
Tak terasa Hampir satu Minggu semenjak Liona sadar. Ia yang merasa selama satu Minggu di tunggu dan dirawat oleh dua orang perawat yang akan bergantian menemani nya. Dari mengelap tubuhnya, menyuapi dan Sampai membantunya membuka diapers.
Sore ini dokter baru saja memeriksa Liona. Selesai memeriksa kondisi Liona, dokter langsung keluar ruangan dan diikuti oleh perempuan yang dari semalam menunggunya. Nyonya Lukis sebenarnya tak membiarkan Liona seorang diri selama satu Minggu ini.
Dokter mengatakan keadaan Liona berangsur membaik. Beberapa hari kedepan bisa melakukan rawat jalan.
Ia bergantian dengan Ayra menunggu Liona. Saat Liona menekan tombol panggilan pada perawat maka saat itulah perawat akan datang. pagi ini Nyonya Lukis yang baru saja melihat kondisi Beni di ruang ICU dan akan kembali keruangan Liona. Ia ingin menyuapi Liona. Ya, tanpa sepengetahuan Liona. Selama ini yang akan menyuapi nya Nyonya Lukis atau Ayra.
Ketika Setiap sore Ayra akan bergantian dengan ibu mertuanya. Nyonya Lukis akan kembali malam saat, untuk menginap dirumah sakit. Ayra yang baru tiba cepat membuka pintu sangat pelan. Ketika telah berada diruangan itu Nyonya Lukis memberikan isyarat pada Ayra jika Liona belum di lap tubuhnya.Serta belum makan.
Bak orang-orang pantomim menantu dan ibu mertua itu berkomunikasi. Saat satu perawat yang sudah terbiasa dengan adegan itu pun masuk membawa baskom dan handuk untuk menyeka tubuh Liona. Ayra mencium punggung tangan Nyonya Lukis yang telah ditunggu oleh pak Erlangga di depan ruangan Liona.
Ayra mengunci pintu kamar Liona dan membantu perawat tadi dengan membuka baju Liona. Perawat yang bertubuh sedikit besar berbicara kepada Liona. Ayra hanya diam. Ia hanya ingat percakapan nya dengan Nyonya Lukis saat mereka memutuskan tetap menunggu Liona walau tanpa sepengetahuan Liona.
"Bagaimanpun dia masih istri Beni. Dan lagi, kondisinya mendapatkan musibah. Kita tak mungkin membiarkan Liona betul-betul sendiri tanpa sanak saudara."
"Betul ma. Tak sepantasnya kita membalas perbuatan buruk pada kita dengan hal yang sama. Maka apa bedanya kita dengan mereka yang berbuat buruk pada diri kita."
Ia mengambil handuk hangat untuk menyeka Bagain tubuh Liona. Ia membuka diaper yang telah penuh. perawat tadi pun berbicara dengan Liona.
"Maaf ya Bu, saya angkat sebentar. Kita ganti diapersnya."
Tak ada jawaban Liona beberapa hari ini betul-betul merasa kesepian. Ia juga meratapi nasibnya, Tak ada sanak saudara bahkan orang tua yang perduli dengan dirinya. Ia pun ingat perlakuannya pada orang tuanya ketika ia dipuncak karier. Ia merasa kesusksesan yang ia raih adalah dari hasil usahanya sendiri, hingga saat ibunya mengatakan pada media bahwa ia ibunya. Ia tak mengakui, ia sangat membenci ayah dan ibunya.
Saat selesai dengan membersihkan tubuh Liona dan menyisir rambut Liona. Ayra menyuapi adik iparnya dengan pelan. Ia tunggu dengan sabar, suap demi suap ia berikan. Bahkan ia akan mengelap dengan tisu atau ujung jarinya saat ada sisa makanan yang tertinggal di ujung bibir Liona.
Perawat yang tadi membantu masih duduk disebelah Ayra.
"Sungguh orang-orang baik hati. Bahkan ia dicaci didepan nya pun tetap saja berlaku baik. Kalau aku jadi keluarga ini. Sudah ku biarkan dia sendiri!"
Perawat itu kagum pada keluarga Nyonya Lukis. Karena hampir beberapa hari ini, ia harus tetap diruangan hanya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Liona. Sedang semua hampir dikerjakan Nyonya Lukis atau Ayra saat mereka berada disana.
