang berangkat dari kediaman Umi Laila dan Kyai Rohim telah berada di pesawat hampir satu jam 57 menit dari bandar Soekarno-Hatta Jakarta ke Denpasar. Akhirnya mereka tiba di bandara Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali. Keadaan bandara cukup sepi. Tak hanya di terminal kedatangan domestik, terminal kedatangan internasional juga terlihat sepi.


Ayra dan Bram melihat seorang lelaki yang mengenakan jas hitam memegang papan bertuliskan nama mereka. Bram merangkul istrinya seolah takut akan hilangnya Ayra ketika keluar dari bandara. Saat perjalanan menuju villa yang telah disiapkan duo asisten Bram menarik Ayra dalam pelukannya. Mereka menikmati suasana malam di Bali.


Bram yang masih merasakan jatuh cinta pada istrinya itu kembali menggoda sang istri.


"Katakan pada ku Ay. Kemana kamu buang lemak mu yang banyak dulu itu? Ah rasanya sakit sekali pinggang ku saat menggendong mu saat itu."


Ayra yang berada dalam pelukan sang suami tertawa kecil.


"Mas juga jahat kenapa harus dibuka baju nya Ayra. Kan bisa diselimuti."


"Loh. Untung aku cepat mengganti baju mu Ay. Bibirmu sudah biru. Wajah mu sudah pucat. Bayangkan kalau dulu kamu kenapa-kenapa. Aku juga yang rugi sekarang. Harusnya kamu berterima kasih pada suami mu ini."


"Jangan biasakan berandai-andai mas.,"


Ayra mencubit kecil perut Bram. Satu hal yang reflek ia lakukan. Karena suaminya itu selalu suka berandai-andai dan merasa rendah diri dihadapannya.


"Baiklah Ayra sayang."


Bram yang sedang dimabuk cinta berkali-kali mengecup punggung tangan istrinya dengan satu tangan ia rangkul pada lengan sang istri.


"Tidurlah nanti kalau sampai mas bangunkan."


Ayra hanya memejamkan matanya. Seperti biasa ia selalu membaca shalawat Sebanyak-banyaknya ketika selesai shalat Isya. Namun ia hanya melakukannya di dalam hati. Perjalanan yang memakan waktu beberapa menit untuk menuju Villa yang telah disiapkan Rafi dan Aisha.


Tiba di Villa itu. Ayra yang baru turun dari mobil begitu kaget dengan suara dentuman yang kuat dan tak lama muncul cahaya kerlap kerlip dari langit dengan warna warni. Sebuah kalimat yang membuat hati Ayra makin sesak karena bahagia diperlakukan sebegitu romantisnya.


..."I love You Ayra Khairunnisa. Welcome to my Heart."...


Kepala Ayra memandang langit yang bertuliskan namanya. Jika selama ini ia yang tak pernah menonton drama Korea hanya bisa mendengar cerita dari teman-teman sekolah atau kuliahnya tentang kisah romantis yang disuguhkan oleh drama Korea itu, kini ia sendiri sedang menikmati bak sebuah drama Korea yang teman-teman nya sering bilang so sweet.


Bram ikut mendongakkan kepalanya. Ia merasa puas dengan hasil kerja duo asistennya. Terlihat dari pipi sang istri telah basah oleh air mata.


"Aku akan memberikan kalian bonus."


Bram cepat menggendong istrinya.


"Kamu suka Ay?"


Ayra mengangguk pelan namun air mata haru masih membasahi pipinya.


Saat langkah kaki Bram melangkah maka diikuti dengan lampu yang akan menyala dengan sendirinya hingga menuju satu pintu villa yang terdapat 4 ruangan itu. Saat pintu dibuka Ayra kembali dibuat terpesona. Ia menyandarkan kepalanya pada dada sang suami.


Pemandangan dengan hampir di setiap sudut ruangan terdapat bunga lavender. Aroma lavender pun sangat kental merasuki rongga hidung Ayra. Bahkan tebaran kelopak mawar yang dibentuk menjadi sebuah jalan hingga mengantarkan mereka ke ruangan kamar.


Saat pintu kamar itu terbuka, pemandangan yang kembali membuat Bram puas serta Ayra tak mampu berkata-kata. Sebuah tempat tidur berbentuk bundar disertai kelambu yang menjuntai dari atas disertai taburan bunga mawar merasa yang berbentuk tulisan.


...I ❤️ U Ayra...


Tak kalah menambah nuansa honeymoon makin lekat adalah sebuah private pool-nya yang dipenuhi taburan bunga mawar putih dan ditengahnya berbentuk ❤️.


Ayra menatap sang suami yang hanya tersenyum simpul.


"Apa ini yang sering teman-teman Ayra bilang so sweet mas?"


"Kamu suka?"


"Terima kasih mas. Semoga cinta mu tak lekang oleh waktu mas."


"Semoga kita menua bersama hingga maut yang memisahkan Ay."


"Semoga kelak kita dipertemukan di Surga beserta anak-anak dan cucu-cucu kita mas."


"Aamiin."