
Ayra sedikit malu-malu saat ingin menyampaikan sesuatu yang terlupa pada bab Ketika berwudhu.
“Sebelumnya Ayra mohon maaf ma. Tabu tidak tabu tapi ini harus dijelaskan karena ini juga hal yang sering dianggap sepele kita kaum hawa. Sebelum wudhu tidak hanya wajah dan tubuh yang terkena kosmetik yang menghalangi air wudhu itu mensucikan anggota tubuh kita. Tetapi kita harus bebas dari najis. Salah satu yang najis pada pakaian yang dihasilkan tubuh kita yaitu keputihan Ma.”
“Oh.... Jadi harus dibasuh dulu?”
Ayra mengangguk kecil dan sedikit tertarik bibir mungilnya itu. Ada rasa malu ketika ingin menyampaikan perihal ini namun sebuah ilmu ini cukup penting karena menyangkut sah atau tidaknya wudhu dan tentu berkaitan sah tidaknya shalat kita.
“Wah mama sering keputihan Ay.”
“Ada baiknya sebelum wudhu kita bersihkan dulu ma. Dibasuh **** * nya dan juga pakaian dalam kita itu. Kalau memang terkena najis tersebut. Dibasuh dengan air sampai hilang bau, warna, dan rasanya ma.”
“Wah basah dong Ay nanti? Risih dong Mama klo begitu.”
Ayra tersenyum lalu membuka tas kecilnya. Ia mengeluarkan sebungkus kecil benda seperti pembalut namun cukup tipis yaitu panty liner
“Dibasuh aja ma pakaian dalamnya. Nanti kalau sudah di kasih ini biar bagian intim nya kering.”
“Wah.... Ternyata ya Ay begitu ribetnya mau shalat aja. Dulu mama masih sekolah kayaknya wudhu ya wudhu aja Ay. Ternyata kalau dipelajari malah hal sepele saja bisa buat shalat kita tidak sah ya Ay?”
Nyonya lukis geleng-geleng. Ayra tersenyum melihat ibu mertuanya begitu mengerutkan dahinya.
“Insyaallah, Alah bisa karena biasa Ma. Mama pasti bisa demi anak-anak dan keluarga mama.”
Baru Nyonya lukis ingin memasuki ruang kecil yang bertuliskan di atas pintu tersebut Toilet Perempuan.
“Ma.... Tunggu.”
“Ada apa Lagi Ay?”
Ayra mengusap kepalanya nya dan tersipu malu lalu mendekat ke ibu mertuanya itu.
“Hehe.... Ayra bingung cara menyampaikan nya Ma. Kalau kata orang Jawa Saru tapi ini ilmu.”
“Saru itu apa Ay?”
“Seperti tidak sopan ma.”
“Katakan saja Ay. Kamu tahu, kamu membawa agama hadir dalam hidup mama dan papa terasa lebih menyenangkan dan bersahabat tidak menyeramkan apalagi menakutkan. Sehingga hati kami tersentuh. Kamu tahu, papa Bram saja begitu bisa luluh hanya dengan kehadiran kamu. Katakanlah jika itu menyangkut sahnya shalat Mama.”
Ayra menarik Kedua bibir nya hingga gigi putihnya yang rapi itu terlihat jelas.
“Maaf ya ma. Tapi ini pun Ayra dapatkan dari Umi Laila yang mengajarkan untuk kami santriwati. Ketika kita membasuh area sensitif kita. Kita pastikan dicuci bagian dalamnya Ma. Dengan memasukan sedikit jari tengah dan diputar-putarkan sewaktu disiram air bersih.
Juga sela-sela antara bibir dalam dan bibir luar usaha kan di gosok dengan jari sama seperti bagian dalam tadi. Dari atas ke bawah. Sambil disiram air Ma biar kotoran hilang.
Kadang mayoritas kita, hanya menyiram air semata-mata, karena hanya dengan menyiram air saja tidak dapat membersihkan bagian dalam bagian intim wanita secara sempurna."
Ayra mengatakan hal itu cukup dengan wajah yang sedikit merah karena mau tidak mau harus menyampaikan pada ibu mertuanya hal ini.
"Iya ma. Ayra tunggu di luar ya Ma."
"Ya."
Nyonya lukis masuk kedalam toilet beberapa saat. Lalu keluar dari tempat wudhu. Ayra membimbing ibu mertuanya berwudhu. Dimana Ayra meminta posisi keran wudhu bagian kiri nyonya Lukis. Lalu Ayra menjelaskan jika wudhu ada 6 Fardhunya. Pertama Niat, kedua membasuh wajah, ketiga membasuh kedua tangan termasuk kedua siku. Keempat mengusap sebagian rambut kepala. Kelima Membasuh kedua kaki termasuk kedua mata kaki dan telapak kaki. Dan terkahir tertib.
