Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
180 Aisha bertemu Ibu Panti


"....."


Ayra tak berani menduga-duga dan tak berani meminta penjelasan dari Aisha. Ia masih menunggu gadis yang sedang tertunduk dan menangis itu untuk melanjutkan cerita dan isi hatinya.


"Saya baru saja periksa di dokter kandungan. Berdasarkan hasil pemeriksaan sa.... saya....."


"Aisha...."


Ayra berpindah posisi duduknya. Ia kini duduk disebelah Aisha. Ia merangkul gadis yang sedang menahan tangisnya namun air mata terus membasahi pipi gadis itu.


"Dokter yang bilang begitu?"


Aisha mengangguk. Ayra menghela napasnya, ia mencoba mencari jawaban yang harusnya tak boleh ia putuskan sendiri karena tanpa bukti. Namun suara hatinya bertanya apakah Rafi pelakunya.


"Kamu sudah bicara dengan lelaki yang melakukan itu?"


Ayra menggeleng.


"Apakah lelaki itu adalah yang melamar kamu Aish? atau.... Hhhhhh...."


Ayra tak berani melanjutkan kalimatnya untuk menyebut satu nama yang ia kenal. Ia khawatir menjadi fitnah.


"Bukan Bu... Tapi...."


Tiba-tiba datang seorang perempuan paruh baya menghampiri Ayra dan Aisha.


"Permisi."


Ayra dan Aisha menoleh ke arah ibu paruh baya yang tak lain adalah ibu panti yang telah membesarkan Rafi.


"Bagaimana Nak? Sudah sehat?"


Suara Bu Lina terdengar begitu lembut. Ia memandangi Aisha dengan penuh kasih sayang. Ia sebenarnya menduga jika Aisha adalah kekasih Rafi. Anak asuh yang telah ia anggap seperti anak sendiri itu tak pernah membawa perempuan ke hadapannya atau lebih biasa disebut kekasih. Padahal Bu Lina sering mengingatkan Rafi tentang usianya yang telah dewasa dan untuk segera berumah tangga.


Aisha mengerutkan dahinya. Ia tak mengenal sosok yang menyapa dan bertanya tentang kondisinya saat ini.


"Maaf ibu siapa ya?"


Bu Lina tersenyum dan meminta izin untuk duduk di kursi yang masih kosong dihadapan Aisha.


"Boleh ibu duduk?"


"Boleh. Silahkan Bu."


Bu Lina duduk dan meletakan tas juga bungkus obat yang baru saja ia tebus dari apotik rumah sakit untuk salah satu anak asuhnya yang sedang dirawat.


"Ibu adalah ibunya Rafi."


Deg.


Dua perempuan itu kaget. Ayra merasa terkejut karena sepengetahuan ia bahwa Rafi adalah anak Yatim piatu. Namun hari ini ada yang mengaku sebagai ibunya. Aisha lebih kaget lagi karena ia sangat membenci lelaki yang bernama Rafi terlebih setelah kejadian beberapa waktu lalu.


"Maaf Bu tapi setahu saya...."


"Ya. Saya ibu angkatnya. Ibu yang mengasuh dirinya dari kecil. Bagaimana Aisha sudah sehat sekarang?"


"I- Ibu tahu nama saya?"


"Iya. Rafi yang bilang. Kamu buru-buru sekali pulangnya. Belum sempat kita berkenalan. Ibu senang akhirnya Rafi bisa dekat dengan anak perempuan. Ibu berharap kalian berjodoh."


Kedua bola mata Aisha terbelalak mendengar penuturan Bu Lina.


"Ibu sudah salah duga. Saya tidak punya hubungan apa-apa dengan si Jo..... Rafi maksud saya."


Ayra sedikit tertawa melihat ekspresi Aisha. Yang hampir keceplosan menyebut Rafi dengan sebutan Jotan.


