Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
188 Bersatunya Dua Jomblo


Tujuh hari telah berlalu. Aisha yang Beberapa hari lalu telah mengirimkan desain baju kebaya yang akan di kenakan Ayra lusa untuk acara wisudanya berkeinginan untuk dapat hadir di hari wisudahnya Bu bos.


Rafi yang telah menelpon Bram bahwa pagi ini akan segera pulang ke Jakarta. Bram pun sesuai janji nya mengirim orang untuk menjemput Rafi. Adik-adik Aisha pun ikut diboyong. Karena semalam terjadi perdebatan masalah perihal rumah yang Aisha bangun. Ternyata surat tanahnya masih atas nama si Mbah nya.


Pagi ini saat Asha telah menyiapkan semua pakaiannya. Rafi masuk ke kamar.


"Sini aku bantu. Disiapkan saja nanti biar diangkut oleh jasa pengangkut yang sudah aku pesan."


Aisha mengelap air matanya. Ia sedih sekali karena istri dari Pak Leknya masih saja bersikap tidak suka pada dia dan adik-adiknya. Bahkan perkara rumah yang masih atas nama si Mbah nya jadi perkara karena Pak Leknya anak laki-laki. Rafi yang semalam hanya dia saat sang Bu Lek sibuk bilang akan menjual rumah itu baru nanti sedikit hasil jual tadi ia beri ke Aisha sebagai jatah ibunya.


Aisha akhirnya bertekat menjual rumah kecil yang ia miliki di Jakarta. Berharap bisa membeli rumah ini. Bagaimana pun dirumah itu terdapat banyak kenangan mereka dan sang ibu.


Rafi mengambil lakban dari tangan Aisha. Ia menutup kardus-kardus yang telah di packing oleh Aisha. Satu kalimat yang membuat Aisha melotot tak percaya.


"Kamu ga usah jual rumah mu. Mobilnya juga jangan di jual. Nanti rumah ini urusan aku, biar nanti aku minta orang mantau rumah ini trus aku usahakan nanti jadi milik kamu."


"Emang Elo punya uang sebanyak itu? Ini rumah sama satu hektar sawah dijualnya satu paket Tan."


Rafi berjalan ke arah Aisha. Aisha mundur satu langkah. Rafi tersenyum dan mengusap pipi Aisha.


"Lo itu selalu memandang aku ini remeh ya. Mulai sekarang jangan panggil gue Jotan. Ga malu kalau di dengar adik-adik Lo?"


Jantung Aisha berdegup sangat kencang. Ia merasa satu perasaan aneh. Saat dulu ia begitu benci melihat wajah Rafi. Sekarang, ada kenyamanan bahkan hati kecilnya berkata suaminya itu tampan.


"......"


Rafi yang beberapa hari ini memiliki rasa yang begitu ingin menyentuh istrinya memberanikan diri mendekatkan kepalanya ke arah wajah Aisha. Ia membaca buku dan beberapa link yang Bram kirimkan padanya. Sepasang suami istri yang saling tatap. Hingga jarak yang begitu dekat napas pasangan mereka pun bisa mereka rasakan.


Satu naluri yang tak perlu diajarkan. Pagi itu mereka sama-sama menikmati First kiss. Kegiatan itu terhenti ketika Lilis mengetuk pintu karena ada Tamu yang mencari Rafi. Aisha seketika reflek mendorong Rafi. Rafi yang kaget membuka kedua matanya. Sebelum keluar ia menatap wajah Aisha yang merona, dan makin merah merona karena ucapan Rafi padanya.


"A... Aku mencintaimu Aish. Aku akan menunggu Sampai kamu siap. Aku harap kamu juga mau mencintai aku."


Rafi meninggalkan Aisha sendiri. Aisha masih sendiri. Ia memegangi dadanya. Ia bisa merasakan jantungnya berdebar. Hal yang baru ia rasakan. Jari-jarinya ia pegang pada ujung bibirnya.


"Rasanya aneh, kenapa jadi merinding begini? Apa ini cinta?"


Saat Aisha ikut keluar dari kamar ternyata beberapa lelaki datang menjemput Aisha dan Rafi.


"Aisha kita berangkatnya ga bisa barengan. Tunggu mobil satunya. Katanya masih terjebak di lumpur yang jalan arah kemari. Atau kita tunggu mobil satunya?"


"Tunggu mobil satunya saja."


Aisha melihat ke arah teras terdapat satu mobil yang dimana penumpangnya hanya bisa empat orang.


"Kita mau nya bertiga tapi kak."


Aisha menoleh ke arah Nurul.


"Iya. tapi tetap berangkat nya bareng."


Tidak lama mobil yang satunya datang. Akhirnya Mereka meninggalkan rumah itu dengan berat hati. Aisha memandangi banyak tanaman bunga sang ibu. Ia begitu berat hati jika rumah itu dijual oleh Buk Leknya. Pak Leknya yang mengantar kepergian Aisha meminta maaf pada anak dari Kakaknya tersebut.


"Maafkan Buk Lek mu Aisha. Kamu tahu sendiri, yang cari uang ini Bunlek mu. Apalagi semenjak pak Lek sakit-sakitan."


Aisha mencium punggung tangan Pak Leknya.


"Pak Lek jaga kesehatannya ya. Aisha belum tahu kapan bisa datang mengunjungi pak Lek."


Saat Rafi ikut berpamitan. Ia pun di peluk oleh pak lek nya.


"Titip Aisha dan adik-adiknya. Semoga kalian jadi keluarga sakinah mawadah warahmah ya Mas Rafi."


"Aamiin."


