Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
227 Kekaguman Rafi Pada Si Kembar 2


Bram pun menuruti kemauan Ammar. Ia duduk di sisi Ammar. Qiya mengikut lengan kakaknya. Ammar hanya mengedipkan matanya cukup lama. Qiya menyipitkan kedua matanya. Ia penasaran apa yang kakaknya rencanakan. Karena Ammar tadi hanya membisikkan sesuatu.


"Kita lihat apa papa kita bisa menerapkan apa yang diajarkan dirumah. Dikantor milik papa ini. Hihihi...."


Maka adik Ammar itu tak tahu rencana Apa yang telah di buat sang kakak.


Ammar berbalik dan bersandar pada sofa hitam di ruangan Bram itu. Ia melihat di seberang ruangan adalah ruangan Rafi dan Lusi. Lalu Ammar kembali menutup tirai itu. Bram hanya penasaran apa yang mau di lakukan anak sulungnya itu. Ammar berdiri dibalik tirai dengan satu tangan membuka sedikit tirai tersebut seperti orang mengintip.


Bram penasaran ikut berdiri di belakang Ammar. Qiya pun ikut berdiri di sisi sang kakak.


"Papa bilang kita tidak boleh semena-mena sama orang lain. Sekalipun dia pembantu, satpam, atau bahkan pengemis sekalipun. Betul kan Pa?"


Ammar masih melihat ke arah mata Ammar memandang. Terlihat Lusi fokus menghadap layar yang ada diatas mejanya.


"Betul. Lalu siapa yang semena-mena?"


"Wait a momen Dad." [Tunggu Sebentar Pa.]


"Ok. My Son." [Oke. Anak laki-laki ku.]


Bram mengusap kepala Ammar.


Tak berapa lama OB yang berada di pantry kini sedang mengetuk pintu ruangan Lusi. Sesaat kemudian OB tersebut masuk ke dalam. Saat ia meletakkan cangkir kopi susu di atas meja Lusi. Tampak Lusi berbicara dan OB yang baru saja akan berjalan meninggalkan ruangan itu berhenti dan menghadap Lusi dengan kepala tertunduk seperti orang ketakutan.


Lusi menyeruput kopi susu itu. Dan seketika ia menyemburkan kopi itu. Hingga reflek ia meletakkan kopi itu diatas tatakan gelas yang berada di atas meja. Tampak raut wajah OB tadi ketakutan. Ia sudah menggunakan sendok takar seperti biasanya. Lusi yang memang memberikan OB tersebut sebuah sendok keci untuk minumannya. Sehingga sang OB tanpa mencicipi pun bisa pas membuat kopi susu sesuai selera Lusi. Namun saat membuat kopi pertama tadi, sendok bekas mengaduk susu pesanan salah satu manager yang hobi manis. Membuat Ia lupa ketika melihat kehadiran si kembar. Sehingga ia memberikan gula dan mengaduk kopi susu untuk Lusi dengan sendok takaran yang tak biasanya.


Terlihat Lusi berdiri dan menatap tajam OB tadi. OB itu makin ketakutan. Lusi mengambil cangkir tadi dan meminta OB tadi mencicipi kopi susu yang dibuatkan untuknya. Namun tentu saja rasa kopi itu ada rasa asinnya. Karena Ammar mengganti stiker gula ke garam halus yang ada di pantry. Lalu Lusi menyiram ke arah OB tersebut.


Bram melihat itu dari balik tirai merasa geram. Ia tak suka ada penindasan di perusahaannya. Sebesar apapun salahnya. Ia keluar dari ruangannya. Namun ketika satu pasang anak kembarnya ingin ikut. Ia menahan kedua anaknya untuk tetap di ruangan itu.


"No. No. No. Kalian tetap disini. Papa akan kembali setelah meminta penjelasan Tante Lusi."


"Baik Pa."


