
Pagi Hari, Ayra telah bersiap dengan beberapa bekalnya. Ia beserta kedua bayinya akan terbang ke Surabaya menuju Sragen.
Bram sebenarnya memiliki kepentingan di perusahaan belum bisa ikut berziarah ke makam kedua orang tua Ayra. Namun Bram yang merasa bahwa ia bisa bahagia seperti saat ini. Ia bisa memiliki istri yang selalu memberikan ketenangan, kebahagiaan di dalam rumah tangganya. Membuat hati Bram tersentuh pagi itu.
Ia membuka jasnya dan mengganti dengan baju kaos santai yang berwana putih. Ayra yang melihat suaminya berganti pakaian bingung.
"Mas tidak jadi kekantor?" Tanya Ayra.
"Mas ikut ke Surabaya." Jawab Bram merapikan bajunya.
"Katanya ada rapat?" Kembali Ayra bertanya karena bingung.
Bram mendekat ke arah Ayra yang masih menatapnya sambil memegang beberapa baju ganti untuk anak-anaknya selama di Surabaya dan Sragen.
Bram mengambil baju Ammar yang berada di tangan Ayra dan meletakkannya di atas koper hitam berukuran kecil. Ia membenarkan jilbab yang dikenakan Ayra.
"Mas belum pernah ziarah ke makam kedua orang tua mu. Hari ini haul Ibu mu. Maka alangkah sombong menantunya ini. Walau mas tidak lupa mengirimkan Al Fatihah untuk ayah dan ibu mu selepas shalat. Mas bisa setenang ini mencari nafkah, karena ada kamu istri yang Sholehah. Mas bisa sebahagia ini karena kamu selalu bisa menyenangkan hati mas. Dan itu semua tentu berkat kerja keras, usaha dan doa dari kedua orang tua mu."
Ayra menitikkan airmata nya karena terharu. Semalam ingin sekali ia mengajak suaminya ke makam ke dua orang tuanya. Namun karena sang suami ada pekerjaan ia tak mengutarakan permintaanya.
Bagi Ayra haul adalah pembelajaran baginya untuk menghargai jasa-jasa kedua orang tuanya. Walaupun kedua orang tuanya telah tiada. Namun salah satu bakti kepada orang tua selain mendoakan mereka yaitu menziarahi makam mereka. Sungguh seorang anak tak kan bisa sukses tanpa kerja keras orang tua dan juga doa dari mereka.
Ayra dan Bram diikuti intan dengan baby twins, berangkat ke Surabaya menggunakan Pesawat. Setibanya di Surabaya akan ada mobil yang menjemput mereka di bandara. Rafi menggendong Ammar dan Qiya dimasukan ke dalam kereta bayi.
Intan mendorong kereta Qiya dan Kereta Ammar di dorong oleh Bram.
"Kita langsung ke Sragen saja mas. Nanti kita singgah di kediaman Buk Lek. Biar Ammar dan Qiya istirahat disana. Makam ayah dan Ibu dekat Bengawan Solo."
Bram meminta sang sopir mengantar mereka ke tempat yang menjadi tujuan sang istri. Ayra asli kelahiran Sragen karena ketika ia lahir, Ayah dan ibunya masih tinggal di Sragen. Ketika Ayahnya mendapatkan pekerjaan sebagai dosen di Surabaya, sehingga mereka pindah ke Kota itu. Perjalanan cukup lama, 3 jam lamanya dari Surabaya ke Sragen.
Saat diperjalanan Waktu sudah masuk shalat Dzuhur. Maka Bram berhenti di suatu masjid. Saat Ayra dan Intan berwudhu. Bram menunggu kedua anak mereka di teras masjid. Ayra yang telah persiapan dari rumah jika akan melakukan shalat Dzuhur di perjalanan maka ia memakai panty liner double. Karena pasca melahirkan baby twins. Ia sering keputihan walau tak banyak, namun hal itu membuat ia selalu mengenakan pantyliner ketika bepergian. Jadi ketika akan wudhu, Ia tinggal membuka satu panty liner yang bagian paling atas. Sehingga ia tidak perlu repot mengganti panty liner. Ia cukup membuka yang bagian atas.
