Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
128 Nuaima dan Rasa Dihatinya (POV Nuaima & Munir)


Nuaima masih memberikan ASI kepada Ayra yang terbangun disela-sela perdebatan Nuaima dan Munir. Ayra berusia dibawah satu tahun masih minum ASI. Walaupun Nuaima bekerja, ia tak memberikan susu formula pada buah hatinya. Karena tak ada masalah dengan ASI nya. ASI yang cukup deras dan lancar membuat ibu satu anak itu memiliki harapan agar Ayra bisa mendapatkan ASI ekslusif.


Terkadang disela-sela ia bekerja. Ia akan mengirimkan ASI lewat tukang ojek pangkalan yang biasa langganan nya untuk mengambil ASI yang ia pompa dari tempatnya berkerja untuk Ayra yang ia titipkan pada seorang pengasuh di rumahnya.


Nuaima selama me/nyu/sui Ayra mencoba menenangkan hatinya dengan dzikir dan shalawat. Ia khawatir rasa kesal pada suaminya membuat Ayra ikut merasakan panasnya hati karena terus dicurigai oleh suami.


Ia masih bergumam dalam hatinya.


"Semoga kamu menjadi seorang istri yang bisa menerima setiap kekurangan pasangan mu Nak. Semoga kamu menjadi istri yang bisa menjadi tempat suami mu memberikan ketenangan bagi suami nak. Ibu sangat harus ekstra sabar. Ayah mu sangat mencintai Ibu. Hingga ibu kadang merasa lelah."


Nuaima berbicara pada Ayra dengan mengelus ubun-ubun Ayra. Ia yang akan menarik dirinya dari Ayra yang terlihat mulai tidur. Saat ia berhasil beringsut dari tempat tidur. Ia memasang kelambu untuk anak satu-satunya itu.


Nuaima terbiasa berdoa atau mengajak berbicara Ayra. Seperti beberapa saat lalu walau ia berucap dalam hati. Tapi ia sadar bahwa Setiap jiwa ada Ruh.


Nuaima kembali ke ruangan tadi. Ia merasa harus menyelesaikan masalah yang menjadi pemicu suaminya itu selama sebulan ini sering mengikuti kemana ia pergi.


"Mas mau minum kopi?"


"Hem."


Munir hanya menjawab dengan deheman tanpa melihat istrinya. Ia masih mengecek tugas dari beberapa mahasiswanya.


Setelah Secangkir kopi Nuaima suguhkan pada Munir. Ia berniat mengecek pekerjaan nya untuk besok. Namun satu kalimat dari suaminya membuat ia menutup kembali bukunya.


"Apa mas?"


"Besok pagi segera ajukan surat pengunduran diri."


"Mas.... mas sudah berjanji aku boleh bekerja setelah menikah dengan mu."


"Itu dulu. Tapi tidak untuk sekarang! Cepat buat surat pengunduran diri. Aku tak suka kamu berdekatan dengan lelaki manapun termasuk pak Bagas itu!"


"Mas. Bukan mudah aku mencapai posisi sekarang. Aku dari sebelum selesai kuliah. Dari hanya staf administrasi gudang."


"Jadi kamu lebih memilih pekerjaan mu daripada aku suami mu? Atau karena gajimu lebih besar dari ku? atau karena Pak Bagas itu?"


"Astaghfirullah.... Cemburu mu menyakiti aku mas."


Suara Nuaima mulai terisak. Ia masih duduk dibalik sebuah meja tepat disebelah Munir yang masih duduk diatas sofa sambil menatap layar komputernya.


".... "


Munir tak bergeming.


"Aku tahu mas selama satu bulan ini kamu mengikuti ku. Kamu bahkan meninggalkan tanggungjawab mu sebagai dosen hanya karena rasa cemburu mu."


"Jaga nada bicara mu Ai!"


"Baik jika memang dengan aku berhenti bekerja mas bisa menjadi tenang dan bahagia. Besok juga aku akan resign!."


Nuaima menutup bukunya. Ia pergi ke kamar. Ia merasa sangat sedih. Dimana janji tinggal janji. Rasa cinta yang terlalu besar dari suaminya membuat ia merasa terkekang. Ia hampir satu bulan ini merasa lelah dengan berbagai tuduhan suaminya, berbagai sikap yang terlalu posesif. Bahkan untuk naik ojek pun ia tak diizinkan.


Ia tahan Isak tangisnya. Ia tahan rasa sesak didada. Ia menyerah, tak ingin rumah tangganya terus menerus di dera pertikaian karena kecemburuan suaminya maka sebuah keputusan ia buat. Ia akan berhenti bekerja. Ia berharap Munir masuk ke kamar dan mencoba membujuk nya seperti yang biasa ia lakukan disaat awal-awal menikah. Namun yang ditunggu tak kunjung muncul.


Hingga Nuaima terlelap dengan mata sembab. Nuaima terjaga ditengah malam, suara tangis Ayra yang menandakan bahwa putri kecil Nuaima itu menginginkan ASI.


