
Suara bentakan Munir terdengar ke telinga Nuaima. Nuaima yang belum hilang kaget karena tiba-tiba ditarik kedalam pelukan Pak Bagas kembali merasa kaget suara suaminya terdengar sangat dekat.
Seketika ia mendorong Pak Bagas. Ia berbalik. Hingga netranya memotret sosok suaminya kini hanya berdiri beberapa meter darinya. Seketika suasana terminal yang ramai menjadi terasa sepi dalam pandangan Nuaima. Ia tak mampu berpikir, karena raut wajah suaminya bisa menjelaskan seberapa marah ia pada Nuaima.
"Mas... Dengarkan-"
"Diam Kamu! Jadi ini kelakuan kamu!"
Munir berbalik dan berjalan meninggalkan Nuaima. Ibu Ayra itu cepat mengejar suaminya. Bahkan tas yang masih berada dalam genggaman Pak Bagas pun tak ia perdulikan.
"Mas, tunggu mas.... "
Nuaima yang berlari sambil menggendong Ayra harus berkali-kali membenarkan posisi kain gendongan yang ada pada punggungnya ia mengencangkan kain itu dan satu tangan ia letakkan di belakang punggung Ayra.
Terlihat kepala Ayra ikut bergoyang seiring langkah Nuaima yang makin cepat mengejar suaminya. Saat Munir akan memasuki mobilnya. Nuaima cepat menahan pintu mobil itu.
"Bisakah kamu satu kali saja tak berpikiran negatif pada ku mas? Hhhhh.... Hhhh....,"
Suara Nuaima terengah-engah. Berharap sang suami mengerti dan mau menurunkan emosinya. Namun ternyata kembali perlakuan tak menyenangkan kembali terjadi.
"Kamu!"
Satu tangan Munir telah terangkat dan ingin mendarat di pipi Nuaima namun tangan itu ditahan oleh seseorang yang ternyata adalah Pak Bagas.
"Jangan sakiti dia. Kalau anda berani sama saya!"
Suara pria berkacamata itu membentak Munir. Munir pun menatap tajam Pak Bagas.
"Jangan ikut campur urusan rumah tangga saya! mau saya apakan dia. Dia istri saya!"
"Saya mencintai Aima Maka-"
"Plaaaak!."
Tamparan keras mendarat di pipi tampan Pak Bagas.
"Sekarang saya tahu kenapa suami saya menjadi sangat cemburu pada saya! Anda mau tahu alasan saya berhenti bekerja? Karena saya mencintai suami saya! Saya sedang mempertahankan harga dirinya. Dimana ia tak rela istrinya dipandang oleh orang-orang seperti anda!
Maka jika anda bertanya apa alasannya. Rasa cinta saya untuk suami saya adalah alasan saya berhenti bekerja! Karena sikap anda membuat saya lebih memilih suami saya yang ternyata benar dengan rasa cemburunya!"
"Aima...."
Suara Pak Bagas tak percaya jika Nuaima Al-Fiyah yang hampir tak pernah berbuat kasar pada siapapun, hari ini menampar pipinya.
"Satu lagi. Tolong mulai sekarang jangan pernah ganggu hidup saya! Saya sudah mengundurkan diri dari perusahaan anda. Tolong jangan ganggu keluarga saya. Saya tidak ingin suami saya merasa tidak nyaman, tidak bahagia hanya karena sikap anda pada saya! Sampai kapanpun hanya ada suami saya dihati saya. Dia sempurna' di mata saya.
Anda tahu, kami para istri tidak hanya butuh dzohirnya suami kami. Tak hanya butuh materi atau nafkah lahir dan bathin dari suami kami. Tapi kami butuh keridhoan nya agar bisa mendapatkan surga melalui dengan ketaatan kami pada suami kami. Sepanjang suami kami tak minta kami berbuat maksiat!"
Sesuatu yang Nuaima coba selama di Kali Bening, ia mencoba mengingat semua kebaikan suaminya. Kebaikan dan perjuangan suaminya selama mengarungi bahtera rumah tangga bersamanya. Jika selama ini ia mencoba melihat sisi kekurangan sang suami. Maka setelah mendengar nasihat Umi Laila. Ia hanya mengingat bagaimana suaminya berjuang bersamanya.
Bagaimana ketika ia menginginkan mie tumis di tengah malam. Bagaimana ketika dia akan melahirkan Ayra, sang suami begitu setia mengusap pinggangnya dari jam 10 malam hingga Fajar tiba. Belum lagi selama kurang lebih 40 hari. Munir begitu lembut memperlakukan nya setelah melahirkan. Ia tak akan membangunkan Nuaima jika Ayra tak waktunya minum ASI. Jika diapersnya penuh. Munir yang lebih dulu menggantinya tanpa membangunkan Nuaima yang tidur nyenyak.
