
Pagi itu Beni telah keluar dari kamarnya. Betapa kagetnya dia saat melihat beberapa makanan telah tersaji di meja makan. Hal yang tak pernah ia dapati selama menikah dengan Liona. Ia bisa melihat jika makanan itu masih hangat. Semangkuk sup ayam pun beraroma wangi karena masih terlihat uap yang berasal dari mangkok tersebut.
Beni melihat pintu kamar Liona masih tertutup rapat.
"Apa Liona yang memasak semua ini."
Beni yang merasa lapar cepat memakan bubur ayam yang telah tersaji di atas meja. Liona telah bersiap-siap. Ia tak berani keluar saat ia melihat dari celah pintu Beni sedang makan.
"Masakan pertama aku buat kamu. Mungkin bisa jadi masakan terakhir untuk kamu Ben. Aku akan menerima apapun keputusan kamu. Jika memang bercerai adalah satu jalan yang membuat mu bahagia, maka aku akan ikhlas. Andaikan masih ada satu kesempatan. Maka aku akan memanfaatkannya menjadi istri mu yang lebih baik dari Liona yang dulu."
Saat Liona melihat jika Beni selesai makan, ia baru keluar. Suara tongkat Liona yang terdengar oleh Beni membuat Beni cepat berdiri. Beni melihat Liona hanya memegang satu tas kecil dan satu Al-Quran yang ia peluk.
"Apakah kamu betul-betul sudah berubah?"
Seketika Beni terpaku melihat penampilan Liona yang masih cantik dengan penampilan barunya. Sebuah mushaf di pelukan Liona mampu membuat Beni sedikit tertegun.
"Mana pakaian mu?"
"Aku tak punya rasa untuk membawa nya. Biarlah aku tinggalkan saja. Aku bawa secukupnya Saja. Bagi ku, kenangan tentang bagaimana kamu mencintai ku, itu adalah satu yang akan aku bawa. Pakaian bisa dibeli tetapi cinta ternyata tak mampu di tukar oleh apapun. Jika dengan bercerai kamu bahagia. Maka mari bercerai. Aku tidak ingin menyusahkan kamu dengan memiliki istri seperti aku. Kamu benar, aku pernah merasakan bagaimana inginnya bercerai. Maka aku tahu perasaan itu."
Liona berjalan ke arah pintu. Seketika dada Beni sakit mendengar ucapan Liona.
"Sungguh kamu tidak pernah mencintai ku Liona. Tidakkah kamu bisa mempertahankan aku seperti aku memperjuangkan kamu."
"Baiklah."
Sepasang suami istri itu meninggalkan apartemen yang dibeli oleh pak Erlangga selama Beni di rawat di negara tersebut. Tiba di bandara, tak menunggu cukup lama. Mereka langsung masuk ke dalam pesawat. Liona hanya menangis sepanjang perjalanan.
Kurang lebih butuh 25 jam lebih perjalanan untuk tiba di Indonesia. Seorang perempuan melihat dari tempat duduk nya Bagiamana sepasang suami istri yang harusnya bahagia karena sang suami bangun dari sadarnya. Namun Liona hanya menangis. Sedangkan Beni hanya fokus pada majalah yang ia bolak balik tanpa di baca.
Saat Liona akan ke toilet, ia ingin membersihkan dirinya untuk melaksanakan shalat. Nyonya Lukis memberikan ilmu apa yang ia pelajari selama ia belajar dengan menantunya. Termasuk bab bersuci.
Saat keluar dari toilet. Liona kaget karena dokter Sarah tepat ada hadapannya.
"Dok-"
"Sarah. Sarah kak. Takdir mempertemukan kita kembali."
"Alhamdulilah."
"Ada apa kak? aku dari tadi mengamati kakak dari tempat duduk ku. Kenapa Airmata mu terus mengalir. Sedangkan airmata itu tak pernah ada selama suami kakak dalam keadaan koma."
"Tidak apa-apa Sarah. Nanti saat kamu berumahtangga, kamu akan tahu jika sebuah kapal ditengah laut pasti akan menghadapi badai. Atau derasnya ombak saat hujan datang."
"Semoga nakhodanya tetap kuat agar mereka sampai ke tujuannya ya Kak."
"Aamiin... Terimakasih... "
Liona meninggalkan Sarah yang terpaku menatap punggung Liona.
"Sungguh pribadi yang luar biasa. Suami macam apa lelaki itu. Ia sepertinya menyakiti istrinya. Semoga mereka baik-baik saja."
Liona tiba disebelah Beni. Lelaki itu hanya melirik Liona. Ia lihat Liona mengeluarkan dua buah kertas yang terlipat. Satu kertas ia buka lalu ia menepukkan kedua telapak tangannya pada kertas yang terbuka. Lalu telapak tangannya, ia sapukan ke muka.
Kemudian kertas kedua ia buka, telapak tangannya ditepukkan kembali ke kertas kedua yang ia baru buka. Liona mengusapkan kedua telapak tangannya kepada kedua tangan dari ujung jari sampai siku (luar dan dalam).
Selesai itu, Liona melakukan shalat. Beni yang dari tadi hanya mengamati apa yang Liona lakukan pada kertas-kertas tadi akhirnya tahu jika Liona sedang mengerjakan shalat.
"Sebegitu cepat kamu berubah. Kamu seperti bukan Liona yang dulu."
Beni memejamkan kedua matanya. Ia pura-pura tidur. Liona selesai dengan shalatnya. Ia memasukkan tangannya kedalam saku bajunya. Ia pun memejamkan kedua matanya. pelupuk matanya terasa berat dan sakit karena lelah menangis. Bahkan kepalanya terasa sedikit pusing.
