Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
66 Ayra dan Suaranya


[Kalian bisa buka profil author dan pilih backsound Pesona Ayra Khairunnisa dan pilih judul Mughrom.]


Ternyata Rafi yang ingin bertemu dengan Ayra. Rafi membawa beberapa paper bag. Ia menyerahkan paper bag itu pada Ayra.


“Ini saya diminta oleh Tuan Bram memberikan ponsel dan juga kartu kredit pada ibu.”


“Baiklah, Terima kasih.”


Ayra meminta Rafi memindahkan kartu yang ada di ponsel lamanya ke ponsel baru yang dibelikan Rafi. Tampak ponsel itu sangat mirip dengan ponsel suaminya.


“Sudah Bu. Nanti saya kabarkan untuk perkembangan kasus Tuan Bram Bu.”


Ayra berterima kasih pada Rafi. Setelah kepergian Rafi. Ayra menuju ke kamarnya. Tubuhnya sangat letih, ia memilih mengingat kembali hapalannya di kamar.


Sesampai nya di kamar bertepatan ponsel nya berbunyi. Satu nama tertera pada layar ponsel keluaran terbaru di tahun itu.


“Umi.”


Ayra cepat mengangkat telpon dari Umi Laila. Ia mengucapkan salam dan terdengar suara lembut dari seberang sana.


“Baik nduk. Kamu sendiri bagaimana?”


“Alhamdulilah Ayra sehat Umi.”


“Ay ini umi sebenarnya ingin bisa telekonferensi vya video sama kamu.”


“Umi. Ayra ingin.... “


“Umi dikelas nduk.”


Umi Laila seolah paham jika Ayra ada yang ingin disampaikan. Namun karena di kelas maka Umi Laila cepat memotong kalimat Ayra.


“Biar Ayra Telpon Umi. Alhamdulilah, Mas Bram membelikan Ayra ponsel Umi.”


Ayra selama ini menggunakan laptop dan komputer yang ada di pondok untuk urusan kuliahnya. Untuk urusan pesan dalam bentuk aplikasi ia menggunakan ponsel Umi Laila. Sebenarnya Ayra pernah dibelikan ponsel oleh Umi Laila tetapi karena banyak nya kaum Adam dari tempat kuliah nya mengagumi dan sering menghubungi lewat ponsel canggih itu.


Hingga stress nya Ayra sempat merasa sedih karena hapalan Al Qur’an nya menjadi terganggu dan tidak fokus. Akhirnya Ayra hanya menggunakan ponsel jadul agar hanya digunakan untuk menelpon. Sedangkan tugas kuliah nya ia kerjakan lewat laptop atau komputer yang ada di pondok.


Ayra telah tersambung pada umi Laila pada panggilan video.


“Assalamualaikum Umi.”


“Waalaikumsalam. Kamu kurang sehat nduk?”


“Semalam Ayra menginap dirumah sakit umi. Mas Bram dirawat satu malam disana karena dipukul oleh teman satu selnya.”


“Innalilahi... semoga Bram sabar dan lekas sembuh ya Ra,”


“Alhamdulilah Umi. Selalu ada hikmah di setiap musibah.”


“Kebahagiaan apa yang kamu dapatkan Nduk hingga senyum mu begitu mekar dikala musibah menimpa rumah tangga mu?”


“Umi.... Alhamdulilah Mas... “


“Ra, Umi lagi dikelas. Ini adik-adik mu ingin besok ketika acara pondok dua Minggu lagi. Mereka ingin membawakan shalaw*t Mughrom tetapi untuk cengkok yang tinggi mereka ingin kamu yang melantunkannya Ay.”


“Ayra izin mas Bram dulu Umi. Tapi Ayra mau latihan sebentar sama adik-adik. Ayra rindu suasana pondok Umi.”


Umi Laila menghubungkan panggilan itu pada layar infokus hingga wajah Ayra terlihat jelas oleh beberapa santriwati. Ayra menyapa adik-adik santri dimana biasa nya setiap malam Kamis adalah rutinitas mereka akan membaca shalaw*t bersama.


“Ya sudah kita latihan dulu sebentar. Alhamdulilah Allah kasih kita nikmat kecanggihan teknologi. Ini adalah salah satu kita bersyukur dengan nikmat yang Allah berikan. Kita memanfaatkan setiap kemudahan yang Allah berikan untuk kita belajar dan mendekat pada Nya bukan malah untuk bermaksiat.


Hingga kita bisa belajar bersama dari tempat yang berbeda, dan jarak yang memisahkan. Alhamdulilah atas setiap nik mat dan kemudahan yang kita rasakan dan dapatkan ini. Ayo bareng-bareng seperti terakhir kita latihan ya.”


“Ayo siap-siap.”


Ayra melantun sebuah shalawat yang berjudul Mughrom. Tak terasa air mata Ayra hampir keluar dari sudut kedua matanya.


Bik Asih yang tak sengaja melihat dan mendengar suara Ayra pun ikut merinding. Setelah Ayra selesai ia menyudahi panggilan Video telekonferensi itu. Dan ia baru sadar jika bik Asih duduk di belakangnya sedang mengamati dirinya sedari tadi dengan sebuah nampan dan air mineral di atasnya.


“Maaf non. Bibik pikir non lagi ngaji. Suaranya enak di dengar jadi pas bibik ketuk-ketuk ga ada jawaban bibik masuk eh malah ke enakan dengar suara Non Ayra.”


“Bibik. Ngagetin saja.”


“Bibi mau antar ini. Non Ayra tadi mengaji?"


Ayra mendekati Bik Asih.


"Terimakasih Bik."


"Non, den Bram Ndak apa-apa toh?"


"Iya ga apa-apa Bik."


"Yang sabar ya Non. Semoga Non Ayra sehat terus"


Ayra tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Aamiin. Terimakasih doanya Bik."


Saat Bik asih berpamitan keluar kamar. Ayra melihat ponsel yang diberikan oleh Rafi serta sebuah kartu berbentuk seperti ATM yang ia baru miliki.


"Butuh penyesuaian dengan dunia mu Mas."


Ia menyimpan benda-benda tersebut di meja tepat sebelah tempat tidur. Ia kembali melanjutkan hapalannya. Satu hari ini ia tak sempat mengulang kembali hapalannya.