
Nuaima bangun dari posisinya yang tadi kepalanya berada dalam pangkuan Umi Laila.
"Kakak benar. Mungkin niat ku selama ini bekerja untuk terlihat sukses dengan kepintaran ku selama ini. Harusnya aku libatkan Allah ketika tetap bekerja dengan niat agar bisa membantu suami dalam mencukupi kebutuhan kami. Aku kadang merasa hasil suamiku biasa saja ketika mas Munir memberikan gajinya setiap bulan.
Mungkin karena hasil ku lebih besar dari penghasilan suami ku. Dan sekarang mungkin niat ku berhenti bekerja juga harus dengan niat agar rumah tangga ku bahagia sakinah mawadah warahmah ya Kak? dan Membahagiakan suami ya kak?"
Anggukan kepala dari Umi Laila disertai sebuah nasehat.
"Dan libatkan Allah di setiap aktifitas kita, keputusan kita. Maka insyaallah, Setan akan susah masuk kedalam bilik-bilik hati kita yang rentan akan godaan setan yang amat pandai bermain-main dengan sebuah rasa, sebuah prasangka dalam berumah tangga terutama. Karena amat senang sekali menggoda kita yang telah berumah tangga ini dengan bidikannya.
Terlebih jika Sampai kita berpisah. Satu lagi Ai. jangan lupakan ilmu. Karena didalam rumah tangga tak cukup hanya cinta. Tapi sebuah ilmu diperlukan dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Maka jangan bosan untuk terus belajar walau kita sudah berumah tangga."
Nuaima tersenyum manis. Ia bahagia karena kalimat demi kalimat yang diberikan Umi Laila padanya mampu membuat dirinya sedikit tenang dan mengoreksi diri. Nuaima selama ini memang menerima seluruh gaji Munir setiap gajian. Namun kebutuhan yang besar memang tak bisa dicukupi hanya mengandalkan gaji Munir. Maka saat itu mungkin setan sedang bermain dalam hati Nuaima.
Bisikan bahwa jika bukan karena ia bekerja atau kariernya yang gemilang mungkin kehidupan mereka masih serba kekurangan. Beruntung nasihat Umi Laila mampu membuat Nuaima tersadar.
Bahwa rasa benci pada suaminya, rasa ingin berpisah dari suaminya adalah bisikan setan yang mungkin sedang bersembunyi dibalik lembutnya hati yang masih memiliki iman jika perceraian adalah hal yanga tak Allah sukai.
Nuaima bermalam disana tanpa Nuaima sadari bahwa kepergiannya selepas dari perusahaan yang dipimpin oleh Pak Bagas ia telah diikuti seseorang yang tak lain adalah Pak Bagas. Lelaki yang telah memiliki tiga anak itu mengikuti Nuaima sampai ke kali Bening.
Ia begitu terobsesi pada Nuaima. Hingga ia masih penasaran alasan yang membuat perempuan yang berhati lembut, dan selalu bersikap baik dan sopan pada siapapun itu hingga mengundurkan diri dari perusahaannya.
Lelaki itu memarkirkan mobilnya cukup jauh dari rumah Kyai Rohim. Namun ia bisa melihat Ayra berada diteras bersama beberapa anak kecil.
"Ah, andaikan dulu aku yang lebih dulu meminang mu. Mungkin anak itu adalah buah hati kita Aima. Kenapa kamu mengundurkan diri? Aku tak bisa seharipun tak melihat mu. Tak mendengar suara mu. Oh, Aima..., "
Pak Bagas yang sebenarnya ia sadari bahwa ia mengalami sebuah gangguan psikologis yang biasa disebut obsessive love disorder adalah kondisi saat seseorang memiliki obsesi yang berlebihan terhadap orang yang dicintainya. Dulu ia sempat mengalami hal yang sama pada istrinya.
Obsession Love Disorder membuat seseorang sulit untuk melepaskan cintanya. Meskipun harus berpisah, orang tersebut akan menolak kenyataan, bahwa hubungan mereka telah berakhir.