Saat ia akan berbalik. Sebuah pelukan dari Munir membuat nya menarik napas dalam.


"Ah kamu sudah berubah sekarang mas. Jika dulu kamu akan cepat menenangkan aku disaat aku merajuk. Sekarang kamu seolah hanya perduli tentang perasaan mu saja."


Nuaima tetap membiarkan tangan suaminya melingkar dan ia masih menyu sui Ayra. Saat ia me nyusui Ayra, ia membelai lembut kepala putrinya itu.


"Semoga kelak kamu mendapatkan suami yang tidak hanya mencintai kamu karena paras mu nak. Tapi karena akhlak mu. Semoga ia tak berubah bersikap pada mu setelah lama nya usia pernikahan kalian. Ibu berdoa semoga kamu tidak merasakan apa yang saat ini ibu rasakan."


Hanya doa-doa terbaik dan pujian-pujian terbaik yang biasa Nuaima ucapkan dan bisikan untuk putrinya itu saat ia me nyu /sui atau saat bersama Ayra.


Saat hari mulai hampir pagi. Nuaima merasakan belaian lembut pada tubuhnya. Semakin lama semakin intens. Maka Nuaima hanya berkata pelan.


"Aku lelah, mas...,"


Sementara suaminya terus membelai tubuhnya. Nuaima tak sedikitpun merespon belaian tangan suaminya. Rasa itu telah hilang. Hampir satu bulan ini rasa itu tak lagi dirasakan oleh Nuaima. Tubuh Nuaima seolah tak lagi menikmati kelembutan belaian suaminya, karena seringnya mereka bertengkar. Hanya karena rasa cemburu suaminya yang berlebihan dan tuduhan demi tuduhan yang suaminya yang di tujukan pada dirinya. Hal itu membuat ia mati rasa untuk menikmati malam-malam nya bersama sang suami dan juga sentuhan dari suaminya pun tak lagi mampu menaikkan has rat yang bisa timbul.


Puncaknya malam tadi, saat ia diminta berhenti bekerja. Namun Nuaima paham akan ilmu seorang istri Sholehah, bahwa kewajiban istri memberikan hak suaminya. Dan sadar Bahwa seorang istri sepenuhnya milik suaminya. Nuaima pun membiarkan sang suami memilikinya malam itu. Saat tubuhnya telah dipindahkan ke kamar sebelah.


Saat suaminya bangun membersihkan diri. Nuaima masih di tempat tidur. Airmata membasahi pipinya dibalik selimut.


"Ya Rabb, Ada apa dengan ku? Mana rasa cintaku untuk suamiku? Aku ingin rasa yang dulu ada kembali Rabb. Kemana rasa cinta ku. Apa yang harus aku lakukan. Kenapa seketika aku ingin hidup sendiri.Hiks.Hiks."


Saat selesai mandi Munir yang melihat istrinya masih ditempat tidur dan mendekati lalu membelai lembut lengannya.


"Aku bisa merasakan pelepasan yang tak kamu nikmati Ai. Apa kamu pernah tidur dengan bos mu itu hingga kamu tidak menikmati malam-malam kita selama satu bulan ini?!"


Nuaima yang dari tadi mencoba menenangkan hati. Mencoba mengalah agar tak terus terjadi konflik di dalam rumah tangganya. Ia Akhirnya merasa sangat marah dengan tuduhan tanpa bukti suaminya itu. Suami yang menuduh ia melakukan hal yang tak terpuji. Sungguh sakit hatinya. Walau ia tak menikmati malam-malam mereka. Ia masih menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri. Tak Sedikit pun hatinya berpaling pada lelaki manapun.


Justru hampa nya jiwa dan mati nya rasa akan sebuah kenik/matan malam bersama sang suami. Itu semua bermula dari semua tindakan suaminya yang terus menganggap Nuaima bersalah. Tanpa suaminya percaya jika istrinya selalu menjaga pandangannya, tubuhnya dari hal-hal yang mendekatkan dengan zina. Bahkan Nuaima tak pernah berduaan dengan bosnya. Ia akan pergi bertiga dengan wakil manajer pemasaran yang juga seorang perempuan.


Ia mulai jengah. Malam itu pertama kali seorang Nuaima meninggikan suaranya di hadapan sang suami.


"Terserah kamu! Aku mulai muak mas! Aku muak dengan tindakan kekanakan mu itu! Aku tak pernah ada main hati. Jika hati ku kini mati rasa atas setiap belaian mu maka penyebabnya bukan siapapun melainkan rasa cemburu mu yang terus menyakiti aku!"


Nuaima keluar kamar dengan mengenakan selimut tebal, ia meninggalkan Munir sendiri. Dan Nuaima kembali berharap suami nya mengejar ke kamar utama untuk menenangkan hatinya. Namun itu tak terjadi, suaminya lebih memilih menunggu waktu Shubuh di dalam ruangan musholla. Nuaima semakin merasa sedih karena suaminya telah berubah. Hanya memikirkan perasaannya tidak dengan perasaan perempuan yang ia nikahi hampir dua tahun itu.