
Sesuai dengan janji Bram pada Ayra. Malam Kamis itu mereka lalui hanya mengobrol dan mengabiskan waktu berdua di vila itu. Bahkan Ayra yang jarang ke pantai dan menikmati angin pantai di malam hari pun meminta pada sang suami untuk diajak berjalan ditepi pantai. Saat menyusuri tepi pantai Ayra yang berkali-kali mengusap lengannya karena terpaan angin malam membuat Bram segera duduk berjongkok dihadapan sang istri.
"Ayo naik. Biar ga dingin Ay. Kan sudah aku bilang dingin Ay."
Ayra yang melihat sang suami telah siap untuk menggendong nya pun hanya tertawa kecil. Akhirnya ia yang ingin menyenangkan sang suami dengan patuh menjatuhkan tubuhnya pada punggung Bram.
"Beruntung kamu tak sebesar dulu Ay. Kalau tidak, maka mas tak bisa menjadi super Hero mu sekedar untuk menggendong mu Ay."
"Hehehe.... "
Ayra merangkul kan kedua tangannya pada pundak dan leher Bram pun tertawa kecil karena ia ingat cerita suaminya tadi sore jika ia bahkan merutuki dirinya yang bertubuh Drum. Dan sekarang perempuan yang ia bergidik karena postur tubuhnya pun malah menjadi istrinya.
Karena mereka memilih sebuah pulau yang hanya ada beberapa villa, maka pantai itu hanya ada mereka berdua. Tak ada orang lain. Hanya deru ombak dan angin malam yang menemani sepasang suami istri itu yang sedang kasmaran.
Ayra menempelkan dagunya pada pundak Bram. Bram beberapa kali membernarkan posisi tangannya. Gamis yang Ayra kenakan sedikit menyulitkan Bram menggendong Ayra.
"Ay. Mas sudah membaca buku yang kamu berikan ketika mas di sel. Memang betul Ay bisa buta hanya melihat kampas rem istri?"
"Mas... Ih... Kok bahas begituan sih."
Seketika wajah Ayra merona walau sang suami tak melihat. Tapi Bram dapat merasakan jika sang istri sedang salah tingkah karena pertanyaan nya yang terkesan fulgar. Jantung Ayra yang tiba-tiba berdegup kencang.
"Ay.... Aku bisa merasakan detak jantung mu yang berdebar-debar. Kenapa harus malu, atau aku bertanya pada kakak mu si Furqon saja?"
"Mas.... Ini Suka sekali menggoda. Konteks Buta disana bukan matanya mas. Suami diperbolehkan melihat semua sudut tubuh istrinya selain far ji atau kampas rem.Itu baik pada bagian luar atau dalam. Dan Melihat kampas rem bagian dalam hukumnya sangat dimakruhkan. Buta disini maksudnya adalah kebutaan hati, bukan kebutaan mata mas."
"Berarti tidak boleh oral se ks dengan kampas rem Ay?"
"Maaaass...."
"Apa Ayra sayang.... "
"Kenapa bahas ini sih."
"Terus aku bahas sama siapa dong. sama Furqon? atau sama Abi?"
Ayra mengusapkan hidungnya pada leher sang suami.
"Geli Ay. Sabarlah tak Sampai 24 jam lagi."
"Kayak ga ada pembasahan lain aja sih mas."
"Lah daripada besok masih mendaki tiba-tiba nanya. Ntar hambar Ay."
"Hehe... Modus. Emang harus pakai mulut?"
"Lah kan Nanya Ay... "
"Nanya atau jebakan lagi?"
Ayra sedikit menggigit kuping Bram dengan kedua bibirnya.
"Ayra.... Jangan nakal!"
"Hehehe... Abang tak kuat kah?"
"Siapa bilang Abang kuat kok neng."
Bram seketika berlari sambil menggendong sang istri. Cukup beberapa lama mereka tertawa bersama sambil Bram masih berlari dan tetap menggendong istrinya. Hingga ia mendudukkan Ayra pada Gasebo yang terdapat disebelah villa mereka.
Napas Bram tersengal-sengal. Ayra melihat butiran keringat pada dahi dan pelipis sang suami cepat mengelap lembut dengan jari-jarinya. Lalu Ayra memberikan botol mineral kepada suaminya. Bram minum beberapa tegukan. Kemudian Ayra mengambil dan meminum dari botol yang sama.