Hingga terjadi lah hal serupa disaat ia telah menikah dengan istrinya dan memiliki anak. Ia Kembali merasa sangat mencintai, sangat ingin melindungi orang yang ia cintai itu. Jika dulu ia melakukan semua yang ia lakukan pada istrinya dengan statusnya masih pacaran. Maka kini ia mencintai perempuan yang telah memiliki suami dan anak.
Entah mengapa Nuaima begitu menarik begitu cantik, begitu sempurna dibandingkan istrinya sendiri. Ia tak mencoba kembali ke psikiater saat ia merasa cinta yang begitu dalam pada Nuaima. Hingga ia memilih mencintai Nuaima dalam diam. Dalam posisi sekarang walau tak seagresif saat ia masih berstatus bujangan dengan menjalin hubungan cinta bersama istrinya dulu.
Sebuah kondisi psikologis yang akhirnya mengganggu orang yang menjadi objek dari cinta pak Bagas. Nuaima menjadi korban dua lelaki yang sama-sama mempunyai rasa padanya. Rasa ingin mencintai, ingin melindungi. Dan tak ingin ada yang lain yang memiliki dirinya.
Obsession Love Disorder bisa menjadi tanda dari kondisi mental yang serius. OLD bukanlah gangguan kejiwaan dan tidak masuk dalam Manual Diagnostikdan Statistik Gangguan Mental (DSM). Namun OLD berpotensi membuat seseorang stres hingga depresi.
Seharusnya Pak Bagas kembali menghubungi psikolognya dulu ketika baru menikah dengan istrinya agar bisa mendapat perawatan dini sebelum gangguan tersebut menjadi semakin parah Namun seiring waktu tanpa ia sadari kondisi itu sebenarnya makin parah dan membuat ia kini nekat menguntit dan menemui Nuaima hingga ke Kali Bening.
Seperti sore ini ketika Pagi tadi Munir mengatakan bahwa ia tak bisa menjemput Nuaima membuat Nuaima berangkat ke terminal untuk menaiki bis agar bisa Kembali ke Surabaya. Namun tanpa Nuaima sadari Pak Bagas telah berada di belakangnya. Tas yang ia tenteng cepat di tarik oleh Pak Bagas.
Nuaima yang kaget berbalik. Alangkah terkejutnya Nuaima ketika melihat Pak Bagas ada disana dan menarik tangannya berserta tas yang ia tenteng ke arah sebuah mobil hitam.
Jantung Nuaima berdetak kencang. Ia khawatir ada yang melihat hingga menjadi fitnah. Cepat ia tepis tangan Pak Bagas. Hingga langkah pak Bagas terhenti.
"Berhenti Pak! Apa yang anda lakukan disini? Anda akan membuat saya semakin susah karena tindakan anda ini!"
Pak Bagas berbalik ke arah Nuaima. Ia yang melihat ada sosok yang tak jauh dibelakang Nuaima yang ia kenal. Hingga ia nekat memeluk Nuaima dihadapan lelaki yang tak lain adalah suaminya Nuaima.
Munir yang ternyata bisa menjemput Nuaima terlambat memberi tahu jika ia dalam perjalanan ke Kali Bening. Saat ia Tiba di kediaman Kyai Rohim. Ia terlambat karena Nuaima telah berangkat ke Terminal. Akhirnya ia yang baru sampai ke terminal melihat Nuaima sedang bersama seorang lelaki yang sangat ia benci. Bahkan Nuaima yang berada dipelukan Pak Bagas membuat rahang Munir mengeras.
Tatapannya dan Pak Bagas beradu. Pak Bagas yang merasakan ini kesempatan untuk memisahkan Nuaima dengan suaminya. Sedangkan Munir merasa sakit hati saat istrinya malah berada di pelukan lelaki yang Selama ini ia curigai.
"Bagus! Ini yang kamu katakan menjaga dirimu! Ai. Nuaima Al-Fiyah!!!"