Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
198 Bram Yang Terus Belajar


Sebuah ilmu untuk bekal berumah tangga sungguh adalah sebuah keharusan yang harus di miliki sebelum menempuh hidup berumah tangga. Karena sakinah, mawadah dan rahmah rasanya sulit akan dicapai tanpa adanya ilmu tentang pernikahan.


Ketika ilmu tentang pernikahan telah dimiliki minimal oleh salah satu pasangan, maka sebuah konflik di dalam menjalani pernikahan akan dilalui tanpa emosi dan tanpa mencari siapa yang benar. Sepasang suami istri sedang berdebat di dalam kamar dengan suara yang sedikit berbisik, karena khawatir didengar oleh si bungsu Alifah yang tidur di kamar sebelah.


Aisha dan Rafi malam ini sebelum tidur sedang melalui obrolan yang mungkin bagi mereka adalah satu masalah yang harus di selesaikan. Dimana hal tersebut bukanlah masalah yang besar. Akan tetapi suatu kebiasaan salah satu pasangan yang mungkin tidak nyaman membuat menjadi masalah.


"Bang.... Dikiiiittt aja."


"T-I-D-A-K!"


Aisha yang memang telah berjanji pada sang suami. Ia tak akan mengolesi jari-jari kakinya dengan minyak zaitun dan membuka seprai bagian bawah saat akan tidur. Satu kebiasaan yang Aisha lakukan dari kecil sehingga ia tak akan bisa tidur sebelum melakukan ritual tersebut. Sampai-sampai ia mendapat julukan dari adik-adiknya ratu Zaitun Merah. Karena kemana pun ia pergi selalu minyak zaitun itu tak akan tertinggal beserta selendang berwarna coklat yang akan menempel di pipi sang istri.


Beberapa Minggu menikah membuat Rafi mulai merasa risih kebiasaan istrinya. Namun Aisha mau mengalah demi janji Rafi yang akan tidur dengan lampu yang menyala. Aisha yang tak pernah bisa tidur jika dalam keadaan gelap merasa senang. Akhirnya demi win win solusi. Aisha tidak melakukan ritual minyak Zaitun nya.


Namun yang ia rasakan saat waktu kian larut malam. Ia masih tak mampu terpejam. Rafi masih duduk disisi istrinya masih dengan mengelus dahi sang istri. Namun usahanya juga sia-sia.


"Capek Aish tangannya. Tidur gih."


"Aku kan tadi udah bilang. Aku susah Fi klo ga dikasih minyak ini jari-jari."


Aisha menggerakkan kedua kakinya.


"Belum terbiasa saja. Kamu itu kok aneh-aneh aja. Tidur tuh tinggal pejamkan mata terus tidur. Ga ada yang pakai acara ritual kayak gitu. Aku juga ga bisa tidur karena kaki mu itu usil Aisha sayang."


"Kasih air aja ya?"


"What? air? No. No. No."


Rafi cepat menarik tangan istrinya itu. Hingga sang istri pun kembali ke posisinya.


"Begini saja, bagaiamana kalau kita mendaki dulu? maka jika setelah mendaki kamu tidak bisa tidur. Okelah perjanjian kita batal."


Seketika suami Aisha itu di dorong ke arah headboard.


"Itu mah Modus. Laki ma banyak akalnya."


"Loh kan cari solusi Aish.... "


"Bukan Solusi Tapi Kolusi, Ilusi."


"Dicoba dulu siapa tahu berhasil."


Rafi memegang dagunya. Membuat Aisha tersenyum simpul. Ia berharap percobaan ini tidak berhasil sehingga dirinya tak berpisah dari selendang coklat nya.


Malam itu satu masalah yang dicarikan solusi dari kedua orang tersebut ternyata berhasil membuat dua orang itu terlelap tidur. Aisha tanpa harus mengoleskan minyak zaitun pada jari kakinya dan Selendang coklat di pipinya. Sedangkan Rafi mampu tidur dalam keadaan lampu yang menyala terang benderang.


Sungguh suatu masalah dalam satu hubungan suami istri itu muncul karena dilihat dari dua sudut pandang dari dua orang yang harusnya memiliki satu tujuan.


Meninggalkan pasangan duo asisten tersebut. Ayra dan Bram di pagi harinya harus sedikit berdebat karena sang istri yang cukup lama dikamar mandi membuat suaminya menggedor-gedor pintu kamar mandi.


"Ay.... jawab Ay.... "


Sang istri yang mendengar suaminya tak sabar, segera membuka pintu kamar mandi.


"Kenapa lama didalam?"


"Tidak apa-apa."


Bram menarik tangan istrinya saat sang istri akan berlalu. Sehingga sepasang suami istri itu terpaut dalam saling tatap.