Ayra hanya membuang napas pelan saat selesai makan dan perawat permisi keluar pada Liona. Liona hanya menyumpah serapah pada Nyonya Lukis dan Beni.
"Saya permisi dulu Bu. Silahkan panggil kami jika ibu butuh sesuatu."
Ketika suara pintu ditutup, Liona memiringkan tubuhnya. Ayra duduk disofa. Ia yang telah merubah nada silent pada ponselnya. Ia sedang mengecek email untuk pengajuan thesisnya, Ayra yang sudah hapal akan kebiasaan iparnya itu hanya bisa menatap Liona sendu.
"Ah. Sial kamu Beni. Semua ini gara-gara kamu! mari saja kamu!"
"Keluarga Pradipta itu brengsek semua. Mereka sok suci sok baik. Seperti saat ini mereka bahkan meninggalkan aku seorang diri. Tapi tunggu kenapa kemarin Deni asisten ku tak seperti burung beo. Seperti ada yang ingin dia katakan. Ah. Aku tak punya ponsel untuk menghubungi dia."
Nyonya Lukis mendekati Ayra dan menyentuh pundak Ayra. Saat Ayra membuka kedua matanya. Ibu mertuanya cepat memberikan kode untuk diam dengan satu jari yang ia letakkan di depan kedua bibir. Ayra membangunkan Bram. Saat suaminya bangun dan akan merentangkan kedua tangannya untuk melakukan stretching, Ayra cepat menutup mulut suaminya.
"Eemmmhh...."
Kedua pasang suami istri itu menahan tawa. Mereka khawatir Liona bangun dan menyadari keberadaan mereka. Ayra dan Bram pulang bergantian dengan Nyonya Lukis dan Pak Erlangga. Karena merekalah yang akan menginap di rumah sakit untuk menemani Liona.
Pagi pun tiba, saat pak Erlangga akan pulang dan Nyonya Lukis telah siap untuk menyeka tubuh Liona. Pak Erlangga kembali keruang Liona. Ia menunjukkan layar ponselnya sebuah pesan. Matanya terbelalak. Ia menutup kedua bibirnya dengan satu tangan. Dan satu anggukan ia berikan pada suaminya. Ia cepat pergi meninggalkan Liona seorang diri.
Ketika tiba di depan ruangan Liona. Nyonya Lukis berpesan kepada perawat tersebut jika ia tak bisa membantu membersihkan tubuh Liona. Ia juga minta tolong pada perawat itu untuk menyuapi Liona. Perawat itu pun mengangguk tanda mengerti.
Saat perawat tadi membuka pakaian dan diapersnya Liona merasa ada yang aneh.
"Kamu seorang diri?"
"Ya Bu."
"Kemana teman mu?"
"Dia tidak masuk hari ini Bu."
"Owh...."
"Ah perawat yang ini tak selembut perawat satu itu. Dia sedikit kasar melakukan apapun. Seperti terburu-buru."
Liona merasa tak nyaman karena perawat itu yang terbiasa mengerjakan cepat sesuatu membuat Liona yang biasa diperlakukan lemah lembut oleh Nyonya Lukis dan Ayra merasa berbeda.
Terlebih saat menyuapi. Suapan yang diberikan begitu besar-besar. Dan tak ada tisu atau belaian lembut diujung bibirnya ketika ada rasa lengket atau basah karena kuah dari menu makanan yang masuk kedalam mulutnya.
"Kamu tidak bisa pelan-pelan seperti teman mu? kamu ini dibayar! kerja yang becus!"
"Iya justru saya dibayar. Saya tidak bisa seperti dua orang yang selalu anda hina setiap hari masih memperlakukan Anda dengan sangat manusiawi."
Seketika perawat itu mulai jengah maka ia letakkan sendok nya di atas piring. Gosip yang menyebar dirumah sakit begitu cepat dikalangan perawat tentang menantu yang beruntung. Saat tertimpa musibah, masih benci pada mertua tetapi mertua dan iparnya masih secara diam-diam selalu hadir buat dia tanpa ia sadari.
"Apa maksud anda?!"
"Orang yang selama ini anda anggap perawat Adalah mertua dan ipar anda! mereka bergantian menjaga dan merawat anda!"
Deg.