Kedua alis Bram ia naik turunkan, berniat menggoda sang istri. Ayra yang malu membuang pandangannya ke arah pantai yang terbentang di hadapan mereka.
"Kalau berdasarkan yang Ayra pelajari boleh. Tetapi ada sebagian ulama tidak memperbolehkan nya. Karena Madzi itu diciptakan Bukan untuk menjadi pelumas mulut Mas. Melainkan pelumas Kampas rem. Itu satu alasan sebagian ulama yang tidak memperbolehkan oral se/ks karena hampir pasti akan ada pelumas yang masuk ke mulut.
Oral se/ks terhadap kampas rem seorang istri diperbolehkan namun tidak boleh mengabaikan hukum bahwa madzi atau cairan yang masuk ke mulut hukumnya adalah termasuk najis yang tidak diampuni."
Ayra masih menatap ombak yang makin kencang menerjang bibir pantai. Begitu pun angin malam makin menusuk tulang rawan Ayra. Ia berkali-kali mengusap lengannya. Bram mengambil kain pantai Bali yang berada diatas meja Gazebo. Ia tutupi tubuh istrinya dengan selimut kain pantai Bali itu.
Bram duduk disebelah istrinya. Ia memeluk sang istri sambil menatap ombak yang ada dihadapan mereka. Usapan lembut ia berikan pada lengan Ayra. Ia kembali penasaran dan bertanya tanpa menoleh ke arah istrinya.
"Berarti tidak boleh ditelan Ay jika ada cairan yang masuk ke mulut?"
"Harus segera dikeluarkan kembali mas, tidak boleh ditelan. Setelah itu mulutnya harus disucikan secepatnya dengan mekanisme pembersihan najis sebagaimana pada umumnya yaitu dengan berkumur atau lainnya."
Bram manggut-manggut tanda ia mengerti. Bram yang telah dibekali sang istri ketika berada di dalam sel sebuah buku yang berjudul Wejangan Pengantin Anyar dan Terjemah Fathul Izhar oleh Firman Arifandi.
Maka sedikit banyak, ia telah menyiapkan dirinya untuk memulai rumah tangganya termasuk hal mendaki tentang boleh tidaknya satu kegiatan dilakukan ketika mendaki. Bahkan ia pun telah menghapal tata cara, adab, doa, gaya yang diperbolehkan dalam mendaki.
"Mas... "
"Hem... "
"Ayra hanya ingin mengingatkan.... sebelum mendaki.... "
Bram menoleh kearah sang istri. Ia melihat jika istrinya sedikit tersipu. Ayra kembali membuang pandangannya pada langit yang bertaburan bintang pada malam itu.
"Ada apa Ayra sayang.... "
Ayra menarik napas dalam. Ia mengatur ritme napasnya. Ia merapatkan wajahnya dan satu tangannya ia tutupi kearah telinga Bram. Seolah-olah tak ingin ada yang mendengar padahal disana hanya ada mereka berdua.
"Apa satu kesimpulan nya mas dari membaca buku kemarin ?"
Bram menoleh ke arah Ayra. Ia bisa melihat jelas jika istrinya itu merasa malu.
"Mas ingat.Suami boleh mendaki bersama sang istri lewat jalan mana dan gaya apapun selagi tujuannya kampas rem Bukan Knalpot yang diharamkan. Mas menyayangi kamu. Maka mas tidak ingin jadi suami yang egois.
Jika ada jalan mendaki yang bisa dinikmati bersama tanpa menyakiti atau memiliki dampak negatif kenapa juga harus dengan cara yang merugikan satu pihak. Mas Tak akan meminta Dirimu melakukan nya Ayra sayang."
Kepalanya ia sandarkan pada kepala Ayra.
"Mas.... Suaranya malu nanti didengar orang."
"Tidak ada orang disini Ayra sayang."
"Terus kita?"
"Hehehe.... kita bukan orang tapi manusia."
"Manusia yang sedang dilanda Cinta hehehe.... Ayra mengantuk mas."
"Ayo."
Bram cepat membopong istrinya itu. Ia mengangkat tubuh istrinya yang masih berselimut kain pantai Bali itu. Ayra menyandarkan kepalanya pada dada Bram.
Tanpa sepasang suami istri itu tahu jika seseorang dari tadi sedang menahan buang air kecil terpaksa sembunyi dibawah gazebo itu. Ia hanya berpikir keras. Ia tak menyambung dengan obrolan sepasang suami istri itu.
"Apa hubungannya oral se ks dengan kampas rem ya?"
.