
Tatapan tajam dan cengkraman Rani pada pergelangan tangan Liona semakin erat hingga Liona merintih. Nyonya Lukis mencoba melerai kedua menantunya yang sedang bertikai itu. Suara lembut dan tatapan sendu Nyonya Lukis pada kedua menantunya.
Nyonya Lukis berjalan ke arah Rani dan Liona.
"Lepaskanlah Rani, Bagaimanapun dia kakak ipar mu Ran."
Rani yang membuang napasnya dengan kasar akhirnya menghempaskan tangan Liona dengan kasar. Liona melirik tajam pada Rani.
"Dasar wanita murahan. Pelac*r. Murah*n!"
"Kau!"
"Plaaak!"
Rani telah mengangkat tangannya kearah Liona namun sebuah tamparan mendarat di pipi mulus nan putih Liona dari tangan lembut Nyonya Lukis. Liona memegang pipi nya yang terasa pedas. Matanya menatap perempuan yang seharusnya ia hormati.
"Tidakkah kamu lihat Rani sudah menurunkan egonya. Tidakkah kamu menghargai Mama?"
Nyonya Lukis menaikkan nada bicaranya satu oktaf lebih tinggi dari biasanya. Sungguh diluar kebiasaan dari Nyonya Erlangga Pradipta itu. Apalagi sampai bermuka dingin dan berbuat kasar seperti saat ini.
Liona melipat kedua tangannya di depan dada dengan tatapan penuh penilaian. Ia memandang Nyonya Lukis seolah sedang menilai mertuanya itu.
"Heh. Mama.... Mama.... Ups... Lebih tepatnya nyonya Erlangga Pradipta. Apa karena mama ingat masalalu mama, ketika diusir dari keluarga karena hamil Bram diluar nikah hingga kini Perempuan bernama Rani ini mendapatkan pembelaaan?!"
"Plaaak!"
Rahang Nyonya Lukis mengeras. Raut wajah penuh amarah ia tunjukkan pada salah satu menantu nya itu. Bahkan Kembali ia ingin menampar menantu tak tahu sopan santun itu. Namun Ayra cepat menghalangi ibu mertuanya itu kembali menuruti emosinya.
"Istighfar Ma."
"Kurang ajar Kau Liona! Dasar tidak tahu sopan santun!"
"Diam Kau Rani! Aku tidak ada urusannya dengan kamu!"
"Bruugh!"
Liona terduduk di atas lantai. Rani yang merasa emosi karena melihat wajah Nyonya Lukis penuh air mata dan tatapan penuh amarah pada Liona. Sehingga memicu Rani tak sabar menghadapi Liona.
"Kamu baru saja membuat ibu dari suami ku menangis dan marah?"
Ayra mencoba menenangkan ibu mertuanya. Kepalanya yang sedari tadi sebenarnya merasa sedikit pusing kali ini mau tak mau ia berkali-kali membuka dan memejamkan matanya agar hilang rasa sakit pada kepalanya.
Liona bangkit dari posisinya. Ini kali pertama ia merasa direndahkan.
"Sial*n! Jal*Ng kau Rani!"
Ayra sudah berdiri. Kali ini ia sudah tak bisa mentolerir karena Liona telah membuat ibu menangis terisak. Suara tangisan Nyonya Lukis yang begitu menyayat hati. Seolah ada beban yang begitu berat dan menyesakkan hatinya hingga ia menangis tersedu-sedu dengan posisi terduduk dan menatap lantai.
"Kamu juga hanya sampah! Tunggu saja sampai pada waktunya. Bau busuk mu pun akan tercium bahkan terbuka di seluruh media! Jangan sok suci kamu! Sekarang saya tahu kamu berjodoh karena memang seluruh keluarga ini dari masalalu penuh dosa. Dan ahli neraka Hehe...."
Ayra menaikan dagunya. Ia tatap wajah Liona dengan penuh penekanan. Mata yang terlihat cekung itu pun menyipit dan menandakan bahwa pemilik mata itu sedang sangat tidak suka pada orang yang ia tatap.