"Kamu bisa berusaha menyembunyikan perasaan kamu Ay. Tapi kamu lupa bahwa tatapan mata mu selalu berbicara. Dan aku tak bisa kamu bohongi dengan tatapan matamu."


Ayra memegangi perutnya.


"Ada flek darah tadi. Tapi tidak banyak. Kemarin sudah diingatkan Bik Asih. Biasanya ada yang begini kok mas."


"Ndak usah. Ayra baik-baik saja. Mereka juga aktif bergeraknya."


Bram mencium tangan istrinya.


"Jangan selalu berusaha menjadi perempuan kuat Ay. Jika sakit katakan sakit. Jika tak nyaman katakan tak nyaman ya?"


"Terimakasih my Hubby. Ayra tidak apa-apa."


Satu hari itu di lalui oleh Bram di apartemennya. Ia tak ke kantor karena khawatir dengan kondisi Ayra. Padahal ada Bik Asih dikediaman mereka. Saat menjelang siang Ayra yang mencoba memotong kuku kakinya sedikit susah.


Bram yang akan minum sebelum mandi, karena sebentar lagi masuk waktu shalat Jumat. Ia berhenti di dapur dan melihat Ayra kesusahan memotong kukunya. Mau tidak mau berhenti dan menahan tangan istrinya.


"Sini mas potong kan."


"Ndak usah. Ga sopan."


Bram tersenyum simpul ia melepas tangan sang istri dan kembali ia tertawa ketika istrinya itu kesulitan untuk memotong kuku jari kakinya.


"Sini. Atau telepon salon yang biasa langganan mama aja?"


"Ga usah, cuma potong kuku aja kok mas."


Bram akhirnya duduk diatas kursi yang ia tarik ke arah Ayra. Hingga kaki istirnya ia letakkan diatas kedua pahanya.


Sungguh setiap obrolan suami istri apabila sama-sama memiliki ilmu maka membuat orang disekitarnya merasakan ikut senang. Bik Asih yang berada di dapur masih menyiapkan makan siang, mendengar percakapan sepasang suami dan istri yang sedang duduk lesehan di atas balkon yang berada di dapur.


Sambil memotong kukunya sang istri bertanya pada sang istri.


"Yang afdhal Hari apa saja mas untuk memotong kuku?"


"Sunnah nya hari Senin, Kamis atau Jumat sayang."


"Wah suami Ayra ternyata sudah jadi suami idaman."


"Siapa dulu istrinya.... Disisi lelaki pintar pasti ada perempuan yang juga pintar dan sabar. he-he-he."


Bram memasang wajah sok imut membuat Ayra memegang perutnya yang juga ia rasakan pergerakan dari janin yang ada dalam rahimnya. Mungkin karena rasa bahagia sang ibu yang dibuat tertawa oleh Ayah mereka membuat janin tersebut memberikan kontraksi.


"Awww... Astaghfirullah...."


Bram kaget. Ia kira kulit kaki Ayra ada yang terjepit oleh penjepit kuku tersebut.


"Ada apa Ay?"


Ia berkali-kali meniup jari kaki istrinya.


Ayra merasa sudah cukup tenang akhirnya mengatakan jika janinnya memberikan respon karena Bram membuat Ayra tertawa lepas sat suaminya memasang wajah sok imut.


"Sepertinya the twins merasa senang Ibunya tertawa bahagia."


"Oh.... mereka pasti bahagia karena papanya berhasil membuat mamanya yang dari pagi tadi merasa khawatir karena flek tadi bukan."


Ayra tersipu malu. Ia memang berusaha menutupi rasa was was karena ada nya flek pagi tadi. Namun suaminya selalu berhasil memenangkan saat hatinya tidak tenang.


Bram memotong kuku kaki istrinya dimulai dari jari kelingking kanan sampai kelingking kiri. Satu hal yang ia dapatkan dari sang istri tentang sunah memotong kuku.


Setelah selesai memotong kuku kaki istrinya. Ia melihat kukunya yang memang belum terlalu panjang namun ia lebih memilih memotongnya sebelum ia mandi.


Ayra melihat suaminya betul-betul mempraktekkan apa yang pernah ia bagikan berdasarkan ilmu yang ia peroleh di pesantren dahulu. Bram memotong kuku jari-jari tangannya. Dimulai dari jari telunjuk kanan, lalu jari tengah kanan kemudian ke jari manis kanan. Dilanjutkan ke kelingking kanan. Berpindah lagi ke kelingking kiri. Setelah itu ke jari manis kiri.


Kemudian ke jari tengah kiri, telunjuk kiri, lalu jempol (ibu jari) kiri. Dan terakhir Jempol (Ibu jari) kanan.


Bram yang sekarang mengerti betapa pentingnya menuntut ilmu atau menyibukkan diri terus belajar sehingga mendapatkan pengetahuan baru. Sama halnya ketika ia memotong kuku yang Ayra adalah sebuah sunah cara memotong kuku.