
Pak Bagas tak bergeming di tempat duduknya. Ia melihat Ayra sangat mirip dengan Nuaima. Caranya berbicara, wajahnya, serta terlihat perhatian dan sikapnya pada Raka mengingatkan Pak Bagas akan Nuaima jika bersama Ayra kecil.
"Hah. Rasanya sesak dada ini melihat kamu. Kenapa Tuhan terus mempertemukan kita. Belum sempat aku mencari mu, Tuhan mendatangkan dirimu beberapa kali dalam kehidupan ku. Apa aku betul-betul harus mati karena bersalah."
Tiba-tiba seorang perawat keluar dari ruang UGD dan memberikan kabar pada Pak Bagas dan Ilham bahwa Sasi harus dioperasi untuk menyelamatkan anak dan dirinya. Keluarga diminta menyiapkan pendonor darah dengan golongan yang sama dengan Sasi hanya ada satu kantong masih dibutuhkan dua kantong lagi.
Pak Bagas yang seketika lemas. Karena ia tak bisa menjadi pendonor darah. Ilham yang mencoba menelpon berkali-kali teman atau keluarga yang bisa menjadi pendonor darah. Namun hampir setengah jam berlalu tak ada kabar. Saat Ilham dan Pak Bagas sibuk dengan ponsel mereka.
Furqon dan Kyai Rohim yang khawatir karena Umi Laila dan Ayra berangkat tak ditemani salah satu dari mereka. Hingga Furqon dan Kyai Rohim yang selesai memberikan materi di kelas segera menyusul.
"Kang. Abi..."
Ayra yang melihat Kyai Rohim dan Furqon tak bisa berdiri karena sedang memeluk Raka yang sedang tertidur.
"Bagiamana kondisi Rani?"
"Masih di tangani dokter Bi."
Umi Laila cepat mencium punggung tangan suaminya.
"Yang sabar Bams. Allah tak akan memberikan hambanya cobaan diluar kemampuan hambanya."
"Ya Pak Kyai. Terimakasih, maaf jadi merepotkan semuanya."
"Kita ini keluarga, maka sudah seharusnya keluarga itu ada disaat seperti ini."
"Saya mungkin menitipkan Raka pada Pak Kyai dan Ayra."
"Ya tidak apa-apa. Insyaallah kami akan menjaganya. Kamu fokus ke kondisi istri mu saja nak."
Tiba-tiba Seorang perawat keluar lagi.
"Keluarga Ibu Agissa?"
"Ya suster"
Ilham bergegas berjalan ke arah pintu ruang UGD.
"Kita tadi sudah menghubungi PMI dan ada dua kantong. Maka kami harap bapak bisa mencari pendonor untuk dua kantong lagi untuk proses setelah operasi."
Seketika Ilham bertambah lemas. Ia menyandarkan kepalanya di tembok tepat disebelah pintu UGD. Kyai Rohim yang mengenal Ilham mendekat.
"Ilham? Kamu Ilham?"
Ilham menoleh.
"Iya Pak Kyai."
"Siapa yang butuh darah?"
"Istri saya. Dia sedang operasi dan butuh darah. Mertua saya tidak bisa karena kondisi kesehatan. Golongan darah saya tidak sama. Sedangkan keluarga istri banyak tinggal di luar kota."
"Apa golongan darahnya?"
"Golongan darah nya A- pak. Hanya golongan darah A negatif dan O negatif yang dapat memberi transfusi darah pak."
"Sebentar... "
Kyai Rohim mengeryit dahinya. Ia mendekati putra sulungnya.
"Nak, bukankah darah mu A negatif? Kalau tidak salah kamu pernah mendonorkan untuk Mbokde mu waktu itu."
"Iya Bi. Benar."
"Alhamdulilah.... Bantulah nak Ilham. Istrinya sedang membutuhkan golongan darah yang sama."
"Saya mohon bantulah istri saya Mas. Saya mohon."
Ilham berdiri di depan Furqon dengan dua tangannya ia lipat tanda memohon.
Furqon cepat memegang kedua tangan Ilham.
"Jangan begini. Saya akan membantu jika memang bisa. Kita periksa dulu ya."
Ilham mengangguk cepat. Saat ia dan Furqon berjalan menuju ruang untuk mendonorkan darahnya, pak Bagas hanya tertunduk menahan air matanya. Sakit sekali rasanya dadanya. Sesak pun dapat ia rasakan pada dadanya yang tak lagi tegap itu. Ia menahan air matanya dengan jari telunjuk dan jempolnya saat butiran air mata itu akan jatuh.