Rani sudah geram, ia baru ingin melangkahkan kaki ke arah Liona. Ingin ia seret perempuan yang harusnya ia hargai Karen istri dari kakak iparnya. Namun. seolah perempuan bernama Liona itu tak tahu diri dan tak tahu malu. Ia malah terus menghina penghuni rumah ini.
Ayra cepat menarik lengan Rani. Ia berjalan ke arah Liona. Kini Ayra duduk tepat dihadapan Liona. Ayra menatap Liona dengan sebuah senyuman namun ia malah berbicara pada Rani. Ayra akhirnya bersuara.
"Kamu tahu Ran, Rasulullah mengajari umatnya untuk menahan diri. Jangan mudah mengumbar kata, jangan gampang menyebar berita, jangan sering menghardik sesamanya.
Karena Rasulullah tahu, ruang maaf manusia terbatas, tidak seluas dan sedalam Tuhannya. Mendapatkan maaf manusia jauh lebih berat dan susah. Belum lagi jika kita tidak merasa bersalah, tapi orang lain memendam kesal kepada kita. Mengetahui diri kita salah saja, kita masih enggan meminta maaf, apalagi tak merasa bersalah sama sekali.
Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada sebuah hadits dari Imam al-Bukhari dan Imam Muslim. Ada seorang wanita ahli ibadah, rajin shalat malam, gemar berpuasa, banyak bersedekah dan beramal, tapi lidahnya selalu membawa rasa sakit bagi tetangganya. Rasulullah mengatakan, tidak ada kebaikan padanya, dia termasuk ahli neraka. Artinya, amal ibadah yang tidak berbanding lurus dengan perilaku sosial yang baik, ibadahnya kekurangan makna."
"Aku beruntung berarti Ay karena aku tak pernah menyakiti siapapun apalagi sampai menyakiti hati mertua."
"Bahkan Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 23 dimana dalam ayat tersebut jangan kan menghina atau membuat menangis orang tua atau mertua. Untuk berkata Ah kita tidak diperbolehkan Ran. Karena salah satu amalan utama adalah berbakti pada kedua orang tua."
"Kau! Berani sekali! Siapa kamu berhak menasehati aku?!"
"Dan siapa juga kamu hingga berhak menilai seseorang berdosa bahkan masuk neraka? Apakah kamu ahli neraka? Atau pemegang kunci surga? Dan satu lagi saya sedang berbicara pada adik ipar saya yang masih bisa menghargai Anda sebagai kakak iparnya. Rani, namanya Rani bukan seperti yang baru saja berulang kali kamu sebutkan itu!"
Ayra tersenyum manis pada Liona yang mulai merasa kesal dengan perkataan Ayra.
Merasa jengah dengan wajah Ayra, Liona berdiri dan menghampiri Ayra.
"Kamu akan menyesal Ayra. Kamu sudah membuat masalah bukan hanya pada Shela tapi juga pada Ku! Tunggulah tanggal mainnya. Aku pastikan seluruh negeri ini akan melihat bagaimana sesuatu yang kamu tutupi itu jika bisa dinikmati orang lain heh."
Liona tersenyum mengejek. Dahi Ayra mengerut senyum nya meredup. Seketika bayangan nya kembali ke masalalu. Namun ia masih beristighfar didalam hatinya. Ia tak ingin terpancing emosi menghadapi Liona.
"Lakukan apa yang kamu mau. Aku hanya mengingatkan kamu Liona. Minta maaflah pada mama. Kamu baru saja menyakiti hati seseorang yang bisa membuat rezeki mu sempit. Doa yang mustajab adalah doa seorang ibu untuk anaknya."
"Heh. Aku tidak lahir dari rahimnya!"
"Lionaaaaa!"
Suara amarah menggelegar di dalam ruangan itu. Bahkan bulu-bulu halus Ayra merinding. Beberapa Art berlari ke ruangan itu khawatir terjadi sesuatu. Nyonya lukis mengangkat kepalanya. Ia mencari sumber suara penuh amarah itu.
Ia kenal suara itu, Namun suara yang biasa berteriak seperti itu ketika marah melihat ibunya disakiti kini tak ada dirumah ini. Lantas siapa lelaki yang mengeluarkan suara itu. Nyonya Lukis mengitari pandangannya pada semua ruangan hingga terhenti pada satu sosok lelaki yang ia sayangi.