Beni yang membuka sedikit matanya melihat tangan kanan Liona terus bergerak dari dalam saku. Ia teringat satu tasbih kecil yang Liona pegang diantara Al Qur'an yang ia bawa tadi.
"Secepat itukah berubah Liona. Kenapa aku merasa sakit sekali kamu tak memperdulikan aku sekarang. Kenapa kamu tak bersedih seperti di apartemen dan rumah sakit tadi. Apakah kamu bahagia bercerai dengan ku?"
Sepasang suami istri yang tak memanfaatkan sesuatu yang amat penting di dalam rumah tangga. Komunikasi, satu hal yang akan membuat satu hubungan tetap bertahan kala prasangka menyeruak. Kala hati merasakan ketidaknyamanan pada pasangan.
Liona yang telah banyak belajar melalui Nyonya Lukis dan Sarah membuat ia perlahan menjadi pribadi yang lebih baik dalam menjalankan syariatnya. Musibah yang menimpanya, membuat Liona betul-betul berubah. Ia merasa menjadi hamba yang kerdil. Merasa butuh berserah diri pada Rabbnya.
Ia merasa tenang setiap ia mencoba pasrah akan setiap takdir yang Allah tetapkan untuknya. Walau kesedihan tak dapat dihindarkan. Seperti saat ini, ia memasrahkan pada Allah tentang hubungannya dengan Beni, walau mata terus menghasilkan butiran hangat.
"Kuatkan aku Ya Allah jika memang setelah ini akan berpisah dari Beni. Semoga dia mendapatkan kebahagian yang tak ia dapatkan dari ku."
Mata yang tertutup kembali meneteskan air mata. Dua insan yang sama-sama terpejam namun sibuk dengan pikirannya masing-masing bersama rasa yang ada di hati.
Tiba di Indonesia, Nyonya Lukis ternyata telah berada di airport. Ia menanti Beni dan Liona. Nyonya Lukis memeluk Beni erat. Pak Erlangga pun memeluk Beni. Bambang yang ikut menjemput memberikan pelukan pada kakak keduanya.
"Aku akan naik taksi saja Ma."
"Kamu mau kemana? atau ada pekerjaan? Biar diantar Bams sekalian."
"Em.... "
"Kami akan bercerai Ma "
Deg.
Nyonya Lukis menatap Beni tidak percaya.
"Apa maksud mu Beni?"
"Kami akan bercerai. Biarkan Liona pulang ke rumah kami. Aku akan ke apartemen."
"Beni!"
Suara Pak Erlangga terdengar membentak putra keduanya.
"Beni.... Jangan sembarangan kamu! Liona selama ini yang merawat kamu."
"Aku akan membayarnya ma. Anggap sa-"
"Plaaak."
Satu tamparan kecil nyonya Lukis berikan pada pipi Beni.
"Kamu tidak hanya menyakiti hati Liona. Kamu juga menyakiti hati Mama. Kamu....."
Nyonya Lukis menahan Isak tangisnya. Sudut matanya berair. Ia menatap Beni tak percaya.
"Ma.... "
Suara Liona pun terdengar lirih.
"Kita pulang. Tidak ada yang boleh kemana-mana. Ayo kita pulang. Bams, antar pulang dulu. Mama dan Papa akan pulang dulu."
"Baik Pa."
Bambang menatap Nyonya Lukis.
"Kasihan Mama...."
"Tidak usah Pa. Liona akan pulang saja.... "
Suara Liona terdengar parau.
"Tidak ada yang boleh membantah! Kalian pikir pernikahan ini permainan?"
Nyonya Lukis telah terisak saat ia menatap Beni dan Liona. Liona mendekati Nyonya Lukis.
"Biarkan Beni bahagia Ma. Liona bukanlah istri yang sempurna. Insyaallah Liona ikhlas Ma."
"Liona.... mama menyayangi kamu dan Beni Ikutlah dulu. Demi Mama jika memang tidak untuk Beni nak... Hiks... "
Liona ikut menangis. Ia mengangguk-angguk kepalanya tanda setuju. Namun kedua netra masih terus meneteskan butiran embun. Beni diam tak bersuara. Ia melihat perubahan yang tak biasa pada keluarganya. Liona dan Mama nya yang sekarang terlihat sangat dekat.
Bambang mengantarkan keluarganya ke kediaman Pak Erlangga. Selepas itu, Bambang berniat kembali namun Pak Erlangga mencegahnya.
"Tunggulah dulu sebentar Bams. Beni, papa ingin berbicara dengan mu."
"Jika Papa ingin berbicara tentang rumah tangga ini. Maka Aku tidak ingin. Ini urusan ku Pa. Rumah tangga ku."
Pak Erlangga menahan gerahamnya. Ia menatap tajam putra keduanya itu.
"Ben... Kita perlu berbicara Nak. Kamu tidak boleh mengambil keputusan disaat marah."
"Ma.... Aku bukan pelarian. Aku bukan ban serep Liona!"
Nyonya Lukis kembali terduduk lemas diatas sofa. Ia tak sanggup jika harus melihat rumah tangga salah satu anaknya harus berakhir. Bahkan Liona yang telah banyak berubah membuat Nyonya Lukis pun menyayangi menantu nya itu.
Baru Beni ingin berjalan ke arah kamarnya. Satu tangan memegang erat pergelangan tangannya.
"Tidak bisakah kamu tidak membuat Mama bersedih!"