Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
204 Kekhawatiran Ayra


"Maaf kalau mas merasa di abaikan beberapa Minggu ini. Ayra betul-betul menyadari kalau Ayra salah mas terlalu fokus untuk Ammar dan Qiya."


Bram menaruh dagunya di pundak sang istri.


"Mas tidak marah, mas tidak kecewa. Mas hanya ingin mengatakan isi hati mas. Mas paham kamu adalah istri dan juga ibu yang baik. Mas juga butuh diperhatikan."


Ayra mengelus pipi suaminya dengan masih memeluk Qiya. Bram berkali-kali menghela napasnya dengan berat.


"Ada apa My Hubby?"


"Masih keluar darah nifasnya Ai?"


"Sampai siang ini tadi Ayra cek masih hitam, kental dan berbau mas."


"Hhhhh... masih lama berarti Ay?"


"Tidak tahu. Tergantung darah yang keluar mas."


"Memang darahnya beda-beda Ay?"


"Iya ada beberapa jenis warna nya. Dan juga ada yang dikatakan darah kuat dan lemah."


Ayra pun menjelaskan adapun jenis warna darah ada lima yaitu Hitam, merah, merah kekuning-kuningan, kuning, keruh.


"Wow. Bahkan darahnya nya pun ada banyak warna nya Ay? kenapa kamu haru mengeceknya dengan kapas?"


"Itu karena jika bagian In tim diberi kapas dan di kapas tersebut masih tampak darah nya. Kita bisa mengidentifikasi warna darah nya dan juga baunya. Jadi tahu apakah masih haid, atau nifas atau sudah suci karena darahnya lemah. Dulu ada teman Ayra yang sudah belajar tapi ga paham-paham mas. Akhirnya setiap jadwal dia haid. Itu umi minta Yeni cek pakai kapas dan Umi lihat baru mengerti dia warna-warna darah Haid."


"Jadi termasuk buku kecil yang kamu gunakan untuk mencatat waktu haid mu itu juga Umi yang ajarkan?"


"Ya, sedari baru kenal haid. Umi meminta kami mencatat bukan hanya hari nya tapi juga jamnya. Khawatir dikira haid ternyata tidak mas. "


"Memang kenapa harus khawatir?"


"Khawatir dong mas. Karena tiga kategori darah darah yang keluar dari perempuan itu memiliki bentuk dan hukum yang berbeda-beda. Jika tidak memahami nya dan mencatat waktu Keluarnya. Dikhawatirkan akan akan ada ibadah-ibadah yang tidak boleh dikerjakan pada satu kondisi justru dikerjakan justru sehingga menimbulkan dosa."


"O... ternyata jadi perempuan sangat bingung ya Ay. Baru bab satu itu saja. Belum lagi hamil, mengandung."


"Ayra bersyukur berada dilingkungan pondok yang betul-betul mendidik kami tidak hanya tentang pintar membaca atau menghapal Al-Qur'an mas. Tetapi juga tentang bagaimana berhubungan baik pada sesama manusia. Mas tahu apa yang membedakan pendidikan di pesantren dan sekolah umum?"


"Apa Ay?"


"Ciri khas pesantren itu adalah alaqoh bathiniyah atau ikatan batin antara santri atau murid dengan Kyai nya atau gurunya. Dan itu Ayra lihat sama sahabat ayra yang namanya Yeni."


Ayra pernah bercerita pada Bram perihal sahabat nya yang bernama Yeni di kota Palembang. Yeni adalah salah satu santri Umi Laila. Ia gadis yang tidak terlalu pintar untuk urusan pelajaran dan hapalan. Tapi Yeni memiliki rasa cinta pada gurunya. Yeni memiliki sikap yang begitu patuh dan tunduk pada Umi Laila.


Apapun yang menjadi perintah dari Umi Laila untuknya selalu ia jalani dengan senang hati tanpa bertanya mengapa dan kenapa. Ia juga tipe santri yang tak pernah mengeluh pada orang tuanya tentang kondisi ia yang tinggal di pondok. Ia pernah di marah dan dihukum oleh Umi Laila karena ke Mall dan pernah ketahuan berduaan dengan teman satu sekolahnya. Tapi ketika kunjungan ibunya. Ia tak menceritakan perihal ia dihukum.


Sikap Yeni yang tawadhu kepada guru. Orang tua yang percaya dan juga ridho akan apa yang guru lakukan untuk mendidik anaknya. Membuat Yeni yang telah menjadi ibu tiga anak itu bisa mengajarkan anak-anaknya Tartil dan tajwid dengan benar. Karena Ayra bisa melihat bagaimana story' wa sahabatnya itu sedang mengajarkan anak-anaknya belajar membaca Al Fatihah.


