
Sebuah pesan masuk dari Nyonya Lukis ke ponsel Bram membuat CEO itu segera menghubungi sang asisten untuk segera memesan tiket kepulangannya malam ini juga ke Jakarta. Nenek Indira terus menanyakan Bram.
Melihat kondisi beliau yang tak ingin dibawa kerumah sakit namun ini bertemu dengan anak, cucu dan menantu mau tidak mau menghubungi Bram yang baru dua hari di pulau Dewata itu.
"Sudah selesai Ay? Rafi sudah menunggu kita di depan."
"Sudah mas."
Sepasang suami istri itu bergegas meninggalkan Villa itu. Diluar Vila telah menanti Aisha dan Rafi. Mereka yang beberapa hari ini pontang panting demi bahagianya istri CEO. Bram yang tak mudah percaya pada orang tak mau orang lain yang mengurus perihal honeymoonnya. Hingga ia meminta duo asisten juga terbang ke Bali namun tak satu tempat dengan mereka.
MIKEL group terpaksa Bram titipkan pada sang Adik yang tak lain adalah Bambang. Selama di perjalanan pulang Ayra hanya memejamkan matanya. Hatinya begitu risau, ia hanya beristighfar atas rasa was-was yang biasanya suka sekali Setan mempermainkan hati-hati hambanya agar merisaukan segala sesuatu yang belum terjadi.
Tiba di Jakarta, sebuah mobil yang telah menanti Bram pun segera meluncur ke kediaman nenek Indira. Sebuah rumah yang cukup besar karena dari pagar rumah yang tinggi menjulang dan terdapat dua satpam yang menunggu di gerbang depan menandakan jika pemilik rumah adalah orang yang beruang.
Bram Dan Ayra masuk ke rumah disambut art dan Nyonya Lukis segera menghampiri anak dan menantunya.
"Maaf mama jadi mengganggu waktu kalian. Nenek dari kemarin terus menanyakan kamu dan Ayra."
"Tidak apa-apa ma. Bram ingin ketemu nenek, mama."
Bram yang menggenggam tangan Ayra dari bandara tadi masih menggenggam erat tangan sang istri. Sepasang netra Helena yang baru turun dari Lantai dua memandang kemesraan sahabat masa kecilnya yang ia cintai lebih dari sekedar sahabat.
Ayra yang menyadari kehadiran Helena cepat melepas genggaman tangan Bram. Ia tak ingin menunjukkan kemesraan nya dihadapan Helena. Sebagai sesama perempuan, ia tahu bagaimana perasaan Helena. Ia cepat menyapa Helena dan satu pelukan ia berikan pada Helena. Helena cukup simpati pada Ayra.
"Kamu sosok yang cukup unik Ayra. Disaat banyak pasangan suami istri pamer kemesraan didepan orang lain. Kamu justru menghindari kemesraan dihadapan ku yang jelas-jelas kamu tahu aku ada rasa pada suamimu."
Bram yang berjalan lebih dulu masih diikuti Ayra. Ayra selama di Bali dan Sampai saat ini selalu berjalan di samping Bram tapi tak terlalu berada disisi Bram agak sedikit kebelakang. Sebuah Adab yang Ayra tunjukkan kepada sang suami.
Sampai di kamar nenek Indira, Bram cepat duduk di sebelah sang nenek yang terbaring lemah. Kulit keriputnya terlihat jelas. Urat-urat yang lebih menonjol dibandingkan kulit menandakan pemilik tubuh telah berada pada senja nya usia.
"Nek, Ini Bram nek"
Perlahan mata yang telah sipit karena mengendurnya urat dan kulit pada wajah itu terbuka. Nenek Indira tersenyum melihat satu cucu yang selalu ia banggakan telah hadir dihadapannya. Lirikan matanya tertuju pada sosok perempuan berkerudung mocca yang berdiri di belakang Bram.
Ayra mencium punggung tangan Nenek Indira. Tarikan napas yang terlihat susah dilakukan oleh nenek Indira. Ia mencoba bangun dari tidurnya. Bram membantu sang nenek untuk duduk dan bersandar pada Headboard tempat tidur. Ayra cepat memberikan satu bantal untuk mengganjal punggung neneknya.
"Bram. Nenek rasa makin lemah. Nenek cuma ingin bertemu kamu dan Ayra. Ingin rasanya menimang cicit dari kalian. Namun entah mengapa nenek merasa tubuh ini makin lemah. Nenek senang kamu bisa menikah dan mendapatkan pasangan seperti Ayra."
"Ayra kemari nak."