"Tuhan kenapa tidak engkau cabut saja nyawa Ku. Kenapa harus engkau bawa takdir begini. Aku yang dulu menghilangkan nyawa keluarga mereka. Hari ini mereka malah membantu anak ku. Ah aku ingin kanker ini segera membawa ku mengahadap mu. Aku tak ingin terus merasakan perasaan bersalah begini."
Kyai Rohim duduk disebelah Pak Bagas. Ia mencoba menenangkan Pak Bagas. Pak Bagas hanya tertunduk lesu dan terisak. Ia tak berani mengangkat kepalanya dan melihat wajah Kyai Rohim.
Saat Furqon kembali dari mendonorkan darahnya yang ternyata cocok. Namun kali ini keluarga Pradipta dibuat kaget karena Rani pun membutuhkan golongan darah. Dan ini kembali terjadi. Saat Rani melahirkan Raka. Rani yang memiliki golongan darah O negatif.
Bayi berhasil diselamatkan namun Rani tak sadarkan diri karena Hb Rani semakin turun hingga Rani terpaksa di pindahkan ke ruang ICU.
Bambang yang makin bingung. Satu sisi ia bahagia karena bayi Lelaki mereka selamat. Namun satu sisi Rani yang tak sadar dan membutuhkan golongan darah yang terhitung cukup susah di cari. Jika ada itu biasanya dari keluarga. Namun keluarga Rani yang mengusir Rani saat hami dan tak Menerima Rani, tak mungkin akan membantu Rani.
"Bams. Hubungi orang tuanya Rani. Kamu bilang saat itu kakak nya Rani yang membantu ketika Rani melahirkan Raka?"
"Tapi ma...."
"Dicoba dulu nak... "
Nyonya Lukis yang berderai air mata. Ingin ia mengeluh karena belum sempat bahagia karena menantu satunya telah bisa melihat kini ia harus menghadapi satu cobaan lagi. Istri dari anak bungsunya harus tidak sadar dan membutuhkan donor darah dengan golongan darah yang cukup susah di cari.
Namun karena seiring waktu bertambahnya iman Nyonya Lukis ia hanya mampu meneteskan air mata dan terus bermunajat dalam hatinya untuk kebaikan anak menantunya.
"Ya Allah. hamba memohon lembutkan hati keluarga Rani. Semoga ada hikmah di balik kejadian ini."
"Ayo Ay aku antar sekalian."
"Lebih Baik nak Bambang pergi diantar supir. Umi Laila biar disini menemani Mama mu. Abi dan Furqon yang akan mengantarkan Ayra dan Raka."
Bambang menuruti nasehat mertua kakak sulungnya itu. Ia pergi meninggalkan rumah sakit itu menuju rumah kedua orang tua Rani.
Kyai Rohim yang baru saja akan pergi meninggalkan ruangan itu tertahan langkahnya.
"Tunggu Pak Kyai."
Ilham mendekati Kyai Rohim dan Furqon.
"Saya mengucapkan terimakasih pada Pak Kyai. Saya tidak menyangka Pak Kyai mau membantu saya. Padahal dulu saya dan keluarga saya pernah menghina pak Kyai dan Ayra."
Kyai Rohim menepuk pundak Ilham.
"Sudah tugas kita saling membantu, saling tolong menolong. Saya malah tidak ingat kapan nak Ilham menghina saya dan keluarga. Hehe... Semoga bayi dan ibunya selamat. Maaf saya tidak bisa mendonorkan juga karena faktor kesehatan. Mari kami pamit dulu nak Ilham."
Kyai Rohim dan kedua anaknya dan Raka yang terlelap dalam pelukan Ayra pergi meninggalkan ruang UGD itu. Pak Bagas malah makin terisak menangis.
Ilham yang melirik ke arah mertuanya itu hanya diam. Ia tak ingin menganggu waktu mertuanya yang tak pernah ia lihat menangis begitu.
"Semoga Papa sadar jika keegoisan papa, wujud rasa sayang Papa pada Sasi itu salah."
"Tuhaaannnn... Sungguh sakit merasa bersalah begini. Begitu mulia hati mereka. Aku... aku... aku yang bodoh ini tak pernah bisa berbuat untuk baik seperti mereka. Berikan satu saja kesempatan ku agar bisa membuat mereka bahagia melalui perantara ku Tuhan... Agar aku mati tidak dalam rasa sesak ini."
Tangis Pak Bagas membuat Ilham pun meneteskan air mata. Ilham yang menyangka jika mertua nya menangisi Sasi namun ternyata hati manusia hanya manusia yang tahu dan Tuhannya. Pak Bagas menangisi rasa bersalah dan berdosa pada Keluarga Kyai Rohim.
Sedangkan Umi Laila dan Nyonya Lukis telah pergi ke ruang ICU karena Rani dipindahkan ke ruang khusus perawatan pasien dengan kondisi yang membutuhkan pengawasan ketat.