
Keluarga diberi waktu untuk bertemu Bram di sebuah ruangan. Ruangan yang diberikan penyekat seperti kaca.
Saat semua nya telah mengunjungi Bram di balik sebuah ruangan yang terhalang oleh kaca. Seolah mereka ingin memberikan waktu kepada sepasang suami istri yang sedang saling mencoba menenangkan hati mereka masing-masing dengan cara mereka masing-masing.
"Biar kita tunggu diluar Ay. Bram barang-barang mu mama berikan kepada Ayra. Dia istri mu maka dia lebih berhak menyimpan nya daripada mama nak."
Nyonya lukis menyerahkan sebuah kantong kresek hitam ke Ayra. Kantong kresek hitam itu berisikan ikat pinggang, handphone, korek api serta rokok, juga dompet. Bram ditahan sebuah polres sementara menunggu pelimpahan berkas kasusnya ke pengadilan Negeri.
Ayra mendekat ke dinding kaca yang memisahkan dirinya dan Bram.
Bram berdiri di antara dinding kaca itu sambil menundukkan kepalanya. Ayra menyentuh kaca yang menunjukkan wajah tampan suaminya. Ia tempelkan jari-jari nya di kaca tersebut.
"Mas Nabi Yusuf pun pernah dipenjara bahkan bukan karena bersalah, tetapi ia tetap bersabar. Nabi Yusuf tetap yakin bahwa maksud Allah tetap baik. Dan kesabarannya menjalani cobaan dan menghadapi dengan penuh keridhoan maka ia diberikan Setelah sabar menanti, Allah akhirnya memberikan kedudukan yang baik untuk Nabi Yusuf. Maka bersabarlah mas."
Bram mengangkat kepalanya.
"Tapi aku bukan Nabi. Aku bukan orang yang pantas buat menjadi pendamping hidup mu."
Bram hanya menatap Ayra penuh tatapan sendu.
"Mas, untuk menjadi seorang istri saleha. Tidak memerlukan suami dengan kriteria tertentu. Karena menjadi saleha sebenarnya bisa dilakukan siapa pun asalkan mau ber mujahadah atau bersungguh-sungguh.
Insyaallah, aku akan menjadikan hanya Allah tempat untuk menyembah dan memohon pertolongan. Dan Jika kemarin kamu bilang apa aku mencintaimu mas. Maka hari ini biarlah ruangan ini menjadi saksi bahwa aku mencintaimu mas. Terlepas dari cara mu memperlakukan aku.
Kamu adalah lelaki pertama yang aku tatap penuh rasa ingin untuk aku miliki.
Lelaki pertama yang aku sentuh selain mahram ku. Lelaki pertama yang mampu membuat shalat sunnah ku terusik. Lelaki yang pertama wajahnya aku kagumi. Aroma tubuhnya yang aku hirup dan memberi kenyamanan rongga-rongga hati ku yang tak pernah mengenal apa itu cinta pada lawan jenis."
Kini kedua tangan Ayra telah menempel pada dinding transparan itu. Isak tangisnya kembali pecah. Linangan air mata membanjiri pipinya hingga membasahi jilbab yang menjuntai hingga menutupi dada nya.
"Dan kamu lelaki yang ingin aku jadikan teman ku menua bersama menggapai suatu hubungan pernikahan sakinah mawadah warahmah. Jangan minta aku pergi dari mu mas..... Hiks.
Aku akan menunggu mu berapa lama pun kamu disini. Aku tidak ingin lelaki lain mas. Aku ingin kamu menjadi yang pertama dan terkahir dalam hidup ku."
Usapan lembut Ayra berikan pada dinding transparan yang ada dihadapannya. Bram menatap wajah Ayra yang dipenuhi air mata. Bibir mungil yang pernah ia nikmati namun berakhir tersakiti hati dari pemilik bibir itu. Karena sebuah nama yang Bram ucapkan ketika kenikmatan yang diberikan istrinya namun nama perempuan lain yang ia sebut.
"Apa yang kamu harap dari aku lelaki yang tak paham akan agama. Lelaki yang punya masalalu yang kelam. Lelaki yang menurut agama penuh dosa."