"Rafi juga bilang begitu. Tapi ibu yang merawat dia dari kecil. Ibu tahu bagaimana sifat Rafi. Terlebih dia sangat privasi terhadap barang dan kamar nya. Tapi dia mengizinkan kamu tidur disana tanpa penolakan. Ibu menemani kamu sampai pagi. Untung menjelang pagi demam mu sedikit menurun."


"Tunggu. Maksud Ibu malam itu Ibu yang menunggu saya?"


"Iya. Karena Rafi menunggu Tyas dirumah sakit."


"Lah terus siapa dong yang unboxing aku? Aduh Aisha kamu ini gimana sih. Bodoh. Bodoh."


Seketika Aisha mengutuk dirinya karena dia mengira jika Rafi yang mengganti bajunya dan telah menodai dirinya. Karena ia yang baru mendapatkan haid merasa darah yang sekarang masih keluar dari bagian In tim nya adalah karena cover telah di buka oleh Rafi.


"Ehm.... "


Ayra yang melihat ekspresi Aisha berdehem karena ia sendiri yang hampir berpikir negatif pada Rafi, ternyata kejadian ini hanya salah paham antara asisten suaminya dan Aisha. Ayra pun tersenyum sambil melirik Gadis yang tadi menangis di bahunya.


"Seperti nya ada yang salah paham."


Ayra berbisik ke arah Aisha.


"Memangnya ada apa? Kenapa Nak Aisha terlihat menangis?"


"....."


Aisha hanya terpaku menatap jari-jarinya yang kini sedang di genggaman Ayra. Ia tak berani mengangkat kepalanya untuk menatap Bu Lina.


"Apa ibu yakin jika Rafi malam itu menginap di rumah sakit Bu?"


"Iya. Saya yang menemani Nak Aish. Rafi kembali ke rumah pagi karena harus bekerja."


Ayra menghela napasnya pelan. Ia bersyukur karena sepertinya Aisha telah salah sangka kepada Rafi. Ia akhirnya bisa menarik satu benang merah dari masalah temannya itu. Yaitu mengambil kesimpulan sendiri tanpa mencari kebenaran dari dua belah pihak.


"Aish...."


Aisha menoleh ke arah Ayra.


"Kamu sepertinya salah sangka."


"Ta-pi. Dokter tadi bilang kalau....."


"Kamu sudah melakukan pemeriksaan?"


"Dokter tadi melakukan pemeriksaan melalui USG untuk dipastikan diagnosis apakah aku hamil atau tidak. Aku memang tidak hamil Bu. Tapi katanya selaput dara saya sudah robek Bu...."


"Astaghfirullah Aish... Kamu ngomong ga sama dokternya kalau habis jatuh?"


"Enggak Bu."


"Aish. Aish. Alhamdulilah ternyata di zaman sekarang ini masih ada gadis seperti kamu. Sepertinya kamu sudah salah menafsirkan apa yang dokter maksud dengan robeknya selaput darah. Robeknya selaput darah tidak berarti kamu tidak pera wan lagi.


Wajah Aisha merona seketika karena merasa malu. Ayra yang selama hamil sudah du kali ganti dokter karena memang dokter yang pertama ia periksa di awal kehamilannya sedikit irit bicara. Dan dokter yang kedua ini ia merasa nyaman selain perempuan.


"Begini saja, bagaimana kalau kita ke dokter tempat aku biasa memeriksa kandungan ku."


"Tunggu. Tunggu jadi maksudnya ini Nak Aisha menyangka jika Rafi..."


Ayra yang melihat Jika Aisha masih enggan berbicara mungkin karena malu. Ia memberanikan diri untuk menjawab.


"Begini Bu. Sebelum kejadian ini. Aisha sempat jatuh dari balkon. Nah kemungkinan selaput pe Ra wan nya robek sehingga Aisha beranggapan tidak pe ra wan lagi."


Bu Lina menatap Aisha.


"Sungguh gadis yang polos. Cocok untuk Rafi."