Saat Ketiga adik Aisha telah naik ke mobil yang berwarna coklat. Aisha dan Rafi masuk kedalam mobil berwarna merah. Di dalam mobil, Rafi melihat Aisha masih menangis.


"Kamu ga perlu sedih Nes. Rumah dan sawah itu ga bakal pindah ketangan siapapun."


Rafi yang semalam minta salah satu pengacara Bram yang biasa mengurus hal ini agar mengirim orang. Ia ingin tanah dan sawah itu dibeli. Dan ia minta agar langsung diganti nama kepemilikannya dengan nama Aisha.


Saat tiba basemen apartemen Rafi. Mereka berdua menunggu ketiga adik mereka namun mobil yang ditunggu tak juga muncul. Tak lama satu panggilan telpon masuk ke ponsel Rafi. Ia melihat nama Bram pada layar ponselnya. Cepat ia mengangkat panggilan tersebut.


"Halo Pak."


Rafi menoleh ke arah Aisha ketika sambungan itu terputus.


"Siapa yang telpon?"


"Lilis, Nurul sama Lifah di culik."


"Apa?! Siapa?"


Rafi berjalan sambil menggendong tas ransel yang berisi baju Aisha dan satu tas tenteng.


"Rafiiiii!"


Rafi berhenti dan menoleh.


"Ada apa istriku sayang?"


"Sayang-sayang. Ini aku serius."


"Panggil gue mas kek, kakak ke, atau Aa' kayak di desa Lo itu kebanyakan cewek panggil gitu."


Kembali Rafi mau meninggalkan Aisha. Namun teriakan istrinya kembali membuat ia berhenti dan menoleh.


"Apa Aish?"


"Serius! Mereka kemana?"


"Mereka di ungsikan sama Pak Bram dan Buk Ayra ke mana aku ga tahu. Tapi barusan pak Bos telpon kita disuruh menikmati malam kita berdua."


Rafi tersenyum dan terus melangkah hingga berada di depan lift. Aisha mengikuti Rafi, ia masih menggunakan tongkat namun jalannya sudah cukup lancar. Saat tiba di depan pintu apartemen, ia baru sadar jika sopir nya tadi memberikan kunci baru. Maka bisa ia pastikan jika pintu apartemennya telah di sabotase sang bos sehingga di ganti baru.


Saat masuk kedalam apartemen yang memiliki dua kamar tersebut. Rafi seakan tak percaya, Suasana di dalam apartemen terkesan romantis. Tak kalah lagi ketika berada diruang kamar. Kamar itu disulap menjadi seperti kamarnya orang yang lagi honeymoon. Taburan bunga di atas kasur. Beberapa bunga di sudut-sudut ruangan. Aisha yang mengikuti langkah sang suami terhenti di depan pintu.


"Sepertinya Bos kita ingin kita segera mendaki. Nah kamu tahu kenapa aku dulu sampai searching yang aneh-aneh ini karena bahasa mereka yang pakai istilah kampas rem."


Aisha pura-pura tak mendengar. Ia melihat Setiap sudut kamar Rafi.


"Sungguh pemimpin sekaligus teman yang baik. Bahkan sampai di berikan kejutan sedemikian ini."


Rafi yang telah mendekati Aisah cepat memeluk sang istri dari arah belakang.


"Maka dari itu jangan kecewakan mereka. Ayolah Aish, Buka hati mu bukalah sedikit untuk ku."


Aisha tak berkutik. Ia tak berani membuka suara dan berbalik. Ia hanya diam terpaku menatap satu foto dirinya dan Rafi yang sedang memakai baju merah putih dan berdiri bersebelahan dengan mimik wajah ceria.


"Aish....."


Jantung Aisha semakin berdebar. Ia begitu bahagia beberapa hari menjadi istri dari Rafi. Lelaki yang biasa membuat emosinya naik entah kenapa hampir satu Minggu ini sangat manis. Bahkan Aisha dapat merasakan usapan lembut di dahinya setiap malam. Bahkan ia sempat terjaga ketika satu malam suaminya itu tertidur di sofa karena menonton bola.


Belum lagi Rafi yang begitu cepat akrab dengan ketiga adiknya. Ia bahkan sering mendengar ketiga adiknya tertawa bahagia karena ulah Rafi. Alifah yang paling bontot pun terlihat lebih akrab. Satu kegiatan main kapal-kapal kertas disaat hujan membuat adiknya itu satu hari itu terus menggoda Aisha karena perihal beruntung karena Rafi sangat penyayang.


"Aish.... "


Suara Rafi membuyarkan lamunan Aisha.


"Hem. Ada apa?"


Suara Aisha pelan.


"Boleh kita mendaki bersama?"


Deg.


Aisha diam tak menjawab. Ia malu untuk menjawab. Namun ia membiarkan tangan Rafi bergerak ke arah pinggangnya.


Rafi yang telah membaca satu materi yang Bram kirimkan vya ponselnya. Tak perlu sebuah video atau bacaan khusus pria dewasa. Cukup satu sensasi yang di hasilkan dari ciuman pertama pagi tadi mampu membuat ia paham apa tugasnya sebagai seorang suami. Sore itu menjadi satu momen bersejarah bagi dua jomblo yang kini menjadi sepasang suami istri.


Tempat yang romantis. Aisha yang juga membaca materi bagaimana menjadi istri shalehah maka hanya diam dan memberikan hak suaminya. Karena Ayra juga memberikan petuah yang ia sendiri terapkan.


"Mencintai orang yang kita nikahi itu adalah kewajiban. Dan Menciptakan rumah tangga yang bahagia juga satu kewajiban Aisha."