[Sumber: Fiqh Ibadah Praktis dan Mudah Terjemahan dan penjelasan oleh KH. Ust Yahya Wahid Dahlan Al Mutamakkin]
"Harus begini posisi nya ya Ay?"
"Iya ma, Karena ketika akan membersihkan kotoran di hidung, kita dianjurkan menggunakan tangan kiri Ma, maka tangan kiri kita yang berwudhu sudah dekat dengan keran. Begitu pula ketika menyela jari-jari kaki, kita yang berwudhu dianjurkan menggunakan tangan kiri, keran di yang berada di sebelah kiri akan cukup memudahkan tangan kiri menyela jari kaki."
Ayra mengatakan bahwa usahakan ketika membasuh wajah kita mengusap di bagian bawah dagu karena bagian ini kadang di lalaikan oleh kita muslim karena tidak menganggap ini bagian dari wajah.
Ayra menjelaskan yang dimaksudkan membasuh muka adalah batasan muka terbentang antara dua telinga dan memanjang antara tempat tumbuhnya rambut kepala hingga bawah dagu tempat tumbuhnya rambut jenggot. Jika ada botak di kepala, yang ditumbuhi rambut tipis, maka botak itu harus ikut di basuh, karena termasuk dalam kategori muka.
Namun ketika nyonya Lukis membasuh kedua tangan, Ayra mengingatkan dan mengarahkan kepada nyonya Lukis.
"Ma baju nya diangkat sampai lebih dari siku. Lalu posisinya dari jari-jari ke siku. Bukan siku ke jari-jari. Usahakan air mengalir sampai melebihi siku untuk kehati-hatian."
Nyonya Lukis seolah seperti seorang anak sekolah yang sedang belajar praktek wudhu mengikuti arahan dari menantunya. Ia begitu nyaman dengan Ayra hingga ia tak memiliki rasa gengsi apa lagi malu. Terlebih masalah bertubi-tubi datang menghampiri anak-anaknya. Maka ia akan mencoba mengadu kepada sang pemilik segala solusi dari setiap masalah.
Kembali Ayra mengingatkan ibu mertuanya ketika membasuh kakinya.
"Ma, usahakan membasuh kedua kaki sampai dengan kedua mata kaki. Termasuk juga sela-sela jari diusap."
Nyonya Lukis menyelesaikan wudhu nya dengan arahan Ayra. Ayra mengingatkan ibu mertuanya untuk melaksanakan semua fardhunya wudhu tadi yang tidak boleh ditinggalkan dan harus dilakukan secara berurut atau tertib. Jika tidak urut, maka wudhu nya dianggap tidak sah, apalagi sampai melupakan satu dari bagian yang Fardu.
Adapun mencuci telapak tangan, mengusap telinga, berkumur, dan mengulangi tiga kali dalam setiap tindakannya merupakan sunnah wudhu.
Selesai dengan wudhu mereka. Dan membaca doa setelah berwudhu. Akhirnya dengan begitu sabar dan telaten Ayra menjelaskan dan membimbing nyonya Lukis dalam bab Wudhu, mereka bisa melaksanakan shalat Dzuhur walau adzan sudah berkumandang sejak 15 menit yang lalu.
Ternyata di dalam ada sesosok lelaki yang ia kenali. Ayra bisa melihat lelaki dan beberapa perempuan berkerudung yang baru masuk ruang mushola itu.
"Assalamualaikum."
Ayra menyapa salah satu perempuan yang baru masuk tadi. Salah satu dari mereka menoleh.
"Ayra..... Walaikumsalam. Kenapa kamu disini Ay?"
"Ibu dari mertua Ayra dirawat disini Bude."
"Innalilahi..... Semoga cepat sembuh ya."
Ternyata Bu de Nafi dan pak de Romli beserta Santri nya sedang kemari karena ada salah satu santri mereka harus dioperasi. Akhirnya Ayra melakukan shalat berjamaah dengan di pakde Romli yang menjadi imam.
Hati nyonya Lukis yang begitu lelah karena masalah dan cukup lama tak mengadu pada Rabb nya. Seolah ingin memberi tahu pada kedua bola mata yang selalu meneteskan air mata bukan untuk sebuah pengampunan dan bukan untuk sebuah pengaduan melainkan hanya kesedihan akan kepenatan setiap masalah hidup yang ia jalani bahwa kali ini ia mengetuk pintu Rabb nya untuk solusi dari Maslah yang di hadapi sang anak sulung.