"Ibu bisa pastikan kalau malam itu yang menjaga nak Aisha adalah ibu. Nak Rafi tidak menyentuh nak Aisha. Bahkan yang menggantikan pakaian nak Aisha adalah Ibu. Rafi anak yang baik."


Aisha tersipu malu. Karena dia menuduh Rafi telah melakukan hal yang tidak senonoh saat dia tak sadarkan diri. Bu Lina yang teringat bahwa akan memberikan obat untuk Tyas berpamitan. Aisha juga menerima saran dari Ayra untuk memeriksakan kembali ke dokter yang biasa Ayra kunjungi untuk memeriksa kehamilan nya.


Selama perjalanan menuju tempat praktek dokter tersebut. Dua perempuan itu kembali menyambung obrolan mereka di kantin rumah sakit tadi.


"Kamu harus minta maaf sama Rafi, Aish. Kamu sudah berburuk sangka pada nya. Jadi alasan kamu mengundurkan diri karena masalah ini?"


Aisha mengangguk pelan.


"Insyaallah dokter yang akan kita kunjungi ini orangnya Welcome. Beliau sangat detail, jadi memang ada tipe-tipe dokter itu yang irit bicara Aish. Ada juga yang mereka akan memberikan penjelasan begitu detail. Terus terang aku sangat nyaman dengan dokter yang sekarang ini. Karena beliau akan memberikan pemahaman yang kadang kita tidak ada ilmu di bidang kesehatan."


"Saya tadi memang tidak banyak tanya Bu. Saya malu soalnya dokternya lelaki."


Tiba di dokter yang dimaksud oleh Ayra, akhirnya diketahui bahwa memang selaput dara Aisha robek saat terjatuh, dan satu ilmu di dapat dari sang dokter bahwa pera wan sendiri dapat diartikan sebagai seseorang yang belum pernah melakukan hubungan se k sual atau perse tubu han.


"Keperawan tidak tepat bila dikaitkan dengan utuhnya selaput dara. Selaput dara juga bisa robek selain karena hubungan se k sual, misalnya trauma pada organ kema luan akibat kecelakaan, mas tur ba si dengan alat bantu se ks. Jadi, jangan khawatir apabila selaput dara. Hal ini tidak menandakan apakah Anda masih pera wan atau tidak. Dan saya menyarankan untuk melakukan pemeriksaan panggul agar tahu pendarahan yang terjadi pada anda."


Akhirnya Aisha bisa merasa lega. Ayra pun ikut senang karena ia tak lagi menduga-duga. Ketika dalam perjalanan pulang. Ayra meminta Aisha agar bisa Kembali ke perusahaan.


"Aisha, nanti kalau sehat. Kerja lagi ya?"


"Em.... Lihat nanti Bu."


"Malu ah ketemu Jotan. Apalagi dia tahu kalau aku salah sangka sama dia."


"Kamu tidak mau minta maaf sama Rafi?"


"....."


"Rafi itu lelaki yang baik lo Aish. Kamu tidak mau mengenal dia lebih? Ada kesamaan dalam diri kalian."


Ayra menelisik Aisha. Ia mencari jawaban dari mimik wajah Aisha.


"Sa...Ya...."


"Usia sudah dewasa. Jangan tunggu lama-lama"


"......."


"Saya tidak tahu Bu. Ada rasa takut untuk menikah. Apalagi setelah kejadian kemarin."


"Menikah itu bukan cepat atau lambat Aish. Niat dalam sebuah pernikahan adalah hal yang sangat penting karena menjadi faktor penentu apakah akan bernilai ibadah atau tidak. Niatnya untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Maka kalau ingin menikah niatnya untuk beribadah Aish."


"Doakan ya Bu.... Sekarang mungkin Ibu di kampung lagi sedih karena Luki sudah membatalkan pertunangan kami."


"Insyaallah, Sekarang kamu fokus buat sembuh dulu."


Aisha merasa lega karena ia masih pe Ra wan.


"Ah. Gimana caranya minta maaf ma Jotan ya?"