Belum lagi bagaimana suaminya itu akan membantu pekerjaan rumah ketika berada dirumah. Satu kolaborasi yang Munir berikan dalam biduk Rumah tangganya bukan hanya cinta. Bukan tentang hak dan kewajiban saja. Saat ada kemeja yang kancingnya hilang pun ia tak manja meminta sang istri menjahit. Ia akan menjahit sendiri baju itu, Bahkan saat Ayra baru berusia 1 Minggu, Munir membeli kebutuhan pokok ke pasar sendiri karena ibu mertuanya sudah tak bisa menemani mereka.
Maka semua memori itu membuat Nuaima kembali merasakan hangatnya rongga hati akan sosok suaminya. Ditambah lagi saat ini ia melihat sendiri perlakuan Pak Bagas padanya. Maka keputusan nya resign dari tempat bekerja adalah keputusan yang tepat. Ia tak menyalahkan Munir. Ternyata Munir benar walau Caranya yang salah dan terlalu berlebih-lebihan. Mungkin karena cinta Munir pada Nuaima.
Rongga dada Munir pun menghangat. Ia merasa bersalah ketika air mata membasahi pipi Nuaima. Ia bersalah karena ia menuduh jika istrinya ada main dengan Pak Bagas. Karena satu bulan belakangan ini Nuaima sering terlihat murung, bahkan tak bergairah saat bersamanya. Ia berpikiran Nuaima ada hati pada pak Bagas. Ia yang berkulit sawo matang, dan tak terlalu memiliki wajah tampan seperti Pak Bagas merasa rendah diri dan khawatir istri berpaling darinya.
Ia sebagai lelaki bisa menilai bahwa Pak Bagas yang berkulit putih dan wajahnya yang tampan, belum lagi tubuh yang tinggi tegap membuat lelaki saja iri padanya, apalagi perempuan. Rasa rendah diri, cinta yang berlebihan membuat kecemburuan nya menyakiti Nuaima. Ia tak pernah melihat Nuaima berbicara dengan mengangkat telunjuknya Seperti tadi. Bahkan Sampai menampar seseorang.
Ada penegasan dari tatap mata Nuaima, nada bicaranya dan tindakannya. Bahwa ia merasa tersakiti.
"Kak Laila betul. Kamu korban disini Ai. Maafkan Mas."
Munir menarik Nuaima kedalam pelukannya. Ia yang tak tahan melihat istrinya menangis tersedu-sedu sambil berkali-kali mengecup dahi Ayra. Karena kontak batin ibu dan anak. Seolah Ayra pun tahu bahwa ibunya sedang dalam keadaan tak baik-baik saja, hingga putri Munir itu menangis dalam gendongan ibunya.
"Maaf kan mas Ai. Maafkan mas....."
Satu rasa yang satu bulan ini hilang dari dalam hati Nuaima. Rasa tenang berada didalam pelukan suaminya. Rasa bahagia disentuh oleh suaminya. Rasa itu kembali, rasa itu menyusuri rongga-rongga hatinya. Ia makin menangis tersedu-sedu dalam pelukan Munir. Belaian lembut pada kepala Nuaima walau terhalang kerudung mampu membuat hati Nuaima merasa tenang dan bahagia.
"Aku rindu rasa ini mas. Aku rindu rasa ini. Terimakasih Rabb Engkau kembalikan rasa yang hampir hilang di hatiku. Jangan pergi lagi wahai rasa cinta. Rasa sayang. Kamu hanya untuk mas Munir tidak untuk yang lain. Maka aku tak akan membiarkan setan menguasai hati ku untuk menghilangkan rasa ini mas. Aku akan berjuang untuk cinta kita."
"Anda dengar sendiri? Istri saya tidak ada rasa pada anda! Maka saya mohon pada anda Pak Bagas. Berhentilah memandang sesuatu yang haram anda pandangi. Berhenti berpikiran untuk memiliki Nuaima. Ia istri ku, Sekali lagi anda mendekati istri ku aku akan berbicara pada istri anda agar dia tahu bagaimana kelakuan suaminya diluar rumah!"
Munir yang mengetahui bahwa semua kekayaan yah sekarang dinikmati Pak Bagas adalah harta warisan dari mertuanya. Maka Ia mengingatkan Pak Bagas akan tindakannya yang terus memandangi Nuaima dan bahkan hari ini, lelaki yang memiliki tiga anak itu menyentuh Istrinya.
Tiba-tiba seseorang menahan tangan Pak Bagas ketika lelaki itu ingin menarik kemeja Munir.