
Seorang perempuan yang dari tadi mendengarkan obrolan antara tiga lelaki yang tak ada merasakan kehadirannya didekat mereka. Ayra, yang kini telah berlinang air mata menahan Isak tangisnya. Rasa yang menjadi satu seolah memenuhi rongga hatinya.
Ia yang tadi sangat bahagia ketika melangkah masuk ke Aula karena segera ingin bertemu Suaminya. Sebuah wadah makan yang ia bawa dari rumah, berisi tempe penyet pesanan suaminya terjatuh ke lantai.
"Praaaaannng!"
Ingin ia berlari dari ruangan itu. Namun satu sosok yang sangat ia rindukan satu Minggu ini menahan rasa sakit dihati. Bram yang melihat Ayra sedang berdiri di hadapan mereka cepat berdiri lalu setengah berlari ke arah Ayra.
Ia melihat wajah istrinya yang telah basah oleh air mata. Ia peluk erat istrinya itu. Inilah satu rasa yang Bram tak ingin rasakan. Rasa sakit hatinya melihat perempuan yang sedang mengandung calon buah hatinya meneteskan air mata. Bahkan isak tangis Ayra yang berada di dalam pelukannya membuat CEO MIKEL Group itu ikut menahan perih kedua netranya, karena tak tahan mendengar suara Ayra yang bisa ia pastikan sangat merasakan sakit ketika satu tabir kebenaran tentang masalalu yang menyakitkan terungkap.
"Hikss..... Hiks...."
Bram berkali-kali mengusap punggung istrinya. Dan seolah ia ikut merasakan sakit yang istrinya rasakan. Ia beberapa kali mengecup kepala sang istri dengan air mata yang membasahi kerudung istrinya.
"Sabar Ay..... Kamu tidak boleh bersedih terlalu dalam. Kasihan janin mu."
Bram mencoba menenangkan dan mengingatkan Ayra bahwa perasaan tak bahagia dan pikiran yang stress akan berdampak bagi janin disaat seorang perempuan hamil.
Bram yang pernah membaca buku seputar ibu hamil. Ia membaca satu artikel tentang Ibu Hamil dalam Penelitian yang dimuat dalam jurnal Psychological Science menyebutkan bahwa bayi dalam kandungan bisa merasakan kondisi psikologis ibunya, maka Bram tidak ingin anak yang ada di dalam kandungan Ayra juga merasakan kesedihan dari ibunya.
Bram melerai pelukannya. Ia menghapus air mata yang masih ingin membasahi pipi putih istrinya itu.
"Kamu tidak kasihan aku Ay? Aku tak mampu melihat mu bersedih apalagi meneteskan air mata."
Ayra mendongakkan kepalanya. Ada airmata yang juga membasahi pipi suaminya. Ibu jari Ayra menghapus airmata yang tak sederas air matanya.
"Maafkan Ayra mas."
"Jangan menangis lagi. Mas tidak sanggup melihat kamu menangis Ay."
Saat Ayra sudah terlihat tenang, Kyai Rohim mendekati Ayra dan Bram.
"Nduk.... "
Ayra dan Bram melihat ke arah Kyai Rohim.
"Duduklah dulu Ay.... Tak baik berdiri disaat hati sedang marah. "
Kyai Rohim mengerti bahwa keponakan yang telah ia anggap seperti anak bungsunya itu sedang merasakan pahitnya sebuah kenyataan yang selama ini ia tak tahu. Manusiawi rasa marah, sedih ketika tahu bahwa orang tuanya meninggal karena direncanakan oleh orang yang salah satunya ada di hadapannya. Namun Kyai Rohim lebih mengenal Ayra. Ia santri yang menaruh rasa hormat pada Orang tua dan juga gurunya.
Selama Kyai Rohim mendidik Ayra. Hampir tidak pernah semenjak putri Munir itu baligh, ia bersuara lebih tinggi dari Kyai Rohim dan istri. Sesuatu yang paling Kyai Rohim ingat ketika banjir melanda kecamatannya.
Saat semua santri telah di evakuasi tinggallah Ayra dan Kedua orang tuanya. Ayra yang tak pernah berjalan di depan Kyai Rohim dan Umi Laila saat akan evakuasi sebelum air kembali naik. Ia memilih berjalan lebih dulu. Ternyata ia menyusuri jalanan yang ditempuh dengan membuang berbagai benda yang kiranya menganggu jalan nya kyai Rohim dan Umi Laila.
Sebuah kecintaan Ayra pada guru dan juga orang tua yang ia tunjukan dan terapkan. Bahkan saat suatu kejadian di masa lampau, Kyai Rohim lupa atau khilaf menyampaikan pendapat. Ayra yang diminta pendapatnya tidak mengatakan bahwa Kyai nya itu salah atau 'pendapat saya seperti ini'. Melainkan 'Yang jelas lebih baik seperti ini'. Satu adab dan akhlak terhadap guru dari seorang Ayra sebagai santri yang memang memiliki kecerdasan tapi tak melupakan akhlak yang baik terhadap gurunya. Maka amat mudah bagi Kyai Rohim untuk menenangkan hati Ayra disaat kondisi seperti ini.