Salah satu tips yang dulu dibagikan Umi Laila saat ia masih gadis. Dimana ia memakai pantyliner beberapa lapis. sehingga ketika akan wudhu. Ia cukup membuka satu pantyliner bagian yang paling atas. Selagi keputihan itu tak banyak dan mengenai sisi kanan kiri underwear. Ternyata kini setelah ia melahirkan. Ia baru mempraktekkan ilmu yang diberikan guru sekaligus orang tua baginya. Tanpa harus mengganti underwear dan tanpa harus Gonta ganti panty liner. Selesai dengan ibadah Dzuhur di salah satu masjid mereka melanjutkan perjalanan.
Mobil yang ditumpangi Ayra telah tiba disebuah rumah. Rumah yang menjadi peninggalan kakek dan neneknya. Kini rumah itu ditempati oleh kakak perempuan dari Mbah nya. Si mbah yang sedari tadi menunggu diteras rumah tersenyum lebar melihat sebuah mobil hitam terparkir di depan rumahnya.
Tampak Bram dan Ayra keluar bersama Intan yang menggendong Ammar. Qiya pun digendong oleh Ayra, Bram yang paham bahwa istrinya sedang berada di kampung halaman sang ibu. Ia meraih tubuh mungil Qiya.
"Alhamdulilah... akhirnya kamu sampai juga Ay.... Mbah sudah rindu pada mu Ay."
"Ayra juga rindu pada Si Mbah."
Ayra masuk ke dalam rumah. Tak ada yang berubah dari rumah itu. Terakhir ia kesana adalah 1 tahun yang lalu saat akan menikah.
"Ternyata kamu cantik seperti ibu mu Ay. Postur tubuh mu Seperti Ayah mu."
Ayra yang sedang berbaring sambil memberikan Ammar ASI hanya sedikit menggerakkan kepalanya.
"Dan sekarang seperti terbalik ya mas."
Bram lalu berjalan ke dekat meja yang berada di sudut ruangan ia melihat satu buku yang cukup usang. Ternyata buku itu adalah buku semasa sang ibu kuliah. Catatan tangan Nuaima sangat rapi. Bram membaca beberapa buku yang ada diatas buku itu.
"Buah jatuh tak jauh dari buahnya. Pantas putrinya cerdas. Karena ibunya juga cerdas."
"Ibu dulu adalah manager pemasaran mas."
"Dan sekarang anaknya Ibu CEO."
"Istri."
"Tapi kemarin sempat jadi CEO berapa bulan kan sayang?"
"Iya my Hubby. Ssstt... Ammar sudah mau tertidur."
Tak berapa lama Ammar terlihat telah tertidur pulas. Ayra pun meninggalkan Ammar dan Qiya. Ia titipkan pada Mbah Uti dan Intan.
"Pakai motor saja Ay. Jalannya susah kalau pakai mobil. Itu Motornya Paijo di garasi."
"Paijo nya mana Mbah?"
"Masih ada apa itu di balai desa. Sebentar lagi juga pulang."
Akhirnya Bram dan Ayra ke makam kedua orang tuanya menggunakan sebuah motor CB yang merupakan milik cucu Mbah Uti yang tinggal bersamanya. Ketika Ayra sudah berada diatas motor sambil memegang sebuah toples berisikan air dan kembang yang telah disiapkan oleh Mbah Uti. Bram belum menghidupkan motornya.
"Mas. Bisa Ndak? klo Ndak bisa kita jalan kaki saja."
"Bisa dong Ay. Pegangan dong ay biar romantis. Ini pertama loh kita naik motor."
Ayra tertawa dan mendongakkan kepalanya sambil satu tangannya melingkar di pinggang Bram.
"Mas tidak menyangka kita akan seromantis ini Ay. Padahal maj kemakam. Semoga ayah dan ibu mu senang karena kita hidup bahagia."
Bram pun menghidupkan motornya setelah ia merasakan tangan sang istri melingkar. Mbah Uti yang melihat tingkah suami istri dari teras rumah pun ikut senang.
"Jadi ingat Nuaima dan Munir. Semoga kalian bahagia."