Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
229 Ciplukan


Hingga pukul 22.35 WIB, Ayra masih belum bisa terpejam. Bram merasakan Kegelisahan Istrinya yang dari tadi ia peluk. Ia mengusap lengan Ayra.


"Ada apa Ay?"


"Ayra rasanya belum bisa tidur mas."


"Perutnya sakit? Atau pinggangnya?"


"Ayra rindu Umi mas...."


"Kamu ingin ke Kali Bening?"


"Boleh?"


"Em..... Bagaiamana kalau besok."


"Tapi anak-anak sekolah. Mereka pasti ingin ikut jika tahu Ayra ke sana."


"Kita akan berempat ke sana. Bagaimana menginap dulu satu malam disana. Pagi kita berangkat. Besok tidak ada pekerjaan penting di kantor."


Ayra melerai pelukannya.


"Tapi anak-anak?"


"Anak-anak biar libur dulu Ay."


"Ya Ndak begitu mas. Nanti kebiasaan mereka."


"Kamu sudah baikan?"


Bram menempelkan mulutnya pada rambut panjang nan wangi istrinya.


"Mas lihat sendiri Ayra tidak terlalu pucat lagi sore ini."


"Baiklah. Pagi tadi mas ke sekolah Ammar dan Qiya. Mas memutuskan untuk memindahkan anak-anak kita ke sekolah baru. Dan untuk sekolah yang baru. Mas serahkan kamu untuk memilih. Mas sudah minta brosur beberapa sekolah yang mungkin kamu suka."


"Apa? kenapa mas tidak bicara dulu dengan anak-anak dan Ayra mas?"


"Sekolah itu mengeluarkan Ammar. Maka mas tak mungkin membiarkan Qiya tetap disana Ay."


Ayra menghela napas. Ia tahu bagaimana pertama ia kurang suka dengan sekolah yang dipilih Bram. Namun suaminya yang begitu bersikukuh membuat Ayra hanya bisa mengamininya tapi terus memantau pergaulan anak-anaknya. Karena melihat hampir rata-rata anak yang sekolah di sana adalah orang beruang dan terlihat betul kesan kasta Piramida sosial. Bahkan grub medsos pun seolah jadi ajang pamer harta dan jabatan bagi wali murid daripada sharing perkembangan anak-anak.


Namun ia tak ingin menyalahkan suaminya. Karena Ayra tahu jika Bram hanya ingin yang terbaik untuk anak-anak mereka dengan sudut pandangnya.


"Baiklah. Besok kita pilih sekolah baru untuk mereka."


Bram pun bersyukur karena istrinya bisa dewasa, sabar dalam menghadapi setiap masalah dalam rumah tangganya. Ia hampir tak pernah memikirkan masalah rumah tangganya. Karena sang istri yang pandai. Pandai merawat cinta, pandai membahagiakan dirinya, pandai merawat anak, pandai mengelola perasaan. Sehingga rumah adalah tempat yang paling dirindukan oleh Bram.


Bram curiga akan keinginan istrinya yang tiba-tiba ingin ke Kali Bening.


Ayra tersipu malu. Ia melingkarkan satu tangannya di perut Bram.


"Ayra dari pagi kepingin makan buah ciplukan mas."


"What? buah cip-lu-kan? Buah apa Ay? kenapa tidak bilang? kan bisa minta bibi beli."


Ayra tertawa. Ia sudah menduga suaminya ini yang besar dan lahir di Kalimantan ini tak tahu buah ciplukan. Atau mungkin di Kalimantan buah itu bernama lain. Ayra yang semasa kecil sering sekali bermain di sawah atau di kebun. Maka tidak aneh jika ia sangat suka makan buah ciplukan yang biasa tumbuh liar di kebun atau di pinggir Siring sawah.


Sejak pagi setelah suaminya dan anaknya berangkat. Ayra tiba-tiba ingin makan Buah ciplukan. Itu dikarenakan ia melihat status medsos Yeni yang mengingat kenangan mereka ketika mencari buah ciplukan disaat santri yang lain mendapatkan kunjungan. Yeni yang memposting di status medsos nya buah itu terlihat di dalam piring. Dan diberi keterangan 'Kangen makan buah ini sama Drum Bodol'. Sehingga hormon ibu hamilnya membuat lidahnya sangat ingin makan buah kenangan masa kecilnya.