Bram menelisik dua netra yang sedang mengeluarkan butiran bening yang membasahi pipi istrinya.
"Pada zaman Nabi. Ada seorang perempuan bernama Nailah binti Al Farafishah ia dikenal sebagai istri sahabat Nabi yang setia. mas. Dimana ia menerima kekurangan Suami yang bernama Utsman bin Affan RA. Sahabat nabi itu melamar Nailah di usia 81 dengan kepala yang dipenuhi uban. Namun Nailah menerima beliau karena ia tidak melihat kekurangan pada beliau tetapi karena waktu yang telah sahabat nabi itu habiskan bersama Rasulullah. Saat Sahabat Ustman meninggal dunia terdapat beberapa orang yang ingin melamar nya namun Nailah masih setia dengan status janda nya karena rasa cintanya pada Sahabat Ustman."
Ayra mendekat kan wajahnya pada dinding transparan itu.
"Dan kamu mas, aku pun ingin di cintai dan mencintai lelaki seperti mu. Yang setiap bulan selalu memberikan santun pada anak yatim. Bahkan kamu membuat 4 rumah yatim piatu di 4 provinsi yang berbeda. Lalu beasiswanya yang kamu berikan kepada mereka yang berprestasi tapi tak mampu. Maka hal itu yang membuat mu pantas untuk kita bersama mas.
Mencintai bagi ku bukan sekadar romantisme penuh kebahagiaan. Insyaallah aku tulus menerima setiap kekurangan mu termasuk setiap dosa dan khilaf mu di masalalu. Cukup dengan taubat mu maka aku akan setia bersama mu mas. Aku sadar mas, mencintai adalah pekerjaan yang sakral, berat, penuh godaan dan rintangan. Namun, aku akan terus bertahan dengan bertaubat nya dirimu. Bersabarlah menjalani proses ini mas jangan lari dari masalah dengan mencari jalan pintas yang tak diridhoi."
Ayra mendengar tadi jika sang pengacara berniat memberikan suap pada jaksa dan hakim pada kasus suaminya.
Tak ada lagi air mata Ayra yang menetes. Ia tersenyum sangat manis.
"Lantas kau suka suami mu dipenjara? Istri macam apa kamu Ay? Cinta macam apa yang kamu miliki?"
Bram melebarkan netra nya karena mendengar dan memahami bahwa sang istri ingin ia tetap berada disini daripada menyuap aparat penegak hukum.
"Sungguh siksanya di dunia ini tak seberapa dibandingkan siksa di hari akhir nanti mas. Aku ingin kamu bertanggungjawab atas khilaf mu di timbangan dunia dimana kita masih bisa saling tolong menolong masih bisa saling berbagi isi hati dan perihnya hukuman.
Daripada kamu harus bertanggungjawab pada hari Yaum al-Hisab dimana hari itu adalah hari ditimbang nya seluruh amal baik dan buruk manusia untuk menerima keadilan dan alasannya masing-masing. Yaum al-Hisab yaitu hari diperhitungkan nya seluruh amal perbuatan manusia, baik amal yang baik maupun amal yang buruk."
"Lakukan lah apa yang ingin kamu lakukan. Aku tidak meminta mu bertahan dan juga tak meminta mu pergi. Aku titip mama, Mama pasti sangat bersedih karena kasus ini. Dan juga nenek."
Bram berbalik dan meninggalkan Ayra sendiri diruangan itu.
"Insyaallah mas. Mas jaga diri baik-baik ya mas."
Ayra menatap punggung suaminya itu. Tampak suaminya itu hanya mengenakan celana panjang dan sebuah kaos. Serta berjalan meninggalkan nya tanpa alas kaki. Sungguh pemandangan yang tak biasa sebenarnya. Bram yang biasa hidup mewah, bergelimang harta bahkan setiap orang yang menatapnya akan memberikan hormat dan rasa kagum pada dirinya.
"Aku akan menunggumu mas. Aku akan. mendampingi mu. Aku akan menjaga cinta ini untuk mu. Jaga suami ku Rabb.... Lembut kan hatinya, berikan Hidayah mu pada suami Hamba.... "