Bram membuka tirai ruangannya. Bram meninggalkan Ammar dan Qiya. Rafi yang berdiri di sisi pintu ruangan Bram cepat pura-pura mencari sesuatu di lantai.


"Apa yang kamu cari Fi?"


"Saya cari pin yang diberikan Bilqis pak.Tadi di kantung. Anak perempuan saya itu akan menanyakannya kalau itu hilang"


Bram menggelengkan kepalanya. Ia tak habis pikir kelakuan Rafi yang kadang aneh menurutnya masih tidak berubah


Ia pergi ke ruangan Lusi. Saat CEO itu membuka ruangan itu. Lusi kaget setengah mati. Karena ia sedang memegang dagu OB itu dengan angkuhnya. Bram menatap tajam managernya. Ia berjalan ke arah Lusi dan On yang masih menunduk ketakutan.


"Apa yang sedang terjadi Lusi?"


"Oh. Ini Pak. Dia menumpahkan kopi ke atas berkas yang akan saya laporkan ke bapak."


"Dia yang menumpahkan atau kamu yang menyiramnya?"


"...."


"Maksud Bapak.?"


"Maksud saya. Kamu berbohong atau tidak barusan?"


"Si-al. OB kurang ajar. Dia pasti tadi lapor Pak Bram."


"Semua ga seperti apa yang dia katakan pada Bapak."


"Dia tidak melaporkan apa-apa."


Bram menoleh ke arah ruangannya. Terlihat Ammar tersenyum lebar ke arah Bram. Lusi mengikuti pandangan Bram. Ammar melambaikan tangannya pada Lusi.


"Saya melihat jelas apa yang baru saja kamu lakukan dari arah ruangan saya. Dan rasanya anak saya yang masih Paud itu protes ke saya. Karena di rumah. Mereka berdua selalu diajarkan oleh Mamanya untuk bukan hanya pintar atau cerdas tapi juga berakhlak yang baik dan beradab."


Bram menarik kursi yang ada dihadapan OB yang masih menunduk. Ia tak berani memandang Lusi atau CEO MIKEL Group itu.


Bram memainkan mainan kucing yang ada di meja Lusi sehingga setiap kali di sentuh. Kepala kucing itu akan bergoyang-goyang.


Lusi terdiam, tak berani menatap Bram. Namun manager yang dulu bergerak di bidang HRD itu harus mengakui kesalahannya. Ia sangat kenal watak Bram. Jika ia sudah marah karena di tipu oleh klien nya atau dirugikan. Maka tak pernah ada kesempatan kedua. Ia melirik ke arah OB yang juga masih tertunduk.


"Awas kamu! Gara-gara kamu ini. Kamu pasti laporan."


"Maafkan saya Pak. Saya betul-betul stres minggu-minggu ini karena target pemasaran yang belum tercapai di bulan ini."


"Kamu yang meminta untuk ke posisi pemasaran saat aku menawarkan kamu menjadi kepala cabang di Palembang. Maka bukan alasan untuk kamu mengatakan stres. Sekalipun stress maka orang lain, bukan pelampiasannya. Aku sebagai pemimpin di perusahaan ini. Pernah aku melampiaskan pada kalian saat harga Minya dunia naik sehingga produksi kita menurun. Dan ketika pernjanjian dengan beberapa perusahaan di Malaysia gagal?"


Lusi tertunduk lesu. Ia memang tak pernah melihat Bram marah saat beberapa target di perusahaannya belum tercapai. Ia justru memberikan nasihat. Ia hanya melihat Kemarahan Bram saat ada penyelewengan dana. Ketidakadilan bagi buruh yang bekerja di bawah naungannya. Atau karyawan yang korupsi waktu. Seandainya waktu istirahat sudah habis jam 1 masih ada yang belum kembali ke perusahaan. Setengah jam kemudian baru kembali ke kantor. Satu alasan shalat, padahal masih bersantai-santai di mushola saat selesai melakukan ibadah shalat disaat jam istirahat telah berlalu.