Belum lagi anak Yeni yang baru masuk TK sudah hapal surat Al Mulk, bacaannya pun tajwid dan Tartil nya tepat. Sungguh ilmu didapatkan tidak hanya karena kepintaran seorang murid melainkan adanya simbolis dari murid, orang tua dan guru juga keridhoan Allah untuk memberikan pemahaman pada setiap manusia selama mencari ilmu.


"Nanti kalau sudah siap mereka akan mas pondokan juga. Biar tidak seperti Papa nya ini. Beruntung mas menikah dengan kamu. Sehingga mas merasakan indahnya rumah tangga."


❤️❤️


Malam hari di rumah pertama, Ayra yang sangat suka dengan suasana alam duduk balkon kamarnya yang menghadap ke kolam berenang. Ia baru saja memberikan ASI pada Qiya yang paling terakhir tidur.


Satu sofa kecil yang muat dua orang dan meja bundar terdapat di balkon kamar tersebut. Ayra tak mengenakan jilbabnya karena merasa tak ada orang lain di rumah itu. Hanya ada seorang sopir dan dua orang satpam lelaki dirumah itu selain Bram.


Bram yang baru saja mengecek email dari ruangan kerjanya cepat menghampiri sang istri yang duduk sendiri balkon sambil memegang cangkir yang berisi teh hangat.


Ia memeluk istrinya dari belakang. Ayra sedikit kaget karena tiba-tiba tangan suaminya itu melingkar di lehernya. Bram duduk di sebelah sang istri dan menyeruput teh yang ada di tangan sang istri.


"Mau Ayra buatkan teh mas?"


"Ga usah. Mas hanya ingin mencicipi sisa bibir istri mas."


Bram merangkul istrinya.


"Kamu suka dengan rumahnya Ay?"


"Suka. Ayra suka pemilihan warna-warnanya. Perabotannya. Dan balkon ini Ayra suka. Bisa Ayra nikmati kalau lagi ingin menghirup udara pagi."


“Mas, boleh ayra Tanya sesuatu?”


“Apa Ay?”


“Mas yang pilih intan untuk jadi baby sitter Ammar dan Qiya?”


Bram membenarkan posisi duduknya sehingga satu kakinya ia angkat ke sofa dan tubuhnya ia miringkan kea rah sang istri. Bram menatap istrinya, ia mencari apakah istrinya merasa curiga jika dirinya sengaja memilih intan karena seksinya baby sitter untuk bayi kembar mereka.


“Kenapa Ay? Kamu tidak suka sama Intan?”


Bram menyelipkan rambut ayra kebalik telinganya yang dari tadi beterbangan karena ditiup angin malam yang sedikit kencang.


“Jawab dulu pertanyaan Ayra.”


Ayra merebahkan tubuhnya diatas pangkuan sang suami dan mengangkat kedua kakinya ke atas sofa. Ia berbaring menghadap wajah tampan suaminya. Bram pun cepat mengangkat kedua kakinya ke atas sofa agar istrinya bisa nyaman berbaring. Satu hal yang telah lama tidak mereka lakukan. Mengobrol berdua, bram yang sebenarnya rindu sikap istrinya yang bermanja-manja padanya.


Usia yang mungkin terpaut hampir sepuluh tahun membuat bram betul-betul menikmati sikap manja istrinya. Hanya Bram dan Umi Laila tempat istrinya itu bermanja-manja. Hal yang tak pernah orang ketahui bahwa istri Bramanto itu sebenarnya memiliki sisi manja. Namun ia hanya menempatkan sikap manjanya pada tempatnya.


Satu yang paling Ayra sering lakukan saat baby twins lahir yaitu tidur dalam pangkuan suaminya dan menikmati belaian mesra sang suami pada kepalanya atau bahkan merengek manja untuk ditemani tidur dulu sebelum sang suami akan fitness atau berenang di malam hari. Namun ia tak pernah merengek manja jika ada orang lain atau ia merengek manja ketika suami pulang kerja dan akan berangkat untuk urusan mencari nafkah.


Bram membelai rambut istrinya.


“Mas mencari agen untuk baby sitter dan meminta yang terbaik juga yang berpengalaman mengurus bayi. Kamu tidak suka dengan Intan?"


"Mas suka Intan merawat anak-anak kita?"


Tangan Ayra yang sedang mengelus godek tipis suaminya, ditahan oleh Bram. Suami Ayra itu membungkukkan tubuhnya hingga wajah tampan itu begitu dekat dengan wajah istrinya. Hingga Bram dapat merasakan hembusan napas sang istri. Ayra memegang kedua pipi suaminya.


"Kamu cemburu Ay?"


"Bukan cemburu tapi khawatir akan kedepannya. Mau tidak mau mas dan Intan akan ada interaksi karena dia akan membantu Ayra merawat buah hati kita. Intan juga akan bersama Ayra sehari-hari. Dengan pakaiannya begitu siapa yang tak khawatir suami tampan Ayra ini akan tergoda atau di goda?"