Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
179 Ayra Bertemu Aisha


Kemarin sore, Bram yang telah mengantongi alamat Aisha menunda waktu untuk datang ke kediaman Aisha yang baru. Namun Pagi ini ia harus menuruti kemauan istrinya. Karena Ia telah lama meninggalkan pekerjaannya. Maka ia meminta sang istri di temani sopir.


"Ga apa-apa sama sopir ya? kalau sudah ketemu jangan terlalu lama. Kamu harus istirahat sayang."


"Iya Mas. Sebentar saja. Ayra cuma merasakan aneh saja melihat Aisha mengambil keputusan mendadak. Belum lagi cerita Rafi kemarin. Kasihan jika perempuan yang baik seperti Aisha harus menikah dengan lelaki seperti itu."


"Ada ya lelaki seperti itu ya sayang. Kenapa harus suka terong. Apa mereka tidak tahu jika tempe itu selain mengenyangkan juga bergizi dan berpahala juga kalau sudah sah menjadi sepasang suami istri."


Ayra bergelayut mesra pada suaminya setelah ia memasangkan dasi di leher suaminya.


"Dari kisah Aisha. Ayra teringat kisah nabi Luth mas. Dimana satu kaum yang ho mo se k su al. Semoga kita bisa menjaga anak-anak dan diri kita dari perbuatan itu. Mengingat zaman sekarang kadang sebuah lingkungan ikut menjadi terjerumus nya orang-orang dalam berbuat maksiat."


"Aamiin...."


Sepasang suami istri itu akhirnya berpisah ketika setelah sarapan. Bram menaiki mobil sendiri sedang Aisha diantar sopir perusahaan untuk menuju alamat baru Aisha.


Tiba di sebuah rumah yang berukuran sedang serta terdapat banyak tanaman di depan rumah tersebut. Rumah itu terlihat sepi, namun pintu ruangan depan yang terbuka membuat Ayra cepat menuju pintu tersebut. Ia mengucapkan salam dan mengetuk pintu.


Tak lama muncul Retno dari dalam. Perempuan itu sedang merekap orderan onlinenya. Ia keluar dari ruang tengah dengan kacamata di atas kepala dan satu tangan memegang ponsel dan satu ponsel tergantung di depan dadanya dengan tali bergambar hello Kitty melilit di lehernya.


"Siapa ya?"


Ucap Retno setelah menjawab salam dari Ayra.


"Maaf mbak mau bertanya. Betul ini kediaman Aisha?"


Retno melihat Ayra dengan seksama.


"Siapa perempuan ini?"


"Oh bukan. Ini bukan rumah Aisha. Mbak siapa? dan darimana?"


"Oh Bukan ya. Tapi berdasarkan informasi katanya Aisha tinggal disini mbak. Saya Ayra teman Aisha."


"Oh. Iya Aisha betul teman saya. Masuk mbak."


Ayra pun masuk kedalam ruangan yah hanya terdapat dua buah sofa yang cukup panjang dan meja bundar yang terbuat dari kaca.


"Ada perlu apa? nanti saya sampaikan. Kebetulan Aisha sedang kerumah sakit."


"Innalilahi.... Aisha sakit? Sakit apa?"


"Belum meninggal kok mbak.... Masih baik-baik saja. Kaki kiri nya patah. Tadi mau saya antar tetapi masih nekat mau berangkat sendiri."


"Astaghfirullah.... Karena lompat dari balkon kemarin?"


"Lah mbak nya tahu darimana?"


"Saya tahu dari asisten suami saya. Saya mencari Aisha karena ingin tahu kondisinya. Berarti bukan karena ingin menikah ya Aisha berhenti bekerja."


"Apa? Aisha berhenti bekerja?"


"Iya. Dia mengundurkan diri dari perusahaan suami saya. Sayang sekali, susah mencari orang seperti Aisha."


"Kenapa kamu berbohong Aisha. Kamu tidak pernah berbohong selam menemani aku. Ada apa Aisha."


"Boleh tahu rumah sakit Mana?"


"Kalau tidak salah di rumah sakit Harapan tidak jauh dari sini."


"Baiklah saya permisi mbak. Saya coba susul dulu. Oh ya, boleh minta nomor ponsel Aisha? sepertinya dia ganti nomor. Karena saya dari kemarin mencoba menghubungi dia tapi tidak aktif."


Ayra menyimpan nomor baru Aisah. Ia bersyukur jika memang benar Aisha tak jadi menikah dengan lelaki yang ternyata punya perilaku menyimpang itu. Namun ia masih penasaran kenapa Aisha dalam kondisi nya seperti itu malah mengundurkan diri dari perusahaan. Seketika ruang kecil hati Ayra begitu mudah dibisikkan oleh bisikan setan.


"Apa mungkin kecurigaan mas Bram betul. Rafi telah..... Astaghfirullah.... Aisha kamu tidak boleh su'udzhon dengan Rafi. Kita cari kebenaran nya dulu."


Ayra mengirim pesan pada Bram bahwa dia akan ke rumah sakit harapan karena ingin bertemu Aisha. Ia tak mau sang suami khawatir Bram yang sekarang telah jatuh cinta pada Ayra terlalu posesif. Bahkan, dirinya selalu mengirimkan pesan hampir setengah jam sekali pada istrinya itu. Sekedar bertanya sedang apa, lagi dimana, dan sang istri pun ia minta untuk memberi tahu dirinya ketika akan pergi kemanapun.