Nenek Indira meminta Ayra duduk disebelah nya. Ayra menaiki kasur empuk itu dan duduk disebelah sang nenek. Ia menggenggam tangan nenek Indira.
"Kamu Tahu Ayra. Seorang istri itu ibarat Kopilot dimana ia harus bisa menjadi teman suaminya ketika besarnya gelombang kehidupan yang datangnya tak diduga. Suatu kondisi yang tak mungkin dihadapi suami sendiri. Sepeti saat ini, Bram butuh kamu. Karena seorang istri bukan hanya pelengkap tetapi juga penentu kesuksesan seorang suami."
Ayra meneteskan Air mata. Ia tak tahan mendengar suara lirih nenek Indira, seolah ia ingin meninggalkan petuah.
"Dan kamu Bram. Pernikahan bukan satu kendaraan jika tak lagi menarik tak lagi menyenangkan kamu berhenti dan mengganti dengan yang baru. Pernikahan bukan pula ajang menang-kalah. Siapa yang paling kuat siapa yang paling lemah. Adakalanya kamu sebagai lelaki harus mengalah. Nenek ingin malam ini kalian menginap disini."
"Baik nek. Ayra dan aku akan menginap disini."
"Istirahatlah, kalian pasti lelah."
Nenek Indira kembali ingin kembali istirahat. Ayra membenarkan posisi selimut sang nenek. Helena yang datang membawakan nampan berisi teh dan cookies harus kembali keluar ketika Bram memberikan isyarat pada Helena.
Ayra melihat bahasa isyarat yang Bram tujukan pada Helena hanya bermonolog di dalam hati.
"Ternyata hubungan kalian sangat dekat. Pantas Helena begitu meradang ketika aku tiba-tiba hadir dalam hidup mu mas. Hanya dengan kedipan mata mu, ia mampu paham apa maksud bahasa isyarat mu mas."
"Silahkan Ay."
"Aku tidak kamu tawarkan?"
"Kamu pemilik rumah ini Bram. Maka buat apa aku menawarkan kamu apa yang harusnya kamu dapatkan."
"Kamu tidak praktek hari ini?"
"Tidak. Aku libur tiga hari kedepan. Baru masuk shift malam."
Ayra menikmati teh yang dibuat oleh art dan disajikan oleh Helena.
"Ayo Ay, aku lelah sekali. Kita istirahat."
"Kamar mu tapi tempat tidurnya masih yang lama Bram. Apa tidak baiknya tidur di Kamar ku saja?"
"Apa maksud mu Helena?"
"Ayolah Bram. Aku tak bermaksud lain. Bagaimana kamu akan tidur satu ranjang dengan Ayra dengan kondisi kasur mu yang berukuran muat untuk satu orang."
"Kamera tamu bukankah ada satu lagi?"
"Sudah lama direnovasi oleh nenek. Dijadikan ruangan untuk Yoga."
"Hem."
Bram melirik Ayra.
"Tak apa tidur dikamar mas Bram Helena. Kami bisa tidur di bawah. Nanti minta tolong siapkan satu kasur lagi saja."
"What's! Ayolah Ayra. Aku tak ada maksud aneh-aneh. Hanya kasihan kalian pasti lelah. Kamar ku memiliki tempat tidur berukuran king size."
Helena yang merasa tak enak meyakinkan Ayra. Ia tak habis pikir bagaimana bisa Ayra dan Bram tidur di bawah hanya beralaskan kasur.
"Tak Apa Helena. Aku terbiasa dipondok. Bahkan aku sering tidur diatas tikar saja."
"Bram. Aku tak bermaksud lain. Aku hanya kasihan pada istri mu."
"Kami akan tetap tidur dikamar ku Helen. Lagi pula aku akan menunggu nenek kamarnya malam ini."
"Tidak usah, aku akan menjaga nenek. Kalian besok saja jika ingin menjaga nenek."
"Ya sudah mas."
"Baiklah. Ok, kami tinggal dulu. Terimakasih selalu ada untuk nenek Helen."
"It's ok."
Bram menggandeng tangan Ayra. Ia mengajak istrinya ke kamar yang biasa ia tempati ketika menginap di rumah nenek Indira.
Saat pintu terbuka dan memasuki kamar. Jantung Ayra terasa berhenti dan dadanya terasa panas seketika.
Deg.
Sebuah foto terpajang manis di salah satu bingkai yang berukuran 30 x 40 menarik kedua netra Ayra dan seketika air wajah Ayra berubah drastis. Bram pun tak kalah kaget.