Maka sejak saat itu Bram membangun satu ruangan yang berada di dekat kantin kantor sebuah mushola. Sehingga tak ada alasan bagi mereka yang tak disiplin waktu dengan alasan jauhnya tempat mereka shalat.


"Katakan sekarang. Kamu mau minta maaf dan tidak mengulangi lagi kesalahan kamu kepada siapapun di perusahaan ini atau kamu pilih mutasi ke Palembang."


"Apa Pak? Tidak. Tidak Pak. Saya tidak mau di mutasi ke kota itu."


Lusi tak ingin jauh dari ibukota Indonesia itu. Ia sudah sangat nyaman berada di Jakarta. Terlebih bekerja di MIKEL group membuat famornya Dimata teman-teman sosialitanya begitu dihargai.


Ia bahkan sering di puji-puji karena mampu bekerja sebagai manager di perusahaan itu. Lusi yang selalu merasa nyaman dan bahagia hidup ditengah lingkaran orang yang Suka memujinya, tak ingin ke dunia baru lagi. Ia sudah nyaman di Jakarta. Padahal jika ia tak memiliki banyak uang, tak punya jabatan maka bisa dipastikan teman-teman sosialitanya itu tak akan setia disisinya.


"Kalau begitu cepat minta maaf. Dan hari ini juga saya ingin kamu buat surat perjanjian tak akan mengulangi sikap kamu pada siapapun di perusahaan ini! Pakai materai. Jika melanggar kamu bersedia mengundurkan diri!"


"Ba-Ba-Baik Pak."


Lusi menunduk lesu. Dan dengan berat hati ia meminta maaf pada OB yang tadi ia siram kopi susu untuk kedua kalinya.


"Maafkan saya."


"Apakah begitu cara meminta maaf? Apa perlu anak saya yang masih PAUD itu mengajarkan kamu?"


Lusi menggaruk lehernya. Ia merasa malas untuk minta maaf dengan mengulurkan tangannya. Namun menolak perintah Bram sama saja ia harus rela mutasi ke anak perusahaan MIKEL Group.


Manager pemasaran itu menjulurkan tangannya ke arah OB tersebut.


"Maafkan Saya."


Sang OB menerima uluran tangan Lusi.


"Iya Bu. Saya minta maaf juga."


"Dan kamu. Beri Uang untuk Bibi ini. Di harus ke dokter. Wajahnya bisa melepuh karena kopi tadi."


"Apa pak?"


"Kamu perlu ke THT Lusi.!"


"Ba-Baik Pak."


Lusi cepat berlari ke arah mejanya. Ia mengambil beberapa lembar uang ke arah OB tadi. Si OB terlihat ragu-ragu menerima uang tersebut.


"Terima Bi. Jangan takut. Kalau ada yang mengancam bilang sama saya."


Bram merasa harus tegas pada Lusi. Managernya itu sering sekali ketua pada semua orang di perusahaannya. Namun kali ini sudah keterlaluan. Ia menyakiti OB dan itu dihadapan anak-anaknya. Maka wibawanya sebagai pemimpin di perusahaan dan di keluarganya akan jatuh jika ia selalu mengatakan tentang adab harus utama dibandingkan ilmu. Tetapi dia sendiri membiarkan managernya tak beradab.


Sang OB keluar dari ruangan itu sambil mengikuti Bram. Saat Bram di depan ruangan, ia membuka dompetnya. Ia mengeluarkan uang berwarna merah sebanyak lima lembar.


"Loh tadi sudah pak."


"Terima. Ini dari saya. Jangan beli salep. Ke dokter sekalian ya Bi."


Saat tiba di dalam ruangannya. Ia justru harus Kembali di buat kaget oleh teriakan Ammar.


"Tolooooooonggg!"


Bram cepat menuju ke arah toilet yang terdapat di sudut ruangan itu. Dimana terdengar suara Rafi dan Ammar.


To be continued Tomorrow....