Ayra pun paham perasaan yang dimiliki suaminya. Ia lebih memilih berpikir positif atau bersyukur karena itu salah satu tanda bahwa sang suami mencintai dirinya. Daripada ia berpikir tidak nyaman karena terlalu berlebihan. Karena hal itu malah akan membuat dirinya tak nyaman pada suaminya.


Satu ilmu yang Ayra dapatkan dari Umi Laila dalam membina rumah tangga. Saat ia dilamar oleh Amir.


"Ayra, ada banyak kunci sukses dalam berumah tangga yang dijabarkan oleh para ahli dan menurut ulama Nduk. Tapi menurut Umi, selama Umi membina rumah tangga. Kunci sukses menggapai kebahagiaan bersama pasangan kita dalam pernikahan adalah bagaimana kita berjuang, agar bisa menjinakkan harapan kita untuk selalu di bahagiakan dan dimengerti oleh pasangan kita.


Rasa ingin selalu di nomor satukan oleh suami. Rasa ingin selalu di dengarkan, ingin selalu dituruti semua keinginan kita. Maka jika kita mampu mengalahkan rasa itu. Insyaallah kita akan bahagia dengan sendirinya. Tanpa suami kita melakukan apapun yang kita harapkan."


Maka Ayra memetik pelajaran dari nasehat Umi Laila itu. Jika kebahagiaan adalah keadaan pikiran kita sendiri. Jangan biarkan kebahagiaan kita bergantung pada orang lain termasuk pasangan hidup kita. Namun semua butuh waktu dan ilmu.


Dan kini, Ayra telah mempraktekkan sebuah ilmu dalam rumah tangga bersama Bram. Sehingga Istri Bramantyo itu cukup mudah merasa bahagia, disaat orang lain merasa alangkah berat cobaan pada dirinya.


Ayra telah tiba di rumah sakit Harapan. Ia mencoba menghubungi Aisha. Namun ponsel Aisha yang dibuat silent membuat pemiliknya tak tahu jika ada panggilan masuk ke ponselnya.


Aisha mencoba berjalan di lorong rumah sakit dimana terdapat ruangan dokter. Dari dokter tulang, saraf hingga Obgyn. Dan alangkah kagetnya Ayra ketika melihat Aisha kelar dari ruangan yang di depan ruangan itu tertulis 'Dokter Ahli Kandungan dan Kebidanan'.


"Aisha.... "


Perempuan yang berjalan mengenakan tongkat itu menoleh ke sumber suara. Dan betapa kagetnya ia melihat sosok yang ia kenali dan begitu dirinya segani. Ia berpikir jika Ayra mungkin ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya.


"Bu Ayra."


Ayra bergegas berjalan ke arah Aisha. Ia menatap Aisha dan melihat ke arah kaki yang di perban.


"Astaghfirullah Aish. Kamu kenapa berbohong jika ingin menikah? Dan...."


Ayra melirik papan nama di depan ruangan dokter spesialis kandungan tersebut. Ia tak berani melanjutkan kalimatnya. Karena ia khawatir menyinggung perasaan teman sekaligus mantan asistennya itu.


"Maaf Bu...."


Suara Aisha terdengar sedikit terisak. Ayra mengusap lengan Aisha dengan lembut.


"Berbagilah dengan ku Aisha. Apakah kamu tidak pernah menganggap ku teman atau keluarga?"


"Bu....Hhhhh....."


Aisha menarik napas nya dalam. Dadanya terasa sesak. Ia yang dari ruangan dokter kandungan merasa sedih dan ingin menangis. Kali ini seakan Ayra hadir disaat yang tepat. Ia sedang ingin berkeluh kesah. Dia ingin menangis. Ingin di dengarkan.


"Bu..... Hiks... Hiks...."


Ayra melihat wajah Aisha telah dibasahi air mata. Ia memeluk Aisha, usapan lembut ia berikan pada punggung Aisha.


"Menangis lah jika dengan menangis hati akan menjadi tak sesak. Jangan merasa kuat disaat hati lelah dan ingin berbagi cerita. Insyaallah, aku akan menjadi pendengar untuk mu Aish."


Beberapa waktu Aisha menangis di dalam pelukan Ayra. Ia yang sedikit menunduk karena dari postur tubuh mereka, Aisha memang lebih tinggi dari Ayra. Namun saat ini, istri dari bos Aisha itu sedikit lebih berisi karena kondisi hamil yang hampir masuk 7 bulan.


Karena merasa butuh tempat untuk bercerita. Ayra mengajak Aisha ke kantin rumah sakit. Karena ia yang juga mulai merasakan lapar. Kondisi dirinya yang sedang hamil membuatnya sedikit cepat merasa lapar. Kadang istri Bramantyo itu akan makan buah, atau biskuit sebelum jam makan karena perut yang terasa lapar disaat jam makan masih lama.


Tiba di sebuah kantin, mereka memesan minuman. Ayra lebih memilih buah yang ia jasa siapkan di dalam mobilnya. Ia menghubungi sang sopir untuk mengantarnya ke kantin.


Ayra merasa penasaran. Ia masih menunggu Aisha membuka lebih dulu percakapan. Ia menatap Aisha dan satu usapan lembut pada punggung tangan Aisha, membuat gadis itu menatap Ayra.


"Aku.... Sudah tidak perawan lagi Bu..... Hiks..... Hiks....."