Kyai Rohim menatap Ayra. Ia lihat Ayra masih menunduk, dengan satu tangan Bram merangkul putrinya itu. Bram menempelkan pipi kanannya pada kepala Ayra. Kyai Rohim menarik napas dalam sebelum ia menggaruk ujung bibirnya. Dan ia mengingatkan Ayra tentang makna maaf yang terkandung dalam salah satu ayat Alquran.
"Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wassalam memiliki akhlak yang mulia. Bahkan beliau menyambut murka orang kafir Quraisy dengan kasih sayang dan maaf. Banyak kisah dimana beliau memaafkan kesalahan orang yang membenci beliau dan menyakiti beliau.
Memang sulit untuk kita yang hanya umatnya di akhir zaman. Yang hanya belajar kata sabar, kata maaf dari para Ulama. Berbeda ketika berada di zaman Beliau atau di zaman sahabat-sahabat beliau. Tapi Ra, disaat itulah keimanan kita sedang diuji Nduk."
Ayra mengangkat kepalanya dan melihat orang tua yang telah mengasuh dan mendidik dirinya sedari balita hingga dewasa. Kyai Rohim meneruskan penjelasan nya.
"Apakah kita akan menuruti ego kita atau mengalahkan amarah kita Ra. Memaafkan Orang yang mungkin menyakiti kita atau orang yang kita cintai bukan perkara mudah memang Ra."
Ayra menarik napas dalam. Ia memejamkan kedua matanya. Kembali rasa sesak dalam hatinya membuat kedua matanya meneteskan air mata. Saat bibirnya menjelaskan sesuatu yang ada pada ingatannya tentang apa yang ia pelajari selama ini.
Namun hati seolah menolak. Maka hanya air mata Ayra yang menjadi bukti bahwa ia merasa sakit namun hati harus memaafkan. Karena itu bukan perintah Kyai Rohim melainkan hal itu tertuang dalam Al Qur'an yang bukan Kalam manusia melainkan Kalam Allah subhanahu wata’ala.
Dengan Isak tangis Ayra mencoba mengingat kembali apa yang pernah diajarkan oleh Kyai Rohim.
"Ya Abi, Allah memang memerintahkan kita untuk menganggap enteng kesalahan orang lain, tidak membesar-besarkannya, dan memaafkan dengan tulus bahkan sebelum orang yang bersangkutan meminta maaf. Hiks... tapi Ayra hanyalah umatnya Rasulullah di akhir zaman Abi.... Hiks.... Hiks.... kisah apa yang tak Abi dan Umi sampaikan pada Ayra hingga satu kebenaran ini sangat menyakiti hati Ayra Bi... Hiks.... Hiks... Hhh...."
Rasa ingin marah tapi entah pada siapa. Rasa ingin menuntut penjelasan pada Abi dan Umi nya namun adab seorang santri kepada seorang guru menuntut ia tak ingin mendebat Kyai Rohim tentang alasan kenapa hal sebesar itu tak disampaikan padanya. Kenapa harus dari orang lain bahkan dari orang yang terlibat dalam meninggalnya orang tuanya sebuah kebenaran dikubur bersama meninggalnya kedua orangtuanya.
Sesak sekali dada Ayra. Bahkan kelopak mata dan dahinya terasa sakit dan berat. Bram cepat menarik pelan kepala sang istri hingga Ayra bersandar pada dada Bram.
"Maafkan Abi dan Umi mu Nduk.... "
"Tidak. Saya lah yang harus minta maaf.... Saya yang penuh dosa ini pantas mendapat marah dari anda. Wajah anda sangat mirip ibu anda.... maka pasti sifat lembut hati anda pun pasti sama."
Suara Pak Uban lirih.
Ayra menjauh dari dada Bram Ia menoleh ke arah Pak Uban.
"Hiks.,.. Siapa anda? Bagaimana anda mengenal wajah ibu ku?"
Suara Ayra masih diiringi Isak tangis namun cukup tegas dan ia mencoba berdamai dengan rasa yang ada dihatinya. Ia masih menjaga intonasi bicaranya.
"Nduuukk.... Andaikan Rasulullah Seorang yang pemarah dan pendendam. Mungkin pemeluk agama Islam tak akan sebanyak sekarang ini."
"Hiks.... Hiks.... Ayra hanya ingin tahu masalalu Ibu dan Ayah Ayra. Bi.... Hiks... Hiks...."
"Ay....."
Kembali Bram mencoba menenangkan istrinya. Kali pertama ia melihat istrinya begitu rapuh bahkan tak mampu berdamai dengan rasa yang ada dihatinya. Bram pun ikut menahan air mata yang mencoba keluar dari sudut matanya karena suara Isak tangis Ayra yang menyayat hati.
Kyai Rohim tertunduk dan menangis. Pak Uban pun tak kalah merasa bersalah. Ia tertunduk lesuh dengan berderai airmata, disertai suara sesenggukan karena menahan rasa sesak di dada. Niat hati ingin meminta maaf namun malah membuat sebuah hati kembali tersakiti akibat pengakuan dosanya.