Saat pagi tiba, kedua buah hati mereka sangat bahagia mendengar kabar jika mereka akan bermalam di Kali Bening. Mereka akan merasa seperti anak ayam lepas dari kandangnya. Karena disana mereka akan puas bermain di kediaman Kyai Rohim. Suasana yang masih terdapat sawah di belakang rumah membuat Anak Ayra itu akan sibuk ke belakang rumah sang kakek untuk menangkap belalang atau memancing di kolam sang kakek. Terlebih jika musim panen tiba.


Intan pun Diminta untuk tak ikut. Ayra ingin memberikan waktu Baby sitter Ammar dan Qiya untuk istirahat. Ia tak ingin memberhentikan Intan. Ia juga sadar jika kedepan ia tetap membutuhkan Intan untuk membantu merawat buah hatinya. Ia terlanjur nyaman dengan Intan.


Saat telah berada di mobil. Ayra yang menoleh ke belakang. Ia tersenyum pada Ammar dan Qiya.


"Kenapa tidak bilang sama Mama kalau kemarin ke kantor Papa?"


"Mama tanya sama Papa. Karena kami sudah minta untuk bilang sama Mama dulu."


Qiya menatap Bram dengan menyipitkan kedua matanya. Bram yang mengemudi pura-pura tak mendengar. Sedangkan Ammar cepat menjawab.


"Papa bilang kalau mama tak bertanya. Maka tak usah bercerita. Jadi itu bukan bohong namanya kan Ma?"


"Oh.... Jadi dua anak Mama ini sekarang sudah pintar berkerjasama dengan Papa ya."


"Ay... kamu kemarin masih pucat. Aku takut kenapa-kenapa kandungan dan kondisi kamu."


Ayra menoleh kembali ke arah Ammar dan Qiya.


"Nanti Papa dan Mama cari dulu sekolah yang baru ya. Mudah-mudahan bisa menjadi tempat belajar yang nyaman sebelum kalian nanti mondok."


Namun sepasang anak Ayra itu pun kompak menjawab.


"Tidak Mama. Aku tidak Mau mondok!"


Bram melirik ke arah kaca spion yang terletak di atas kemudi. Sedangkan Ayra hanya tersenyum. Ia paham jika memang anak-anak tidak akan yang mau mondok. Maka satu kebahagian bagi orang tua jika ada anaknya dengan senang hati tanpa paksaan untuk mondok.


"Baiklah. Kalian tidak akan mondok selagi kalian belum siap."


Jawaban itu sebenarnya Ayra berikan guna memenangkan anak-anaknya. Ia bukan tipe orang tua atau ibu yang memaksakan kehendaknya. Ayra dan Bram telah berkomitmen jika nanti Ammar dan Qiya tetap akan mereka pondokan.


Ayra dan Bram bukan tipe yang menekan anak-anaknya. Mereka tahu jika Ammar yang tulisannya tak terlalu bagus, tak membuat Ayra memaksa anaknya itu untuk bagus tulisannya dengan cara menekan anaknya atau bahkan membandingkan anaknya dengan saudaranya atau dengan temannya justru hanya akan melukai hati Ammar. Ketika seorang ibu membandingkan dirinya dengan anak orang lain maka secara tidak sadar seorang ibu sedang membuat anak beranggapan jika ibunya lebih sayang anak orang lain karena membanggakan anak orang lain.


Ayra sadar, Ammar yang tulisannya tak sebagus Qiya. Tetapi anak lelakinya itu sangat cepat jika bertemu soal hitung-hitungan. Sedangkan Qiya, ia sangat suka menulis, bermain musik dan membaca. Sehingga untuk urusan hitungan anak bungsu Ayra itu tak terlalu pintar. Bagi Ayra pada zaman sekarang anak-anak sudah sangat tertekan.


to be continued